JATINANGOR, balebandung.com – Kreativitas mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam mengembangkan inovasi berbasis persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat patut mendapat apresiasi. Melalui tim Larvix, lima mahasiswa lintas disiplin mengembangkan blok biolarvasida biodegradable berbasis limbah sekam padi untuk membantu pengendalian larva nyamuk.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2026. Larvix memadukan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) sebagai agen aktif biologis dengan sekam padi sebagai matriks lignoselulosa dan asam stearat sebagai bahan pengikat.
Yang menarik, mahasiswa tidak sekadar menciptakan produk biolarvasida, tetapi juga mencoba menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yakni pengendalian larva nyamuk dan pemanfaatan limbah pertanian. Sekam padi yang selama ini menjadi hasil samping pertanian dimanfaatkan menjadi bagian dari produk yang dirancang biodegradable dan berorientasi pada prinsip ekonomi sirkular.
Larvix dibuat dalam bentuk blok padat berukuran sekitar 5 x 1 sentimeter dengan berat 10 gram. Bentuk tersebut dirancang praktis sehingga pengguna tidak perlu melakukan penakaran khusus. Dalam rancangan penggunaannya, satu blok diperuntukkan bagi sekitar 40–60 liter air.
Sistem slow-release menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan. Bti dirancang dilepaskan secara bertahap di lingkungan perairan. Tim mencantumkan target efektivitas hingga sekitar 28 hari berdasarkan literatur dalam proposal, namun target tersebut masih memerlukan verifikasi melalui tahapan pengujian produk.
Inovasi ini dikembangkan di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, oleh tim mahasiswa lintas disiplin yang terdiri atas Ghazy dan Fawzan dari Kedokteran, Rhassya dari Agroteknologi, Tamara dari Agroteknopreneur, serta Aurel dari Agribisnis. Tim tersebut didampingi Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, M.P.
Dari sisi kesehatan masyarakat, pengembangan Larvix berangkat dari persoalan penyakit yang ditularkan nyamuk, terutama demam berdarah dengue (DBD). Materi tim mencatat data Kementerian Kesehatan RI yang digunakan dalam pengembangan Larvix menunjukkan terdapat 161.752 kasus DBD pada 2025. Di sisi lain, tim juga melihat besarnya potensi sekam padi sebagai bahan yang belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.
Materi Larvix juga mencantumkan sekitar 13,49 juta ton limbah sekam padi di Indonesia pada 2023 berdasarkan sumber yang digunakan tim. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya peluang untuk mengubah limbah pertanian menjadi material bernilai tambah.
Pengembangan Larvix menyasar rumah tangga di wilayah endemis penyakit tular nyamuk, kader jumantik, puskesmas dan instansi kesehatan, serta pengelola fasilitas umum. Tim juga mempertimbangkan Jawa Barat, DKI Jakarta dan Bali sebagai pasar awal pengembangan.
Bagi Unpad, inovasi seperti Larvix menunjukkan bagaimana mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat berkolaborasi mengembangkan gagasan yang tidak berhenti pada tugas akademik, tetapi diarahkan menjadi produk yang memiliki manfaat sosial sekaligus peluang kewirausahaan.
Pengembangan Larvix selanjutnya diarahkan pada penguatan research and development, pendaftaran hak kekayaan intelektual (HKI), sertifikasi produk dan perluasan kerja sama dengan instansi kesehatan. Materi tim juga menegaskan bahwa Larvix saat ini belum dinyatakan telah memiliki izin edar karena legalisasi dan sertifikasi masih menjadi bagian dari tahapan pengembangan.
Tim Larvix Unpad terdiri atas Ghazy (CEO), Fawzan (CTO), Rhassya (COO), Tamara (CMO) dan Aurel (CFO), dengan Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, M.P. sebagai dosen pendamping.***







