Selasa, Oktober 19, 2021
BerandaBale BandungPanglima TNI Ingatkan Ancaman Proxy War

Panglima TNI Ingatkan Ancaman Proxy War

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat berdialog dengan peserta Jambore HIPMI PT se-ASEAN, di Telkom University Bandung,, Senin (23/5). by iwa/bbcom
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo saat berdialog dengan peserta Jambore HIPMI PT se-ASEAN, di Telkom University Bandung,, Senin (23/5). by iwa/bbcom

BANDUNG – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan, perang tanpa bentuk atau proxy war saat ini mengancam Indonesia. Oleh karena itu, semua pihak, termasuk pemuda, harus bersatu dalam mencegah dan melawannya.

“Perang tanpa bentuk mengancam Indonesia karena negara-negara luar berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia yang kaya akan SDA (sumber daya alam),” kata panglima saat jadi narasumber Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi se-ASEAN, di Telkom University Bandung, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Senin (23/5/16).

Pada kesempatan itu Panglima menerangkan ketahanan bangsa dalam perspektif ekonomi di mana kita menghadapi perang masa kini berupa perang eknomi perang energi.

Gatot mengatakan, dalam proxy war tidak bisa dilihat siapa lawan dan kawan, tetapi perang tersebut dikendalikan oleh negara lain. Panglima mebeberkan perang tanpa bentuk tersebut sudah terbukti dengan kasus lepasnya Timor Timur dari NKRI. Timor Timur diperebutkan oleh negara lain karena di sana ada kekayaan SDA berupa Greater Sunrise yang letaknya antara Indonesia dan Timor Timur, yang sudah lama diincar Australia.

Menurut dia, ada beberapa cara untuk mengatasinya, yakni modal NKRI yang mempunyai geografi daratan dan lautan yang kaya akan SDA agar dikelola dengan baik dan bermanfaat. “Kemudian kita punya demografi, yakni kearifan lokal, yang juga harus dibarengi dengan revolusi mental, Pancasila sebagai pedoman hidup, serta dibutuhkan peran sivitas dan akademika serta mahasiswa dalam mencegah perang tanpa bentuk tersebut,” kata Gatot.

Kemudian, solusi dalam mencegah perang tanpa bentuk, yakni Indonesia harus menjadi negara agraris, negara maritim, dan negara industri, sehingga kekayaan SDA tidak dijual dalam bentuk mentah ke luar, tetapi sudah dalam bentuk jadinya, serta didukung oleh para pemuda yang harus menjadi agen perubahan dan pemersatu bangsa, katanya. Menurut Gatot, saat ini sekitar 70% konflik yang ada di dunia adalah latar belakang energi minyak, yang diprediksi juga akan habis.

Selain itu, strategisnya wilayah NKRI juga menjadi pemicu rawan konflik karena akan diperebutkan oleh negara-negara lain, seperti konflik atau perang dalam perebutan pangan, air, dan energi yang itu semuanya ada di Indonesia. Panglima kemudian mengutip pernyataan dari Presiden Sukarno, yakni kekayaan alam Indonesia suatu hari nanti akan membuat iri negara-negara di dunia, kemudian pernyataan Presiden Joko Widodo, yakni kaya akan sumber daya alam justru dapat menjadi petaka kita.

“Kalau mulai sekarang kita tidak berhati-hati dan bersatu, maka tunggu ancamannya. Sehingga, mari kita bersatu dalam mencegah perang agar tidak lagi mengancam Indonesia,” tegasnya.

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI