balebandung.com – TIDAK semua tokoh lahir dari kemewahan. Tidak pula semua pemimpin tumbuh di tengah sorotan dan kemudahan. Banyak di antara mereka justru ditempa oleh kesederhanaan, diasah oleh kerja keras, dan dibentuk oleh nilai-nilai keluarga yang kuat. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir pribadi-pribadi yang kelak mampu memberi warna bagi masyarakat dan daerahnya.
Salah satu kisah itu datang dari Tegalluar, sebuah kampung yang menyimpan jejak panjang perjalanan hidup seorang anak bungsu dari keluarga besar yang bersahaja. Namanya Dadang Supriatna, yang hari ini dikenal luas sebagai Bupati Bandung. Namun jauh sebelum jabatan dan popularitas datang menghampiri, ia hanyalah seorang anak kampung yang tumbuh dalam keluarga sederhana dengan nilai-nilai kehidupan yang kokoh.
Saya mengenal keluarga ini melalui sosok almarhum H. Rasmana. Tokoh muda yang cukup dikenal di Kabupaten Bandung. Bagi saya, beliau adalah salah satu tokoh muda yang sangat disegani, bukan hanya oleh masyarakat Tegalluar, tetapi juga oleh banyak kalangan di Kabupaten Bandung. Ia adalah pribadi yang berani berdiri paling depan ketika keyakinan dan kepentingan masyarakat harus diperjuangkan.
Keberaniannya bukan lahir dari ambisi, melainkan dari kasih sayang dan rasa tanggung jawab kepada warga. Kepeduliannya kemudian menjelma dalam berbagai amanah yang dipercayakan kepadanya: Kepala Desa Tegalluar, Ketua Pemuda Pancasila, hingga Ketua AMS atas permintaan almarhum Haji Rusna, yang saat itu menjabat Pimpinan DPRD Kabupaten Bandung dan Ketua AMS Jawa Barat. Loyalitasnya dikenal begitu kuat. Bahkan bupati pada masa itu menggandengnya sebagai mitra yang dipercaya menjaga denyut aspirasi masyarakat. Di mata banyak orang, H. Rasmana bukan sekadar tokoh, melainkan penjaga suara rakyat.
Namun di balik sosok besar H. Rasmana, ada seorang adik bungsu yang saat itu nyaris luput dari perhatian banyak orang.
Ia adalah lelaki kurus yang terkesan pendiam. Tidak banyak berbicara. Tidak pula gemar tampil ke depan. Namanya Dadang Supriatna.
Di lingkungan KNPI saat itu, namanya tidak terlalu menonjol. Popularitasnya masih kalah dibanding sejumlah figur yang lebih dikenal publik seperti almarhum H. Dadang Rusdiana, H. Dadang M. Naser, Agus Yasmin, dan tokoh-tokoh lainnya. Tidak banyak yang membayangkan bahwa lelaki sederhana ini suatu hari akan melampaui jejak sang kakak yang begitu ia kagumi.
Keluarga ini merupakan keluarga besar dengan sembilan bersaudara. Mereka adalah putra-putri pasangan almarhum H. Taher, keturunan Darmaja-Situraja, Sumedang, dan Hj. Odah Saodah, perempuan sederhana asal Bojongemas, Ereng.
Kedua orang tua mereka wafat hanya berselang sekitar dua tahun, pada rentang 2005 hingga 2007. Waktu juga telah memanggil beberapa anggota keluarga lainnya. Tiga kakak Kang DS, yakni H. Rasmana, Maman yang akrab disapa Abeh, dan Wawan Obos, telah lebih dahulu berpulang ke Rahmatullah.
Meski demikian, keluarga ini tetap meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada harta benda. Mereka mewariskan nilai-nilai kehidupan: kerja keras, kesederhanaan, kejujuran, dan keberpihakan kepada sesama. Nilai-nilai itulah yang tampaknya terus hidup dalam diri Dadang Supriatna hingga hari ini.
Saya masih mengingat dengan jelas saat ibunda Kang DS dimakamkan di sebuah pemakaman sederhana di pinggiran bantaran Kali Cikeruh, tidak jauh dari rumah keluarga mereka.
Saat itu, Dadang Supriatna belum belum dikenal luas seperti sekarang. Sosoknya sederhana. Ia belum menjabat sebagai anggota dewan, apalagi bupati. Ia hanya seorang kepala desa.
Karena itu, tidak banyak orang yang mengantar kepergian sang ibunda. Tidak tampak rombongan pejabat. Tidak ada bupati. Tidak ada pimpinan dewan atau tokoh-tokoh besar yang datang berbondong-bondong. Yang hadir adalah keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar yang mengenal mereka sebagai keluarga sederhana.
Namun justru dari kesederhanaan itulah perjalanan panjang seorang Dadang Supriatna bermula.
Ia memikul amanah satu demi satu.
Dua periode menjabat Kepala Desa Tegalluar. Pada periode keduanya dipercaya memimpin KNPI Kabupaten Bandung. Dari organisasi kepemudaan itu, langkah pengabdiannya berlanjut ke DPRD Kabupaten Bandung selama dua periode. Setelah itu ia melangkah ke DPRD Provinsi Jawa Barat.
Perjalanan tersebut tidak dibangun dalam semalam. Tidak pula diperoleh melalui jalan pintas.
Setiap tangga kepemimpinan dilewati melalui proses panjang, dinamika politik yang tidak ringan, serta kerja keras yang konsisten. Hingga akhirnya, pada tahun 2020, melalui perjuangan yang tidak sederhana dan penuh tantangan, Dadang Supriatna terpilih sebagai Bupati Bandung.
Jabatan itu hadir bukan karena popularitas instan, melainkan sebagai akumulasi dari perjalanan pengabdian yang panjang.
Bagi banyak orang, Kang DS menjadi simbol kepemimpinan yang membumi. Ia tumbuh dari masyarakat dan tetap dekat dengan masyarakat. Karakter yang paling menonjol darinya adalah kemampuannya mendengar sebelum berbicara, bekerja sebelum mengumumkan, serta hadir bahkan sebelum dipanggil.
Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi kekuatan utama seorang pemimpin. Karakter yang lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar pencitraan.
Karena itu, sisi-sisi kemanusiaan tersebut seharusnya dapat lebih banyak ditampilkan kepada publik. Bukan semata melalui formalitas birokrasi, melainkan lewat narasi yang memperlihatkan perjalanan hidup, kesederhanaan, dan nilai-nilai yang membentuk dirinya. Sosok pemimpin yang humanis sering kali lebih dekat dengan hati masyarakat dibandingkan sekadar deretan capaian administratif. Kerjanya ikhlas, sekaligus kelemahannya di sana juga. Dalam beberapa isu yang menderanya, ia kerap tidak ambil pusing selama tidak melakukan yang dituduhkan. Padahal sebagai seorang pemimpin, memberikan klarifikasi itu penting karena isu yang salah kalau dihembuskan terus menerus, publik akan mempercayainya. Kalaupun tidak yang bersangkutan, dinas terkait seharusnya memberikan penjelasan agar informasinya berimbang. Tapi, satu kelebihan dari Kang DS sejak menjadi kades, seberat apapun masalah yang pernah menderanya, akhirnya bisa diselesaikan, dan tanpa ekses.
Termasuk ketika masalah PT BDS yang sekarang sedang hangat dibicarakan. Saya pernah menanyakannya, ketika ngopi santai di Rumdin. “Saya mah teu narima sapeser oge ti BDS, ” ungkapnya. Dan, saya percaya!.
Sebagai orang yang lama bergaul dengan para politisi, tidak bicaranya Kang DS dalam menghadapi isu yang menyerangnya ini, bisa saja karena ada kekuatan di atas dirinya, yang membuatnya sangat hati-hati untuk bicara. Wallahu’alam
Hari ini, ketika Kang DS memasuki usia ke-56 tahun, sebagai orang yang mengenalnya hampir 30 tahun, ada satu pelajaran yang terasa penting untuk direnungkan bersama: bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada perjalanan hidup yang tanpa kekurangan.
Namun justru dari berbagai ujian, keterbatasan, dan pengalaman itulah seseorang ditempa menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana.
Selamat ulang tahun ke-55, Kang DS.
Semoga setiap pengalaman hidup yang telah dilalui menjadi sumber kebijaksanaan dalam memimpin. Semoga nilai-nilai luhur yang diwariskan kedua orang tua dan keluarga besar tetap menjadi kompas dalam setiap langkah pengabdian. Semoga diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan untuk terus mengemban amanah masyarakat Kabupaten Bandung.
Dan semoga Kabupaten Bandung terus melangkah di bawah cahaya kepemimpinan yang adil, amanah, serta mengayomi seluruh warganya.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiinn







