BANDUNG, balebandung.com – BPJS Ketenagakerjaan secara resmi meluncurkan program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA). Peluncuran program yang digelar di Pendopo Kota Bandung pada Selasa (18/8/2026), dibuka langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof Yassierli.
Dengan mengusung tagline “Bangkit Merajut Kemandirian, Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan”, acara ini juga digelar secara serentak di 37 provinsi dan 41 titik, menjadi babak baru komitmen BPJS Ketenagakerjaan dalam mendampingi para ahli waris atau penerima manfaat agar tidak sekadar menerima santunan, melainkan mampu bangkit dan mandiri secara ekonomi.
Dalam sambutannya, Menaker Yassierli, memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif baru BPJS Ketenagakerjaan. Ia menekankan bahwa kemandirian dan kolaborasi merupakan kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia.
Untuk itu, ia mengapresiasi langkah BPJS Ketenagakerjaan yang tidak hanya berfokus pada pemberian santunan, tetapi juga mengawal agar dana tersebut dapat bermanfaat secara berkelanjutan bagi para pekerja.
“Jadi ada modal sekian puluh juta, sekian ratus juta, BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya sampai memberikan uang atau santunan, tapi juga mengawal bagaimana uang atau santunan itu bisa bermanfaat secara berlanjut,” ujar Yassierli.
Menurutnya, program tersebut tidak perlu membuat skema baru dari nol (reinventing the wheel), melainkan tinggal mensinergikan dengan ekosistem pelatih dan pendamping yang sudah dimiliki Kemnaker dan telah melahirkan ribuan kisah sukses.
Yassierli menegaskan bahwa kunci menghadapi tantangan ketenagakerjaan adalah kolaborasi. “Jawaban terhadap tantangan ketenagakerjaan adalah kolaborasi, kolaborasi, dan kolaborasi. Semangat kita merah putih. Kebahagiaan kita adalah ketika bisa mengantarkan orang ke tempat kerja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menteri Yassierli mengungkapkan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan sebenarnya telah memiliki infrastruktur dan ekosistem yang siap mendukung program tersebut. Melalui Balai Perluasan Kesempatan Kerja dan program Tenaga Kerja Mandiri, Kementerian telah berhasil mencetak ratusan ribu wirausahawan mandiri. Pada tahun ini saja, program tersebut menyalurkan modal kepada 10 ribu orang.
“Kita sudah punya profil seribu tenaga kerja mandiri sukses. Modul-modul kita juga sudah ada, sehingga nanti teman-teman dari BPJS Ketenagakerjaan tinggal mengikuti pipeline yang sudah kita punya. Jadi tidak usah reinventing the wheel,” tegasnya.
Sementara, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa gagasan lahirnya program PEKA berawal dari sebuah kisah pilu yang menggugah nurani. Saiful bercerita tentang seorang petugas BPSU (Badan Penyelenggara Sanksi Umum) di Kecamatan Ragunan yang meninggal dunia setelah terserempet mobil saat menyapu jalan di pagi hari. Sebagai bentuk tanggung jawab, BPJS Ketenagakerjaan hadir secara proaktif hingga akhirnya keluarga korban menerima manfaat sebesar Rp281 juta.
“Namun kemudian muncul pertanyaan besar. Bagaimana beliau, seorang ibu rumah tangga yang belum memiliki literasi keuangan dan keahlian khusus, bisa mengelola uang sebesar ini? Di sinilah titik tolak kami. Secara undang-undang, tugas kami selesai saat menyerahkan manfaat. Tetapi kami ingin beyond. Kami ingin manfaat ini benar-benar menjadi modal awal untuk bangkit dan menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Saiful.
Dari Program yang Terfragmentasi Menjadi Kolaborasi Ekosistem
Saiful menjelaskan, pihaknya melihat adanya paradoks di lapangan. Di satu sisi, BPJS Ketenagakerjaan memiliki ribuan penerima manfaat yang membutuhkan pelatihan. Di sisi lain, berbagai pemangku kepentingan seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Balai Latihan Kerja (BLK), serta perguruan tinggi ternyata telah memiliki program pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan. Sayangnya, program-program tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi.
“Kami berpikir, bagaimana kalau kami gabungkan? BPJS punya pesertanya, para stakeholder punya kurikulum dan pelatihnya. Inilah yang kami elaborasi menjadi PEKA. Ini bukan semata kegiatan BPJS, tetapi kolaborasi seluruh ekosistem ketenagakerjaan dengan prinsip gotong royong,” tegas Saiful.
Transformasi Manfaat Menjadi Daya: Strategi 3P
Program PEKA dirancang untuk mentransformasi dana santunan atau manfaat yang diterima peserta menjadi “daya” produktif melalui pendekatan 3P:
1. Pelatihan: Peserta akan diberikan pelatihan sesuai minat dan bakat, mulai dari keterampilan teknis seperti barista hingga literasi keuangan. Peserta diminta mengisi kuesioner untuk memilih pelatihan yang diinginkan.
2. Pendanaan: Bagi peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dan berani memulai usaha, BPJS Ketenagakerjaan telah menggandeng mitra perbankan seperti BSI, BTN, dan Mandiri untuk menyediakan akses permodalan lanjutan.
3. Pemasaran: BPJS akan membantu para peserta untuk memasarkan produknya, termasuk menghubungkan mereka dengan Pasar Digital UMKM (PaDi), platform yang transaksinya telah mencapai triliunan rupiah dan menjadi pasar potensial bagi produk UMKM binaan.
Saiful Hidayat juga menekankan bahwa program PEKA melengkapi perlindungan yang selama ini dikenal masyarakat, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), dan Jaminan Pensiun (JP). Kini, BPJS Ketenagakerjaan hadir mulai dari promotif-preventif hingga pemberdayaan ekonomi pasca-klaim, termasuk beasiswa bagi dua orang anak ahli waris.
Target Produktivitas dan Pilot Project
Meski baru di-soft launching, program PEKA telah menjalani piloting sejak 4 Juli 2026. Hingga hari peluncuran, total peserta yang telah dilatih mencapai 2.736 orang di seluruh Indonesia, dengan 1.400 di antaranya mengikuti pelatihan serentak hari ini.
Namun, Saiful menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak diukur dari jumlah peserta. “Kami sangat berharap minimal 10 persen dari 2.736 peserta ini dalam 3 sampai 4 bulan ke depan harus sudah produktif. Kata kuncinya ada di situ. Kami ingin Bapak-Ibu tidak hanya menyerap ilmu, tetapi berani memulai usaha,” pungkasnya.
Ia mencontohkan salah satu peserta piloting dari Sumedang yang kini telah berhasil memulai usaha kopi kemasan setelah mengikuti pelatihan barista. Dengan total manfaat yang telah disalurkan BPJS Ketenagakerjaan sejak Januari hingga Juli 2026 mencapai Rp36 triliun, diharapkan dana tersebut tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi menjadi bibit pertumbuhan ekonomi baru bagi keluarga pekerja Indonesia. (Cuy)






