KATAPANG, balebandung.com – Kondisi Jembatan Junti Hilir di Jalan Raya Katapang–Andir Baleendah, tepatnya di Kampung Junti Hilir, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, kini mengkhawatirkan. Jalan di sisi jembatan mulai ambles dan pondasi terancam tergerus aliran Sungai Cikasungka, namun hingga kini belum terlihat penanganan nyata dari Dinas PUTR Kabupaten Bandung.
Air sungai yang terus mengikis badan jalan dan pondasi jembatan membuat warga waswas. Jika dibiarkan lebih lama, kerusakan dikhawatirkan merembet ke struktur utama jembatan dan berpotensi mengganggu akses utama masyarakat.
Saat ini, bagian jalan yang ambles diperkirakan selebar sekitar satu meter dengan panjang kurang lebih tiga meter. Kondisinya sudah diberi pembatas seadanya menggunakan tali dan drum agar tidak dilindas kendaraan.
“Sudah hampir dua mingguan jalan pinggir jembatan itu ambles, turun sekitar lima sentimeter. Saya lihat memang sudah ada orang dari pemerintahan yang datang mengecek, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan. Jangan tunggu jembatannya benar-benar rubuh baru bergerak,” kata Ade Gozali (44), warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, Senin (27/4/2026).
Menurut Ade, jalan tersebut merupakan jalur vital penghubung dari Kopo, Katapang menuju Rancamanyar, Andir Baleendah dan kawasan sekitarnya. Bahkan saat Baleendah dan Dayeuhkolot dilanda banjir, jalur ini menjadi salah satu akses alternatif utama masyarakat menuju Margahayu, Soreang hingga pusat Kabupaten Bandung.
“Ini bukan jalan kecil yang sepi. Setiap hari ramai, pagi dan sore padat sekali. Kalau sampai jembatannya amblas karena dibiarkan, dampaknya besar sekali buat warga. Harusnya DPUTR paham ini prioritas,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Siti Rohmah (38), warga Junti Hilir. Ia mengatakan amblesnya jalan mulai terjadi sejak dua pekan lalu saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut dan debit Sungai Cikasungka meningkat tajam hingga menggerus tebing sungai dan pondasi jembatan.
Menurutnya, bukan hanya jalan dan jembatan yang terancam, tetapi juga sebuah rumah toko dua lantai yang berdiri tepat di bibir sungai.
“Makanya dipasang pembatas pakai tali sama drum. Takut makin parah kalau terus dilindas kendaraan. Ruko di samping juga terancam ambrol karena pondasinya sudah dekat sekali dengan gerusan sungai,” katanya.
Warga menilai persoalan ini seharusnya tidak menunggu viral atau kerusakan besar lebih dulu. Infrastruktur vital seperti jembatan mestinya masuk dalam pengawasan rutin DPUTR, terutama saat musim hujan ketika risiko longsor dan gerusan sungai meningkat.
“Kalau sekarang hanya dicek lalu dibiarkan, itu artinya pengawasan DPUTR lemah. Jangan sampai pola yang sama terulang, rusak dulu, viral dulu, baru diperbaiki,” tambah Ade.
Masyarakat berharap perbaikan dilakukan secepatnya sebelum kerusakan meluas dan jembatan benar-benar ambles. Sebab jika akses ini putus, bukan hanya lalu lintas yang terganggu, tetapi juga aktivitas ekonomi dan mobilitas ribuan warga setiap hari akan ikut terdampak.***







