Balebandung.com – Tubuh Ukur ringan saja melompati benteng Kabupaten meski di bahunya sebatang mayat tambun memberatinya. Bila saat itu ia tengah berada di daratan Tiongkok, tentu orang-orang yang menonton akan menyebutnya memiliki ilmu ginkang yang sempurna, hingga nyaris seolah bisa terbang. Lepas halaman Pendopo Kabupaten, Ukur kini berada di perkampungan yang sarat dengan rumah-rumah sangat […]
Tag: Novel Dipati Ukur
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [24]: Seorang Bupati Pemelihara Rawa Rontek
Balebandung.com – Esoknya sebagaimana waktu yang ia janjikan, pecat sawed, Ukur telah berdiri di Balairung Kabupaten Tatar Ukur. Ukur sempat merasakan keganjilan manakala tadi bisa masuk begitu saja ke halaman Pendopo, hingga kini ia berada di balairung. Para penjaga membiarkannya masuk begitu saja, seolah ada perintah dari Bupati Sutapura untuk membiarkannya. Justru hal seperti itu membuat […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [23]: Sutapura Bupati Durhaka
Balebandung.com – Ukur minta Nini menyiapkan sepuluh potong surabi. Dengan surabi itu ia menghampiri rumah Bupati Sutapura. Begitu jarak dirinya dengan gerbang rumah hanya tinggal dua meter, seorang penjaga bangun dari duduknya di gardu dan menghardiknya keras. “Eureun siah! Setop! Mau apa kemari?” Bentakan keras itu tak sedikit pun membuat Ukur keder. Ia bahkan menghampiri, […]
Dipati Ukur ; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [22]: Pemimpin yang tak Disukai Warganya
Balebandung.com – Meski ribet Ukur tetap memuatkan tiga buntalan harta yang telah dikumpulkan kawanan Ki Blontang itu ke kudanya. Ia sadar, jerih payahnya membawa buntalan sarung itu akan terbalas lunas dengan kegembiraan orang-orang miskin esok hari, manakala mereka mendapati harta yang ia bagi-bagi itu di depan pintu rumah mereka masing-masing. Sempat hati Ukur bimbang, mengingat secara […]
Dipati Ukur ; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [21]: Dari Kelambu Ranjang yang Terbuka
Balebandung.com – Ketiga kawanan maling itu segera memasuki kamar-kamar yang ada. Ternyata tengkulak iitu benar-benar seorang yang kaya raya. Dari setiap kamar yang mereka masuki, ada saja yang bisa diambil maling-maling itu. Namun entah pula, barangkali juga sebenarnya maling-maling itu yang terlalu rakus. Soalnya, barang berharga yang memberatkan pelarian mereka pun, seperti keramik Cina kuno yang […]
Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [20]: Aji Sirep Warisan Kaum Durga
Balebandung.com – Namun Tejo tak punya kesempatan memikirkan siapa penunggang kuda putih itu lebih lanjut. Kedua rekannya segera melecut kuda mereka sekencangnya sehingga mau tak mau Tejo pun harus mengikuti keduanya kalau tak ingin tertinggal jauh. Ketika cahaya matahari digantikan sinar layung, tibalah ketiganya di suatu dataran tinggi. Kepala rombongan menahan laju kuda, sehingga kuda […]
Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [19]: Para Maling dari Wetan
Balebandung.com – Ketiga orang utusan Senapati Ronggonoto itu memacu kuda mereka cepat-cepat. Tak ada satu pun dari ketiga orang itu yang menampakkan raut wajah cerah. Muka-muka mereka menembaga, dengan garis bibir melengkung ke bawah. Mereka semua terlihat sangat kecewa. Tentu saja pada saat di Balairung, tata sopan santun tak memberi mereka kesempatan membuka kanjut kundang pemberian […]
Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [18]: Kehormatan Sekanjut Kepeng
Balebandung.com – Tak lama kemudian penjaga yang tadi berlari menuju keraton Tatar Ukur datang. Kali ini jauh lebih tergesa dibanding saat ia berangkat. Ia segera menemui pimpinan para penjaga, lalu mereka berbisik-bisik sejenak sambil sesekali melirik ketiga orang Mataram yang terlihat tak sabar menunggu. “Heh, lama sekali kalian omong-omong. Kalian lupa kami ini tamu yang harus […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [17]: Sarapan Pagi dengan Bakar Mencek
Balebandung.com – Ukur bersyukur dirinya telah berani bertanya langsung. Bayangkan, bila ia tetap memelihara pertanyaannya, memelihara kekecewaannya kepada Rangga Gempol, sampai kapan pun nonoman muda di sampingnya itu akan tetap ia pandang enteng. Malah mungkin saja ia lecehkan, sementara sebenarnya pikirannya sendirilah yang dangkal. “Hatur nuhun Rayi, telah berkenan menghilangkan syak wasangka kakang dengan menjelaskan secara […]
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
