BANDUNG, balebandung.com — Interkulturalitas dalam teater tak lagi cukup dilihat sebagai pertemuan berbagai budaya untuk melahirkan karya artistik. Di balik pertukaran itu terdapat persoalan etika, identitas, hingga relasi kuasa yang membuat gagasan interkulturalitas terus diperdebatkan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Interkulturalitas: Masih Mempesona atau Sudah Ditinggalkan?” yang digelar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Gedung Kesenian Sunan Ambu.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian “Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions”. Rektor ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, membuka kegiatan yang mempertemukan seniman dan akademisi untuk membedah kembali praktik interkultural dalam teater kontemporer.
Pada sesi pertama, Yusef Muldiyana, Dr. Retno Dwimarwati, Prof. Dr. Dra. Yudiaryani, M.A., dan Fathul A. Husein, S.Sn., M.Sn. membahas persoalan interkulturalitas dari perspektif praktik maupun akademik. Diskusi dipandu Tatang Abdullah.
Fathul A. Husein menyoroti munculnya kritik terhadap interkulturalisme, termasuk gerakan kontra-kulturalisme. Menurut dia, kolaborasi antarbudaya dapat menghadapi persoalan dekontekstualisasi dan apropriasi budaya ketika unsur budaya dipindahkan dari konteks asalnya.
Persoalannya bukan hanya bagaimana unsur budaya digunakan di atas panggung. Ada relasi kuasa yang ikut bekerja ketika budaya dari Timur diambil, diolah, kemudian ditampilkan dalam kerangka budaya Barat.
Dengan demikian, pertemuan budaya dalam teater tidak selalu berlangsung setara. Ada pertanyaan tentang siapa yang mengambil, siapa yang ditampilkan, dan siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan makna sebuah kebudayaan.
Prof. Yudiaryani dari ISI Yogyakarta juga melihat kebutuhan aktor teater untuk menghadapi perubahan zaman secara kritis. Menurut dia, kompleksitas teater menuntut aktor memiliki spesialisasi, sementara perkembangan pertunjukan membuka ruang penggunaan intermedia.
Adaptasi, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman. Teater harus mampu membaca realitas baru tanpa kehilangan kemampuan kritis terhadap persoalan yang melingkupinya.
Dari sisi praktik, Yusef Muldiyana dari Laskar Panggung Bandung memaparkan karya Pabrik Begal. Lakon tersebut mengangkat fenomena sosial kontemporer melalui komedi satir dengan memadukan idiom teater klasik dan modern.
Sementara Retno Dwimarwati mempresentasikan sejumlah karya yang merekonstruksi pemikiran masa lalu dalam konteks kekinian, antara lain Puseur Sancang Pangirutan, Ludira Kasmaran, dan Niskala Gudha.
Dalam Niskala Gudha, kisah Siti Samboja dan upayanya merebut kembali Kerajaan Galuh dari Bajo ditafsirkan ulang melalui perpaduan tari ronggeng gunung, wayang golek, dan musik. Pertunjukan tersebut juga menggunakan format hibrida, dengan pementasan langsung di Parigi, Ciamis, yang disiarkan melalui YouTube.
Diskusi berlanjut pada sesi kedua dengan menghadirkan Erwin Sirajuddin, S.Sn., M.Sn., Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.Sn., dan Tirta Nugraha Pratama, S.Sn.
Forum tersebut pada akhirnya tidak sekadar mempertanyakan apakah interkulturalitas masih menarik secara artistik. Yang lebih penting, bagaimana pertukaran budaya dalam teater berlangsung tanpa mengabaikan konteks, identitas, dan persoalan ketimpangan relasi kuasa.
Itulah yang membuat interkulturalitas tetap menjadi isu yang belum selesai dalam perkembangan teater kontemporer.***







