balebandung.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang akhirnya melahirkan nakhoda baru. KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031 setelah memperoleh 472 suara.
Pilihan itu menarik bukan semata karena Gus Kikin merupakan bagian dari keluarga besar pendiri NU. Ia adalah cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dari jalur Nyai Hj Khoiriyah Hasyim. Yang lebih menarik adalah perjalanan hidupnya sebelum sampai ke titik ini.
Gus Kikin bukan sosok yang sejak awal hidupnya berada di belakang meja organisasi. Ia pernah menjadi pelaut, menjalani kehidupan di atas kapal dan kemudian dipercaya menduduki posisi pimpinan di PT Djakarta Lloyd. Dari dunia pelayaran, ia masuk ke dunia usaha dan kemudian dikenal sebagai pengusaha di sektor energi melalui PT Energi Mineral Langgeng.
Pengalaman itu memberi warna tersendiri. Ada disiplin yang lahir dari dunia pelayaran, ada kemampuan membaca risiko dari dunia usaha, dan ada tradisi keilmuan pesantren yang menjadi bagian dari kehidupannya. Ia juga menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka.
Namun perjalanan Gus Kikin di NU justru berlangsung relatif jauh dari hiruk-pikuk politik organisasi. Ia menjalani masa panjang sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, sekitar 14 tahun, sebelum kemudian dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur dan selanjutnya terpilih sebagai ketua definitif.
Kini, amanah itu jauh lebih besar. Dari Jawa Timur ke tingkat nasional.
Gus Kikin juga bukan nama baru dalam tradisi pesantren. Ia dipercaya menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, meneruskan estafet kepemimpinan pesantren yang sebelumnya diasuh KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Dalam perkembangannya, jaringan Pesantren Tebuireng terus meluas dan telah memiliki sejumlah cabang di berbagai daerah Indonesia.
Karena itu, kepemimpinan Gus Kikin di PBNU layak dibaca bukan sekadar pergantian figur. Ada pesan yang lebih besar: NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghubungkan pesantren, organisasi, dunia usaha dan perubahan sosial tanpa kehilangan akar perjuangannya.
Dalam gagasan yang disampaikannya, Gus Kikin menekankan pentingnya kembali kepada Qanun Asasi yang dirumuskan KH Hasyim Asy’ari sebagai pedoman dasar perjuangan NU. Pada saat yang sama, ia membawa perhatian terhadap penguatan ekonomi warga NU, kewirausahaan, UMKM dan kemandirian ekonomi.
Ini penting. Sebab tantangan NU hari ini bukan hanya bagaimana menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga bagaimana memastikan jutaan nahdliyin memiliki kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih kuat.
NU adalah organisasi dengan jaringan yang luar biasa besar. Ada pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, badan usaha, lembaga sosial, komunitas pemuda hingga jaringan warga di tingkat paling bawah. Potensinya besar, tetapi besarnya organisasi juga menghadirkan tantangan: bagaimana seluruh kekuatan itu bergerak dalam satu arah tanpa kehilangan karakter dasarnya.
Di sinilah kata khidmah menjadi penting.
Khidmah berbeda dengan sekadar mencari posisi. Khidmah tidak selalu membutuhkan jabatan. Ia bisa dilakukan melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, media, kebudayaan, pelayanan sosial, maupun kerja-kerja intelektual yang sering kali tidak terlihat.
Mungkin karena itu pula perjalanan Gus Kikin menarik untuk diperhatikan. Ia tidak muncul dari perlombaan popularitas organisasi. Ia menjalani proses panjang, bekerja di berbagai bidang, kemudian dipercaya ketika organisasi membutuhkan.
Bagi warga NU, pergantian kepemimpinan ini semestinya juga menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang bisa kita kerjakan untuk NU?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan kerja nyata.
Tidak semua orang harus menjadi pengurus. Tidak semua orang harus mengejar jabatan. Ada yang cukup menguatkan lembaga pendidikan, membangun ekonomi warga, mengembangkan media NU, mendampingi pesantren, menghidupkan kebudayaan, atau membantu organisasi membuat keputusan yang lebih baik.
Pada akhirnya, kapal besar bernama Nahdlatul Ulama memang membutuhkan nakhoda. Tetapi kapal sebesar NU tidak mungkin berlayar hanya dengan seorang nakhoda. Ia membutuhkan jutaan orang yang bekerja sesuai perannya masing-masing.
Gus Kikin kini berada di kemudi. Tugas warga NU bukan berebut duduk di ruang kemudi, melainkan memastikan kapal besar ini bergerak menuju tujuan yang sama: menjaga tradisi, merawat kebangsaan dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Selamat mengemban amanah, Gus Kikin.
Semoga babak baru PBNU menjadi babak baru pula bagi gerakan khidmah warga Nahdlatul Ulama—termasuk bagi mereka yang selama ini hanya berdiri di pinggir, mengamati, dan perlahan mulai bertanya: mungkin sudah waktunya ikut bekerja.*** by Iwa Ahmad Sugriwa, LTN NU Kabupaten Bandung







