MAJALAYA, balebandung.com – Pada tahun 2009, sebuah benda logam berbentuk mahkota ditemukan di Kampung Leuwidulang, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Lokasinya tidak jauh dari kompleks SMA Pasundan Majalaya. Benda itu kemudian dikenal dengan nama Makuta Ulun Umbul.
Sejak awal kemunculannya, Makuta Ulun Umbul berada di ruang yang samar: antara temuan benda, tradisi tutur, pusaka lokal, dan dugaan sejarah yang belum final. Sebagian cerita pernah menariknya jauh ke pusat kerajaan besar. Ada pula yang mengaitkannya dengan tokoh-tokoh besar di luar Majalaya. Namun justru di situlah persoalannya: semakin jauh benda ini ditarik dari tanah tempat ia ditemukan, semakin lemah pijakan historisnya.
Maka pembacaan yang lebih jernih perlu dimulai dari hal paling dekat: nama benda, lokasi temuan, bentuk visual, dan konteks sejarah lokal Majalaya dalam Tatar Ukur.
Dari empat petunjuk itu, satu kemungkinan mulai tampak lebih kuat: Makuta Ulun Umbul bukan mahkota raja besar, melainkan regalia lokal—tanda kebesaran seorang pejabat wilayah atau umbul di kawasan Majalaya pada masa Tatar Ukur.
Nama yang Membuka Kunci
Petunjuk paling penting justru ada pada namanya: Makuta Ulun Umbul.
Kata makuta jelas menunjuk pada mahkota atau benda kebesaran. Namun dalam tradisi lama, makuta tidak selalu harus berarti mahkota raja pusat. Ia bisa juga berarti atribut kehormatan, tanda jabatan, pusaka kewenangan, atau perangkat upacara.
Kata ulun dapat dibaca sebagai orang, pemangku, atau pihak yang mengabdi. Sementara kata umbul menjadi kunci utama. Dalam konteks Priangan lama, umbul menunjuk pada wilayah atau pejabat lokal. Di Tatar Ukur, istilah umbul dikenal sebagai bagian dari struktur pemerintahan daerah.
Dengan demikian, nama Makuta Ulun Umbul dapat dibaca secara lebih sederhana dan masuk akal: makuta milik atau untuk seorang pemangku umbul. Dengan bahasa sekarang, ia dapat dipahami sebagai tanda kebesaran kepala wilayah lokal—kira-kira mendekati kepala distrik atau camat pada zamannya, meski tentu tidak bisa disamakan secara persis dengan birokrasi modern.
Di titik ini, nama benda tersebut sudah memberi arah. Ia tidak langsung menunjuk pada raja besar. Ia justru menunjuk pada jabatan lokal.
Majalaya dan Jejak Tatar Ukur
Makuta Ulun Umbul ditemukan di Majalaya. Karena itu, pembacaan pertama seharusnya dimulai dari sejarah Majalaya, bukan dari istana besar yang jauh dari lokasi temuan.
Majalaya berada dalam lanskap sejarah Priangan lama. Dalam konteks masa lalu, kawasan Bandung dan sekitarnya pernah dikenal sebagai bagian dari Tatar Ukur, wilayah yang kemudian terkait erat dengan tokoh Dipati Ukur pada awal abad ke-17.
Tatar Ukur bukan sekadar nama wilayah. Ia memiliki struktur kekuasaan lokal. Dalam tradisi sejarah Priangan, dikenal adanya beberapa umbul, seperti Batulayang, Saunggantang, Taraju, Kahuripan, Medangsasigar, Malangbong, Manenggel, Segaraherang, dan Ukur. Ini menunjukkan bahwa umbul memang merupakan bagian dari sistem kewilayahan lama.
Jika sebuah benda bernama Makuta Ulun Umbul ditemukan di Majalaya, maka dugaan paling dekat bukanlah bahwa benda itu dibawa dari pusat kerajaan jauh tanpa jejak perpindahan yang jelas. Dugaan yang lebih kuat justru: benda itu berkaitan dengan pejabat lokal dalam jaringan Tatar Ukur atau Majalaya lama.
Dengan kata lain, tempat temuan bukan detail kecil. Ia adalah petunjuk utama.
Bukan Mahkota Harian, Melainkan Regalia Upacara
Dari deskripsi yang beredar, Makuta Ulun Umbul disebut berukuran sekitar 40 sentimeter dengan diameter kurang lebih 25 sentimeter. Bentuknya berundak tiga, memiliki motif bunga, dibuat dengan teknik tempa, dan disebut mengandung unsur kuningan, emas, serta tembaga.
Secara visual, benda ini tampak lebih dekat dengan regalia upacara daripada mahkota yang dipakai sehari-hari. Bentuknya tinggi, bertingkat, memiliki puncak menjulang, ornamen samping, dan bagian bawah yang melebar. Di sampingnya juga tampak dua benda seperti tongkat atau atribut pendamping.
Ini penting. Dalam tradisi kekuasaan lama, regalia jarang berdiri sendiri. Ia bisa hadir bersama tongkat, keris, tombak, payung, panji, cap, atau pusaka lain. Jika Makuta Ulun Umbul memang satu paket dengan tongkat pendamping, maka fungsinya semakin dekat dengan tanda jabatan.
Benda ini kemungkinan tidak dipakai setiap hari. Ia mungkin dikenakan sebentar saat peneguhan jabatan, atau hanya ditampilkan dalam upacara tertentu. Misalnya saat pengangkatan umbul, sumpah setia, pertemuan para kepala wilayah, ritual adat, atau penyerahan mandat dari penguasa yang lebih tinggi.
Dalam analogi modern, ia bukan “topi dinas” harian. Ia lebih mirip lencana jabatan, tongkat komando, kalung pelantikan, atau pusaka kewilayahan.
Bahasa Visual Lama: Puncak, Bunga, dan Sayap
Bentuk Makuta Ulun Umbul memperlihatkan bahasa visual yang menarik. Puncaknya bertingkat dan menjulang ke atas. Dalam tradisi simbolik Nusantara, bentuk bertingkat dapat dibaca sebagai lambang hierarki, sakralitas, gunung, meru, atau hubungan antara dunia manusia dan dunia atas.
Namun bentuk seperti itu tidak otomatis berarti benda ini berasal dari abad yang sangat tua. Simbol lama sering bertahan lama dalam pusaka lokal. Sebuah benda bisa memakai gaya Hindu-Buddha, Kawi, atau Sunda lama, tetapi dibuat pada masa yang lebih muda.
Motif bunga juga penting. Dalam regalia lokal, bunga dapat melambangkan kesuburan, kemakmuran, hidupnya kewibawaan, dan hubungan pemimpin dengan tanah serta rakyat. Ini cocok dengan konteks seorang umbul atau kepala wilayah agraris: ia bukan hanya simbol perang, tetapi juga pengatur tanah, hasil bumi, pajak, ketertiban, dan kehidupan masyarakat.
Ornamen kanan-kiri pada makuta tampak seperti sayap, daun, kelopak, atau lidah api. Jika dibaca sebagai sayap, ia dapat melambangkan perlindungan dan kewibawaan. Jika dibaca sebagai daun atau kelopak, ia dekat dengan simbol kesuburan. Jika dibaca sebagai lidah api, ia dapat menunjuk pada daya sakral pusaka.
Karena foto yang tersedia belum cukup tajam, terlalu jauh jika langsung menyebutnya garuda atau galudra. Tetapi secara umum, ornamen samping itu memperkuat kesan bahwa benda ini adalah pusaka seremonial, bukan aksesori biasa.
Lebih Dekat ke Regalia Lokal daripada Mahkota Raja Pusat
Salah satu kekeliruan dalam membaca Makuta Ulun Umbul adalah keinginan untuk langsung mengaitkannya dengan raja besar. Padahal, tidak semua benda berbentuk mahkota harus menjadi mahkota raja pusat.
Dari bentuknya, Makuta Ulun Umbul justru terasa lokal, berat, simbolik, dan fungsional sebagai tanda pangkat. Ia tidak tampak seperti mahkota istana besar yang sangat halus, simetris, penuh permata, dan memiliki ikonografi resmi yang mapan.
Ini bukan berarti nilainya rendah. Sebaliknya, banyak regalia lokal justru kuat karena fungsi simboliknya. Ia tidak harus mewah seperti mahkota kerajaan pusat. Ia cukup menjadi tanda bahwa pemegangnya sah memimpin wilayah tertentu.
Maka klasifikasi yang lebih hati-hati adalah: Makuta Ulun Umbul merupakan regalia lokal Priangan/Tatar Ukur bercorak warisan Hindu-Kawi atau Sunda lama.
Perbandingan dengan Mahkota Binokasih
Pembanding terdekat dari Tatar Sunda adalah Mahkota Binokasih atau Sanghyang Paké, pusaka yang dikenal sebagai mahkota penobatan raja-raja Sunda dan kemudian menjadi simbol legitimasi Sumedang Larang.
Ada beberapa kemiripan visual antara Makuta Ulun Umbul dan Mahkota Binokasih. Keduanya sama-sama memiliki kesan mahkota tinggi, puncak sakral, susunan bertingkat, ornamen samping, dan motif floral. Keduanya juga berada dalam dunia simbol regalia Sunda-Priangan.
Namun perbedaannya sangat penting.
Mahkota Binokasih adalah mahkota kedaulatan raja. Ia berada pada tingkat politik tertinggi. Sementara Makuta Ulun Umbul, dari nama dan konteksnya, lebih mungkin merupakan makuta kewenangan wilayah. Jika Binokasih adalah simbol kerajaan, maka Ulun Umbul dapat dibaca sebagai simbol jabatan lokal.
Dengan demikian, Makuta Ulun Umbul tidak perlu dianggap sebagai tiruan langsung Mahkota Binokasih. Lebih tepat dikatakan bahwa keduanya berada dalam keluarga visual regalia Sunda-Priangan. Bentuknya sekeluarga, tetapi status politiknya berbeda.
Kalimat sederhananya: Binokasih adalah mahkota raja; Ulun Umbul kemungkinan makuta kepala wilayah.
Mengapa Tidak Perlu Ditarik ke Majapahit?
Ada cerita yang pernah mengaitkan Makuta Ulun Umbul dengan Hayam Wuruk atau Majapahit. Namun pembacaan seperti itu terlalu jauh jika tidak didukung rantai bukti yang jelas.
Secara metodologis, artefak sebaiknya dibaca dari petunjuk terdekat terlebih dahulu: lokasi temuan, nama lokal, bentuk, fungsi, dan struktur sosial-politik daerahnya. Dalam kasus Makuta Ulun Umbul, semua petunjuk terdekat mengarah ke Majalaya, Tatar Ukur, dan jabatan umbul.
Corak Jawa-Hindu atau Kawi pada sebuah benda tidak otomatis berarti benda itu berasal dari Majapahit. Pengrajin lokal bisa meniru gaya lama. Simbol Kawi-Hindu bisa bertahan di Priangan. Pejabat lokal bisa memakai bentuk regalia yang terinspirasi kerajaan besar. Pusaka jabatan bisa dibuat lokal tetapi memakai bahasa simbolik lama.
Karena itu, pengaruh gaya harus dibedakan dari asal benda.
Makuta Ulun Umbul bisa saja memiliki nuansa Jawa-Hindu/Kawi, tetapi fungsi dan konteksnya tetap lebih mungkin lokal Priangan.
Perkiraan Masa: Akhir Abad ke-16 hingga Awal Abad ke-17
Dari gabungan nama, lokasi, bentuk, dan konteks Tatar Ukur, perkiraan masa yang paling masuk akal adalah akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, dengan kemungkinan terkuat sekitar 1600–1630-an.
Mengapa rentang ini masuk akal?
Pertama, masa itu adalah periode setelah Pajajaran perlahan padam, ketika struktur kekuasaan lokal di Priangan semakin penting. Simbol-simbol lama kerajaan bisa saja diwarisi, ditiru, atau disesuaikan oleh penguasa lokal.
Kedua, awal abad ke-17 adalah masa Tatar Ukur dan Dipati Ukur. Pada masa ini, struktur umbul masih relevan. Para kepala wilayah lokal memiliki peran dalam pemerintahan, pengumpulan kewajiban rakyat, keamanan, dan hubungan dengan penguasa yang lebih tinggi.
Ketiga, setelah reorganisasi Priangan oleh Mataram dan berkembangnya sistem kabupaten, simbol jabatan lokal seperti ini mungkin mulai berubah fungsi. Ia tidak lagi dipakai aktif sebagai atribut administratif, tetapi disimpan sebagai pusaka.
Dengan demikian, Makuta Ulun Umbul kemungkinan dibuat atau dipakai aktif pada masa ketika jabatan umbul masih hidup dalam struktur lokal Priangan. Setelah itu, ia mungkin berubah menjadi pusaka kewilayahan yang diwariskan, disimpan, dan dikeramatkan.
Siapa Pembuatnya?
Dari teknik dan bentuknya, Makuta Ulun Umbul kemungkinan dibuat oleh pande logam lokal Priangan atau bengkel pusaka daerah yang bekerja untuk elite lokal.
Benda ini disebut dibuat dengan teknik tempa dan mengandung unsur logam seperti kuningan, emas, dan tembaga. Bentuknya tidak tampak seperti regalia istana besar yang sangat presisi dan penuh permata. Justru ada kesan benda ini dibuat untuk fungsi simbolik lokal: kuat secara makna, tidak harus mewah secara istana.
Pengaruh Jawa atau Mataram tetap mungkin, terutama karena Priangan abad ke-17 berada dalam orbit politik Mataram. Tetapi produksi bendanya tidak harus dari pusat Mataram. Ia bisa saja dibuat oleh pande lokal dengan gaya yang menyerap simbol Sunda lama, Kawi, dan pengaruh Jawa.
Siapa Pemakainya?
Kandidat paling masuk akal adalah seorang umbul atau kepala wilayah lokal di Majalaya/Tatar Ukur.
Ia mungkin bukan raja besar. Ia juga mungkin bukan Dipati Ukur langsung. Lebih mungkin ia adalah pejabat lokal di bawah otoritas yang lebih tinggi—seorang pemimpin wilayah yang memiliki kewenangan atas kampung, rakyat, tanah, pajak, keamanan, dan kewajiban masyarakat.
Dalam struktur lama, jalurnya bisa dibayangkan seperti ini:
Penguasa lebih tinggi atau kadipaten
? Dipati/Dalem Tatar Ukur
? Umbul atau kepala wilayah Majalaya
? rakyat dan kampung di bawahnya
Makuta itu menjadi tanda bahwa pemegangnya sah memimpin wilayah tertentu. Ia bisa dikenakan atau ditampilkan saat pelantikan, sumpah jabatan, upacara adat, pertemuan resmi, atau ritual kewilayahan.
Jika memakai padanan modern, posisinya kira-kira mendekati kepala distrik atau camat. Namun istilah yang tepat secara historis tetap umbul, bukan camat.
Makuta Jabatan, Bukan Makuta Kerajaan
Kesimpulan paling kuat dari seluruh petunjuk adalah bahwa Makuta Ulun Umbul lebih tepat dibaca sebagai makuta jabatan, bukan makuta kerajaan.
Ia adalah tanda kewenangan lokal. Ia menunjukkan adanya lapisan kekuasaan di bawah raja atau adipati. Ia memperlihatkan bahwa wilayah seperti Majalaya bukan ruang kosong dalam sejarah, melainkan bagian dari jaringan pemerintahan lama Priangan.
Dengan membaca benda ini dari Majalaya, kita tidak perlu memaksakan cerita besar yang jauh. Justru kekuatannya ada pada lokalitasnya.
Makuta Ulun Umbul menjadi penting bukan karena harus dikaitkan dengan raja besar, melainkan karena ia membuka kemungkinan adanya regalia pejabat lokal Tatar Ukur yang selama ini jarang dibicarakan.
Misteri yang Mulai Terbuka
Apakah misteri Makuta Ulun Umbul sudah selesai sepenuhnya? Belum.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut: uji logam, analisis patina, pemeriksaan teknik sambungan, dokumentasi foto resolusi tinggi, pembacaan ikonografi, dan pelacakan riwayat temuan. Perlu diketahui apakah benda itu ditempa satu kesatuan atau dirakit, apakah ada bekas solder modern, apakah bagian tongkatnya satu paket asli, apakah puncaknya asli, dan apakah ada jejak pemakaian di bagian dalam.
Namun satu hal mulai lebih terang: pembacaan paling rasional tidak perlu melompat jauh ke luar Majalaya.
Nama Makuta Ulun Umbul sudah memberi arah. Lokasi temuan di Majalaya menguatkannya. Konteks Tatar Ukur menjadikannya masuk akal. Bentuk visualnya mendukung fungsi sebagai regalia upacara. Perbandingan dengan Mahkota Binokasih menunjukkan bahwa benda ini berada dalam keluarga visual regalia Sunda-Priangan, tetapi pada tingkat lokal.
Maka misteri Makuta Ulun Umbul tidak harus dijawab dengan klaim besar. Ia justru lebih kuat ketika dibaca sebagai jejak kekuasaan lokal.
Penutup
Makuta Ulun Umbul kemungkinan besar adalah regalia lokal Tatar Ukur/Majalaya, dibuat oleh pande logam Priangan, memakai bahasa visual lama Sunda-Kawi, dan dipakai atau ditampilkan sebagai tanda kebesaran seorang umbul atau kepala wilayah.
Ia mungkin berasal dari masa akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, ketika struktur lokal Priangan masih hidup dan Tatar Ukur menjadi salah satu pusat kekuasaan penting di wilayah Bandung lama.
Benda ini bukan sekadar mahkota. Ia adalah tanda bahwa di balik sejarah besar kerajaan, ada lapisan kekuasaan lokal yang juga memiliki simbol, martabat, dan pusaka.
Jika Mahkota Binokasih adalah lambang kedaulatan raja Sunda, maka Makuta Ulun Umbul dapat dibaca sebagai lambang kewenangan kepala wilayah Sunda-Priangan.
Dengan begitu, misteri Makuta Ulun Umbul mulai terkuak: bukan mahkota raja besar, melainkan pusaka jabatan seorang umbul—jejak wibawa lokal Majalaya dalam sejarah Tatar Ukur.*** by Iwa







