Bale Bandung

Pajajaran di Panggung Dunia: Ketika Kerajaan Sunda Menggandeng Portugis untuk Menyelamatkan Sunda Kalapa

×

Pajajaran di Panggung Dunia: Ketika Kerajaan Sunda Menggandeng Portugis untuk Menyelamatkan Sunda Kalapa

Sebarkan artikel ini

Perjanjian Sunda–Portugis 1522 bukan sekadar urusan dagang lada. Ia adalah manuver internasional Pajajaran untuk mempertahankan pintu lautnya dari tekanan Demak-Cirebon. Dari Pakuan ke Malaka, kerajaan Prabu Siliwangi pernah bermain dalam geopolitik global abad ke-16.


Pada 21 Agustus 1522, di pesisir Sunda Kalapa, sebuah perjanjian penting dibuat antara Kerajaan Sunda/Pajajaran dan Portugis. Di atas kertas, perjanjian itu tampak seperti urusan dagang: Portugis diberi izin membangun kantor dagang atau benteng, sementara Pajajaran membuka akses terhadap lada Sunda.

Tetapi jika dibaca lebih dalam, perjanjian itu bukan transaksi biasa.

Ia adalah tanda bahwa Pajajaran bukan kerajaan lokal yang tertutup di pedalaman. Pakuan Pajajaran, pusat kekuasaan Prabu Siliwangi dan penerusnya, ternyata terhubung dengan dunia luar: Malaka, jaringan dagang Asia Tenggara, kekuatan laut Portugis, dan pertarungan besar di pesisir utara Jawa.

Perjanjian Sunda–Portugis 1522 adalah manuver internasional sebuah kerajaan yang sedang berusaha menyelamatkan napas maritimnya.

Pajajaran tidak sedang menjual negeri. Ia sedang mencari sekutu.

Pakuan di Pedalaman, Napasnya di Laut

Pajajaran sering dibayangkan sebagai kerajaan pedalaman: Pakuan di Bogor, istana kayu, hutan samida, talaga, parit, dan balairung raja. Gambaran itu tidak salah. Pakuan memang pusat politik dan simbol kekuasaan.

Tetapi Pajajaran tidak hidup hanya dari pedalaman.

Kerajaan Sunda memiliki pelabuhan-pelabuhan penting di pesisir utara Jawa Barat. Dalam catatan Portugis, terutama Tomé Pires dalam Suma Oriental, Kerajaan Sunda dikenal memiliki sejumlah pelabuhan: Banten, Pontang, Cigede atau Cikande, Tangerang, Kalapa, dan Cimanuk.

Dari pelabuhan-pelabuhan itulah Pajajaran bernapas.

Pakuan adalah jantung. Sunda Kalapa adalah paru-paru.

Dari pedalaman, hasil bumi, terutama lada, mengalir ke pesisir. Dari pesisir, kapal-kapal asing datang membawa kain, logam, senjata, barang dagangan, dan kabar dunia. Pajajaran bukan kerajaan yang menutup diri di balik hutan. Ia berdiri di simpul antara gunung, sungai, pelabuhan, dan laut.

Karena itu, siapa menguasai Sunda Kalapa, ia menguasai pintu utama Pajajaran ke dunia luar.

Portugis Datang Setelah Malaka Jatuh

Untuk memahami hubungan Pajajaran dan Portugis, titik awalnya bukan di Bogor, tetapi di Malaka.

Pada 1511, Portugis merebut Malaka. Peristiwa ini mengubah peta perdagangan Asia Tenggara. Malaka adalah pusat dagang besar yang menghubungkan India, Arab, Cina, Melayu, Jawa, dan Nusantara timur. Setelah menguasai Malaka, Portugis menjadi kekuatan baru di jalur laut Asia.

Mereka mencari rempah, lada, pelabuhan, dan sekutu.

Di mata Portugis, Kerajaan Sunda menarik karena memiliki pelabuhan strategis dan komoditas bernilai. Sunda Kalapa bukan pelabuhan kecil. Ia adalah salah satu pintu dagang penting di barat Jawa. Wilayah Sunda juga dikenal sebagai penghasil lada.

Maka ketika Portugis mendekati Pajajaran, mereka datang bukan sebagai tamu biasa. Mereka datang sebagai kekuatan laut yang sedang mencari pijakan baru.

Pajajaran pun melihat peluang.

Ancaman dari Timur: Demak dan Cirebon

Pada saat yang sama, dunia politik Jawa sedang berubah.

Majapahit sudah tidak lagi menjadi kekuatan besar seperti masa Hayam Wuruk. Di pesisir utara Jawa, kekuatan Islam mulai naik. Demak tumbuh sebagai kerajaan Islam yang kuat. Cirebon berkembang sebagai kekuatan pesisir yang makin mandiri dari orbit Sunda. Banten, yang semula berada dalam wilayah pengaruh Sunda, kelak juga menjadi kekuatan besar yang menekan Pajajaran dari barat.

Bagi Pakuan, ancaman ini bukan hanya soal agama. Ini soal geopolitik.

Demak dan Cirebon bergerak di pesisir. Mereka memahami arti pelabuhan. Mereka tahu bahwa kekuasaan abad ke-16 tidak cukup hanya menguasai pedalaman. Jalur laut, syahbandar, pedagang, dan benteng menjadi kunci masa depan.

Jika Sunda Kalapa jatuh, Pajajaran kehilangan pintu utamanya.

Maka hubungan dengan Portugis harus dibaca dalam konteks ini: Pajajaran sedang mencari cara mempertahankan pelabuhan dari tekanan kekuatan Islam pesisir.

Surawisesa dan Diplomasi ke Malaka

Tokoh penting dalam hubungan Pajajaran-Portugis adalah Surawisesa.

Ia adalah putra Sri Baduga Maharaja dan penerus takhta Pajajaran. Dalam banyak pembacaan sejarah, Surawisesa dipandang sebagai tokoh yang memainkan peran penting dalam diplomasi dengan Portugis. Ia disebut pernah menjalin hubungan dengan Portugis di Malaka sebelum perjanjian 1522 diformalkan.

Di sini Surawisesa dapat dibaca bukan hanya sebagai raja perang, tetapi juga sebagai diplomat.

Ia memahami bahwa mempertahankan Pajajaran tidak cukup dengan pasukan darat. Pakuan membutuhkan dukungan laut, teknologi senjata, kapal, dan jaringan internasional. Portugis, yang baru menguasai Malaka, tampak sebagai sekutu potensial.

Dari Pakuan ke Malaka, Pajajaran sedang membuka jalur diplomasi internasional.

Ini menunjukkan bahwa elite Sunda tidak buta geopolitik. Mereka membaca perubahan zaman. Mereka tahu bahwa dunia sedang bergerak dari kerajaan pedalaman menuju kekuasaan pelabuhan.

Perjanjian 1522: Batu Kecil, Geopolitik Besar

Puncak hubungan itu terjadi pada 21 Agustus 1522.

Portugis dari Malaka mengirim utusan bernama Henrique Leme. Ia datang sebagai wakil Gubernur Portugis di Malaka, Jorge d’Albuquerque. Di Sunda Kalapa, Portugis membuat perjanjian dengan pihak Kerajaan Sunda. Dalam sumber Portugis, raja Sunda disebut “Samiam” atau “Samião”, yang sering dikaitkan dengan gelar Sang Hyang atau dengan Surawisesa.

Isi perjanjian itu pada pokoknya mencakup tiga hal besar.

Pertama, Portugis diberi izin membangun kantor dagang atau benteng di Sunda Kalapa.

Kedua, Portugis mendapat akses terhadap perdagangan lada Sunda.

Ketiga, Pajajaran berharap memperoleh bantuan Portugis untuk menghadapi tekanan Demak dan kekuatan pesisir lain.

Sebagai tanda perjanjian, Portugis mendirikan batu padrão. Batu ini bukan sekadar penanda lokasi. Dalam tradisi Portugis, padrão adalah simbol diplomatik dan politik: tanda kehadiran, perjanjian, dan klaim hubungan resmi.

Padrão Luso-Sunda itulah yang kelak menjadi bukti material bahwa Pajajaran pernah menjalin hubungan internasional dengan Portugis.

Batu kecil itu menyimpan geopolitik besar.

Bukan Menjual Negeri

Perjanjian Pajajaran-Portugis kadang bisa disalahpahami dengan kacamata masa kini. Ada yang mungkin bertanya: apakah Pajajaran sedang menyerahkan Sunda Kalapa kepada bangsa asing?

Jawabannya harus hati-hati.

Pada abad ke-16 belum ada negara bangsa bernama Indonesia. Yang ada adalah kerajaan, pelabuhan, jaringan dagang, dinasti, agama, dan aliansi. Kerajaan-kerajaan Nusantara lazim menjalin hubungan dengan kekuatan luar untuk kepentingan masing-masing.

Demak punya jaringan Islam pesisir. Portugis punya jaringan Malaka. Pajajaran mencari sekutu untuk mempertahankan pintu lautnya.

Maka perjanjian 1522 lebih tepat dibaca sebagai diplomasi pertahanan dan dagang, bukan “menjual negeri”.

Pajajaran tidak sedang menyerahkan kedaulatan. Pajajaran sedang membeli waktu, senjata, dan sekutu.

Namun strategi ini memang berisiko. Mengizinkan Portugis membangun benteng berarti membuka pintu bagi kekuatan asing. Dalam politik internasional, sekutu tidak pernah sepenuhnya gratis. Portugis datang bukan karena cinta kepada Pajajaran. Mereka datang karena lada, pelabuhan, dan kepentingan dagang.

Karena itu hubungan Pajajaran-Portugis adalah aliansi pragmatis: dua pihak bertemu karena saling membutuhkan.

Portugis Butuh Lada, Pajajaran Butuh Meriam

Kepentingan kedua pihak sebenarnya jelas.

Portugis membutuhkan lada dan pelabuhan. Setelah menguasai Malaka, mereka ingin memperkuat jaringan dagang di Asia Tenggara. Sunda Kalapa bisa menjadi pangkalan penting di Jawa Barat, sekaligus titik antara Malaka dan jalur rempah lebih jauh ke timur.

Pajajaran membutuhkan dukungan militer dan diplomatik. Tekanan Demak-Cirebon makin kuat. Jika Portugis membangun benteng di Sunda Kalapa, Pajajaran berharap pelabuhan itu lebih sulit direbut lawan.

Dengan bahasa sederhana:

Portugis butuh lada. Pajajaran butuh meriam.

Dua kebutuhan itu bertemu di Sunda Kalapa.

Mengapa Perjanjian Itu Gagal?

Perjanjian 1522 tampak menjanjikan. Tetapi sejarah bergerak lebih cepat daripada diplomasi.

Portugis tidak segera membangun kekuatan permanen yang cukup kuat di Sunda Kalapa. Sementara itu, Demak dan Cirebon membaca situasi dengan tajam. Bagi mereka, kehadiran Portugis di Sunda Kalapa adalah ancaman besar. Jika Portugis berhasil membangun benteng, maka barat Jawa bisa menjadi basis kekuatan Eropa sekaligus sekutu Pajajaran.

Pada 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon di bawah Fatahillah atau Faletehan merebut Sunda Kalapa. Kota itu kemudian dikenal sebagai Jayakarta.

Di sinilah diplomasi Pajajaran-Portugis gagal.

Bukan karena idenya tidak masuk akal. Justru karena lawan bergerak lebih cepat. Portugis terlambat. Pajajaran tidak cukup kuat mempertahankan pelabuhan sendirian. Demak-Cirebon berhasil memutus napas maritim Pakuan.

Sunda Kalapa jatuh. Pakuan masih bertahan. Tetapi Pajajaran kehilangan pintu laut terpentingnya.

Awal Pajajaran Perlahan Padam

Kejatuhan Sunda Kalapa pada 1527 bukan akhir langsung Pajajaran. Kerajaan itu masih bertahan beberapa dekade setelahnya. Tetapi kehilangan pelabuhan utama adalah pukulan besar.

Pakuan menjadi semakin terisolasi. Banten menguat. Cirebon menguat. Jaringan pesisir yang dulu menjadi napas Pajajaran satu per satu lepas dari kendali.

Karena itu, lebih tepat mengatakan Pajajaran tidak runtuh seketika. Ia perlahan padam.

Ini penting dalam membaca sejarah Sunda. Pajajaran bukan kerajaan kecil yang tiba-tiba hilang. Ia adalah kekuatan besar regional yang kehilangan satu demi satu pintu strategisnya. Ketika pelabuhan hilang, perdagangan melemah. Ketika perdagangan melemah, diplomasi menyempit. Ketika diplomasi menyempit, Pakuan makin sendirian.

Pada akhirnya, pusat kerajaan itu tidak mampu lagi menahan tekanan zaman.

Pajajaran di Mata Dunia

Hubungan dengan Portugis menunjukkan satu hal penting: Pajajaran pernah masuk peta geopolitik internasional.

Kalau Pajajaran hanya dongeng, Portugis tidak akan mencatatnya. Mereka tidak akan mengirim Henrique Leme. Mereka tidak akan membuat perjanjian resmi. Mereka tidak akan menancapkan padrão. Mereka tidak akan menulis tentang Sunda dalam catatan dagang dan kronik Asia.

Sumber Portugis seperti Tomé Pires dalam Suma Oriental, dokumen perjanjian Sunda-Portugis 1522, kronik João de Barros dalam Da Ásia, serta artefak Padrão Luso-Sunda menunjukkan bahwa Kerajaan Sunda/Pajajaran dikenal sebagai kekuatan politik dan dagang di barat Jawa.

Pajajaran bukan hanya cerita pantun. Ia bukan hanya legenda Siliwangi. Ia pernah menjadi aktor nyata dalam percaturan dagang dan diplomasi abad ke-16.

Sunda Kalapa: Pelabuhan yang Menentukan Takdir

Sunda Kalapa menjadi pusat cerita ini karena pelabuhan itu adalah simpul takdir Pajajaran.

Bagi Pajajaran, Sunda Kalapa adalah pintu dunia.

Bagi Portugis, Sunda Kalapa adalah peluang dagang dan pangkalan strategis.

Bagi Demak-Cirebon, Sunda Kalapa adalah ancaman jika jatuh ke tangan Portugis.

Karena itu, perebutan Sunda Kalapa bukan sekadar pertempuran lokal. Ia adalah pertarungan tiga kepentingan:

  • Pajajaran ingin mempertahankan pelabuhan.
  • Portugis ingin membangun pijakan.
  • Demak-Cirebon ingin mencegah kekuatan asing dan menekan Pajajaran.

Di titik inilah sejarah Jakarta lama sebenarnya bermula dari konflik internasional.

Sunda Kalapa bukan hanya nama lama Jakarta. Ia adalah bekas pintu laut Pajajaran yang pernah menjadi arena diplomasi global.

Padrão: Dokumen Batu dari Zaman Pajajaran

Salah satu bukti paling menarik dari hubungan ini adalah Padrão Luso-Sunda.

Padrão adalah batu peringatan Portugis yang didirikan sebagai tanda perjanjian 1522. Ia pernah ditemukan di kawasan Jakarta lama dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Artefak ini penting karena ia bukan cerita lisan. Ia benda. Ia bukti material.

Padrão menunjukkan bahwa hubungan Sunda-Portugis bukan legenda belakangan. Ia pernah ditandai secara resmi oleh Portugis. Dalam konteks sejarah Pajajaran, padrão adalah semacam “dokumen batu” yang menyatakan: di tempat ini pernah terjadi perjanjian internasional antara Kerajaan Sunda dan Portugis.

Jika Prasasti Batutulis adalah batu ingatan Sri Baduga di Pakuan, maka Padrão Luso-Sunda adalah batu diplomasi Pajajaran di pesisir.

Satu batu di pedalaman. Satu batu di pelabuhan.

Keduanya menunjukkan bahwa Pajajaran pernah hidup sebagai kerajaan yang punya pusat politik dan pintu internasional.

Membaca Ulang Pajajaran

Selama ini, Pajajaran sering dibicarakan dalam dua kutub: antara sejarah dan legenda. Di satu sisi ada Prabu Siliwangi, maung, ngahiyang, dan cerita rakyat. Di sisi lain ada prasasti, naskah, dan catatan asing.

Hubungan Pajajaran-Portugis membantu kita membaca Pajajaran dari sudut lain: sebagai kerajaan yang punya strategi luar negeri.

Pajajaran tidak hanya bertahan dengan mitos. Ia bertahan dengan diplomasi. Ia tidak hanya punya raja dan istana. Ia punya pelabuhan, syahbandar, utusan, perjanjian, komoditas, dan sekutu asing.

Ini angle yang jarang digali dalam ingatan populer Jawa Barat.

Prabu Siliwangi sering dikenang sebagai raja agung. Tetapi penerusnya, Surawisesa, perlu dibaca sebagai raja yang hidup dalam zaman genting: zaman ketika kerajaan Sunda harus menghadapi perubahan global, bukan hanya perang lokal.

Surawisesa mewarisi kejayaan Pakuan, tetapi juga mewarisi ancaman pesisir. Ia mencoba menjawab ancaman itu dengan diplomasi internasional. Walau akhirnya gagal menyelamatkan Sunda Kalapa, langkah itu menunjukkan kecerdasan politik Pajajaran.

Penutup: Pajajaran Pernah Bermain di Panggung Dunia

Hubungan Pajajaran dan Portugis adalah salah satu bukti bahwa Kerajaan Sunda tidak hidup di pinggir sejarah. Ia berada di tengah arus besar abad ke-16: perdagangan lada, perebutan pelabuhan, naiknya Islam pesisir, ekspansi Portugis, dan perubahan geopolitik Asia Tenggara setelah jatuhnya Malaka.

Perjanjian 1522 adalah momen ketika Pakuan mencoba menjaga masa depannya melalui Sunda Kalapa. Tetapi lima tahun kemudian, Sunda Kalapa jatuh. Padrão tinggal sebagai saksi. Pajajaran kehilangan pintu lautnya. Pakuan bertahan, tetapi perlahan padam.

Namun justru dari kegagalan itu kita melihat kebesaran Pajajaran.

Kerajaan ini tidak diam menunggu takdir. Ia membaca zaman, mengirim utusan, menjalin aliansi, dan masuk ke panggung internasional.

Pajajaran bukan dongeng pedalaman.

Ia pernah berdiplomasi dengan kekuatan dunia.

Dan Sunda Kalapa adalah panggung tempat sejarah itu ditulis—sebelum kota itu berganti nama menjadi Jayakarta, Batavia, lalu Jakarta.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

Tomé Pires mencatat istana raja Sunda bertiang 330. Prasasti Batutulis menyebut parit, balai, samida, dan talaga. Jika istana Pakuan lenyap, bukan berarti Pajajaran tidak ada. Bisa jadi karena istananya memang dibangun dari kayu, bambu, ijuk, dan umpak batu—arsitektur tropis Sunda yang menyatu dengan alam. Ada pertanyaan yang selalu muncul setiap kali orang membicarakan Kerajaan Pajajaran: […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – UNICEF (United Nations Children’s Fund) mengapresiasi kinerja Perumda Air Minum Tirta Raharja Kabupaten Bandung dalam penyediaan layanan air bersih bagi masyarakat. Perusahaan daerah tersebut dinilai menjadi salah satu contoh praktik baik dalam mendukung pemenuhan hak anak, terutama hak atas akses air bersih dan lingkungan yang sehat. Apresiasi itu disampaikan Kepala Perwakilan UNICEF […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna secara resmi membuka Kick Off Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang TK, SD dan SMP Tahun 2026 di Gedung Moh Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Selasa (19/5/2026). Bupati yang akrab disapa Kang Dadang Supriatna (KDS) itu mengatakan, kegiatan kick off ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata dari […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Pemerintah Kabupaten Bandung menyatakan siap mendukung pelaksanaan kerja sama Country Programme Action Plan atau CPAP 2026–2030 antara UNICEF dan Pemerintah Pusat. Program tersebut dinilai sejalan dengan prioritas pembangunan daerah, terutama dalam pemenuhan hak anak dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb saat menerima sosialisasi pelaksanaan kegiatan […]

Bale Bandung

balebandung.com – Dari Pakuan, Sunda Kalapa, maung, hingga nama Kodam Silliwangi dan Universitas Padjadjaran, Siliwangi bukan sekadar raja masa lalu. Ia menjadi cara orang Sunda mengingat kejayaan yang hilang. Dari sekian banyak raja Sunda, nama Prabu Siliwangi paling keras menggema di telinga rakyat Jawa Barat. Ia hadir dalam cerita rakyat, nama jalan, kesatuan militer, simbol […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Satreskrim Polresta Bandung berhasil mengungkap dugaan kejahatan lingkungan yang dilakukan sebuah perusahaan di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Dalam kasus ini, polisi menetapkan PT TDP sebagai tersangka korporasi karena diduga mengelola limbah B3 tanpa fasilitas Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) yang berizin. Pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil penyelidikan sejak Januari 2026 yang dilakukan Satreskrim […]