Bale Jabar

Pasanggiri Pop Sunda Damas 2019: Antara Generasi Muda dan Pop Sunda

×

Pasanggiri Pop Sunda Damas 2019: Antara Generasi Muda dan Pop Sunda

Sebarkan artikel ini
Para finalis audisi hari kedua Pasanggiri Pop Sunda Damas 2019.

BANJARAN, Balebandung.com – Di penghujung tahun 2019 ini, untuk kedua kalinya Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Cabang Kabupaten Bandung (Cakaba) sukses menggelar kegiatan Pasanggiri Pop Sunda (PPS), di Mountain Breeze Clubhouse, Langonsari, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung.

PPS Damas tahun ini membagi peserta dalam empat kategori yakni: kategori perempuan usia 10-14 tahun, kategori laki-laki usia 10-14 tahun, kategori perempuan usia 15-18 tahun dan kategori laki-laki usia 15-18 tahun.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26-27 November 2019 untuk babak penyisihan dan tanggal 1 Desember 2019 untuk babak final. Babak penyisihan dilaksanakan selama dua hari dan hanya diberlakukan untuk kategori usia 15-18 tahun. Hal ini disebabkan karena jumlah peserta yang jauh lebih banyak dibandingkan kategori usia 10-14 tahun.

Berdasarkan data dari panitia PPS Damas 2019, jumlah peserta pada kategori usia 10-14 tahun mencapai 21 orang peserta, sedangkan pada kategori 15-18 tahun mencapai 63 orang peserta. Sehingga jumlah keseluruhan peserta yang mengikuti kegiatan ini mencapai 108 orang peserta yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Bandung.

Seratus delapan bukanlah angka yang kecil, melainkan angka yang mewakili kuantitas yang cukup besar. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme kaum muda dalam mengapresiasi dan mempelajari lagu-lagu pop Sunda.

Bukan hanya tinggi secara kuantitas, namun secara kualitas pun bisa dikatakan cukup baik. Ada sebagian peserta yang sudah menguasai teknik bernyanyi Pop Sunda dan membawakan lagu dengan baik, terutama peserta kategori laki-laki.

Penulis yang juga menjadi juri di babak penyisihan, tak memungkiri hal tersebut. Para peserta laki-laki memang memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan peserta perempuan, baik dari aspek vokal, teknik bernyanyi dan penampilan.

Penulis dan juri lain pun banyak dibuat tercengang dengan penampilan peserta laki-laki yang bisa membawakan lagu dengan baik, dan bahkan disisipi improvisasi “manis” di beberapa bagian lagu.

Namun, bukan berarti peserta perempuan tidak berkualitas. Para peserta juga dapat membawakan lagu dengan baik, hanya saja dari aspek vokal, teknik dan penampilan masih belum sebaik peserta laki-laki.

Selain daripada kelebihan yang sudah disebutkan di atas, penulis juga menggarisbawahi beberapa aspek krusial yang menjadi kekurangan peserta pada babak penyisihan PPS Damas 2019 yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi peserta maupun guru pendamping agar menjadi lebih maksimal dalam penampilannya di PPS Damas berikutnya. Yang pertama adalah teknik vokal dalam bernyanyi pop Sunda.

Pada dasarnya, Pop Sunda adalah satu genre musik yang mempadupadankan antara Kawih Sunda dengan instrumen modern tanpa menghilangkan esensi kawih Sunda itu sendiri. Walaupun diawali dengan kata “pop”, bukan berarti teknik bernyanyi Pop Sunda, sama dengan teknik bernyanyi pop. Karena ada kata “Sunda”, maka teknik bernyanyinya masih berkiblat pada teknik ngawih Sunda.

Pada pelaksanaan PPS Damas 2019, penulis masih menemukan beberapa peserta yang bernyanyi menggunakan teknik bernyanyi pop, dangdut bahkan Melayu yang notabene berbeda dengan teknik ngawih lagu Pop Sunda.

Yang kedua adalah teknik micing. Banyak peserta yang masih belum tepat dalam menggunakan mikrofon ketika bernyanyi. Ada peserta yang memiliki power suara yang kecil, namun memegang mikrofon terlalu jauh sehingga suaranya kurang terdengar jelas oleh juri dan penonton. Dan ada pula peserta yang memiliki power suara yang besar namun memegang mikrofon terlalu dekat sehingga suaranya terlalu nyaring dan memekakkan telinga pendengarnya. Sebaiknya, jarak mikrofon disesuaikan dengan karakter dan volume penyanyi agar suara dapat didengar dengan nyaman oleh audiens.

Dan yang terakhir dan yang paling penting menurut penulis adalah be your self. Jangan takut untuk menjadi diri sendiri ketika bernyanyi. Penulis melihat beberapa peserta yang bergaya menyerupai tokoh penyanyi pop Sunda, seperti: Darso, Yayan Jatnika dan Rita Tila, baik dalam segi kostum, gaya dan ekspresi peserta ketika bernyanyi.

Adalah hal yang wajar jika seseorang mengagumi atau bahkan menjadikan seorang tokoh sebagai inspirasinya dalam berkarya. Namun bukan berarti kita harus menjadi tokoh tersebut, atau mirip dengan tokoh tersebut.

Penulis tidak menyalahkan siapa pun yang mirip dengan seorang tokoh, namun alangkah lebih baiknya jika kita berani untuk tampil di depan umum sebagai diri kita sendiri. Karena penulis percaya, setiap orang memiliki karakter dan ciri khasnya masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lainnya.

Beberapa aspek tersebut bisa diperbaiki dengan cara memperbanyak proses latihan. Semakin banyak proses latihan yang ditempuh, maka semakin terasah pula kemampuan seseorang. Mungkin beberapa orang masih belum terbiasa dan belum percaya diri, namun seiring waktu pasti akan mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Karena ada pepatah yang mengatakan, proses tidak akan mengkhianati hasil. Jadi, kuncinya adalah proses.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang sudah penulis jabarkan, penulis sangat bangga dengan peserta PPS Damas 2019 yang notabene adalah generasi muda yang hidup di masa di mana serangan budaya asing begitu masif, namun masih mau mempertahankan budaya Sunda dengan mempelajari Pop Sunda. Dan penulis juga berharap, akan semakin banyak lagi generasi muda yang mau ikut andil dalam mempertahankan budaya bangsa melalui Pop Sunda.

Bukan sekedar kegiatan lomba biasa, PPS Damas 2019 nyatanya dapat menjadi salah satu ajang pencarian bakat baru dalam dunia Pop Sunda sekaligus benteng pertahanan budaya Sunda di antara gempuran hebat dari budaya luar. PPS Damas 2019 telah menghimpun bibit-bibit penyanyi pop Sunda yang mungkin akan berjaya di masa datang. *** by Mayang A. Nurzaini

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-18, Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar acara jalan santai bertajuk Batik Walk, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Jambore tersebut nantinya akan diisi oleh berbagai program utama, mulai dari […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Seniman, budayawan, sekaligus pendekar silat Abah Nanu menitipkan filosofi kepemimpinan Sunda “Wana, Wani, Wanoh” kepada Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, sebagai bekal mengawal penyelenggaraan festival yang akan memadukan seni, budaya, dan spiritualitas Islam. Dalam perbincangan yang berlangsung penuh kehangatan, Abah Nanu menekankan bahwa memimpin sebuah perhelatan besar tidak cukup hanya […]

Bale Jabar

Tantangan yang dihadapi dunia pers hari ini benar-benar tidak main-main. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ruang redaksi dituntut bergerak secepat kilat. Tapi, di balik kecepatan itu, ada harga mahal yang dipertaruhkan: kepercayaan publik. Realitas inilah yang mendasari pandangan Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031. Baginya, organisasi […]

Bale Jabar

BOGOR, balebandung.com – Calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2027–2031 yang juga Pemimpin Redaksi InilahKoran, Tantan Sulthon Bukhawan menyambangi Sekretariat PWI Kota Bogor, Jalan Tirto Adhi Soerjo nomor 4, Kecamatan Tanah Sareal pada Senin (3/8/2026). Tantan berdiskusi dengan jajaran PWI Kota Bogor perihal visi mewujudkan ‘PWI Jabar Istimewa’ dengan tagline ‘Wartawannya Kompeten, Organisasinya Hebat, Anggotanya […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Tidak banyak orang yang memilih menjadikan musik sebagai jalan untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an. Di tengah perkembangan berbagai metode pembelajaran, Drs. H. Ahmad Kholid HS, M.Li. justru mengambil jalur yang berbeda. Ia memadukan irama, seni baca Al-Qur’an, dan pendekatan pembelajaran yang lebih mudah diterima berbagai kalangan. Nama Ahmad Kholid dikenal sebagai pendiri Metode […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Festival Al Jabbar 2026 mulai memperkuat jajaran kreatifnya dengan menggandeng dua maestro seni pertunjukan Jawa Barat, Rosikin WK, S.Sn., M.Sn. dan aktor teater sekaligus film senior R. Irwan Guntari WK, S.Sn. Keduanya dipercaya menggarap konsep pembukaan dan penutupan festival yang diproyeksikan menjadi salah satu atraksi utama dalam perhelatan budaya tersebut. Kedua seniman itu […]