BANDUNG, balebandung.com – Festival Al Jabbar tengah disiapkan menjadi agenda tahunan berskala nasional bahkan internasional yang akan digelar di kawasan Masjid Raya Al Jabbar, Kota Bandung. Rencananya, festival berlangsung selama satu bulan, mulai pekan kedua Oktober hingga pekan kedua November 2026.
Festival ini merupakan tindak lanjut dari penyelenggaraan Festival Al Mumtaz yang sebelumnya telah digelar di Masjid Raya Al Jabbar. Pada penyelenggaraan mendatang, konsep festival akan diperluas dengan menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan, seni, budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga forum internasional dalam satu rangkaian kegiatan.
Penyelenggaraan Festival Al Jabbar digelar Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Jawa Barat, dengan Bambang Melga Suprayogi didapuk sebagai Ketua Panitia.
Bambang mengatakan Festival Al Jabbar diharapkan menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat sekaligus memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat pengembangan seni, budaya, dan peradaban Islam di Indonesia.
“Kegiatan diharapkan dapat menjadi media syiar Islam, pelestarian seni budaya bangsa, penguatan nilai-nilai keagamaan serta penguatan karakter masyarakat Jawa Barat,” ujarnya usai rapat perdana kepanitiaan Festival Al Jabbar, Minggu (26/7/2026).
Selain melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, panitia juga berencana mengundang perwakilan negara sahabat melalui kedutaan besar yang berada di Indonesia sehingga festival memiliki dimensi internasional.
Rangkaian kegiatan yang tengah disiapkan antara lain meliputi pameran, pertunjukan seni budaya Islam, forum ilmiah, expo, kegiatan ekonomi syariah, hingga peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang akan menjadi salah satu agenda utama dalam Festival Al Jabbar.
Panitia saat ini masih mematangkan konsep, struktur penyelenggaraan, serta skema kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan agar Festival Al Jabbar dapat menjadi agenda tahunan yang memberikan dampak bagi syiar Islam, pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif, serta pengembangan pariwisata religi di Jawa Barat. Konsep festival sebulan penuh juga sejalan dengan tren penyelenggaraan festival budaya berskala besar yang menghadirkan rangkaian kegiatan dalam rentang waktu panjang untuk memperluas partisipasi masyarakat dan dampak ekonomi.***







