Bale Kab Bandung

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [8]: Nyawa-nyawa Perlaya

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Ukur tak bergeming, ketika jarak golok ke pinggangnya kian dekat, ditahannya lintasan golok itu dengan kayu Weregu hitam yang dipegangnya.

Balebandung.com – Seolah mendapatkan tenaga tambahan, serentak dua orang di antara tiga penyerang bertopeng itu merangsek Ukur. Hanya orang yang tadi berteriak, yang tampak jelas merupakan pemimpin dari ketiganya, yang diam di tempat. Tapi terhadap dia pun Ukur tak bisa lengah, karena jelas pimpinan pengeroyok itu hanya diam dalam upayanya mencari celah untuk menyerang.

Seorang menyerang Ukur dengan tendangannya, terlontar keras ke arah dagu. Ukur merasa tak harus melakukan gerakan nyingcet hanya untuk serangan seperti itu. Ia hanya menarik kaki kanannya ke belakang dengan tangan melakukan gerakan kelid, yang membuat dagunya yang menjadi sasaran berjarak cukup jauh dari kaki lawannya.

“Wuuuusss!”

Dari kekuatan anginnya, Ukur tahu dagunya mungkin saja bisa ambrol keluar dari persendian rahangnya jika tendangan itu mendarat telak. Namun kini, dengan lolosnya dagu itu otomatis kaki lawannya mengangkang terbuka, membiarkan selangkangan dan ‘burung kondor’nya luput tanpa penjagaan.

Alhasil, dengan gerakan yang sukar diikuti mata awam, tangan kanan Ukur yang tadi menggenggam Weregu segera melontarkan batang kayu itu ke tangan kiri. Dengan cepat, tangan kanan yang kini terbuka itu bergerak menuju selangkangan lawan yang terbuka, melakukan gerak kepret dengan kekuatan penuh.

“Plak!”

“Auuuuuuuuuuung!” Lawannya menjerit dengan lengkingan keras. Bagaimana tidak, ia merasa telor burung kondornya pecah berantakan. Selain rasa mulas yang tak terkatakan, kepalanya pun seketika gelap. Ia sempat menghunjam tanah dengan kepala jatuh lebih dulu sambil memegangi bagian burung kondornya yang entah bagaimana nasibnya itu. Lalu diam tak bergerak, setidaknya pingsan saat itu juga.

Ukur menarik nafas dengan menghembuskannya kembali dengan cepat, sekadar membuat tubuhnya lebih relaks sejenak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib burung kondor, bahkan selangkangan lawannya yang kini terbaring diam itu andai saja ia menyerang dengan kayu Weregu yang kini telah kembali dalam genggaman tangan kanannya.

Sejenak dua penyerang bertopeng yang mengepungnya itu terdiam. Meski hanya dari sorot mata, Ukur tahu kedua lawannya itu kini dihinggapi bimbang. Bagaimana tidak, seorang dari mereka kini terkapar tanpa daya, belum bisa dipastikan bisa tertolong atau tidak.

Namun hal itu tak lama. Tanpa komando, salah seorang kini membabatkan goloknya mengincar pinggang Ukur. Hantamannya mantap, memastikan perut samping Ukur akan terburai manakala golok itu memakan bagian tersebut. Ukur tak bergeming, ketika jarak golok ke pinggangnya kian dekat, ditahannya lintasan golok itu dengan kayu Weregu hitam yang dipegangnya. Ajaib, kayu itu sama sekali tak rompal menahan hantaman golok tajam tersebut.

Malahan, golok di tangan lawannya tampak tergetar menahan benturan. Getaran itu membuat jemari lawan yang mengepal erat golok itu kendor bagai tersengat kesemutan. Sedetik kemudian golok itu terlepas dari genggaman, diiringi serapah pemegangnya.

“Sial dangkalan, tanganku kesemutan!”

Golok itu terjatuh dengan bagian perah atau pegangannya lebih dulu siap menyentuh tanah. Namun belum juga golok itu tergolek di bumi, kaki Ukur telah menyepaknya kuat, mengarahkan ujung golok yang tajam ke ulu hati lawan yang masih disibukkan memegang tangannya yang kesemutan.

“Jleb!” Golok itu kini menancap di ulu hati orang yang tadi memegangnya. Tak hanya itu, kuatnya sepakan Ukur membuat golok itu tembus hingga keluar dari punggung. Tak ada suara yang dikeluarkan orang bertopeng yang tertembus goloknya sendiri itu, sebelumnya tubuhnya kehilangan kekuatan dan ambruk tergolek di pelataran.

Ukur menggerakkan kakinya dua langkah, mendekati lawannya yang kini tinggal seorang diri. Tak ada lagi kilat buas di kilat mata orang bertopeng itu, selain justru rasa waswas yang tak sukar ditebak. Ia sempat melirik kiri kanan, seolah mencari celah untuk lari meninggalkan gelanggang. Ukur tak memberinya kesempatan dengan mendekatinya lagi selangkah.

“Mau ke mana, Ki Sanak? Tega membiarkan kawan-kawanmu berkubang darah dan tak bermakam dengan layak?” ujar Ukur. Ditimang-timangnya Weregu hitamnya, seolah menakut-nakuti lawannya yang tak lagi berkawan itu.

“Ojo sombong, Anjing Sunda. Kula tak sudi menyerah. Kowe akan mati malam ini juga, tak harus menunggu terbitnya matahari esok,” katanya.

Suaranya menyembur kuat, mengandung segala jenis racun kebencian yang entah sudah berapa lama tertanam di jiwanya. Baginya memang sudah tak ada lagi jalan kecuali selekasnya membunuh Ukur. Kalaupun ia berhasil lari, mau kemana ia kabur kini? Orang yang menyuruhnya tahu di mana rumahnya, di mana anak istrinya. Orang-orang suruhan majikannya itu akan dengan mudah membantai diri dan keluarganya untuk kegagalan yang malam ini ia torehkan.

Majikannya hanya punya satu cara untuk memastikan apa pun yang ia perintahkan dilaksanakan dengan gilang gemilang. Belum tentu dengan hadiah menggiurkan sebagai upah kesungguhan, melainkan mati dibantai bersama keluarganya, bahkan bila ia punya bayi merah sekali pun sebagai balasan kegagalan.

Pikiran itu membuatnya segera mencabut golok panjang yang tergantung di pinggangnya.

“Sreet.”

Pantulan cahaya obor yang terpacak di tiang rumah memberi penegasan betapa golok itu tajam terasah. Kini golok itu terangkat, mengacung dengan ujung menunjuk dada Ukur, sementara perahnya tergenggam erat di tangan si orang bertopeng. Kaki kiri orang bertopeng bergeser setengah langkah, memastikan kuda-kudanya tegar dan siap menyerang. Lalu dengan teriakan lantang untuk memberi kekuatan kepada jiwanya sendiri, orang itu melompat ke arah Ukur sambil mengacungkan goloknya lebih tinggi, siap untuk menyabet bagian tubuh Ukur, entah yang mana.

“Hiaaat!”

Ukur mundur selangkah, menantikan lawannya tiba lebih dekat. Menanti juga kemana golok sang lawan akan diarahkan. Tangan kirinya menjulur ke depan dada, sementara tangan yang menggenggam tongkat Weregu bersiap menanti arah datangnya sabetan golok.

Bersamaan dengan turunnya kedua kaki lawan setelah lompatan menyerang itu, goloknya pun menyambar ketiak kiri Ukur. Kaki kiri Ukur yang tadi berada di depan, kini mundur selangkah, memberikan ruang lebih aman untuk ketiak yang menjadi sasaran golok lawannya. Si topeng segera mengira bahwa tebasannya akan ditadah dengan hantaman kayu Weregu, dan karena itu menyiapkan tenaga cadangan untuk benturan. Ia telah menyaksikan betapa kawannya terkapar tertembus golok karena kaget akibat kesemutan setelah benturan dengan senjata Ukur. Si topeng tak ingin itu terjadi.

Salah besar. Alih-alih menahan serangan golok itu dengan hantaman kayu Weregu, Ukur malah nyingcet, maju mendekati lawannya ke sebelah kiri tubuh si topeng. Tebasan golok si topeng luput memakan daging ketiak Ukur. Sebaliknya, kini jarak dadanya dengan tubuh Ukur hanya tinggal sejengkal. Keuntungan itu secepat kilat digunakan Ukur. Sikut dari tangan yang menggenggam kayu Weregu itu kini terlontar siap menghajar dagu lawan yang kosong tak terjaga.

“Dug!”

Keras sekali, hingga dagu si topeng seolah hendak mencelat dari sendi-sendi rahangnya. Tak ayal, tubuhnya terjengkang ke belakang, jatuh berdebam ke tanah.

“Gubrak!” [bersambung/gardanasional/id]

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [7]: Tiga Orang Bertopeng

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close