Bale Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [5]; Rumah Senapati

×

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [5]; Rumah Senapati

Sebarkan artikel ini
–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Balebandung.com – Tidak lebih dari tiga hari Ukur menginap di rumah Senapati Ronggonoto. Benar-benar sementara. Selain karena merasa tidak kerasan dengan suasana yang diciptakan empunya rumah, atasannya sendiri itu, keraton pun sudah menemukan sebuah rumah yang layak untuk seorang bekel seperti dirinya. Letaknya hampir di sudut benteng, dekat dengan istal kuda dan lapangan tempat para prajurit berlatih olah kanuragan dan seni kemiliteran.

Ukur benar-benar menyukai tempat itu. Tempat yang cocok, tak hanya buat seorang lajang, juga untuk seorang pemuda dengan kepribadian sedikit pemalu seperti dirinya. Di rumah itu, setiap sore usai tugasnya sebagai seorang bekel di keraton, ia akan menemukan keheningan yang benar-benar menenteramkan jiwanya.

Bahkan sebelum magrib pun lapangan di depan rumah itu sudah sesunyi layaknya tengah malam di bagian keraton lainnya. Hanya suara jangkrik, kodok, atau nyanyian seranggga malam lainnya, itu pun hanya di waktu-waktu tertentu. Selebihnya, bunyi-bunyi yang didengar Ukur kadang hanya suara-suara yang ia hasilkan sendiri dalam aktivitasnya.

Seperti juga petang itu. Selesai mandi dengan tumbukan daun lamtoro di pancuran belakang rumah, Ukur merasa amat segar. Tumbuk daun lamtoro itu begitu ampuh menghilangkan keringat dan minyak-minyak tubuhnya yang keluar deras setelah seharian beraktivitas. Dengan kain sarung kumal yang dibawanya dari Timbanganten, wilayah di lereng Gunung Malabar yang dicintainya. Wilayah yang asri, hijau dengan beragam pepohonan, makmur dengan deretan ladang yang luas sejauh kata memandang.

Saat di Timbanganten Ukur tinggal di Tegal Luar, wilayah perbatasan antara Dukuh Banjaran dan Kampung Cipeujeuh. Dulu kala Timbanganten termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Dengan bijaksananya Pajajaran memperlakukan wilayah-wilayah bawahannya, kemakmuran segera melingkupi warga-warga seantero Pajajaran. Apalagi Timbanganten yang memang berada di kawasan pegunungan yang subur.

Sering ingatannya menerawang kembali ke Tanah Pasundan yang membesarkannya. Selalu tanah subur berpemandangan alam indah itu mengusik batinnya, menegurnya untuk segera pulang. Sekian banyak leuwi dan curugnya selalu saja membuat Ukur merasa rindu untuk segera pulang dan mengabdi kepada bali geusan ngajadi itu.

Ingatan akan alam Sunda itu selalu membawa Ukur mengingat-ingat petikan syair Kacapi Suling yang selalu membuat hatinya basah akan kasih.

Sunda surup kana tangtung,
Sunda sieup, nimbang kana wanda
Gunung-gunungna, cur-cor caina
Ngaplak pasawahannana…

Dengan sarung tua itu Ukur mengeringkan badannya. Diambilnya kemudian selembar kain cukup panjang yang akan dipakainya sebagai pakaian dalam. Salah satu ujung kain itu ditariknya melewati selangkangan, menutupi pantat. Setelah itu baru ia mengenakan celana pangsi hitam, juga bagian dari bekalnya saat berangkat beberapa bulan lalu ke Mataram.

Untunglah, seragam prajurit Mataram pun memakai celana pangsi hitam, hingga kepemilikannya akan celana jenis itu segera bertambah. Agar kuat, celana dan kain kancut itu pun diketatkan dengan sebuah ikat pinggang kulit selebar telapak tangan.

Barulah kemudian Ukur mengubek-ubek buntalannya, mengeluarkan selembar baju mulai lusuh dan dipakainya. Baju kampret putih hasil tenun tangan para pengrajin tenun di daerah Banjaran yang terkenal tak hanya di Timbanganten, Sumedang Larang atau pun Banten. Kehalusan kain tenun Banjaran juga terkenal sampai Mataram, bahkan Kerajaan Sampang dan Lampung di seberang pulau.

Sebelumnya, baju yang seharian ini ia kenakan telah direndamnya dalam baskom kayu bersama beberapa butir buah lerak. Ukur bermaksud mencucinya selepas isya nanti.

Di tengah rumah, sambil bersila Ukur membuka kiriman dapur umum yang diterimanya setiap pagi dan sore. Dibukanya daun jati yang menutup gerabah tanah itu, dan segera didapatinya sepotong besar ayam di atas tumpukan nasi merah. “Hm, garang asem. Lumayan dibanding pagi tadi,” ujarnya membatin. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [4]

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmennya memperkuat program Bisyarah Guru Ngaji sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal itu disampaikan KDS saat menghadiri Bimbingan Teknis (BIMTEK) Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Kabupaten Bandung, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 200 peserta […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Bandung meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai bagian dari upaya memperkuat digitalisasi transaksi belanja daerah sekaligus meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Peluncuran KKI dilakukan Bupati Bandung Dadang Supriatna di Grand Sunshine Soreang, Senin (10/8/2026). Peluncuran ini menjadi bagian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk menindak tegas tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan atau bullying terhadap pasien melalui media sosial. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyatakan kecewa dan prihatin atas perilaku tersebut, terlebih terjadi sebelum pasien yang bersangkutan meninggal dunia. KDS pun meminta Badan Kepegawaian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]