Bale Bandung

Pajajaran Bukan Dongeng: Membaca Istana Pakuan dari 330 Tiang, Rumah Panggung, dan Ingatan Sunda

×

Pajajaran Bukan Dongeng: Membaca Istana Pakuan dari 330 Tiang, Rumah Panggung, dan Ingatan Sunda

Sebarkan artikel ini

Tomé Pires mencatat istana raja Sunda bertiang 330. Prasasti Batutulis menyebut parit, balai, samida, dan talaga. Jika istana Pakuan lenyap, bukan berarti Pajajaran tidak ada. Bisa jadi karena istananya memang dibangun dari kayu, bambu, ijuk, dan umpak batu—arsitektur tropis Sunda yang menyatu dengan alam.

Ada pertanyaan yang selalu muncul setiap kali orang membicarakan Kerajaan Pajajaran: kalau benar Prabu Siliwangi pernah bertakhta di Pakuan, di mana bekas istananya?

Pertanyaan itu wajar. Tidak seperti candi batu atau keraton berdinding tebal, istana Pakuan Pajajaran tidak meninggalkan bangunan megah yang masih berdiri. Tidak ada balairung utuh. Tidak ada singgasana yang bisa ditunjuk pasti. Tidak ada kompleks keraton yang bisa dipotret lalu diberi papan nama: “Di sinilah Sri Baduga Maharaja memerintah.”

Dari ketiadaan bangunan itulah pernah muncul suara sumbang: Pajajaran dianggap tidak ada, atau setidaknya diragukan, karena istananya tidak ditemukan.

Tetapi kesimpulan itu terlalu tergesa-gesa.

Sebuah kerajaan tidak selalu dibuktikan oleh istana batu yang bertahan ratusan tahun. Apalagi jika istananya dibangun dari kayu, bambu, ijuk, rumbia, pasak, tali ijuk, dan bahan organik tropis. Di tanah lembap Jawa Barat, bangunan seperti itu bisa lenyap tanpa harus menunggu seribu tahun. Ia bisa lapuk, terbakar, dibongkar, dipakai ulang, atau tertimbun permukiman baru.

Pakuan Pajajaran mungkin tidak meninggalkan istana utuh. Tetapi ia meninggalkan jejak yang tidak bisa diabaikan: catatan Portugis, prasasti, naskah Sunda Kuna, toponimi, lanskap Bogor, dan ingatan panjang masyarakat Sunda.

330 Tiang dalam Catatan Tomé Pires

Salah satu gambaran paling penting tentang istana raja Sunda datang dari Tomé Pires, penulis Portugis awal abad ke-16 dalam Suma Oriental. Pires menyebut pusat kerajaan Sunda sebagai Dayo, yang banyak ditafsirkan sebagai Pakuan. Ia menggambarkan rumah raja Sunda sebagai bangunan sangat besar, dibuat dari kayu, memiliki 330 tiang, dan dihiasi ukiran indah.

Catatan ini penting karena memberi petunjuk material istana Pakuan: bukan istana batu, melainkan istana kayu. Ia besar, bertiang banyak, berukir, dan dibangun dengan teknologi arsitektur tropis.

Tetapi angka 330 juga harus dibaca hati-hati. Pires kemungkinan besar tidak melihat langsung istana Pakuan. Ia memperoleh informasi dari jaringan pelabuhan, pedagang, dan informan di wilayah Sunda. Maka angka 330 bisa saja merupakan angka yang didengar dari tradisi lisan, angka perkiraan, atau angka simbolik untuk menunjukkan kemegahan luar biasa.

Namun satu hal jelas: bagi informan Pires, istana raja Sunda bukan bangunan kecil. Ia adalah pusat kekuasaan yang megah.

Prasasti Batutulis: Pakuan Bukan Kota Khayalan

Sumber lokal yang sangat penting adalah Prasasti Batutulis di Bogor. Prasasti ini dibuat pada 1533 M oleh Prabu Surawisesa untuk memperingati ayahnya, Sri Baduga Maharaja.

Isi prasasti menyebut Sri Baduga sebagai raja di Pakuan Pajajaran dan mencatat sejumlah karya besarnya: membuat parit pertahanan Pakuan, membuat jalan yang diurug batu, membuat gugunungan, membuat balai, membuat hutan samida, dan membuat Talaga Rena Mahawijaya.

Ini bukti penting.

Kalau Pakuan hanya dongeng, mengapa ada prasasti abad ke-16 yang secara eksplisit menyebut Sri Baduga, Pakuan Pajajaran, parit, balai, samida, dan talaga?

Prasasti Batutulis tidak memberi denah istana. Ia tidak berkata: “istana berada tepat di titik ini.” Tetapi ia memberi petunjuk bahwa Pakuan adalah kota kerajaan yang memiliki infrastruktur: pertahanan, jalan, ruang sakral, hutan larangan, dan tata air.

Dengan kata lain, Pakuan bukan sekadar nama dalam legenda. Ia adalah pusat kota kerajaan yang dibangun, dipertahankan, dan dikenang oleh penerusnya.

Istana Pakuan Sebagai Rumah Panggung Raksasa

Jika catatan Pires dan Prasasti Batutulis digabung dengan pengetahuan tentang arsitektur Sunda, maka istana Pakuan lebih masuk akal dibayangkan sebagai kompleks rumah panggung kerajaan, bukan bangunan batu tertutup seperti istana Eropa.

Arsitektur Sunda pada masa Kerajaan Pajajaran kemungkinan besar didominasi oleh struktur panggung kayu dan bambu. Bangunan dibuat naik dari tanah, disangga oleh tiang-tiang besar di atas umpak batu. Fungsi umpak batu bukan hanya teknis, tetapi sangat penting: ia menjaga kayu agar tidak langsung menyentuh tanah lembap sehingga tidak cepat lapuk.

Di atas struktur panggung itu, lantai dapat dibuat dari papan kayu atau bambu belah/palupuh. Dinding tidak selalu tertutup rapat. Balairung kerajaan kemungkinan memiliki ruang terbuka, sirkulasi udara luas, dan pandangan langsung ke halaman, hutan, gunung, atau talaga.

Ini cocok dengan iklim Bogor yang lembap dan berhujan tinggi. Istana Pakuan tidak perlu dibayangkan sebagai benteng batu. Ia lebih tepat dibayangkan sebagai keraton kayu tropis: tinggi, terbuka, bertiang banyak, beratap lebar, dan menyatu dengan alam.

Kayu, Bambu, Ijuk, Rumbia: Kemegahan yang Tidak Harus Berbatu

Salah satu kesalahan umum dalam membayangkan kerajaan lama adalah menganggap kemegahan harus selalu berarti batu, bata, atau tembok besar. Dalam tradisi Sunda, kemegahan bisa lahir dari kayu pilihan, tiang besar, ukiran halus, atap tinggi, dan tata ruang yang sakral.

Material utama istana Pakuan kemungkinan berasal dari alam sekitar:

  • kayu besar untuk tiang dan balok;
  • bambu untuk lantai, dinding, atau elemen ringan;
  • ijuk, rumbia, atau daun kelapa untuk atap;
  • batu alam sebagai umpak;
  • pasak kayu dan tali ijuk sebagai pengikat;
  • ukiran flora, fauna, dan simbol kosmologis sebagai hiasan.

Bangunan seperti ini tidak harus memakai paku besi. Dalam arsitektur tradisional, sambungan kayu dapat dibuat dengan pasak, lubang, takikan, dan ikatan serat alam. Justru di situlah kecanggihan lokalnya: kuat, lentur, bisa dibongkar-pasang, dan cocok dengan lingkungan tropis.

Maka ketika istana Pakuan tidak tersisa, penjelasannya menjadi masuk akal. Bahan organik memang rapuh terhadap waktu. Kayu bisa lapuk. Bambu bisa hancur. Ijuk bisa membusuk. Tiang bisa dipakai ulang. Umpak batu bisa bergeser, tertimbun, atau tidak dikenali sebagai bagian istana.

Lenyapnya bangunan tidak otomatis berarti lenyapnya sejarah.

Atap Sunda: Julang Ngapak, Buka Pongpok, Badak Heuay

Agar rekonstruksi istana Pakuan tidak terlalu generik, unsur arsitektur Sunda perlu dimasukkan. Salah satu ciri terpenting adalah bentuk atap.

Dalam tradisi arsitektur Sunda, dikenal beberapa bentuk atap yang mengambil inspirasi dari alam dan hewan. Tiga bentuk yang sering disebut adalah julang ngapak, buka pongpok, dan badak heuay.

Julang ngapak adalah bentuk atap yang melebar ke kiri dan kanan, menyerupai burung yang sedang mengepakkan sayap. Untuk istana Pakuan, bentuk ini sangat cocok dipakai sebagai inspirasi utama karena memberi kesan agung, terbuka, dan menyatu dengan langit.

Buka pongpok menggambarkan bentuk atap atau muka bangunan yang terbuka, seperti rumah yang bagian depannya menganga. Ini cocok untuk balairung kerajaan yang tidak tertutup rapat, tempat raja menerima pejabat, tamu, utusan, atau rakyat dalam suasana terbuka.

Badak heuay adalah bentuk atap yang menyerupai kepala badak yang sedang menguap. Bentuk ini dapat dibayangkan pada bangunan pendukung, paviliun, atau bagian kompleks keraton yang lebih kecil.

Dengan memasukkan bentuk-bentuk atap ini, rekonstruksi istana Pakuan menjadi lebih Sunda. Bukan sekadar istana kayu generik. Bukan pula tiruan Majapahit atau Bali. Ia harus berdiri dengan watak arsitektur Sunda: panggung, beratap lebar, terbuka, berumpak batu, dan dekat dengan alam.

Sri Bima, Punta, Magelung: Nama-Nama Ruang Kerajaan

Dalam tradisi naskah Sunda Kuna, terutama yang sering dikaitkan dengan tata kehidupan masyarakat Sunda lama, dikenal istilah-istilah seperti Sri Bima, Punta, dan Magelung. Nama-nama ini kerap dibaca sebagai bagian dari kompleks keraton atau pusat kekuasaan di Pakuan.

Jika digunakan untuk rekonstruksi, Sri Bima, Punta, dan Magelung dapat dibayangkan sebagai bangunan-bangunan utama dalam kompleks istana. Bukan sekadar satu gedung, melainkan rangkaian ruang kekuasaan.

Di tengah kompleks terdapat bangunan utama: balairung atau ruang singgasana raja. Di sekelilingnya terdapat bangunan pendukung, tempat para punggawa, penjaga, dan pejabat kerajaan. Bagian ini dapat dikaitkan dengan istilah sakeng, yakni area yang menjadi tempat tinggal atau aktivitas para punggawa istana dan prajurit.

Ada pula kemungkinan ruang sakral seperti gedong pembakaran, yaitu tempat upacara pembakaran, sesaji, atau ritual keagamaan pada masa pengaruh Hindu-Buddha dan pemujaan hyang masih kuat.

Dengan demikian, istana Pakuan tidak boleh dibayangkan sebagai satu rumah besar saja. Ia lebih tepat dibayangkan sebagai kompleks kerajaan: ada ruang raja, ruang upacara, ruang pejabat, ruang prajurit, halaman, gapura, parit, dan zona sakral.

Tata Ruang Kosmologis: Nista, Madya, Utama

Arsitektur Sunda lama tidak berdiri hanya berdasarkan fungsi praktis. Ia juga dibentuk oleh kosmologi.

Dalam banyak tradisi arsitektur Nusantara, ruang dibagi berdasarkan tingkat kesakralan. Ada bagian bawah, tengah, dan atas. Ada luar, tengah, dan dalam. Ada ruang umum, ruang transisi, dan ruang utama.

Dalam bahasa tafsir arsitektur, istana Pakuan dapat dibaca melalui pola nista, madya, utama:

  • nista: bagian luar, halaman, akses masuk, parit, tanggul, dan ruang publik;
  • madya: ruang tengah, balairung, tempat pertemuan, ruang pejabat;
  • utama: ruang terdalam, singgasana, tempat pusaka, dan pusat sakral raja.

Pola ini sejalan dengan konsep kosmologis Sunda yang mengenal tatanan dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas. Dalam rekonstruksi visual, hal ini bisa diwujudkan melalui bangunan panggung: umpak dan tiang sebagai dunia bawah/penopang, lantai dan ruang manusia sebagai dunia tengah, serta atap tinggi sebagai dunia atas.

Maka istana bukan hanya tempat tinggal raja. Ia adalah miniatur jagat.

Raja duduk di pusat bukan sekadar sebagai kepala pemerintahan, tetapi sebagai penjaga harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan kekuatan sakral.

330 Tiang: Arsitektur atau Kosmologi?

Angka 330 dalam catatan Pires menggoda untuk ditafsirkan lebih jauh.

Secara paling aman, 330 tiang adalah penanda skala. Artinya, istana raja Sunda sangat besar. Tetapi dalam dunia kerajaan lama, arsitektur sering sekaligus kosmologi. Angka tidak selalu netral. Susunan ruang, jumlah tiang, arah hadap, dan bentuk atap bisa menyimpan makna.

Salah satu kemungkinan tafsir adalah membaca 330 sebagai 33 × 10. Dalam horizon Hindu-Buddha, angka 33 dikenal dalam tradisi dewa-dewa lama, sementara angka 10 dapat dibaca sebagai sepuluh penjuru jagat: delapan arah mata angin, atas, dan bawah.

Jika tafsir ini dipakai, maka 330 tiang istana Pakuan dapat dibaca sebagai simbol kosmologis: rumah raja ditopang oleh kekuatan ilahi dari seluruh arah.

Tetapi ini harus diberi pagar. Tidak ada sumber sezaman yang menjelaskan langsung bahwa 330 tiang berarti 33 dewa dikali 10 arah. Pires hanya mencatat jumlahnya, bukan maknanya.

Maka rumusan paling aman adalah:

330 adalah data sumber; makna kosmologisnya adalah tafsir.

Namun tafsir itu tetap menarik. Sebab dalam dunia Sunda-Hindu-Buddha, istana raja memang bukan sekadar bangunan. Ia pusat jagat kerajaan.

Gapura Kayu, Bukan Candi Bentar

Rekonstruksi istana Pakuan juga perlu hati-hati dalam menggambarkan pintu masuk. Jangan otomatis memakai candi bentar bergaya Majapahit atau Bali. Pajajaran adalah kerajaan Sunda. Gapura keratonnya lebih masuk akal dibayangkan sebagai gapura kayu beratap, bukan gapura batu besar.

Gapura itu bisa memakai bentuk atap julang ngapak atau capit gunting. Bahannya kayu, bambu, ijuk, dan dihiasi ukiran simbolis. Jika ingin memasukkan simbol Prabu Siliwangi, ukiran maung atau macan putih bisa ditempatkan sebagai motif, tetapi tetap harus ditulis sebagai tafsir visual modern, bukan bukti arkeologis pasti.

Di luar gapura, kota Pakuan kemungkinan memiliki sistem pertahanan berupa parit dan tanggul. Ini sejalan dengan Prasasti Batutulis yang menyebut karya Sri Baduga membuat parit Pakuan. Parit bukan hanya pertahanan militer, tetapi juga bagian dari tata air. Di wilayah Bogor yang basah, parit dan tanggul dapat berfungsi ganda: mengatur air sekaligus melindungi kota.

Pakuan Sebagai Kota Air, Hutan, dan Kayu

Pakuan tidak boleh dibayangkan sebagai kota batu kering. Ia berada di lanskap Bogor: dekat sungai, hutan, bukit, dan curah hujan tinggi. Karena itu, istana Pakuan kemungkinan menyatu dengan air dan vegetasi.

Prasasti Batutulis menyebut samida dan Talaga Rena Mahawijaya. Ini penting. Samida dapat dibaca sebagai hutan atau kawasan yang disakralkan. Talaga menunjukkan adanya tata air. Maka pusat Pakuan bukan hanya istana dan singgasana, tetapi juga hutan, air, parit, jalan batu, dan ruang upacara.

Di sinilah karakter Sunda terasa kuat: kerajaan tidak dipisahkan dari alam. Kekuasaan tidak hanya ditampilkan lewat tembok, tetapi lewat kemampuan menata hutan, air, jalan, dan ruang sakral.

Pakuan adalah kota kerajaan yang hidup dalam ekologi tropis.

Mengapa Istana Pakuan Lenyap?

Lenyapnya istana Pakuan bisa dijelaskan melalui beberapa faktor yang saling melengkapi.

Pertama, bahan bangunannya organik. Kayu, bambu, ijuk, dan rumbia tidak tahan abadi. Tanpa perawatan terus-menerus, bangunan seperti ini akan rusak.

Kedua, Pakuan mengalami tekanan politik dan militer. Setelah pelabuhan-pelabuhan penting seperti Banten dan Sunda Kalapa lepas, Pajajaran makin terdesak. Pada akhir abad ke-16, Pakuan jatuh ke kekuatan Banten. Dalam situasi penaklukan, istana bisa dibakar, dirusak, ditinggalkan, atau dibongkar.

Ketiga, material istana mungkin dipakai ulang. Tiang kayu besar, papan, balok, dan batu umpak adalah bahan berharga. Setelah pusat kerajaan tidak berfungsi, bahan-bahan itu bisa diambil oleh penduduk atau penguasa baru.

Keempat, kota modern menimpa kota lama. Bogor terus berkembang menjadi permukiman, kebun, kota kolonial, lalu kota modern. Jejak arkeologis Pakuan bisa tertutup rumah, jalan, saluran air, dan bangunan baru.

Maka ketiadaan istana utuh bukan bukti bahwa Pajajaran tidak ada. Justru ketiadaan itu sesuai dengan karakter materialnya.

Istana kayu memang bisa hilang. Tetapi sumber sejarahnya tidak ikut hilang.

Di Mana Lokasi Istana Itu Sekarang?

Lokasi tepat istana Pakuan masih menjadi persoalan. Namun kawasan yang paling kuat dikaitkan dengan pusat Pakuan adalah Batutulis, Bogor Selatan.

Prasasti Batutulis menjadi penanda penting. Kawasan ini sering dibaca sebagai zona inti memori Pakuan Pajajaran. Tetapi kita harus hati-hati: Batutulis tidak otomatis berarti titik persis singgasana raja.

Lebih aman mengatakan:

Kawasan Batutulis–Bogor Selatan adalah zona kuat pusat Pakuan Pajajaran, tetapi titik persis istana Sri Baduga belum dapat dipastikan.

Pakuan sebagai kota kerajaan mungkin membentang lebih luas daripada satu situs. Istana, balai, samida, talaga, parit, dan permukiman punggawa bisa tersebar dalam satu lanskap kota kerajaan.

Dengan demikian, pencarian istana Pakuan tidak cukup dilakukan dengan mencari satu fondasi besar. Yang harus dicari adalah pola lanskap: batu, parit lama, kontur tanah, toponimi, jalur air, dan kemungkinan bekas umpak.

Rekonstruksi Visual yang Lebih Presisi

Jika istana Pakuan hendak divisualisasikan untuk kepentingan edukasi sejarah, beberapa unsur wajib dimasukkan agar tidak melenceng dari karakter Sunda:

  1. Bangunan panggung besar, bukan bangunan batu tertutup.
  2. Tiang kayu besar di atas umpak batu.
  3. Atap ijuk/rumbia bertingkat atau melebar, dengan inspirasi julang ngapak.
  4. Lantai kayu atau bambu/palupuh.
  5. Dinding terbuka atau semi-terbuka, sesuai iklim tropis.
  6. Sambungan kayu memakai pasak dan ikatan, bukan paku besi modern.
  7. Ukiran flora, fauna, dan simbol kosmologis Sunda.
  8. Gapura kayu beratap, bukan candi bentar batu.
  9. Parit dan tanggul sebagai pertahanan kota.
  10. Hutan samida dan talaga sebagai bagian dari lanskap sakral.
  11. Ruang utama di tengah untuk singgasana raja.
  12. Bangunan pendukung untuk punggawa, prajurit, dan ritual.

Dengan unsur-unsur ini, ilustrasi istana Pakuan akan lebih kuat. Ia tidak hanya megah, tetapi juga punya identitas Sunda.

Bukan Keraton Batu, Melainkan Keraton Ekologis

Inilah sudut pandang yang sering luput: Pakuan Pajajaran mungkin bukan keraton batu, melainkan keraton ekologis.

Ia berdiri dari bahan alam. Ia memakai struktur panggung untuk berdamai dengan tanah basah. Ia memakai atap lebar untuk menghadapi hujan. Ia memakai umpak batu agar tiang tidak cepat lapuk. Ia memakai parit untuk pertahanan dan tata air. Ia memiliki samida dan talaga sebagai bagian dari ruang sakral.

Kemegahannya bukan pada tembok batu, melainkan pada keteraturan ruang, jumlah tiang, ukiran kayu, tinggi atap, dan kemampuannya menyatukan manusia dengan alam.

Pakuan adalah pusat politik, tetapi juga pusat kosmologi.

Pajajaran Tidak Hilang Karena Istananya Lenyap

Argumen bahwa Pajajaran tidak ada karena istananya tidak ditemukan berdiri di atas logika yang keliru. Kalau semua kerajaan harus dibuktikan dengan istana batu yang masih utuh, maka banyak kerajaan kayu di Asia Tenggara harus dianggap tidak ada.

Padahal sejarah tidak bekerja sesempit itu.

Pajajaran dibuktikan oleh gabungan sumber: Prasasti Batutulis, catatan Tomé Pires, naskah Sunda Kuna, jejak toponimi, situs di Bogor, catatan pelabuhan Sunda, dan ingatan masyarakat Sunda.

Istana yang lenyap tidak menghapus semua bukti itu.

Justru lenyapnya istana memberi pemahaman baru: Pajajaran adalah kerajaan kayu, air, hutan, parit, dan kosmologi. Ia tidak meninggalkan piramida. Ia meninggalkan prasasti, nama tempat, ingatan, dan pertanyaan yang terus hidup.

Penutup: Istana yang Hilang, Ingatan yang Bertahan

Pakuan Pajajaran mungkin sudah tidak bisa dikunjungi sebagai istana utuh. Tetapi Pakuan belum sepenuhnya hilang. Ia bertahan dalam Batutulis. Ia bertahan dalam lanskap Bogor. Ia bertahan dalam nama Pajajaran. Ia bertahan dalam ingatan tentang Prabu Siliwangi.

Jika hari ini seseorang berdiri di Batutulis dan membayangkan balairung kayu bertiang ratusan, atap julang ngapak yang melebar seperti sayap burung, tiang-tiang besar di atas umpak batu, lantai palupuh, ukiran flora-fauna, gapura kayu, parit pertahanan, hutan samida, dan talaga kerajaan—imajinasi itu tidak lahir dari kekosongan.

Ia lahir dari serpihan sumber.

Istana Pakuan memang lenyap. Tetapi lenyap bukan berarti tidak pernah ada.

Kadang yang hilang bukan sejarahnya, melainkan bahannya: kayu yang lapuk, bambu yang hancur, ijuk yang membusuk, dan tiang yang dipakai ulang oleh zaman.

Pajajaran bukan dongeng.

Ia adalah kerajaan tropis yang jejak fisiknya rapuh, tetapi jejak ingatannya keras kepala.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

Perjanjian Sunda–Portugis 1522 bukan sekadar urusan dagang lada. Ia adalah manuver internasional Pajajaran untuk mempertahankan pintu lautnya dari tekanan Demak-Cirebon. Dari Pakuan ke Malaka, kerajaan Prabu Siliwangi pernah bermain dalam geopolitik global abad ke-16. Pada 21 Agustus 1522, di pesisir Sunda Kalapa, sebuah perjanjian penting dibuat antara Kerajaan Sunda/Pajajaran dan Portugis. Di atas kertas, perjanjian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – UNICEF (United Nations Children’s Fund) mengapresiasi kinerja Perumda Air Minum Tirta Raharja Kabupaten Bandung dalam penyediaan layanan air bersih bagi masyarakat. Perusahaan daerah tersebut dinilai menjadi salah satu contoh praktik baik dalam mendukung pemenuhan hak anak, terutama hak atas akses air bersih dan lingkungan yang sehat. Apresiasi itu disampaikan Kepala Perwakilan UNICEF […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna secara resmi membuka Kick Off Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang TK, SD dan SMP Tahun 2026 di Gedung Moh Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Selasa (19/5/2026). Bupati yang akrab disapa Kang Dadang Supriatna (KDS) itu mengatakan, kegiatan kick off ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata dari […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Pemerintah Kabupaten Bandung menyatakan siap mendukung pelaksanaan kerja sama Country Programme Action Plan atau CPAP 2026–2030 antara UNICEF dan Pemerintah Pusat. Program tersebut dinilai sejalan dengan prioritas pembangunan daerah, terutama dalam pemenuhan hak anak dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb saat menerima sosialisasi pelaksanaan kegiatan […]

Bale Bandung

balebandung.com – Dari Pakuan, Sunda Kalapa, maung, hingga nama Kodam Silliwangi dan Universitas Padjadjaran, Siliwangi bukan sekadar raja masa lalu. Ia menjadi cara orang Sunda mengingat kejayaan yang hilang. Dari sekian banyak raja Sunda, nama Prabu Siliwangi paling keras menggema di telinga rakyat Jawa Barat. Ia hadir dalam cerita rakyat, nama jalan, kesatuan militer, simbol […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Satreskrim Polresta Bandung berhasil mengungkap dugaan kejahatan lingkungan yang dilakukan sebuah perusahaan di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Dalam kasus ini, polisi menetapkan PT TDP sebagai tersangka korporasi karena diduga mengelola limbah B3 tanpa fasilitas Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) yang berizin. Pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil penyelidikan sejak Januari 2026 yang dilakukan Satreskrim […]