Menguak Jejak Hayam Wuruk di Majalaya Temuan Makuta Ulun Umbul

Selasa, 13 September 2016 | 20:46:38 | Penulis : bb1 | 5177 Kali dilihat

Mahkota Ulun Umbul ditemukan di Majalaya. repro by iwa/bbcom
Mahkota Ulun Umbul ditemukan di Majalaya. repro by iwa/bbcom

MAJALAYA – Mahkota Ulun Umbul ditemukan di Kampung Leuwidulang, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Kini tersimpan di salah seorang warga yang merasa menjadi ahli waris pemiliknya. Mahkota ini berukuran kurang lebih 40 cm dengan diameter sekitar 25 cm, berundak tiga. Memiliki totem ukiran motif bunga, melalui sistem tempa.

Menurut penemunya yang seorang guru SMA Pasundan Majalaya, Dede (50), mahkota ini merupakan kelengkapan raja saat upacara pelantikan, dan bukan untuk digunakan sehari-hari. Selain digunakan pada saat pelantikan, juga dikenakan pada upacara-upacara besar kerajaan. Mahkota Ulun Umbul sempat dipakai oleh Raja Sungging Perbangkara dalam kisah mithologi Sangkuriang, terbuat dari unsur kuningan, emas, dan tembaga.

Entah ini hanya kisah forklore atau benar adanya, perlu dibuktikan dengan penelitian sejarah bahwa Kecamatan Majalaya di Kabupaten Bandung ternyata menyimpan sejarah tentang Kerajaan Majapahit. Daerah yang sempat dijuluki ‘Kota Dolar’ karena menjadi sentra industri ini, disinyalir pernah menjadi tempat pengasingan Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Bahkan disebutkan pula Hayam Wuruk moksa di Majalaya, tepatnya di Leuwidulang. Dugaan tersebut didasarkan pada penemuan mahkota Ulun Umbul yang juga diduga milik Hayam Wuruk.

“Mahkota Ulun Umbul ditemukan masyarakat sudah cukup lama sebenarnya, sekitar tahun 2009 silam. Untuk mengetahui sejarah dan keaslian mahkotanya, kami telah mengirimkan foto mahkota ini ke Balai Penelitian Arkeologi. Sementara mahkotanya sendiri hingga kini masih disimpan di rumah penemunya,” jelas Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi kepada Balebandung,.com di ruang kerjanya, Senin (29/12/14).

Menurut Dedi, dari hasil penelitian diketahui mahkota bukan peninggalan Kerajaan Sunda melainkan kerajaan di Jawa, entah dari Jawa Timur atau Jawa Tengah. “Mahkota memang diduga milik kerajaan di Jawa. Sebab Kerajaan Sunda, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung saat itu, tidak pernah ada mahkota dengan corak sedemikian rupa. Tapi untuk memastikan kerajaan mana, perlu ada penelitian mendalam dari ahli sejarah dan arkeologi,” kata Dedi.

Meski belum dipastikan peninggalan kerajaan mana, lanjut Dedi, penuturan para tokoh dan sesepuh di Majalaya atau cerita rakyat yang turun temurun (folklore), mahkota ini diduga milik Raja Hayam Wuruk. Bahkan di Majalaya ada beberapa tokoh yang mengenal asal-muasal cerita tersebut, meski penyebarannya hanya dari mulut ke mulut.

Cerita tentang Raja Hayam Wuruk sampai di Majalaya, bermula ketika Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 memerangi sejumlah kerajaan, termasuk Kerajaan Sunda untuk menguasai Nusantara. Saat memerangi Kerajaan Sunda yang dikenal dengan Perang Bubat, Hayam Wuruk merasa bersalah karena Majapahit telah menyerang Kerajaan Sunda. Dia berpikir untuk menaklukkan Kerajaan Sunda bukan lewat peperangan.

Ketika Kerajaan Majapahit mulai runtuh, untuk menebus penyesalan ini Raja Hayam Wuruk mengasingkan diri di suatu daerah yang disinyalir sekarang disebut Majalaya. Dalam pengasingan ini, Hayam Wuruk menjadi masyarakat biasa, meski ada sejumlah pengawal mengiringinya, termasuk Patih Gadjah Mada diceritakan sempat melatih militer di Majalaya.

“Meski sudah tidak menjadi raja, namun jiwa dan pengabdiannya kepada Tanah Air tidak luntur hingga masyarakat menyebutnya Ulun Umbul. Makanya ketika mahkota milik Hayam Wuruk ini ditemukan, masyarakat menyebutnya mahkota Ulun Umbul,” tutur Dedi.

Bukti lain adanya peninggalan Raja Hayam Wuruk di Majalaya adalah situs Batu Talun. Menurut cerita Batu Talun adalah batu tempat Raja Hayam Wuruk dan Putri Diah Pitaloka menyembah. Lebih lanjut Dedi menuturkan, Pemkab Bandung turut menjaga agar mahkota Ulun Umbul tidak hilang atau rusak, meski sekarang disimpan penemunya.

“Kalau disimpan di Pemkab Bandung pun, kita belum punya tempat yang representatif untuk menyimpannya dan belum punya museum,” tukas Dedi. Ia pun beralasan pihannya hanya tinggal menunggu pendanaan agar penelitian atas penemuan mahkota ini bisa dikaji lebih mendalam secara akademis.”Kita belum beranjak untuk meneliti lebih dalam karena memang terkendala dana,” pungkasnya.by iwa

Berita Terkait