Bale Kab Bandung

Ekraf Masuk Desa, Diparbud Jabar Gelar Village Talk

Kabid Industri Pariwisata Disparbud Jabar , Azis Zulficar Aly Yusca saat Village Talk

BANDUNG, Balebandung.com – Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menggelar Village Talk, di lapangan Kantor Desa Wisata Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kegiatan ekraf masuk desa ini diisi dengan pelatihan branding, packaging dan digital marketing bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di desa. KBB dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Village Talk ketiga pada tahun ini, karena banyaknya terobosan, inovasi ekonomi kreatif di sektor pariwisata.

Salah satunya di Desa Wisata Cibodas Kecamatan Lembang yang pernah meraih penghargaan Indonesia Suistanability Tourism Award 2018 (ISTA) dari Kementerian Pariwisata RI. Untuk itu program Village Talk Disparbud Jabar hadir guna mengembangkan ekonomi kreatif Desa Wisata Cibodas.

Kepala Bidang Industri Pariwisata Disparbud Jabar , Azis Zulficar Aly Yusca mengatakan, Village Talk atau ekraf masuk desa merupakan salah satu terobosan Pemprov Jabar dalam hal mengembangkan ekonomi kreatif yang biasanya selalu diselenggarakan di perkotaan, tapi kini diangkat di pedesaan.

Azis menyebut ada 5.312 desa di Jawa Barat dengan 251 Desa Wisata. Menurutnya inilah potensi ekonomi kreatif yang perlu diangkat.

“Mudah-mudahan gastronomi atau ilmu pangan bisa mengembangkan produk turunan dari susu yang menjadi salah satu unggulan di KBB melalui Village Talks ini. Secara potensi sudah bagus, namun ketika masuk ke branding dan packaging masih perlu bantuan, dengan desain-desain yang bagus” kata Azis dalam rilisnya, Senin (16/11/20).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan KBB, Sri Dustirawati mengatakan, hampir di setiap kecamatan di KBB memiliki potensi pariwisata.“Ini adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada KBB, baik hutannya, air terjunnya, kemudian situ (danau) dan produk kreatif di KBB,” ucap Sri.

Salah satu produk kreatif berbasis hasil alam seperti bambu ada di KBB. Adang Muhidin misalnya, lulusan perguruan tinggi Jerman ini berhasil mengembangkan inovasi kerajinan tangan dari bambu. Mulai dari gagang sikat gigi dari bambu, jam tangan bambu, gitar bambu dan lainnya. Bahkan hasil kreatifnya diminati oleh 14 negara antara lain Rumania, Malaysia, Taiwan, Jerman, Inggris, Jepang, Belgia, hingga Amerika.

“Kebanyakan konsumen luar negeri sebagian besar memesan dibuatkan alat musik dari bamboo. Mereka justru para pemain seperti di sebuah grup musik di Filipina yang memainkan alat musik, yang semuanya dipesan dari kita”, tegas Adang.

Anggota Komisi 2 DPRD Jabar, Tobias Ginanjar Sayidina mengatakan, ekonomi kreatif yang identik di perkotaan sudah saatnya masuk desa karena potensi yang dimiliki desa sangat luar biasa. Menurut Tobias, dari 5.312 desa yang ada di Jawa Barat memiliki karakteristik yang berbeda.

“Ini suatu peluang untuk kita karena banyak daerah lain yang datang ke Jawa Barat untuk belajar ekonomi kreatif. Kami di DPRD Jabar beberapa kali menerima kunjungan dari DPRD provinsi lain seperti dari DPRD Provinsi Jateng dan DPRD Provinsi Sumatera Utara ingin belajar ekonomi kreatif”, kata Tobias.

Ia menambahkan, ekraf di Jawa Barat sangat diperhitungkan. Akan tetapi jangan langsung berpuas diri, sehingga tidak ingin mengembangkan diri dan akhirnya malah belajar ke provinsi lain.

Pelatihan yang menjadi inti dari kegiatan Village Talk Disparbud Jabar ini diisi pemateri antara lain pendiri Indonesia Bamboo Community, Adang Muhidin. Sementara pelatihan desain dan digital marketing diberikan oleh desainer lulusan ITB, Raditya Ardianto Tapoer. Village Talk juga menampilkan mini expo produk ekraf unggulan desa yang ada di Kabupaten Bandung Barat.***

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close