KUTAWARINGIN, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna atau KDS memastikan penanganan bencana longsor yang terjadi sekitar pukul 04.00 WIB pada Rabu (9/9/2026), di RW 17 Desa/Kecamatan Kutawaringin dilakukan secara kolaboratif melalui pendekatan Pentahelix. Langkah tersebut melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.
KDS mengatakan, penanganan secara kolaboratif diperlukan karena masing-masing unsur memiliki kewenangan dan ketentuan dalam penggunaan anggaran. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi hambatan dalam memberikan penanganan cepat kepada masyarakat yang terdampak.
Hal itu disampaikan KDS saat melakukan monitoring dan peninjauan lokasi bencana longsor di RW 17 Desa/Kecamatan Kutawaringin, Kamis (10/9/2026).
“Ini dilakukan secara Pentahelix. Karena kondisi anggaran kita di masing-masing PD punya aturan dan kewenangan. Tetapi alhamdulillah, saya melihat kekompakan para petani. Hampir 300 orang sudah melakukan gotong royong untuk penanganan sementara,” ujar KDS.
Menurutnya, ada sejumlah langkah yang dilakukan Pemkab Bandung bersama unsur terkait untuk menangani dampak bencana tersebut.
Pertama, Pemkab Bandung telah memberikan bantuan biaya kontrakan selama tiga bulan kepada lima keluarga yang rumahnya terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan warga tidak tetap tinggal di lokasi yang berpotensi mengalami kejadian susulan.
KDS juga meminta dua keluarga yang rumahnya berada di sekitar sempadan sungai atau daerah irigasi Leuwikuya agar mempertimbangkan untuk pindah ke lokasi yang lebih aman.
“Untuk lima penghuni kita berikan bantuan untuk ngontrak dulu selama tiga bulan. Jangan sampai ada kejadian susulan. Untuk dua rumah yang berada dekat sempadan sungai atau irigasi, saya minta pindah lokasi,” katanya.
Kedua, Pemkab Bandung akan melakukan perbaikan terhadap rumah warga melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, terdapat 10 unit rumah yang membutuhkan penanganan.
Dari jumlah tersebut, dua unit rumah akan ditangani melalui BAZNAS Kabupaten Bandung, sedangkan delapan unit lainnya akan ditangani Pemerintah Kabupaten Bandung.
“Yang tadi saya lihat ada 10 unit rumah yang memang harus kita perbaiki. Dua unit dikelola BAZNAS Kabupaten Bandung dan delapan unit oleh Pemerintah Kabupaten Bandung. Insya Allah dalam waktu dekat kita koordinasikan secara teknis,” ujarnya.
Ketiga, penanganan sementara terhadap infrastruktur irigasi Leuwikuya dilakukan bersama-sama oleh unsur PSDA dan para petani. KDS mengapresiasi gotong royong masyarakat yang bergerak cepat untuk mengurangi dampak kerusakan akibat jebolnya saluran irigasi.
Keempat, Pemkab Bandung akan mendorong penanganan jangka panjang melalui pemerintah pusat, khususnya untuk perbaikan Daerah Irigasi (DI) Leuwikuya.
KDS mengatakan, dirinya telah berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), untuk menyampaikan kondisi tersebut. Usulan penanganan selanjutnya akan diproses melalui aplikasi Sistem Informasi Pengusulan Irigasi (Sipuri) dengan koordinasi bersama BBWS Sungai Citarum, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Insya Allah tahun ini secara serentak kurang lebih Rp334 miliar program ini akan masuk ke Kabupaten Bandung. Dengan karya bareng, gotong royong, dan kekompakan, saya kira ini bisa selesai,” tuturnya.
Di sisi lain, KDS mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Masyarakat yang tinggal di sekitar sempadan sungai maupun daerah irigasi diminta tidak mengabaikan kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Kalau ada kekhawatiran dan sebagainya, segera sampaikan dan hubungi kepala desa atau camat, sehingga kami bisa mengantisipasi sejak dini,” kata KDS.***







