balebandung.com – Pagi itu Bojongsoang masih diselimuti kabut tipis. Oto duduk di beranda rumah sambil memainkan ranting kecil di tangannya. Usianya belum genap delapan tahun.
Di halaman, beberapa pembantu keluarga menak sudah mulai bekerja. Dari dapur terdengar bunyi peralatan masak beradu, sementara di ruang depan ayahnya berbincang dengan seorang tamu dari kampung sebelah.
Namun pagi itu berbeda. Oto tidak bebas berlarian ke sawah seperti biasanya. Di sampingnya telah terlipat pakaian yang disiapkan sejak malam, sementara ibunya beberapa kali memeriksa barang-barang yang harus dibawa. Sejak bangun tidur, ia melihat kesibukan yang tidak biasa di rumah.
“Ari ayeuna kudu siap-siap,” kata ibunya.
Oto mengangguk meski belum sepenuhnya memahami mengapa semua orang tampak begitu serius. Semalam ayahnya sudah menjelaskan bahwa hari itu ia akan mulai sekolah.
Bagi banyak anak di Priangan pada awal abad ke-20, sekolah masih merupakan sesuatu yang asing. Sebagian besar anak kampung membantu orang tua di sawah, kebun, atau mengurus ternak. Banyak yang tumbuh dewasa tanpa pernah mengenal bangku sekolah.
Keluarga Oto memandangnya berbeda. Raden Haji Iskandar di Nata percaya zaman sedang berubah. Pemerintah kolonial mulai membuka lebih banyak sekolah bagi kalangan tertentu, dan pendidikan memberi peluang untuk memasuki dunia administrasi serta pemerintahan yang sebelumnya sulit dijangkau kebanyakan pribumi. Sekolah pun mulai dipandang sebagai pintu menuju dunia baru.
Karena itulah pagi itu Oto berangkat bersama ayahnya. Mereka menempuh perjalanan dengan delman. Sepanjang jalan ia lebih banyak diam. Matanya sibuk menangkap pemandangan yang lewat: hamparan sawah yang selama ini menjadi dunianya, pedagang di tepi jalan, kusir yang berlalu-lalang, pegawai pribumi berpakaian rapi, hingga beberapa orang Belanda yang melintas dengan kereta kuda. Dunia terasa jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.
Bangunan sekolah itu tidak terlalu besar, tetapi bagi Oto terasa berbeda dari apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya. Di dalamnya terdapat ruang kelas dengan meja, bangku, dan papan tulis yang tersusun rapi. Ada jadwal pelajaran, aturan yang harus dipatuhi, serta lonceng yang mengatur waktu.
Anak-anak berdatangan dari berbagai keluarga. Sebagian berasal dari kalangan menak, sebagian lagi anak pegawai pemerintah. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.
Ketika ayahnya berpamitan, Oto mendadak merasa gugup. Untuk pertama kalinya ia harus menjalani hari tanpa berada di dekat keluarganya. Ia berdiri di halaman sekolah sambil memperhatikan anak-anak lain. Ada yang tampak percaya diri, ada yang bercanda, dan ada pula yang terlihat sama gugupnya.
“Masuk!” seru seorang guru.
Anak-anak segera berbaris. Oto ikut bergerak. Hari pertamanya dimulai.
Beberapa minggu kemudian, rutinitas sekolah mulai menjadi bagian dari hidupnya. Ia belajar membaca lebih lancar, menulis lebih rapi, dan berhitung lebih cepat. Namun ada satu hal yang paling menarik perhatiannya: semakin banyak ia belajar, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Ia mulai bertanya mengapa orang Belanda memiliki sekolah yang berbeda, mengapa tidak semua anak dapat bersekolah, dan mengapa sebagian orang hidup berkecukupan sementara yang lain bekerja keras setiap hari tetapi tetap miskin.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak selalu disukai para guru. Kadang mereka hanya meminta murid menghafal pelajaran atau menerima keadaan sebagaimana adanya. Namun Oto sulit melakukannya. Ia terbiasa mengamati, memperhatikan, dan mencari tahu alasan di balik sesuatu.
Suatu sore sepulang sekolah, delman yang ditumpanginya melewati hamparan sawah. Beberapa petani sedang bekerja di bawah terik matahari. Tubuh mereka dipenuhi lumpur, sementara pakaian mereka basah oleh keringat.
Oto memperhatikan pemandangan itu cukup lama. Di sekolah ia baru saja belajar tentang kemajuan, pemerintahan, dan keteraturan. Namun di hadapannya terbentang kenyataan yang berbeda. Ia melihat orang-orang yang bekerja sejak pagi hingga petang, tetapi hidup mereka tetap sederhana.
“Pak…” katanya pelan.
Ayahnya menoleh. “Kenapa?”
Oto menunjuk ke arah sawah.
“Mereka kerja dari pagi?”
“Iya.”
“Sampai sore?”
“Iya.”
Oto terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Lalu kenapa tetap banyak yang susah?”
Pertanyaan itu membuat ayahnya tidak langsung menjawab. Delman terus bergerak menyusuri jalan tanah. Roda kayunya berdecit pelan, sementara matahari mulai turun di balik perbukitan Priangan.
Ayahnya akhirnya tersenyum tipis.
“Kalau ingin tahu jawabannya, belajar yang rajin.”
Jawaban itu belum memuaskan, tetapi Oto mengingatnya. Sepanjang perjalanan pulang ia kembali menatap sawah yang membentang di kiri dan kanan jalan. Untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa dunia tidak sesederhana yang selama ini ia lihat dari halaman rumahnya di Bojongsoang. Semakin banyak ia belajar, semakin luas pula dunia yang terbuka di hadapannya.*** bersambung







