Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [15]: Wajah yang Tak Setampan Gemblak

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

Seolah bocah menikmati es batok bergula nira, Lodaya menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menjilati darah dan otak itu dengan nikmat.

Balebandung.com – Lodaya itu menerkam mengiringi aumannya yang seram, membuat beberapa penyerang di depannya terkesima tak mampu bergerak. Saat itulah mereka menjadi tumbal cakaran si Lodaya. Tak cukup membelah dada musuh dengan cakarnya yang tajam, Lodaya itu juga mengerkah kepala orang-orang yang berada di dekatnya.

“Krauk! Krauk!” bunyi geligi Lodaya itu menembus batok kepala. Darah membual keluar bercampur otak yang ikut terburai. Seolah bocah menikmati es batok bergula nira, Lodaya menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menjilati darah dan otak itu dengan nikmat. Makhluk belang itu bahkan sempat menjilati darah yang terjatuh ke timbunan dedaunan busuk, seperti merasakan haus yang tak terpuaskan. Bau amis darah memenuhi udara.

Menyaksikan kejadian itu tak sedikit wadya bala penyerang kocar-kacir ketakutan. Beberapa tak sempat kabur jauh karena segera jatuh disabet golok atau tertembus tombak teman-temannya sendiri atas perintah seseorang yang kini mulai kelihatan memimpin. Ukur sekilas melihat perawakannya, mengingatkannya pada seseorang di Keraton Mataram.

Ukur mencondongkan badannya ke depan, berbisik pada Lodaya. Si Belang itu mengakhiri kesenangannya merobek-robek perut korban di depannya. Diangkatnya kaki depannya, lalu mundur beberapa langkah. Segera setelah itu, dengan lompatan panjang Lodaya menerjang ke muka, ke arah orang yang memberikan perintah kepada para penyerang.

“Hait!” orang dengan kepala tertutup topeng, hanya menyisakan lubang hidung dan dua lubang mata itu terperanjat. Ia melompat menghindari terkaman Lodaya. Benar saja, dari lompatannya terlihat ilmu meringankan badan orang itu tidak hanya bertaraf rata-rata. Ia seorang jago yang menguasai ilmu kanuragan tinggi.

Begitu kedua kakinya menapak tanah, orang itu melihat Ukur yang tetap menunggang macan itu mendekatinya, setapak demi setapak.

“Ki Sanak, ada dendam apa antara kau dan aku, sehingga di mana pun kau selalu mengincar nyawaku?” tanya Ukur. Baik suara maupun wajahnya menunjukkan ketenangan.

Orang itu hanya mengeluarkan dengusan keji, matanya liar melihat kiri-kanan, memastikan masih ada puluhan pengikutnya yang bertahan bersamanya. Memang ada, dan cukup banyak. Sekitar 30-an orang. Lainnya, kalau tak mati, ya kabur tercerai berai. Bagi mereka yang kabur, bertemu ular besar, harimau ganas atau tertahan jurang selama pelarian itu masih kemungkinan. Sementara berkelahi melawan Lodaya haus darah di sini sudah keniscayaan. Mereka memilih kemungkinan yang masih bisa diakali ketimpang menjadi mangsa cakar dan rahang runcing, lalu mati di sini.

“Bukan urusanmu, juga bukan urusanku, anjing!” kata orang itu lebih keji lagi. “Yang aku tahu, semakin cepat membunuhmu artinya semakin bagus buatku.” Lalu dengan sedikit gerakan golok, ia mengisyaratkan anak buahnya untuk menyerang Ukur.

Meski tampak ragu-ragu, tiga orang menerjang maju hendak membabatkan golok mereka ke Ukur dan Lodaya. Belum juga golok itu mereka sabetkan, terjangan Lodaya telah memakan korban seorang dari mereka. Leher orang itu bolong dikerobok cakar yang runcing dan kuat. Darah menyembur, ikut mengotori pakaian Ukur.

Berbeda sebelumnya, Lodaya kini tak mengacuhkan darah segar itu. Ia kembali melompat tinggi, melampaui kepala dua penyerangnya tadi. Sementara itu gobang Ukur bekerja membabat keduanya. Seorang terkena pinggangnya, membuat usus segala isi perutnya terburai. Sementara yang lain kena di bagian paha, memperlihatkan tulang paha yang putih tersobek benda tajam. Keduanya tumbang. Yang satu dipastikan segera perlaya.

Kini Ukur melihat semua penyerangnya telah dicekam jeri. Semua tertegun mematung, beberapa yang nyalinya kecil bahkan sampai terkencing-kencing.

Ukur menepuk Lodaya sekerasnya. Seolah mengerti, Lodaya itu menggeram hebat. Kepalanya mendongak dengan mulut terbuka, memperlihatkan taring-taringnya yang setajam pisau baja.

“Wuaaaa!” Teriak kawanan yang telah hilang keberanian itu. Susah payah mereka berusaha lari, jatuh bangun ketakutan, diikuti pandangan kesal pemimpinnya. Satu dua terjungkal dihantam pisau terbang yang dilontarkan para hulubalang Aria Rangga Gempol yang beberapa saat tadi justru lebih banyak menonton.

Tapi sang pemimpin pun akhirnya tampak harus tahu diri. Gilirannya kini melirik kiri kanan, berusaha lari. Ukur segera tanggap. Mungkin tak terlalu perlu untuk tahu siapa yang selama ini mengusiknya sampai taraf mencari jalan untuk melenyapkan hidupnya. Tetapi ia pun merasa tak ingin punya persoalan gara-gara membiarkan dirinya diliputi teka-teki.

Dengan satu teriakan panjang Ukur melompat dari punggung Lodaya. Arahnya jelas, menerjang si pemimpin yang berusaha lari.

“Deg!”

Tendangan Ukur tepat menjejak punggung orang yang diincarnya.

“Gubraak!”

Orang itu terdorong ke depan dengan wajah nyaris mencium tanah dengan keras. Tetapi ternyata ia bukan orang sembarangan. Sejengkal lagi mukanya menghajar tanah, ia langsung berjumpalitan menghindari tabrakan fatal itu. Bahkan dengan lesakan keras kakinya menjejak tanah, ia bisa bersalto di udara, berputar dua tiga kali.

Tetapi Ukur sudah tak ingin berbuat setengah hati. Baru saja orang itu hendak menjejak tanah setelah bersalto kesekian kali, cakar Ukur dalam jurus Pamacan telah merobek tak hanya topeng yang menutup wajahnya. Tiga garis memanjang menyobek pipi orang itu, mengambil sebagian dagingnya yang kini tertinggal dicakar Ukur.

“Wuaaaa!”

Si pemimpin penyerangan itu berteriak kesakitan. Ia menutup pipinya, bukan untuk melindungi wajahnya dari penglihatan Ukur. Ia memang merasakan kesakitan yang amat sangat.

Saat tangan yang menutup mukanya itu ia tarik, terlihatlah wajah yang merah penuh darah. Ukur segera mengenalnya.

“Kanjeng Senapati Ronggonoto!” teriaknya. Tetap saja, meski ia sudah punya syak terhadap atasannya, Ukur masih saja terpekik kaget menyaksikan kebenaran dugaannya.

“Kanjeng Senapati…mengapa?” Ukur bertanya. Posisinya kini tak lagi dalam kuda-kuda tegap. Ia merasa tidak pada tempatnya membuat atasannya kini menjadi cacat abadi, yang akan dibawa hingga mati.

Senapati Ronggonoto tak menjawab. Ia hanya menggeram murka. Matanya melotot, seolah bola mata itu hendak meloncat, membawa keluar segala amarahnya. Lalu, dengan teriakan kemarahan senapati Mataram itu melompat ke semak-semak, berlari menghindari Ukur dan rombongannya. Ia tak hanya menjerit marah, karena sayup-sayup seiring kian menjauhnya dia, terdengar tangisan penuh sedih dan marah.

Jika sebelumnya ia punya dendam, maka sejak saat itu dendam Senapati Ronggonoto kepada Ukur mungkin berlipat sepuluh kali. Memang, sejak awal pun wajah Ronggonoto bukanlah wajah tampan dan halus, setampan wajah gemblak- gemblak piaraan para Warok. Tetapi kini wajah tirus tak menarik itu sudah berubah menjadi raut wajah yang mengerikan dengan tetelan daging melekat akibat sobekan cakar. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [14] : Ksatria Penunggang Lodaya

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close