Bale Bandung

Dipati Ukur ; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [21]: Dari Kelambu Ranjang yang Terbuka

×

Dipati Ukur ; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [21]: Dari Kelambu Ranjang yang Terbuka

Sebarkan artikel ini

Balebandung.com – Ketiga kawanan maling itu segera memasuki kamar-kamar yang ada. Ternyata tengkulak iitu benar-benar seorang yang kaya raya. Dari setiap kamar yang mereka masuki, ada saja yang bisa diambil maling-maling itu. Namun entah pula, barangkali juga sebenarnya maling-maling itu yang terlalu rakus. Soalnya, barang berharga yang memberatkan pelarian mereka pun, seperti keramik Cina kuno yang jelas sekali mahal harganya, tak luput mereka kumpulkan di tengah rumah.

Bahkan sebelum mereka memasuki kamar tidur utama, sarung-sarung masing-masing orang itu sudah penuh menggelembung. Sarung-sarung tersebut mereka ambil dari rumah si tengkulak, mereka jadikan semacam kantong pembawa barang.

“Tinggal kamar ini yang belum kita masuki,” kata Tejo di muka pintu kamar utama.

“Siapkan satu sarung lagi. Ini sudah pada penuh,” kata Ki Blontang. Si pilon mengajukan selembar sarung. Ia memang membawa berlembar-lembar sarung dari sebuah lemari di satu kamar tidur. Kamar tidur anak-anak si tengkulak, yang tertidur sangat pulas laiknya mati.

Tejo membuka pintu kamar dan segera memasukinya. Namun tiba-tiba tubuhnya mencelat keluar, terpental dan jatuh dengan punggung lebih dulu menabrak lantai.

“Gedebuk!”

Bunyinya keras sekali, diiringi jerit kesakitan Tejo. Ia berusaha bangun kembali, namun tampaknya cedera di punggungnya cukup parah karena gerakan yang dilakukannya justru membuatnya menjerit spontan kesakitan. Akhirnya Tejo hanya mampu merintih-rintih di lantai, tak mampu bangkit lagi.

Ki Blontang sontak kaget. Diurungkannya langkah kakinya yang tadi bersiap memasuki kamar. Ia pun lebih waspada.

“Kurang ajar! Punya mainan juga nih tengkulak setan,” serapahnya, lebih ditujukan kepada kawanannya, si Pilon. Dengan isyarat mata Ki Blontang memerintahkan anak buahnya itu masuk.

Si Pilon tampak keder. Masuk ke kamar itu risikonya jelas, ia punya kemungkinan akan menjadi korban kedua setelah Tejo. Tetapi tak mematuhi perintah Ki Blontang pun bukan urusan enteng. Ia bisa digampar pimpinannya yang kadang kumat gilanya itu. Tak hanya itu, dibacok pun bukan mustahil mengingat kekejian Ki Blontang selama ini.

Hati-hati Si Pilon menggeser kakinya maju selangkah memasuki kamar. Tetapi dengan cepat ditariknya kembali kaki itu, seolah menginjak lumpur atau bara panas.

“Heit!” katanya. Ki Blontang yang kesal segera menyepak pantat anak buahnya itu.

“Masuk!” perintahnya, dicabutnya golok yang tersampir di pinggang, membuat nyali si Pilon segera kecut. Si Pilon ikut-ikutan mencabut golok, lalu dengan langkah tak meyakinkan menggeser kakinya memasuki pintu kamar yang terbuka.

Satu langkah, lalu si Pilon berhenti menunggu situasi. Tak ada apa pun terjadi. Kini giliran kaki lainnya ia geser. Badannya kini sudah sepenuhnya berada dalam kamar. Diedarkannya pandangannya berkeliling isi kamar. Pemandangan yang dilihat Si Pilon membuatnya kaget bukan kepalang. Di sebuah ranjang besar dilihatnya si Tengkulak dan istrinya terbaring pulas seolah tak ada apapun yang terjadi menimpa mereka. Kelambu ranjang mereka tak dibuka, pertanda mereka tertidur sebelum menggeraikannya menutup ranjang.

Lalu apa, atau siapa yang membuat temannya mencelat keluar seolah dilempar seseorang dengan tenaga sekuat denawa? Dengan penuh ketakutan Si Pilon kembali mengedarkan pandagannya ke sekeliling ruangan. Tak ada apapun yang terlihat mencurigakan. Tak ada bunyi apa pun yang terdengar. Semua hening, kondisinya tengah malam yang begitu bening untuk para pencari kesejatian.

Namun manakala tatapan mata Si Pilon kembali ke arah ranjang, pandangannya tertumbuk sebuah objek di depan. Begitu dekat, sehingga menutup seluruh penglihatannya dari apa yang terjadi di depannya kini. Belum lagi Si Pilon lepas dari keterkejutannya, sebuah hantaman telak menghajar dagunya.

“Dug!”

Hanya itu yang ia ingat, sebelum gelap menutup seluruh pandangan mata si Pilon yang ambruk mencium lantai.

“Hei, ada apa Lawuk?” teriak Ki Blontang dari luar. Rupanya terdengar juga olehnya bunyi gedebuk jatuhnya si Pilon. Tak ada suara dari dalam. Hanya keheningan yang menjawabnya.

Penasaran, Ki Blontang bergerak ke arah kamar yang pintunya telah terbuka lebar itu. Dimasukkan golok yang tadi ia pegang. Meski demikian gerakannya saat memasuki kamar jelas menandakan gerak-gerik seorang pesilat ulung yang siap menghadapi ancaman apapun.

Belum juga kaki Ki Blontang memasuki area kamar, sebuah benda berdesing ke arahnya. Benda besar, manusia! Refleks Ki Blontang menghindar dengan berguling di lantai. Posisi bergulingnya ke samping, tidak memasuki kamar yang pasti lebih riskan akan ditunggu penyerang dengan serangan selanjutnya.

“Gedubrak!” bunyi benda lunak membentur lantai ruang tengah terdengar keras. Ki Blontang sadar, benda yang dilemparkan seseorang untuk menyerangnya itu tak lain dari badan Lawuk, si Pilon anak buahnya sendiri. Ia sadar pula, seseorang yang mampu melempar badan manusia sebesar Lawuk tentu manusia yang tangguh. Tapi sebentar, ‘seseorang’? Manusia? Ki Blontang tak yakin ada manusia yang dengan enteng melempar dua anak buahnya seperti itu.

Namun Ki Blontang tak perlu menekur lama memikirkan kejadian itu. Belum lagi posisinya tegak setelah berguling-guling menghindar serangan lemparan badan Lawuk, sebuah bunyi berdesing menuju dagunya yang tak terjaga. Sadar risikonya besar, meski tak yakin apa yang menyerangnya, Ki Blontang menangkis dengan tangan kanannya.

“Wuaaa!” Jeritan Ki Blontang membahana merayapi ruang demi ruang di rumah itu. Tak hanya ia rasakan pergelangan tangan yang dipakainya menangkis bergetar, Ki Blontang juga merasakan sakit yang teramat nyeri, hingga memukul ulu hati. Ia menduga tulang hastanya patah akibat benturan itu.

Saat mukanya tengadah, seseorang dengan entengnya berdiri memukul-mukulkan semacam tongkat pendek seperti penggada ke telapak tangannya sendiri.

“He he he” Orang di depannya tertawa. Nyala pelita perlahan-lahan memandu Ki Blontang akan sosok di depannya itu: seorang pemuda dengan ikat kepala ala Sunda berdiri santai, memegang semacam penggada yang segera ia sisipkan ke sabuknya.

“Cuma segitu saja kedigjayaan perampok-perampok Wetan, heh?” orang di depannya tertawa. “Tadinya akan kubiarkan kalian merampok tuan tanah, tengkulak dan rentenir bajingan ini. Tapi kupikir lagi, rugi juga bila dunya brananya tersebar di Wetan. Itu artinya menambah devisa Mataram, mengurangi jumlah uang beredar di sini, Bajingan! Ujung-ujungnya mungkin akan terjadi kelangkaan uang seperti yang konon akan terjadi di wilayah ini sekitar 400 tahunan nanti. Tidak, aku Ukur tak menginginkan hal itu. Enak saja! Lebih baik bila apa yang telah kalian kumpulkan ini kuambil. Biar rakyat Tatar Ukur yang menikmatinya, karena sejatinya dari mereka pula rajabrana yang terkumpul menggunung di rumah ini berasal,” kata orang yang tak lain dari Ukur itu.

Ki Blontang terperangah. Ukur? Ternyata anjing ini lolos dari sergapan Kanjeng Senapati, pikirnya. Namun ia tak sempat berpikir lebih jauh. Sebuah pukulan yang tiba-tiba menghantam kepalanya, membuatnya tak lagi mampu mengingat apapun. Gelap semata. Segelap nasib yang akan menimpanya. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [20]: Aji Sirep Warisan Kaum Durga

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmennya memperkuat program Bisyarah Guru Ngaji sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal itu disampaikan KDS saat menghadiri Bimbingan Teknis (BIMTEK) Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Kabupaten Bandung, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 200 peserta […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Bandung meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai bagian dari upaya memperkuat digitalisasi transaksi belanja daerah sekaligus meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Peluncuran KKI dilakukan Bupati Bandung Dadang Supriatna di Grand Sunshine Soreang, Senin (10/8/2026). Peluncuran ini menjadi bagian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk menindak tegas tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan atau bullying terhadap pasien melalui media sosial. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyatakan kecewa dan prihatin atas perilaku tersebut, terlebih terjadi sebelum pasien yang bersangkutan meninggal dunia. KDS pun meminta Badan Kepegawaian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]