BANDUNG, balebandung.com – Seniman, budayawan, sekaligus pendekar silat Abah Nanu menitipkan filosofi kepemimpinan Sunda “Wana, Wani, Wanoh” kepada Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, sebagai bekal mengawal penyelenggaraan festival yang akan memadukan seni, budaya, dan spiritualitas Islam.
Dalam perbincangan yang berlangsung penuh kehangatan, Abah Nanu menekankan bahwa memimpin sebuah perhelatan besar tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial, tetapi juga memerlukan kepekaan batin dan manajemen qalbu.
“Kita tidak menafikan nalar dan perhitungan. Tetapi seorang pemimpin juga harus bekerja dengan hati, karena pada akhirnya kita hanya menjalankan peran yang telah ditakdirkan Allah,” ujarnya.
Menurut Abah Nanu, filosofi Wana mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan berhadapan dengan “hutan” persoalan yang tidak mudah. Karena itu dibutuhkan keberanian membuka jalan di tengah berbagai tantangan.
Setelah itu hadir nilai Wani, yakni keberanian mengambil keputusan dan bersikap tegas. Menurutnya, sebuah perhelatan besar membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kekompakan tim sehingga tidak mudah goyah oleh keraguan maupun perbedaan pendapat.
“Kalau pemimpin ragu mengambil sikap, barisan akan kehilangan arah sebelum perjuangan dimulai,” katanya.
Nilai ketiga adalah Wanoh, yakni saling mengenal, memahami, dan menguatkan antarsesama. Kedekatan emosional dalam sebuah tim menjadi modal penting untuk menjaga kebersamaan selama proses penyelenggaraan kegiatan.
Abah Nanu meyakini Festival Al Jabbar memiliki potensi menjadi ruang pertemuan antara seni, budaya, dan nilai-nilai spiritual Islam. Menurutnya, ketiga unsur tersebut bukan sesuatu yang saling bertentangan, melainkan dapat saling menguatkan.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Islam di Nusantara menunjukkan seni pernah menjadi media dakwah yang efektif. Para wali memanfaatkan pendekatan budaya untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sehingga ajaran Islam dapat diterima secara damai.
“Bahkan para wali menggunakan seni sebagai media syiar. Seni, budaya, dan nilai-nilai Islam sejatinya berjalan beriringan dan saling menguatkan,” ujarnya.
Bagi Bambang Melga, wejangan tersebut menjadi suntikan semangat sekaligus pengingat bahwa penyelenggaraan Festival Al Jabbar bukan sekadar menghadirkan sebuah pertunjukan budaya, tetapi juga membawa misi membangun harmoni antara tradisi, seni, dan nilai-nilai keislaman.***







