JATINANGOR, balebandung.com – Presiden RI Prabowo Subianto menitipkan pesan khusus kepada 1.204 Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII yang resmi dilantik di Lapangan Parade Abdi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Jatinangor, Selasa (28/7/2026). Menurut Presiden, keberadaan seorang pamong praja bukan sekadar menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi menjadi representasi negara yang harus hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
“Wajah negara ada di tangan pamong praja. Kalian harus hadir saat rakyat sulit dan menjadi pelita di kala gelap,” tegas Prabowo.
Pelantikan tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Luar Negeri, Menteri PAN-RB, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kepala Badan Intelijen Negara, Sekretaris Kabinet, Gubernur Jawa Barat, serta sejumlah pejabat tinggi negara lainnya.
Presiden mengungkapkan, para pamong praja yang baru dilantik bukan datang tanpa pengalaman. Sebelum resmi menyandang status aparatur pemerintahan, mereka telah diterjunkan selama satu bulan penuh membantu penanganan bencana alam di Aceh.
Pengalaman tersebut, menurut Prabowo, menjadi ujian awal yang membentuk mental kepemimpinan sekaligus mengajarkan arti kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Mereka sudah merasakan bagaimana bekerja di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah. Di situlah seorang pamong praja belajar melayani, bukan sekadar memimpin,” ujarnya.
Prabowo menegaskan, di mana pun nantinya bertugas, masyarakat akan menilai negara melalui sikap dan keputusan para pamong praja.
Karena itu, ia meminta seluruh lulusan IPDN membangun sinergi dengan TNI, Polri, Kejaksaan, pemerintah daerah, serta merangkul tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dengan sikap rendah hati.
“Rakyat akan melihat negara melalui tindakan kalian. Jangan pernah sombong. Bangun kerja sama dengan semua unsur dan jadilah pelayan masyarakat,” katanya.
Presiden juga mengingatkan bahwa kualitas birokrasi akan menentukan keberhasilan pembangunan nasional. Menurutnya, berbagai program pemerintah hanya akan berhasil apabila dijalankan oleh aparatur yang profesional, berintegritas, disiplin, dan bebas dari praktik korupsi.
“Kemajuan negara sangat ditentukan oleh pemerintahan dalam negeri yang kuat. Birokrasi harus profesional, bersih, disiplin, dan mengutamakan kepentingan rakyat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut memberikan apresiasi kepada lulusan terbaik IPDN Tahun Akademik 2025/2026. Ia menilai sistem seleksi IPDN berhasil memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Menurut Presiden, salah satu lulusan terbaik tahun ini berasal dari keluarga buruh harian. Hal itu menjadi bukti bahwa kesempatan menjadi pemimpin birokrasi terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berjuang.
“Ini bukti keadilan sosial berjalan. Anak seorang buruh pun bisa menjadi lulusan terbaik IPDN. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi kepada negara,” katanya.
Prabowo optimistis para pamong praja muda akan menjadi motor penggerak birokrasi Indonesia pada masa mendatang. Ia bahkan mengaitkan peran mereka dengan target besar Indonesia menuju kekuatan ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang.
“Dua puluh lima tahun ke depan Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Pamong praja inilah yang akan menjadi penggerak birokrasi, memastikan pembangunan berjalan, sekaligus menjaga keutuhan NKRI,” ujar Presiden.
Pada pelantikan tersebut, Aji Bayu Ramadhan, S.Tr.IP asal Provinsi Nusa Tenggara Timur ditetapkan sebagai lulusan terbaik IPDN Tahun Akademik 2025/2026 dan menerima penghargaan Kartika Astha Brata.
Sementara penghargaan Kartika Sapta Abdi Praja diberikan kepada sembilan lulusan terbaik lainnya, yakni Siti Ifadoh (Jawa Timur), Mohamad Toriq Anwar (Jawa Tengah), Dwi Ajeng Ayu F.A (Jawa Timur), Febyanti Rachman (Jawa Timur), Dwimas Januari Setiawan (Nusa Tenggara Timur), Charina Anggie Simbolon (Kepulauan Riau), I Kadek Bayu Swastika (Bali), M. Ramdhan (Jawa Barat), dan Agung Mirah Prayoga (Jawa Timur).***







