Rabu, Oktober 27, 2021
BerandaBale BandungKetika Bupati Bandung Wiranatakusumah IV Sakit

Ketika Bupati Bandung Wiranatakusumah IV Sakit

sejarah.bupati wiranatakusumah-IVAlkisah, Bupati Bandung ke-13, Raden Adipati Aria Wiranatakusumah IV atau terlahir bernama Raden Suria Kartadiningrat, jatuh sakit dan kesulitan untuk sembuh. Di tengah kesulitan sembuhnya, Bupati Bandung Periode 1846-1874 yang mendapat julukan Dalem Bintang itu merasa ingin dihibur oleh kesenian silat yang dipimpin oleh Abah Aleh dan tembang Cianjuran yang dipimpin Bapak Hamim.

Kedua kesenian itu terbukti bisa menghibur Bupati Bandung hingga kondisi kesehatannya berangsur membaik. Setelah sembuh, bupati menganugerahkan penghargaan, dengan memberikan nama kepada pencak silat pimpinan Abah Aleh dengan nama Panglipur Galih (Pelipur Hati) dan kepada grup tembang Cianjuran Bapak Hamim diberikan nama Panglipur (Penghibur).

Setelah kedua tokoh tersebut berembug, mereka setuju untuk tukar nama, sehingga Pencak Silat Abah Aleh lebih disebut dengan “Panglipur” saja. Menurut pemberi namanya, Wiranata Kusumah IV, Panglipur pun ada kepanjangannya, yaitu “Pek Aranjeun Neangan Guru Luhung Ilmu Pikeun Udagan Rasa”. (Silakan kalian mencari guru yang tinggi ilmunya, untuk mengejar rasa/bahagia).

Salah seorang murid dari Abah Aleh, Cecep Arif Rahman menuturkan, Abah adalah keturunan dari Banten tapi dilahirkan di Garut pada tahun 1856 dan wafat di Garut tahun 1980, pada usianya yang ke-124.

Sewaktu remaja, tutur Cecep, Abah menyusul bapaknya ke Banten, lalu berkeliling belajar silat Cimande, Betawi, Cikalong Sabandar, dan akhirnya merantau ke Bandung. Sebelum tahun 1900-an, Abah Aleh sudah eksis di Bandung.

“Dulu kan orang kalau mau berdagang itu istilahnya harus minta izin sama jawaranya. Nah, waktu itu Abah nggak ada izin dari jawara. Akhirnya harus menghadapi satu orang jagoan di Bandung. Dulu di Bandung ada lima jawara, dan itu kalah semua. Tapi akhirnya yang lima orang itu jadi murid pertama Abah Aleh. Sampai dibuatlah perkumpulan silat Panglipur di Gang Durman dekat Pasar Baru Bandung,” ungkap Cecep, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah SD di Garut.

Dari Gang Durman, Sekretariat Pimpinan Pusat Himpunan Panglipur pindah ke Jl Imam Bonjol No 38 Bandung pada 1909. Sejak itu, Panglipur terus berkembang, dan diteruskan oleh generasi keturunan Abah Aleh. Cecep sendiri merupakan murid di generasi kelima.

“Saya mulai belajar tahun 1986 umur saya waktu itu 8 tahun. Kan di Panglipur itu ada tradisi kalau guru punya murid berbakat, dia senang bawa ke guru lain. Sejak itu, saya dikenalkan ke guru-guru lain di Panglipur, akhirnya saya berkeliling, ke Garut, Bandung, dan direkomendasikan ke Panglipur di masing-masing aliran, sampai saya pernah ke aliran di Jawa Timur juga,” tuturnya.

Dalam ilmu silat, masing-masing perguruan memiliki gaya bertarung yang berbeda. Lalu, apa ciri khas Silat Panglipur? “Kebanyakan silat Jawa Barat itu bermain pendek, mainkan pundak. Panglipur itu menggabungkan keduanya. Kita punya gerak panjang seperti Silat Betawi dan Sumatera, dan kita juga punya pendek seperti Jawa Barat,” jelasnya.

Abah Aleh sangat piawai dan mumpuni dalam ilmu silatnya. Ia mampu memadukan gaya berbagai aliran yang diperolehnya dari berbagai tokoh silat terkemuka yang menjadi gurunya. Mereka diantaranya Raden Agus yang mengajarkan aliran Cimande Kampung Baru, Haji Bajuri yang mengajarkan Tepak Dua Cimande dan Sipecut, Gan Uu mengajarkan rangkaian Jalan Cikalong, Rd. Enggah Ahmad mengajarkan rangkaian gerak Jalan Muka, Rd. Kosasih mengajarkan Ulin Sabandar, Jurus Si Pitung dan lima rangkaian Jurus Alip Bandul, Rd. Husen Nataningrat mengajarkan permainan Bojong Herang, serta banyak lagi tokoh silat lainnya yang membimbingnya dalam menuntut ilmu silat.

Sebetulnya Sekretariat Pusat Panglipur berada di Bandung. Akan tetapi sejarah perkembangannya berada di Garut. Pada tahun 1945 Abah Aleh pindah ke Garut, tepatnya Kp. Sumursari Desa Sukasono Kec. Sukawening Kab. Garut.

Pada tahun 1974 Abah Aleh menunjuk kepada putri keempatnya Rd. Hj. Enny Rukmini Sekarningrat sebagai pimpinan penerus HPS Panglipur, serta kepada murid seniornya untuk meneruskan perjuangannya dalam mengurus dan mengembangkan HPS Panglipur. Ketika Rd. Hj. Enny Rukmini meninggal, kepengurusan yang berada di Garut diserahkan kepada Cecep Arif Rahman.

Himpunan Pencak Silat (HPS) Panglipur, dari tahun 1986, mulai membuka diri sebagai suatu perguruan yang mengembangkan serta mempromosikan keilmuannya hingga ke mancanegara. Panglipur berusaha mengkreasikan suatu bentuk seni beladiri yang tetap menjaga tradisi, namun tidak menutup diri terhadap inovasi yang lebih modern. Bidang garapannya tidak hanya dalam segi fisik saja; melalui pelatihan dan diskusi/seminar beladiri; namun juga pada bidang pendokumentasian secara tulisan dan audiovisual, serta penelusuran kesejarahan serta falsafah kesundaannya sebagai jati diri dan referensinya.

Beberapa aliran besar yang dianut dan dikreasikan di Perguruan Pencak Silat Panglipur antara lain : Aliran Cimande, Aliran Cikalong, Aliran Sabandar, Aliran Betawi, dan Aliran Sera.

Latihan pencak silat rutin dilaksanakan di Paguron Panglipur. Mulai dari anak-anak kecil hingga dewasa. Lalu melakukan latihan bersama dengan cabang Panglipur lainnya. Bagi yang ingin bergabung, perguruan ini tidak memungut biaya, namun syaratnya adalah kemauan dan kecocokan hati. Cukup mendatangi tempat latihan dan menyatakan diri ingin bergabung, kita sudah bisa masuk sebagai salah satu murid di perguruan ini.

Kini Panglipur sudah mendunia. Semenjak Festival BERSI di Prancis, banyak negara-negara lain tertarik untuk mengembangkan pencak silat di negaranya masing-masing. Di Festival BERSI saja, pencak silat selalu menjadi tiga besar bersama Kungfu Shaolin dari China dan Taekwondo dari Korea.

Di Prancis, Panglipur sudah memiliki cabang. Juga di Swiss, Belanda, Amerika Serikat, Austria, dan kini yang terbaru adalah Italia. Belum lagi di negara-negara ASEAN. Inggris pun meminta Panglipur membuka cabang di negaranya. Sampai saat ini, Panglipur sudah memiliki 30 cabang di luar Indonesia.

Untuk membuka cabang di negara lain, Panglipur mengirimkan gurunya ke negara tersebut selama dua minggu. Selama dua minggu itu hanya beberapa orang yang latih untuk jadi guru silat di negara tersebut. Setelah berlatih selama dua minggu, orang yang dilatih tersebut harus datang ke Panglipur di Indonesia untuk melanjutkan latihan ke tingkat selanjutnya. Hingga akhirnya dinyatakan boleh membuka cabang dengan persetujuan para tokoh silat Panglipur di Indonesia.

Kini, Panglipur eksis melebarkan sayap di mancanegara, bukan hanya memperkenalkan bela diri pencak silat, namun juga sebagai duta budaya Indonesia di mana terdapat beribu kebudayaan yang harus dilestarikan.

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI