Bale Kab BandungEkonomi

Kampanye Makan Sorgum Perlu Digaungkan

Peneliti Utama Kebijakan Pangan BPPT yang juga mantan Wali Kota Depok Dr Ir Nur Mahmudi Ismail, M.Sc bersama Abah Sorgum saat sosialisasi sorgum sebagai diversifikasi pangan di Desa Bojongmanggu, Kec Pameungpeuk, Kab Bandung, Rabu (26/10). by iwa/bbcom
Peneliti Utama Kebijakan Pangan BPPT yang juga mantan Wali Kota Depok Dr Ir Nur Mahmudi Ismail, M.Sc bersama Abah Sorgum saat sosialisasi sorgum sebagai diversifikasi pangan di Desa Bojongmanggu, Kec Pameungpeuk, Kab Bandung, Rabu (26/10). by iwa/bbcom

PAMEUNGPEUK – Sorgum merupakan bahan pokok makanan yang bisa dijadikan pengganti bahan pangan lainnya di samping jagung, ubi atau gandum. Bahkan sorgum pun bisa dijadikan pengganti nasi. Namun menurut Peneliti Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr Ir Nurmahmudi,M.Sc. menyebutkan, untuk menjadikan sorgum bisa dikukus seperti halnya nasi, masih harus dicari varietas sorgum lainnya.

Hal ini pula menurut Nur yang masih membuat masyarakat masih belum banyak yang mengkonsumsi sorgum. Karenanya kampanye mengkonsumsi harus terus disosialisasikan agar bisa lebih diterima masyarakat kalau sorgum bisa dijadikan aneka ragam makanan basah maupun kering.

“Saya mengapresiasi perjuangan Abah Sorgum yang sudah mensosialiasikan sorgum ini ke masyarakat untuk dijadikan bahan makanan alternatif. Perlu disosialisasikan juga melalui berbagai media massa. Sebab sorgum ini masih perlu diperjuangkan supaya masyarakat makin mengenal bahwa sorgum merupakan sumber makanan sehat, agar kita tidak terlalu ketergantungan terhadap tepung terigu maupun beras,” kata Nur yang juga mantan Walikota Depok ini kepada wartawan saat kunjungannya di Kampung Bojongkoneng, Desa Bojongmanggu, Kec Pameungpeuk, Kab Bandung, Rabu (26/10/16).

Menurutnya, sorgum memiliki keunggulan tersendiri dibandikan nasi. Seperti halnya nasi, sorgum pun banyak kandungan protein, vitamin dan karbohidratnya. Namun kelebihan sorgum yaitu berindeks glisemik rendah untuk membantu kontrol kadar gula darah tubuh sehingga lebih menyehatkan ketimbang nasi.

“Tapi dari 130 varietas sorgum yang ada, harus dicari dulu varietas sorgum yang cocok untuk dijadikan bahan makanan pengganti nasi,” tukas Nur.

Lebih dari itu, sorgum juga cocok ditanam di kawasan marginal (pinggiran) dan tidak terlalu memerlukan pengairan yang banyak seperti halnya irigasi untuk sawah. “Sorgum ini cocok di wilayah sub tropis, menjadi sumber pangan peringkat kelima di dunia, dan cara menanamnya pun lebih mudah dibanding tanam padi,” imbuhnya pula.

Bila kesadaran masyarakat meningkat terhadap sorgum, kata Nur, maka dengan sendirinya petani sorgum pun semakin banyak dan produksi sorgum pun akan meningkat. “Saya kira seperti rumah makan dan restoran atau warung-watung perlu menyajikan aneka makanan yang berbahan sorgum untuk memotivasi konsumsi terhadap sorgum,” ujarnya.

Sementara menurut Supardi (75) yang akrab disapa Abah Sorgum mengaku dirinya menekuni tanaman sorgum sejak tahun 2009. Menurut Abah Sorgum, minimnya perhatian dan bantuan dari pemerintah membuat sorgum masih dikatakan asing di telinga masyarakat. Akibatnya produksi sorgum pun dari tahun ke tahun tidak meningkat signifikan.

“Se-Indonesia in ibaru Abah yang memproduksi sorgum, belum ada saingan. Tapi Abah juga masih belajar dalam memproduksinya. Makanya Abah sangat mengapresiasi kehadiran Pak Nurmahmudi di sini untuk membagi pengetahuannya kepada Abah,” ucapnya.

Kepala Desa Bojongmanggu Dadang Abdullah pun mengakui hingga kini pembudidayaan sorgum belum mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah. Padahal menurutnya sorgum yang sudah ditekuni Abah Sorgum dalam tiga tahun belakangan ini tetap bertahan dan tidak ada pesaingnya.

“Mesin pengolah sorgum juga masih kurang. Pendanaan untuk pengelolaan dan kemasan makanan sorgum pun masih seadanya karena belum ada dukungan permodalan yang memadai,” ungkap Dadang.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close