Bale Kab Bandung

Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [38]: Anjing Hutan yang Culas dan Pengecut

ilustrasi. by ist

Balebandung.com – Nyi Mas Saribanon melayangkan pandangan ke sekitar pekarangan rumah tempat diri dan anak-anaknya menumpang. Masih ada ratusan warga Tatar Ukur bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil, bernaung di keteduhan teras rumah atau pepohonan. Mereka duduk duduk atau gelimpangan tiduran beralaskan daun-daun pisang atau daun jati, sekadar melepaskan lelah.

Beberapa adalah perempuan, ibu-ibu yang memeluk anak-anak mereka, menenangkan manakala bocah-bocah kecil itu menangis dalam kebingungan. Mereka, rakyatnya yang tak kebagian tempat menumpang karena sedikitnya rumah yang ada di kampung ini, Kampung Pasir Angling, sebuah perdukuhan kecil di lereng Gunung Bukit Tunggul.

Semalaman Nyi Mas Saribanon dan sekian ratus rakyatnya terus melarikan diri, menghindari kejaran pasukan Mataram yang datang dan menghancurkan Dayeuh Ukur tiga hari lalu. Hanya karena kesiagaan telik sandi Tatar Ukur orang-orang itu bisa bertahan sampai saat ini. Mereka lari meninggalkan Tatar Ukur segera setelah telik sandi menyampaikan pesan serbuan bala tentara Mataram.

Belakangan Nyi Mas Saribanon mendengar sekian banyak kampung telah terbakar dan rata dengan tanah. Tak terhitung para mojang bahkan perempuan-perempuan bersuami yang diranjah dirogahala bala tentara Wetan itu. Nyi Mas Saribanon mendengar, sebagai istri Dipati Ukur, dirinya termasuk yang paling dicari pasukan itu. Asap mengepul menjangkau langit saat mereka menengok ke belakang dalam pelarian. Kampung mereka, rumah-rumah mereka sudah terbakar menjadi abu.

Tanpa terasa air matanya hangat meleleh membasahi pipi. Ia sedih oleh banyak hal. Tak tega hatinya melihat rakyatnya kini terlunta-lunta sebagai pengungsi, menghindari serbuan pasukan sebuah negara yang justru tengah dibela mati-matian oleh suami dan sekian ribu suami lain di Batavia. Ia tak habis pikir, apa yang ada di kepala pasukan Mataram itu? Pegangan atau kode keksatriaan semacam apa yang bisa membenarkan sepasukan prajurit sebuah negara menyerbu sebuah wilayah dan merampok harta bendanya, menistakan kehormatan para gadis dan istri-istri warga wilayah itu, sementara para lelakinya sedang berjuang untuk nama baik, atau setidaknya kepentingan negara pasukan penyerbu? Pengkhianatan seperti apa lagi yang lebih rendah daripada itu?

Sedih, karena di saat-saat seperti itu suaminya beserta sekian ribu rakyat pilihan negerinya justru tengah bertaruh nyawa demi kepentingan orang yang mungkin sekali memerintahkan penyerbuan kepada Tatar Ukur yang tengah kosong itu. Sedih, betapa pengorbanan suami dan ribuan anak buahnya justru mendapatkan balasan menyakitkan. Ibarat air susu dibalas air tuba, nu asih dipulang sengit.

“Betapa hina, kau Sultan Agung,” Nyi Mas Saribanon mendesis penuh murka. “Ternyata kau hanya sejenis anjing hutan yang culas dan pengecut.”

Nyi Mas Saribanon merasa beruntung sempat meraup emas perhiasan serta sekantong kepeng perak dari penyimpanan tersembunyi sebelum pergi menyelamatkan diri. Tak banyak yang bisa dibawa mengingat saat itu pasukan Mataram bisa kapan saja datang menyergap. Uang perak itulah yang dipakai untuk sekadar menutup kerugian penduduk Pasir Angling yang kebanjiran pengungsi. Menutup kerugian tanaman mereka yang dipanen belum saatnya untuk mengisi perut sekian ratus orang yang saat ini keleleran.

Nyi Mas Saribanon atau Nyi Mas Ukur baru saja hendak masuk rumah, menengok anak-anak di kamar, saat seorang prajurit Ukur dengan berlari mendapati dirinya. Ia tak sempat mengatur nafas saat berkata dengan terburu-buru.

“Raden Ayu…ma..maaf,” katanya terbata-bata, berlomba antara apa yang ingin ia ucapkan dengan napas yang tersengal-senyal kecapekan.

“Ada apa, Paman? Minumlah dulu,” kata Nyi Mas Ukur. Meski ia pun segera ingin tahu apa yang hendak dilaporkan prajurit tersebut, tentu ia berharap agar apa yang dikatakan nanti bisa tersampaikan dengan lancar agar dapat dimengerti dan diambil keputusan yang lebih baik.

“Te..terima kasih, Raden. Ta..tapi persoalannya mendesak. Wadya bala Mataram sudah berada di mulut kampung. Ki..kita harus segera pe…pergi dari sini. Segera!” kata si prajurit. Selesai juga ia melaporkan apa yang harus ia katakan meski harus terpatah-patah.

Seharusnya memang laporan itu ditanggapi biasa oleh Nyi Mas Ukur, mengingat sejak tiga hari lalu diri dan keluarganya terus-terusan dikejar pasukan Mataram. Artinya, kesadarannya pun terus menegaskan bahwa keamanan diri dan keluarganya masih tak punya jaminan. Setiap saat bisa saja pasukan penuh nafsu amarah itu bisa tiba-tiba datang menyerbu. Tetapi tetap saja kabar tersebut membuat wajah Nyi Mas Ukur pucat. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan dialaminya kalau pasukan Mataram yang ganas dan liar itu sampai bisa menangkap dirinya dan anak-anak Dipati Ukur yang masih kecil-kecil.

Hanya untunglah, bagaimana pun ia sadar bahwa dirinya adalah istri seorang prajurit agung yang namanya telah tersebar harum ke berbagai pelosok, jauh melampaui Cipamali, sungai yang menjadi batas Kerajaan Sunda. Ia ingat cerita Dyah Pitaloka dalam kisah pengkhianatan di Bubat yang diturunkan dari generasi ke generasi Sunda. Dyah Pitaloka benar-benar seorang perempuan Sunda yang punya harga diri. Ia lebih tega mengorbankan nyawa dibanding harga dirinya diperlakukan hina oleh orang-orang Majapahit.

“Bila Putri Citraresmi Sang Dyah Pitaloka mampu menjaga dan menunjukkan keagungan harga diri urang Sunda, apa yang membuatku tak bisa melakukan hal yang sama, demi harga diri Sunda, harga diriku, harga diri suamiku Ukur? Kop tah badak, kop tah maung, kalau perlu aku rela berkalang tanah, bertarung berebut nyawa dengan orang-orang Wetan itu,” kata Nyi Mas Ukur membatin.

Dengan tetap berusaha tenang ia memanggil para emban, memerintahkan mereka segera membawa anak-anaknya menyingkir lari ke belakang. Lari sejauh-jauhnya lebih dulu, itu yang paling penting.

“Prajurit, segera beritahu orang-orang. Sebaiknya memang lari karena kudengar orang-orang Wetan itu sangatlah kejam. Aku akan membawa anak-anakku pergi menghindar. Ada pun apa yang akan kalian perbuat sebagai prajurit, kalian tentu lebih tahu daripada diriku. Lakukanlah, sepanjang tidak memalukan orang-orang Sunda!” kata Nyi Mas Ukur.

Segera ditariknya kain penutup bawahannya. Ternyata di balik kain itu ia mengenakan celana pangsi, sama seperti para pendekar laki-laki Ukur. Celana itu memungkinkannya bisa bergerak lebih gesit tanpa terganggu sempitnya jarak langkah bila memakai kain. Dirabanya patrem, duhung kecil tajam yang ia sisipkan di pahanya. Ada, siap untuk ditikamkan manakala perlu. Dengan cepat kain itu dibelitkannya dipinggang, sehingga gerakan Nyi Mas Ukur kini laiknya gerakan seorang pendekar wanita, sigap setangkas gerakan burung srigunting.

Dengan cepat Nyi Mas Ukur membungkus barang-barang yang dianggapnya berharga dengan kain sarung. Sebenarnya lebih tepat tinggal dibawa, karena bagaimana pun ia selalu mempersiapkan kondisi darurat yang mungkin terjadi. Hanya memang ada satu dua barang yang belum terangkum dalam kain sarung itu, hingga ia perlu memasukkannya dan memastikan.

Baru saja kaki Nyi Mas Ukur keluar dari golodog ke pekarangan rumah, manakala ia segera berhadapan dengan hal terburuk yang selama ini paling ditakutkannya. Orang-orang Mataram bersenjata lengkap sudah mengurung dirinya, tak memberikan lubang gerak untuk kabur. Sementara seorang prajurit Ukur yang menjaga dirinya terkapar di halaman dengan leher nyaris putus. Seorang lagi berada di ambang ajal: ia disandera dengan golok tajam menempel di leher. Itu yang membuat mengapa suasana begitu sepi manakala tadi ia sekejap beres-beres di kamar.

“Paling tidak si bocah sudah aman bersama para emban. Semoga dia bisa menuntut balas pada saatnya,”pikir Nyi Mas Ukur. Yang ada di hatinya kini tinggal satu: bagaimana ia tetap terhormat, bahkan kalau pun untuk itu harus mati. Mata Nyi Mas Ukur menyelidik, melihat sisi mana yang paling lemah untuk diserang. Hanya dengan begitu ia mungkin bisa melabrak kepungan dan melarikan diri.

“He he he…Inikah Nyi Mas Ukur yang terkenal itu? Benar-benar cantik. Pantas saja Si Ukur Wangsanata setengah hati berperang untuk Kanjeng Sultan. Dia takut mati kiranya.”

Seseorang menyeruak dari barisan para pengepung, terkekeh seperti Sengkuni. Namun yang ini lebih parah, karena bukan hanya caranya tertawa yang menyebalkan, wajahnya juga benar-benar bisa membuat orang mual melihatnya. Pipi kirinya dihiasi tiga gurat luka parut yang parah. Meski telah kering, bekas lukanya menunjukkan dengan jelas bahwa dulunya luka memanjang itu dalam dan besar, karena bagian putih dagingnya begitu terlihat dominan. Orang bisa-bisa mengira mereka bertemu dengan jin jahat buruk rupa dibanding bertemu manusia! Hanya pakaian yang dikenakannya saja yang membuat orang tahu bahwa pemakainya seorang yang punya jabatan tinggi dalam dinas keprajuritan Mataram. Orang itu memakai pakaian senapati.

“Perkenalkan, kula Senapati Ronggonoto. Si Ukur sialan, suamimu itu yang membuat wajahku jadi buruk begini. Aku tak akan pernah lupa, dan aku akan membalasnya dengan membunuhnya pelan-pelan pada saatnya. Mulai dari dirimu, istrinya, Nyai!” suara Senapati Ronggonoto serak, menandakan gejolak kemarahan dalam dadanya. Bagaimana pun berjumpa dengan istri musuh bebuyutannya tentu mengingatkan dirinya akan Ukur, orang membuatnya kini cacat dan terlihat hina meski berpakaian kebesaran keraton Jawa. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [37]: Serangan Mataram dari Garis Belakang

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close