Selasa, Oktober 19, 2021
BerandaBale Kota BandungKultur Petani Kopi Harus Lebih Maju

Kultur Petani Kopi Harus Lebih Maju

Sekretaris Gabungan Petani Kopi Hutan Indonesia (Gapekhi) Jawa Barat, Garlika Martanegara (kiri) tampak berdiskusi dengan Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa (kanan), usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divre Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2).
Sekretaris Gapekhi Jabar, Garlika Martanegara (kiri) tampak berdiskusi dengan Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa (kanan), usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divre Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2).

BANDUNG – Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa menambahkan, selain kelima upaya yang disebutkan Dirut Perhutani, faktor lainnya yang sangat berpengaruh yaitu meningkatkan sumber daya manusia dalam pengelolaan kopi.

Usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divisi Regional Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2/16), Agus menandaskan dalam pengembangan agribisnis produk kopi ini Perhutani jelas harus bekerjasama dengan berbagai stakeolder terkait dan pihak yang berkompeten.

“Tentu saja kita juga harus bekerjasama dengan masyarakat, misalnya dengan harus kerjasama dengan masyarakat seperti melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), karena keterampilan pengelolaan tanaman kopi juga perlu ditingkatkan,” kata Agus kepada Balebandung.com.

Meskipun menurutnya bukan hal yang gampang pula untuk merubah kultur masyarakat yang tidak terbiasa menanam kopi, lantas harus bertanam kopi. Kendati begitu Agus menyebut peranan Perhutani sudah ditunjukkan dengan penyediaan kawasan kopi terutama kopi Arabika, membentuk kelompok tani serta memberikan pendampingan terhadap mereka.

Walau omset kopi Perhutani masih terbilang kecil, namun Agus optimis kelak Perhutani bisa meningkatkan omset agribinis dari produk kopi bahkan bisa berkontribusi terhadap ekspor kopi. “Jadi perlu penataan lagi bisnisnya, mulai dari hulu hingga ke hilir. Inilah yang sedang kita rintis,” tandasnya.

Senada dengannya, Sekretaris Gabungan Petani Kopi Hutan Indonesia (Gapekhi) Jawa Barat, Garlika Martanegara mengungkapkan yang dibutuhkan petani kopi saat ini bukan sekadar bisa bertani.

“Kami dari Gapekhi akan berupaya meningkatkan SDM petani kopi melalui program-program kegiatan Gapekhi ke depan,” kata Lieke, sapaan Garlika.

Menurut Lieke, kultur petani yang lebih maju perlu dibangun. Seperti petani kopi yang melek teknologi informasi (IT), berjiwa wiraswasta, menguasai cashflow produk kopi, tanpa mengesampingan kearifan lokal.

Petani kopi juga harus bisa memahami kualitas dari kopi itu sendiri sampai akhirnya produk kopinya bisa mendapatkan sertifikat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka), sertifikat Produksi Pangan industri Rumah Tangga (PIRT), dan sertifikat halal. Lebih dari itu petani kopi juga harus memahami market dan menjaga kuantiti (qc) produknya.

“Kita juga terus berupaya untuk mengkampanyekan budaya minum kopi sehat dengan mencintai kopi produk lokal,” pungkas Lieke. [iwa]

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI