Seolah bocah menikmati es batok bergula nira, Lodaya menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menjilati darah dan otak itu dengan nikmat. Balebandung.com – Lodaya itu menerkam mengiringi aumannya yang seram, membuat beberapa penyerang di depannya terkesima tak mampu bergerak. Saat itulah mereka menjadi tumbal cakaran si Lodaya. Tak cukup membelah dada musuh dengan cakarnya yang tajam, Lodaya itu juga mengerkah […]
Tag: Novel Dipati Ukur
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [14] : Ksatria Penunggang Lodaya
Tak lama tercium bau pandan menguar begitu kuat. Burung-burung yang tadi ramai berkicau tiba-tiba diam. Sepi, simpe. Balebandung.com – Si Sambrani, kuda yang ditunggangi Ukur melompat ke kanan, menghindari tusukan tombak yang nyata-nyata ditujukan kepada kuda itu, bukan Ukur. Maksud si penyerang tampak ingin membuat kuda itu tersungkur mati, hingga Ukur terjatuh dan gampang mereka habisi. […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [13] : Gobang Senapati Sutrajali
Balebandung.com – Esoknya pagi-pagi sekali, usai menjalankan shalat Subuh Ukur telah berada di punggung kuda. Di sebelahnya Rangga Gempol duduk di kuda yang lain, terkantuk-kantuk mencoba tegak. Tadi, Ukur cukup lama menunggu menak itu bangun sendiri, tapi ternyata tak bisa diharap. Dibangunkannya setengah paksa, sambil minta maaf dirinya tak bisa menunggu. Sontak menak kebluk[1] itu […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [12] : Di Tengah Kerakusan Penghuni Istana
Ingin rasanya ia beradu kekuatan mata dengan raja Mataram itu. Tak cukup banyak rasa hormat yang bisa membuatnya menghargai raja Balebandung.com – Kini Sultan Agung sudah duduk di singgasananya. Sebelum berbicara, ia layangkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Pas giliran pandangannya tertumbuk pada Ukur dan Pangeran Aria Suradiwangsa, ia berhenti agak lama. Ukur sempat bertatap mata dengan […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [11]: Raja Mataram yang Melipat Waktu
Balebandung.com – Esok harinya, usai shalat subuh Ukur tak melakukan aktivitas rutinnya, yakni melancarkan gerakan, mengolah dan melentur tubuh dengan berlatih bela diri. Ia malah mencari daun lamtoro dan merang padi. Dibakarnya merang padi hingga menjadi abu. Abu panas merah padi itu kemudian dimasukkannya ke dalam mangkok gerabah. Disiramnya abu dalam gerabah itu dengan air hingga […]
Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok
Begitu mudah ksatria Sumedang Larang itu menyatakan takluk tanpa berjuang mempertahankan kehormatan karuhun, leluhur mereka terlebih dulu Balebandung.com – Ukur tak punya banyak pilihan kecuali berlutut satu kaki, sementara posisi kaki yang lain lebih tinggi. Kepalanya ia tundukkan dengan khidmat, sementara kedua tangannya terbuka rata, bertemu satu jemari kiri dengan jemari lain yang serupa di tangan […]
Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [9] : Senapati dari Kesatuan Brajanata
Balebandung.com – Tetapi memang orang itu layak menjadi pemimpin kelompok kecil para durjana itu. Hanya dalam hitungan detik, setelah menggeleng-gelengkan kepala dan memperbaiki letak dagunya, orang itu kembali berdiri. Matanya sudah menunjukkan bahwa ia tak punya harapan. Namun tak punya harapan sama sekali membuat orang tak pernah berhitung lagi mau apa yang terjadi sedetik nanti. Orang […]
Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [8]: Nyawa-nyawa Perlaya
Ukur tak bergeming, ketika jarak golok ke pinggangnya kian dekat, ditahannya lintasan golok itu dengan kayu Weregu hitam yang dipegangnya. Balebandung.com – Seolah mendapatkan tenaga tambahan, serentak dua orang di antara tiga penyerang bertopeng itu merangsek Ukur. Hanya orang yang tadi berteriak, yang tampak jelas merupakan pemimpin dari ketiganya, yang diam di tempat. Tapi terhadap dia […]
Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [7]: Tiga Orang Bertopeng
Itulah yang membuat Si Weregu kian lama makin menghitam. Darah hitam ayam cemani yang dihisapnyalah yang membuatnya demikian. Balebandung.com – Belum juga Ukur menyiapkan kepalan untuk menghantam siapa saja dari dua orang lawannya itu yang menyerangnya duluan, dari samping kanannya sebuah tendangan deras menuju lambungnya. “Syaat!” Ukur sempat menggerakkan tangan kanannya, menangkis tendangan itu. Hanya karena […]
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
