Senin, November 28, 2022
BerandaBale Bandung12 Koperasi Diikutsertakan pada Evaluasi Kegiatan Inkubasi

12 Koperasi Diikutsertakan pada Evaluasi Kegiatan Inkubasi

SOREANG,balebandung.com – Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Bandung melakukan evaluasi kegiatan inkubasi pengembangan dan pemberdayaan usaha koperasi berpotensi dengan melibatkan 12 koperasi potensial di Kabupaten Bandung.

Ke-12 koperasi itu, yakni Koperasi Produsen Karyawan Gunung Tilu,
Koperasi Produsen Berkah Niaga Agro Dinamika, Koperasi Produsen Amanah Sejahtera, Koperasi Produsen Pemuda Motekar Sinergi, Koperasi Pemasaran Pondok Pesantren Baitunnajah, Koperasi Simpan Pinjam Citra Mandiri Jawa Barat. Selain itu, Koperasi Konsumen Goah Sambing Ambu, Koperasi Serba Usaha Ikatan Mitra Usaha Cileunyi, Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu’min, Koperasi Produsen Kelompok Tani Tricipta, Koperasi Konsumen Istri Mekar Binangkit dan Koperasi Produsen Bangbara Sadulur Makmur.

“Inkubasi koperasi ini adalah kegiatan yang dilaksanakan Dinas Koperasi untuk meningkatkan kapasitas koperasi. Ada 12 peserta (koperasi) dalam kegiatan inkubasi koperasi yang dilaksanakan di Grand Sunshine Resort Soreang pada Selasa (22/11) kemarin,” kata Bupati Bandung HM Dadang Supriatna melalui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung H. Dindin Syahidin kepada wartawan di ruang kerjanya di Soreng, Rabu (23/11/2022).

Didampingi Kepala Bidang Kelembagaan dan Pemberdayaan Koperasi Rudi Purwanto, Dindin mengatakan, bahwa dari 12 koperasi itu dalam kegiatan inkubasi koperasi ini berbeda dengan kegiatan bimtek yang biasa dilaksanakan. Pelaksanaannya selama tiga bulan, yaitu pada bulan April, Mei dan Juni 2022.

“Selama tiga bulan itu, kita kerjasama dengan salah satu lembaga melakukan identifikasi terhadap persoalan dan potensi yang ada di koperasi, yaitu di 12 koperasi tersebut,” kata Dindin.

Kemudian, imbuhnya, para peserta itu melaksanakan tatap muka di dalam kelas sebanyak 4 kali dalam tiga bulan tersebut. “Kebanyakan, mereka (peserta/koperasi) dicek oleh tim ke lapangan dan perkembangannya dimonitor,” katanya.

Yang paling membanggakan, imbuh Dindin, dari 12 koperasi itu, terjalin kerjasama antar koperasi tersebut. “Jadi koperasi yang butuh dana atau modal disuport oleh koperasi lain, yang masuk pada 12 koperasi tersebut,” katanya.

Dindin mengungkapkan melalui kegiatan inkubasi koperasi itu timbul inovasi-inovasi dalam pengembangan usaha di koperasi tersebut. “Misalnya, ada salah satu koperasi bekerjasama dengan koperasi lainnya, salah contoh menyiapkan modal untuk pengembangan usaha di koperasi salah satu koperasi itu. Kemudian kerjasama antar koperasi dalam hal pengembangan kawasan wisata yang dikelola koperasi. Itu salah satu contoh, dan ada tujuh koperasi yang terlibat dalam kerjasama. Nilai kerjasama sebesar Rp 3,48 miliar. Selain suport anggaran, juga pengadaan bibit dan lain sebagainya,” tuturnya.

Satu hal, kata Dindin, dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat, dan Bupati Bandung HM Dadang Supriatna sering menyampaikan, bahwa ada dukungan dari APBD yang berkaitan dengan inflasi.

“Nah ini, kegiatan yang kemarin kita laksanakan itu insya Allah berkontribusi terhadap penanganan inflasi daerah. Karena apa, tentu dengan kerjasama antar koperasi ini memangkas rantai pasok pemasaran produk,” ujarnya.

Dengan demikian, kata Dindin, harga bisa lebih rendah. Ia mengungkapkan, 12 koperasi yang dilibatkan dalam kepesertaan kegiatan inkubasi itu adalah koperasi yang sehat dan baik. “Sehat sudah jelas. Mereka minimal dua tahun berturut-turut melaksanakan kegiatan RAT (rapat anggota tahunan). Dan itu diseleksi oleh tim, penempatannya juga seluruhnya kita serahkan kepada tim, mana yang terpilih,” katanya.

Dindin mengungkapkan, kegiatan tersebut tentunya memberikan suport terhadap program-program Bupati Bandung. “Terutama yang berkaitan dengan penanganan inflasi. Juga termasuk program prioritas,” ucapnya.

Selama ini, kata Dindin, Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya dari Dinas Koperasi bertangungjawab terhadap yang berkaitan dengan dana bergulir. “Ternyata memang juga koperasi-koperasi itu sudah berperan dalam memberikan ruang kepada masyarakat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi, seperti bank emok dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Dindin menyebutkan, ke 12 koperasi itu kebanyakan koperasi produsen. “Mereka koperasi yang kebanyakan melakukan kegiatan usaha, misalnya pertanian seperti yang dilaksanakan koperasi Tricipta dalam pertanian bawang, dan koperasi lainnya yaitu pertanian palawija, banyak sekali produknya,” ujarnya.

Kemudian, kata dia, timbul inovasi-inovasi di koperasi, misalnya di koperasi Tricipta, salah satu koperasi yang dibina oleh BI (Bank Indonesia) yang berkaitan dengan penanganan inflasi. “Jadi banyak dari luar kota yang datang ke sana (Tricipta). Nah, ini juga jadi inovasi, bagaimana kedatangan dari luar kota memberikan kontribusi terhadap koperasi,” katanya.

Menurutnya, melalui kegiatan inkubasi koperasi itu yang paling penting adalah terjalin kerjasama. Karena selama ini, yang kita tangkap, antara satu koperasi dengan koperasi lain itu, mereka seperti kompetitor. “Tetapi dengan proses kegiatan inkubasi koperasi, yang diselenggarakan oleh bidang kelembagaan dan pemberdayaan koperasi ini, justru menjadi potensi mendatangkan penghasilan untuk koperasi. Itu yang penting,” jelasnya.

Menurutnya, kegiatan inkubasi koperasi baru diselenggarakan tahun ini. Nantinya, bisa dikembangkan dengan koperasi-koperasi lainnya karena koperasi di Kabupaten Bandung sangat besar.

“Kenapa baru ditangani 12 koperasi. Karena keterkaitan ketersediaan anggaran. Tapi di luar itu, kita juga menyelenggarakan, yaitu melaksanakan bimtek yang disesuaikan dengan kebutuhan koperasi,” tuturnya.

Ia juga menyatakan, ke 12 koperasi itu sepakat untuk menjaga komitmen kebersamaan. “Kami juga menyarankan agar memperluas, bekal ilmu mereka itu dibawa dengan koperasi lain yang tidak ikut. Karena mereka sekarang bisa membaca potensi diri untuk mengembangkan dan bekerjasama dengan koperasi yang lain,” ujarnya.

Disebutkan, di Kabupaten Bandung dari 1.746 koperasi, yang aktif sebanyak 919 koperasi dan sisanya 827 tidak aktif. Yang tidak aktif dan kurang aktif ini, katanya, tentunya menjadi tantangan bagi Dinas Koperasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan.
“Yang tidak aktif, bisa jadi karena keanggotaannya yang pasif,” katanya.***

BERITA LAINYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

TERKINI