Bale Jabar

Telusuri Sejarah Gedung Sate dari Menaranya

×

Telusuri Sejarah Gedung Sate dari Menaranya

Sebarkan artikel ini
Meja dan kursi di bagian menara Gedung Sate. by Humas Pemprov Jabar

BANDUNG – Salah satu benak kuat masyarakat Jawa Barat khususnya akan Gedung Sate tentu saja ornamen mirip tusuk sate di atas menara. Ini menggenapi keindahan bangunan Gedung Sate yang berdiri tegak memanjang dari arah timur ke barat di sepanjang Jalan Diponegoro, Kota Bandung.

Menara Gedung Sate sendiri telah berdiri sejak dibangunnya gedung itu sendiri, yakni tahun 1920. Riwayat valid menunjukkan, sekitar 2.000 warga Indonesia yang masa itu dijajah Belanda, turut membangun menara ikonik tersebut. Siapa tahu belum pernah ke bangunan ini, yuk kita jelajahi menara tersebut.

Dilihat dari posisi lantai, menara ini terletak di lantai paling tinggi yaitu lantai lima. Anda bisa menggunakan lift atau lewat tangga yang pintu masuknya bisa lewat lantai dua Gedung Sate.

Nah, kalau lewat tangga, akan terlihat betapa tua namun kuatnya tangga kayu tersebut. Dengan kelir coklat tua dilingkupi dinding warna putih, kayu tersebut kokoh karena dominan menggunakan kayu mahoni atau kayu jati Belanda.

Jika tak terbiasa mengolah fisik, nafas akan dibuat tersengal-sengal setelah naik tangga tersebut. Hingga kemudian, sebelum menjangkau lantai lima tadi, pengunjung akan melewati lantai empat yang menjadi ruang pameran artefak-artefak khas Jawa Barat.

Artefak-artefak ini antara lain foto perkembangan Gedung Sate, pakaian adat khas Jawa Barat, replika rumah kasepuhan, hasil tambang Jawa Barat, dan masih banyak lagi. Jadi, sebelum menikmati keindahan lanskap kota di menara, mari dulang dahulu sejarah Jawa Barat.

Di lantai empat ini pula terdapat katrol yang digunakan sewaktu proses pembangunan Gedung Sate periode tahun 1920 hingga 1924. Katrol digunakan mengangkut bahan baku bangunan, seperti batu dan kapur. Agar terawat, kini katrol diberi kotak kaca dan dijadikan benda peninggalan bersejarah.

Ornamen-ornamen yang menghiasi ruang pameran identik kekhasan Negeri Kincir Angin. Kayu-kayu penyangga di ruangan diukir gambar bunga tulip. Namun, lantainya tetap menonjolkan gaya tradisi indonesia yakni bilik kayu.

”Dulu ini mah bukan bilik. Dulu kayak papan. Sekarang sudah pake kayu pinus, tapi ornamennya tetap berbilik begini,” kata Yanto Rukmana, sekuriti Gedung Sate, yang juga pemandu senior wisata sejarah gedung tersebut kepada Tim Humas Jabar.

Jangan khawatir kesulitan urusan toilet karena di lantai empat ini pula tersedia sarana buang air. Nah, jika sudah puas putar-putar lantai pameran, saatnya masuk ke bangunan inti menara dengan naik satu tangga. Begitu keluar, pemandangan utama adalah dapat langsung melihat Gunung Tangkuban Perahu di arah utara. Berjalan ke arah timur sedikit, maka dapat terlihat indahnya Gunung Manglayang.

Jadi, akan segera terlihat city view Kota Bandung, terutama di kawasan utara. Beberapa kursi dan meja disediakan bagi pengunjung yang ingin bersantai menikmati pemandangan Kota Bandung dari menara bagian luar. Pastinnya, cocok menyeduh kopi dan teh Jabar sambil mengudap di bagian luar menara ini, khususnya pada pagi dan sore hari.

Di dalam Menara
Setelah berkeliling di balkon (jangan lupa swafoto dengan spot utama taman utama Gedung Sate berlatar Monumen Perjuangan dan Tangkuban Perahu), maka saatnya masuk menara yang berbentuk menyerupai burung.

“Kalo dilihat pake (kamera) drone ya, menara Gedung Sate betuknya kayak burung. Katanya mirip juga huruf T tapi bukan, lebih kayak burung lah,” tutur Yanto, yang sudah 21 tahun berdinas di gedung historis tersebut.

Jika diumpamakan, kata dia, bentuk kepala burung menghadap ke arah utara atau ke arah Gunung Tangkuban Perahu. Sayapnya menghadap ke Timur dan Barat, sementara buntut menghadap Selatan.

Dengan dilingkupi kaca tebal yang kuat menghalau angin dan air hujan, di menara ini berisikan beberapa meja dan kursi. Ketika Gedung Sate masih diduduki oleh Belanda, belum ada meja dan kursi pada bagian menara.

“Dulu Belanda narangtung (pada berdiri) weh di sini, kalo sekarang boleh duduk-duduk di sini. Pengunjung bisa ke sini bawa makanannya sendiri sambil menikmati pemandangan,” kata Yanto.

Setelah Gedung Sate digunakan sebagai Kantor Gubernur Jabar, barulah ditaruh sejumlah kursi dan meja untuk menjamu tamu gubernur seperti duta besar, tamu negara, atau bahkan masyarakat umum.

Meski sudah berusia ratusan tahun, bentuk bangunan menara ini masih orisinil. Kalaupun ada perbaikan, dapat dipastikan sudah sepengetahuan para pihak dan sifatnya mikro. Contohnya lantai ruangan inti menara dulunya menggunakan ubin atau traso dan diberi lapisan ampas kelapa. Namun sekarang sudah gunakan ubin marmer asal Citatah, Kabupaten Bandung Barat alias produk asli Jabar.

Ruangan menara berkaca ini berada persis di bawah tusuk sate yang menjulang tinggi ke atas. Ada bagian menarik benda bersejarah lainnya yakni di tengah ruangan. Isinya kotak berisikan sirine yang pada masa pendudukan Belanda digunakan sebagai alarm penanda perang dan bencana alam.

Pada masa gedung ini masih bernama Gouvernements Bedrijven (GB), bunyi sirine dapat menjangkau sejauh 200 km sampai ke Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Namun seiring makin banyaknya bangunan tinggi di Kota Bandung, jelas menghalangi nyaringnya bunyi sirine ini.

“Bagi warga yang penasaran mendengarkan bunyi sirine dari menara Gedung Sate ini bisa didengar tanggal 17 Agustus, Tahun Baru, dan setiap Hari Pahlawan 10 November,” sebut Yanto.

Ornamen tusuk sate yang menjulang di atas menara memiliki fungsi sebagai penangkal petir. Tusuk sate berjumlah enam ornamen ini sebenarnya berbentuk jambu air yang menandakan enam ornamen sebagai simbol besaran biaya yang dikeluarkan dalam membangun Gedung Sate sebesar enam juta gulden.

Menurutnya, sekalipun menjadi penanda inti bangunan, lantai empat dan lima ini tidak pernah ekslusif. Siapapun masyarakat yang ingin datang, yang ingin melihat panorama Kota Bandung dari sudut pandang menara Gedung Sate, dapat langsung mengunjunginya.

”Umum boleh masuk ke sini asalkan minta izin secara prosedural. Kalo emang lagi nggak ada acara apa-apa di sini, silahkan aja. Tidak dipungut biaya sama sekali. Ini kan bangunan pemerintah,” pungkas pria energik yang hafal banyak sejarah gedung tersebut. Ayo jelajahi Menara Gedung Sate!

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-18, Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menggelar acara jalan santai bertajuk Batik Walk, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Jambore Batik Jawa Barat 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Jambore tersebut nantinya akan diisi oleh berbagai program utama, mulai dari […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Seniman, budayawan, sekaligus pendekar silat Abah Nanu menitipkan filosofi kepemimpinan Sunda “Wana, Wani, Wanoh” kepada Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, sebagai bekal mengawal penyelenggaraan festival yang akan memadukan seni, budaya, dan spiritualitas Islam. Dalam perbincangan yang berlangsung penuh kehangatan, Abah Nanu menekankan bahwa memimpin sebuah perhelatan besar tidak cukup hanya […]

Bale Jabar

Tantangan yang dihadapi dunia pers hari ini benar-benar tidak main-main. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ruang redaksi dituntut bergerak secepat kilat. Tapi, di balik kecepatan itu, ada harga mahal yang dipertaruhkan: kepercayaan publik. Realitas inilah yang mendasari pandangan Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031. Baginya, organisasi […]

Bale Jabar

BOGOR, balebandung.com – Calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2027–2031 yang juga Pemimpin Redaksi InilahKoran, Tantan Sulthon Bukhawan menyambangi Sekretariat PWI Kota Bogor, Jalan Tirto Adhi Soerjo nomor 4, Kecamatan Tanah Sareal pada Senin (3/8/2026). Tantan berdiskusi dengan jajaran PWI Kota Bogor perihal visi mewujudkan ‘PWI Jabar Istimewa’ dengan tagline ‘Wartawannya Kompeten, Organisasinya Hebat, Anggotanya […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Tidak banyak orang yang memilih menjadikan musik sebagai jalan untuk mendekatkan masyarakat kepada Al-Qur’an. Di tengah perkembangan berbagai metode pembelajaran, Drs. H. Ahmad Kholid HS, M.Li. justru mengambil jalur yang berbeda. Ia memadukan irama, seni baca Al-Qur’an, dan pendekatan pembelajaran yang lebih mudah diterima berbagai kalangan. Nama Ahmad Kholid dikenal sebagai pendiri Metode […]

Bale Jabar

BANDUNG, balebandung.com – Festival Al Jabbar 2026 mulai memperkuat jajaran kreatifnya dengan menggandeng dua maestro seni pertunjukan Jawa Barat, Rosikin WK, S.Sn., M.Sn. dan aktor teater sekaligus film senior R. Irwan Guntari WK, S.Sn. Keduanya dipercaya menggarap konsep pembukaan dan penutupan festival yang diproyeksikan menjadi salah satu atraksi utama dalam perhelatan budaya tersebut. Kedua seniman itu […]