JATINANGOR, balebandung.com – Orang-orang tua di Jatinangor masih menyimpan sebuah kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut. Mereka percaya, di puncak Gunung Geulis terdapat sebuah makam tua yang selama puluhan tahun dikenal sebagai Makam Putri Geulis. Tak ada prasasti yang menjelaskan siapa perempuan itu. Tak ada pula babad yang secara tegas menuliskan namanya. Yang bertahan hingga hari ini hanyalah cerita, dan seperti kebanyakan legenda Sunda, justru cerita itulah yang membuatnya tetap hidup.
Konon, perempuan itu memiliki paras yang demikian rupawan hingga kecantikannya menjadi buah bibir di seluruh Tatar Priangan. Namun kecantikan bukanlah alasan mengapa namanya terus dikenang. Yang membuatnya abadi adalah cinta. Ia dicintai dengan begitu dalam oleh seorang lelaki yang kelak dipercaya memerintah wilayah di sekitar Gunung Geulis. Dalam banyak tutur lisan, sang suami tak pernah melihat kecantikan istrinya sebagai kebanggaan yang layak dipamerkan, melainkan anugerah yang harus dijaga.
Masyarakat kemudian berkisah, setiap kali memandang punggung gunung yang hijau dan tenang itu, sang suami selalu teringat kepada perempuan yang paling ia cintai. Gunung itu menjadi saksi perjalanan hidup mereka; tempat berburu, tempat beristirahat, juga tempat keduanya menikmati kesunyian jauh dari hiruk-pikuk kehidupan istana.
Ketika sang istri wafat, ia dimakamkan di puncak bukit yang menghadap ke seluruh lembah. Sejak itulah, masyarakat mulai menyebutnya Gunung Geulis—gunung yang menyimpan kenangan tentang seorang perempuan cantik yang dicintai tanpa syarat.
Tak seorang pun kini dapat memastikan apakah kisah itu benar-benar pernah terjadi. Naskah Babad Sumedang Larang tak pernah menyebut nama Putri Geulis. Babad Ukur pun tak memberikan petunjuk yang lebih jelas. Arsip-arsip kolonial Belanda yang merekam banyak wilayah Priangan juga nyaris tak menyisakan jejak tentang perempuan yang dipercaya dimakamkan di puncak gunung tersebut. Sejarah seolah memilih diam, sementara folklore terus berbicara.
Barangkali memang begitu cara masyarakat Sunda menjaga ingatan. Ketika fakta berhenti mencatat, cerita mengambil alih. Ketika nama seseorang hilang dari lembar sejarah, cinta justru membuatnya tetap dikenang. Sebab dalam banyak legenda, yang bertahan bukan siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang paling dicintai.
Secara administratif, Gunung Geulis berada di wilayah Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, namun kaki gunungnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung sehingga sering dianggap sebagai bagian dari lanskap Jatinangor-Rancaekek. Gunung ini berketinggian sekitar 1.281 meter di atas permukaan laut (mdpl).
- Gunung: Gunung Geulis
- Desa utama: Desa Cisempur
- Kecamatan: Jatinangor
- Kabupaten: Sumedang
- Provinsi: Jawa Barat
Namun lereng selatan dan barat Gunung Geulis juga bersinggungan dengan beberapa desa di sekitar Jatinangor, antara lain:
- Desa Cibeusi
- Desa Sayang
- Desa Hegarmanah
- Desa Cikeruh
Sedangkan jika dilihat dari arah Kabupaten Bandung, gunung ini tampak sangat dekat dengan:
- Desa Linggar
- Desa Bojongloa
- Kecamatan Rancaekek
- Kecamatan Cileunyi
Itulah sebabnya banyak warga Rancaekek dan Cileunyi merasa Gunung Geulis “milik mereka”, padahal secara administratif puncaknya masuk wilayah Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Berdasarkan penuturan masyarakat dan jalur pendakian yang umum digunakan, makam yang dikenal sebagai Makam Putri Geulis berada di puncak atau kawasan puncak Gunung Geulis.
Sampai hari ini, cungkup sederhana di puncak Gunung Geulis masih didatangi peziarah dan para pendaki. Sebagian datang untuk berdoa, sebagian lagi hanya ingin menyaksikan tempat yang selama ini hidup dalam cerita. Mereka pulang tanpa memperoleh jawaban tentang siapa sebenarnya penghuni makam itu. Namun hampir semua membawa pulang satu keyakinan yang sama: tak mungkin sebuah gunung dinamai “Geulis” bila tidak pernah ada kisah yang begitu indah di baliknya.
Mungkin itulah alasan legenda tidak pernah mati. Ia tidak lahir untuk membuktikan kebenaran, melainkan untuk mengingatkan manusia bahwa cinta yang tulus selalu menemukan jalannya sendiri untuk dikenang. Kadang melalui puisi. Kadang melalui lagu. Dan di Jatinangor, mungkin melalui sebuah gunung yang hingga hari ini masih dipanggil dengan satu kata sederhana, tetapi penuh makna: Geulis.***







