Bale Kota Bandung

Mengenang Pertempuran di Fokkerweg Bandung

Monumen Fokkerweg di sudut halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama, di simpang Jalan Jendral Sudirman Kota Bandung. by adi r

BANDUNG, Balebandung.com – Pertempuran di Fokkerweg, Kota Bandung, berlangsung cukup seru. Bukan hanya yang terlama, tapi juga yang paling dikenang di Kota Bandung. Dampak dari pertempuran ini, yang kini diperingati Kota Bandung dengan sebutan Peringatan Bandung Lautan Api (BLA) setiap tanggal 24 Maret.

Fokkerweg adalah nama jalan di Bandung di tahun 1946 merupakan jalan masuk tentara sekutu menuju lapangan udara Andir. Jalan itu sempat diganti namanya di tahun 1950 menjadi Jalan Garuda, berganti lagi menjadi Jl. Nurtanio. Tapi bukan pergantian nama itu yang akan diceritakan.

Di jalan itulah pada tanggal 20 Maret 1946 telah terjadi suatu pertempuran antara tentara sekutu dengan Pasukan Republik, para pejuang kita dari berbagia gerakan. Ada Hizbullah, Batalyon TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang bermarkas di Situ Aksan, TKR dari Cijerah, PBRI (Pasukan Banteng Republik Indonesia), API  dan  juga Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Mereka merencanakan penyergapan konvoi dengan matang selama berhari-hari di Cibuntu.

Pada hari itu para Pasukan Republik dengan persenjataan “minimalis” sudah bersiap untuk menyergap. Pagi sekira pukul sembilan, tibalah konvoi seribu tentara sekutu itu menggunakan berbagai kendaraan, termasuk 300 lebih sepeda motor. Penyergapan pun dimulai dengan letusan senjata api sebagai isyarat komando, lalu dilanjut gema takbir yang tak henti. Menjelang magrib pasukan sekutu kembali ke arah Cimahi sambil mengangkut para korban yang tewas dan luka-luka.

Sampai dengan tanggal 23 Maret 1946 Pasukan Republik terus bertempur dibarengi gema takbir. Tanggal 24 Maret mereka menguasai Fokkerweg dan mengepung Andir. Namun di hari itu tak ada komando peyerangan.

Tiba-tiba mereka mendapat perintah untuk meninggalkan Kota Bandung, sejauh 10 kilometer ke selatan. Mereka pun patuh  kepada hasil rundingan tersebut. Para pejuang yang kemudian menjadi cikal bakal Pasukan Siliwangi itu meninggalkan Bandung di malam harinya. Mereka meninggalkan kota sambil membakar dan menghancurkan berbagai gedung atau instalasi yang bisa digunakan musuh. Dan di malam itulah terjadi peristiwa yang hingga kini kita peringati setahun sekali pada tanggal 24 Maret sebagai Hari Peringatan Bandung Lautan Api. Para penduduk Bandung pun ikut mengungsi.

“Dari sepenggal catatan sejarah itulah kini kita bisa mengenang mereka melalui peringatan peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret setiap tahun, bisa juga kita mengunjungi Monumen BLA di Tegallega Kota Bandung. Selain itu ada juga stilasi jejak sejarah pertempuran di 10 lokasi di Kota Bandung,” kata Adi Raksanagara, pemerhati sejarah Kota Bandung, Jumat (7/8/2020).

Namun kalau kita mengingat peristiwa pertempuran yang berdampak dahsyat itu, seperti ada perasaan sedih juga. “Soalnya, monumen yang katanya untuk mengenang perjuangan para pahlawan Bandung itu dibuat begitu sederhana, seperti dibangun dalam keterpaksaan. Monumen itu dibuat mencil di sudut halaman Kantor Wilayah Kementerian Agama, di simpang Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Nurtanio yang memang dulu dikenal sebagai Fokkerweg,” tutur Adi.

Memang, imbuh Adi, ada juga sekelompok purnawirawan petinggi TNI yang juga veteran BLA di awal milenial ini pernah menggagas adanya monumen untuk memeperingati pertempuran paling dahsyat di Bandung. Rencana itu sudah disampaikan ke Pemerintah Kota Bandung di awal tahun 2000. Bahkan sudah dibuatkan maketnya.

Menurut rencana, monumen itu akan dibangun di tengah Bundaran Cibeureum. Selain untuk mengenang jasa para pahlawan Bandung, monumen itu juga merupakan ikon “penanda” jalan masuk dan keluarnya Kota Bandung dari empat arah.

Usulan tinggal usulan, entah apa yang menggagalkan rencana itu. Maket yang sudah dibuat itu pun bernasib menyedihkan. Kini dia teronggok dan berdebu di sudut Kantor DPKLTS, di Jl. LLRE. Martadinata Kota Bandung

Seperti menyerahkan saja kepada para warga Kota Bandung yang mengetahui peristiwa tersebut untuk mengenangnya dengan bangga peristiwa Battle of Fokkerweg dengan cara masing-masing pula. ***

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close