Bale Jabar

Ada Emas di Lembah Cibaliung Pangalengan

×

Ada Emas di Lembah Cibaliung Pangalengan

Sebarkan artikel ini
by andy

PANGALENGAN, Balebandung.com – Lokasi tambang emas itu berada di perbatasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Garut, tepatnya di di area Perkebunan Teh Cukul Kampung Bunikasih RW 09, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung.

Mendekati lembah Cibaliung, gemericik air Sungai Cibaliung terdengar sayup-sayup. Suaranya makin jelas ketika kami tiba di salah satu gua penambang. Jalan masuk gua yang di sekitarnya ditumbuhi semak belukar itu disangga pilar-pilar dan atap kayu. Di depan gua, serpihan bebatuan putih berserakan. Sisa material lainnya ditumpuk dan dinaungi terpal plastik. Untuk memasuki lorong sempit dan gelap itu, kami hanya bisa bergantian satu per satu sambil membungkukkan badan.

Begitu sampai di ujung lorong yang berjarak delapan meter, tiga penambang laki-laki tampak berada di dalam. Sebuah senter terikat pada kepala salah seorang penambang, yang berusia sekitar 20 tahun. Tak kuat berlama-lama di dalam gua yang pengap, saya memutuskan keluar dengan cara berjalan mundur setengah berjongkok. Dari gua itu, saya menyusul rombongan di depan yang sudah memasuki perkampungan penambang di bawah sana.

Bedeng-bedeng penambang yang dibangun dari kayu dan terpal plastik itu begitu kumuh, seperti kandang ternak. Berukuran enam meter persegi, naungan itu dibagi untuk kamar tidur, dapur, dan tempat kerja.

Baca juga ; Gemludug Gelundung Pengolah Emas di Bunikasih

Salah satunya dihuni Sarman, 23 tahun. Lelaki berkulit gelap itu mengaku sudah ada di sana sejak 2000. Menurut dia, di sini ada lebih dari 100 penambang yang hampir seluruhnya berasal dari Desa Mekar Mukti, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, termasuk dirinya. Kampung itu sendiri terletak di balik lembah Sungai Cibaliung, berjarak, “Dua jam jalan (kaki),” katanya.

Saat itu, dia sempat memperlihatkan hasil temuannya setelah menggali dua hari dua malam di sebuah lubang. Dari bungkus kain lusuh berwarna merah, dia mengeluarkan batu logam berwarna perak seukuran kelereng. Di dalam batu seberat 4 gram itu, katanya, ada emas. Setiap bulan, dia biasa mendapat 10-15 gram emas yang biasa ia jual ke toko perhiasan di daerah Banjaran, Bandung. Hasilnya dibawa pulang ke keluarganya saban 15 hari sekali. “Uangnya hanya cukup untuk makan,” ujarnya.

Makmur, seorang peserta yang juga peneliti dari Museum Geologi Bandung mengatakan, dari batuan seberat 4 gram itu, paling hanya 30 persennya atau 1,2 gram yang menjadi emas. Sisanya adalah perak dan tembaga, yang sering dibuang begitu saja oleh penambang.

Pagi atau malam, para penambang mulai bekerja memahat batuan kuarsa yang keras di gua, lalu memasukkannya dalam karung. Tidak asal memahat, mereka mencari rekahan batuan di dinding gua. Rekahan seukuran garis tipis itulah, menurut Makmur, yang disebut urat emas. Rekahan itu adalah jalan bagi mineral, seperti emas, perak, dan tembaga, dari hasil kegiatan gunung api. Gunung itu sendiri diperkirakan telah mati.

Pecahan kuarsa selanjutnya diangkut ke bedeng. Batuan itu lalu ditumbuk dengan palu besi hingga hancur menjadi seukuran biji kacang. Butiran-butiran itu selanjutnya dimasukkan dalam gelundung, sebuah silinder dari besi seukuran galon air mineral yang diikat pada kayu. Gelundung yang diputar oleh arus sungai selama 12 jam menghasilkan butiran batu halus. Pengumpulan emas dalam butiran itu lantas diproses dengan kucuran air raksa alias merkuri.

Dari obrolan dengan penambang lain, mereka mengaku penambangan yang mereka lakukan adalah liar. Tiap bulan, katanya, mereka kerap disambangi petugas pemerintah daerah Garut yang meminta mereka pergi. Berdalih tak ada pekerjaan lain, para penambang tak menggubris larangan itu sehingga petugas pun tak bisa berbuat lebih jauh. Sejauh ini, kata mereka, tak ada seorang penambang pun yang tewas karena kecelakaan kerja.***

Sumber :Anwar Siswadi 2 Agustus 2009
http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2009/08/02/brk,20090802-190260,id.html

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com — Interkulturalitas dalam teater tak lagi cukup dilihat sebagai pertemuan berbagai budaya untuk melahirkan karya artistik. Di balik pertukaran itu terdapat persoalan etika, identitas, hingga relasi kuasa yang membuat gagasan interkulturalitas terus diperdebatkan. Persoalan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Interkulturalitas: Masih Mempesona atau Sudah Ditinggalkan?” yang digelar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Komunitas motor tidak hanya dituntut tertib di jalan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam menjaga kondusivitas dan membangun kepedulian sosial di Jawa Barat. Pesan itu disampaikan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih saat menghadiri rangkaian The 2nd Indonesian Royal Enfield Jamboree 2026–Wingday dan Deklarasi Bandung Kondusif di Laswi Heritage, Kota Bandung, Sabtu (12/9/2026). […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Sinergi TNI, Polri dan pemerintah daerah menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pembangunan Jawa Barat. Pesan itu mengemuka dalam Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Provinsi Jawa Barat di halaman Gedung Sate, Bandung, Senin (17/8/2026). Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Kosasih hadir bersama jajaran Forkopimda Jawa Barat dalam upacara […]

Bale Jabar

JAKARTA, balebandung.com – Pengusaha Pontjo Sutowo mengajak anak-anak yatim mendoakan Presiden Prabowo Subianto agar diberi kesehatan, kelancaran dan kekuatan dalam memimpin Indonesia hingga akhir masa jabatannya pada 2029. Ajakan tersebut disampaikan Pontjo saat menghadiri acara “Doa Bersama Anak-anak Yatim untuk Keselamatan Bangsa” yang digelar Aliansi Kebangsaan di Aula Gedung RRI Jakarta, Sabtu malam (15/8/2026). Pontjo […]

Bale Jabar

JAKARTA, balebandung.com – Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai sikap pengusaha Pontjo Sutowo dalam menghadapi sengketa Hotel Sultan menunjukkan bentuk nasionalisme yang tidak berhenti pada simbol, tetapi diuji ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan negara. Menurut Toto, sikap Pontjo yang tetap menempatkan kepentingan negara sebagai sesuatu yang harus dihormati, sekalipun […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-18, Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar acara jalan santai bertajuk Batik Walk, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Jambore tersebut nantinya akan diisi oleh berbagai program utama, mulai dari […]