Bale Jabar

Hari Asyura 10 Muharram, Mengenang Peristiwa Karbala

×

Hari Asyura 10 Muharram, Mengenang Peristiwa Karbala

Sebarkan artikel ini

by H. Harjoko S., MPd. *)

Tanggal 10 Muharram oleh sebagian umat Islam digunakan untuk memperingati Peristiwa Karbala. Kejadian yang memberi stempel resmi terhadap Syi’ah, yaitu kesyahidan Husain pada tahun 681 M di Karbala. Husain -satu-satunya cucu Nabi yang masih hidup- bersama 18 anggota laki-laki dari keluarga serta sahabatnya waktu itu dibunuh secara brutal.

Tragedi Karbala menjadi sarana paling efektif dalam penyiaran dan penyebaran paham Syi’ah. Unsur gelora jiwa dalam mengungkapkan kecintaan (walayah) kepada Ahl Al-Bait menjadi sebuah ciri khas pembeda bagi paham Syiah.

Dalam waktu setahun, tragedi ini membangkitkan sebuah gerakan yang dikenal sebagai Tawwabun (orang-orang yang bertobat), 3.000 orang di antaranya mengorbankan nyawa mereka sebagai cara untuk menyesali ketidakmampuan mereka membantu Husain dalam masa-masa sulitnya.

John L. Esposito, dari Universitas Georgetown dalam artikelnya Syiah Tinjauan Sejarah mengatakan, “karena tindakan mengorbankan diri yang penuh gelora jiwa ini berlangsung tanpa seorang pemimpin pun dari kalangan Ahl Al-Bait, ia menyediakan daya penggerak baru bagi gaya dan watak gerakan Syiah, menjadikannya sebuah upaya yang mandiri dan swadaya” (EODIM Vol. 5, 2003:304).

Istilah Syi’ah secara harfiah berarti pengikut, partai, kelompok, rekanan, pendukung atau penyokong. Istilah ini muncul beberapa kali dalam Al-Quran seperti QS Maryam (19):69, Al-Qashash (28):15 dan QS Al-Shaffat (37):83. Secara teknis istilah ini merujuk kepada muslim yang mengambil aturan agama dan inspirasi spiritualnya setelah Nabi Muhammad SAW, dari keturunan beliau, Ahl Al-Bait. Jika kaum Sunni menerima sumber petunjuk keagamaan setelah Nabi dari sahabat-sahabat Nabi, kaum Syiah membatasinya hanya pada anggota Ahl Al-Bait.

Titik tolak yang membedakan Islam Syi’ah dengan Sunni, didasarkan pada dua faktor penting : satu bersifat sosial budaya dan yang lain diturunkan dari konsep Al-Quran tentang sifat keagungan dan kesalehan keluarga Nabi.

Secara sosial budaya ada perbedaan pandangan antara mereka yang berasal dari wilayah Arab Utara dan Tengah dengan Arab Selatan. Mereka yang berasal dari Arab Utara dan Tengah menganggap kepemimpinan lebih bersifat politis. Sedang yang dari Selatan menganggap kepemimpinan itu ada dalam pengertian otoritas spiritual Muhammad.

Di samping itu Al-Quran memberi konsep tentang kedudukan agung keluarga Nabi melalui empat kata kunci : dzurriyah (keturunan langsung), al (keturunan), ahl (anak cucu) dan qurba (kerabat terdekat). Para penafsir merujuk pada kerabat dekat Nabi : Ali (sepupu dan menantunya), Fatimah (putrinya), serta Hasan dan Husain (cucunya). Syi’ah memperluas status Ahl Al Bait kepada keturunan Hasan dan Husain.

Baca juga; Menyambut Tahun Baru 1441 H, Mengenang Nabi Muhammad SAW

Asal usul gerakan Syi’ah dapat dilacak ke periode Nabi di Madinah. Beberapa sahabat terkemuka meyakini bahwa sepupu Nabi, Ali ibn Abi Thalib, sebagai washi (ahli waris) beliau dan imam yang akan memimpin umat setelah beliau. Namun, setelah Nabi wafat, Ali ditolak oleh para pemimpin komunitas. Maka para pendukung Ali membentuk unsur inti pertama Syi’ah.

Penolakan Ali terhadap preseden yang telah ditetapkan Abu Bakar dan Umar (tetapi diterima Usman) menjadi awal terbentuknya dua mazhab hukum yang berbeda dengan nama Syi’ah dan Sunni. Mazhab Syi’ah meliputi Itsna Asyariyah, Ismailiyah dan Zaidiyah. Mazhab Sunni meliputi Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Kebencian komunitas terhadap Ustman (yang dianggap mementingkan Bani Ummayah) mengakibatkan Ustman terbunuh dan Ali pun dipaksa oleh komunitas untuk menerima kekhalifahan, dan ini ditentang Muawiyah.

Akibatnya terjadi perang saudara yang pertama dalam Islam yang bermuara pada pembunuhan Ali pada tahun 661. Sejak kekhalifahan Ustman hingga pembunuhan Ali, Syi’ah politik meningkat jumlah dan pengaruhnya.

Mukhtar ibn Abi Ubaidah Al-Tsaqafi, mendengungkan peran mesianistik Ibn Al-Hanafiah (putra Ali dari seorang wanita Hanafi) sebagai Imam Mahdi dan meninggalkan Zain Al-Abidin (putra Husain satu-satunya yang masih hidup). Pemberontakan Mukhtar dipatahkan dan ia sendiri terbunuh pada tahun 686. Ibn Al-Hanafiah terbunuh tahun 700. Pengikutnya yang dikenal sebagai Kaum Kaisaniyah meyakini bahwa ia tidak meninggal dan akan kembali suatu saat. Dari sini muncul dua gagasan kunci : gagasan tentang Mahdi dan konsep tentang ghaibah (kegaiban) dan raj’ah (kehadiran kembali).

Zaid, anak laki-laki kedua dari Zainal Abidin, tidak menginginkan sikap diam atau Imam Tersembunyi, seperti Al Baqir dan Ibn Al-Hanafiyah. Imam harus menegaskan keimamannya di depan umum dan kalau perlu berjuang untuk meraihnya. Zaid dan pengikutnya terbunuh pada tahun 740. Yahya melanjutkan perjuangan ayahnya dan terbunuh pada tahun 743.

Muhammad Al Nafs Al-Zakiyah, seorang cicit Hasan bangkit menentang Abbasiyah namun dia dan saudaranya, Ibrahim, terbunuh pada tahun 762.

Adapun tiga cabang Syiah tetap bertahan hingga saat ini;
(1) Zaidiyah, pengikut Zaid, terutama di Yaman, Irak dan Afrika. Mereka meyakini bahwa seorang Imam haruslah menjadi penguasa negara, dan karena itu harus berjuang meraih hak-haknya.
(2) Ismailiyah, dinamai menurut nama Ismail, putra tertua Imam Ja’far Al-Shadiq yang meninggal sebelum ayahnya. Ismailiyah menyatakan anak Ismail yang bernama Muhammad sebagai imam ketujuh mereka dan tidak mengikuti anak kedua Jafar, Musa Al-Kazhim. Kaum Ismailiyah dikenal sebagai kaum Bathiniyah, yakni orang-orang yang mempertahankan peran sentral aspek-aspek esoteris wahyu dalam keagamaan mereka.
(3) Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam). Mayoritas kaum Syiah masuk ke dalam Syiah Itsna Asyariyah. Mereka dianggap moderat dan meyakini adanya 12 Imam, dimulai dari Ali sebagai imam pertama diikuti kedua anaknya, Hasan dan Husain dan keturunannya hingga imam keduabelas, Muhammad Al-Mahdi, yang masuk ke alam ghaib dan kelak kembali pada akhir masa sebagai imam mesianistik guna memulihkan keadilan dan kesetaraan di bumi.

Syiah Itsna Asyariah sangat berutang pada Imam Jafar Al-Shadiq, imam keenam dari cabang Bani Husain yang menguraikan teorinya tentang imamah berdasarkan nashsh, yakni melalui penunjukan eksplisit oleh imam sebelumnya. Tatkala Jafar wafat tahun 765, kaum Syiah telah sepenuhnya diperlengkapi dalam seluruh cabang agama dan memiliki karakter yang khas.

Pada periode Buwaihiyah (945-1055) menguasai Baghdad dan Iran, kaum Syiah memiliki kondisi paling mendukung bagi elaborasi dan standarisasi ajaran mereka.

Dua perayaan populer Syiah dilembagakan di Baghdad: (1) kesyahidan Imam Husain pada 10 Muharam ; dan (2) perayaan Ghadir Al-Khumm, untuk menperingati penunjukkan Ali oleh Nabi sebagai penerus beliau di Ghadir Al-Kumm pada 18 Dzulhijjah. Selama periode ini pula upacara perkabungan umum untuk Husain dimulai, tempat-tempat suci dibangun untuk para imam, kebiasaan berziarah secara masal ke tempat-tempat suci dikukuhkan.

Pada saat bersamaan kaum Ismaili menguasai Mesir, Suriah Selatan, Afrika Utara dan Hejaz. Kaum Zaidiyah mengukuhkan kekuasaan di Iran Utara dan Yaman. Pada abad ke-10 ketiga cabang Syiah ini sudah mantap saat berhadapan dengan mayoritas Sunni.***

*) Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, Lampung.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-18, Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar acara jalan santai bertajuk Batik Walk, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Jambore tersebut nantinya akan diisi oleh berbagai program utama, mulai dari […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Seniman, budayawan, sekaligus pendekar silat Abah Nanu menitipkan filosofi kepemimpinan Sunda “Wana, Wani, Wanoh” kepada Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, sebagai bekal mengawal penyelenggaraan festival yang akan memadukan seni, budaya, dan spiritualitas Islam. Dalam perbincangan yang berlangsung penuh kehangatan, Abah Nanu menekankan bahwa memimpin sebuah perhelatan besar tidak cukup hanya […]

Bale Jabar

Tantangan yang dihadapi dunia pers hari ini benar-benar tidak main-main. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ruang redaksi dituntut bergerak secepat kilat. Tapi, di balik kecepatan itu, ada harga mahal yang dipertaruhkan: kepercayaan publik. Realitas inilah yang mendasari pandangan Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031. Baginya, organisasi […]

Bale Jabar

BOGOR, balebandung.com – Calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2027–2031 yang juga Pemimpin Redaksi InilahKoran, Tantan Sulthon Bukhawan menyambangi Sekretariat PWI Kota Bogor, Jalan Tirto Adhi Soerjo nomor 4, Kecamatan Tanah Sareal pada Senin (3/8/2026). Tantan berdiskusi dengan jajaran PWI Kota Bogor perihal visi mewujudkan ‘PWI Jabar Istimewa’ dengan tagline ‘Wartawannya Kompeten, Organisasinya Hebat, Anggotanya […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Tidak banyak orang yang memilih menjadikan musik sebagai jalan untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an. Di tengah perkembangan berbagai metode pembelajaran, Drs. H. Ahmad Kholid HS, M.Li. justru mengambil jalur yang berbeda. Ia memadukan irama, seni baca Al-Qur’an, dan pendekatan pembelajaran yang lebih mudah diterima berbagai kalangan. Nama Ahmad Kholid dikenal sebagai pendiri Metode […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Festival Al Jabbar 2026 mulai memperkuat jajaran kreatifnya dengan menggandeng dua maestro seni pertunjukan Jawa Barat, Rosikin WK, S.Sn., M.Sn. dan aktor teater sekaligus film senior R. Irwan Guntari WK, S.Sn. Keduanya dipercaya menggarap konsep pembukaan dan penutupan festival yang diproyeksikan menjadi salah satu atraksi utama dalam perhelatan budaya tersebut. Kedua seniman itu […]