BOJONGSOANG, balebandung.com – Nonton bareng film Ibadah dan Cinta menjadi momen emosional bagi kader Fatayat NU Bandung Raya. Bukan hanya karena pesan keluarga, cinta dan keikhlasan yang dibawa film tersebut, tetapi juga karena kehadiran sosok almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah yang ikut bermain dalam film itu.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bandung Susanti mengatakan, keterlibatan Margaret dalam film tersebut membuat kegiatan nobar memiliki makna tersendiri bagi para kader. Sekitar 40 kader Fatayat dari wilayah Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat hadir dalam kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah pada hari ini kami bisa bersilaturahmi dengan PC Fatayat se-Bandung Raya. Ada sekitar 40 kader yang hadir untuk nonton bareng Ibadah dan Cinta,” kata Susanti.
Bagi Susanti, film tersebut menjadi ruang untuk kembali mengenang Margaret, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU. Margaret wafat pada 1 Maret 2026 di RS Fatmawati Jakarta.
Margaret terpilih sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU melalui Kongres XVI untuk masa khidmat 2022-2027. Sebelum wafat, ia juga tercatat aktif dalam penguatan kaderisasi serta isu perempuan dan anak.
Dalam Ibadah dan Cinta, Margaret memerankan istri Kiai Usman. Sementara Anggia Erma Rini, Dewan Pembina Fatayat NU, juga turut tampil sebagai dokter. Salah satu dialog Margaret dalam film tersebut bahkan menjadi bagian dari pesan utama cerita mengenai bagaimana cinta diarahkan menjadi ibadah.
“Terasa emosional karena ada orang yang kita cintai dan pernah bersama-sama berjuang di Fatayat NU, kemudian hadir dalam film ini,” ujar Susanti.
Menurut dia, film tersebut juga mengingatkan pentingnya peran keluarga, terutama sosok ayah dalam mendidik anak perempuan. Pesan itu dinilai relevan dengan kehidupan kader Fatayat dalam mendorong perempuan tumbuh dengan pendidikan, nilai agama dan kemampuan menjaga martabat dirinya.
“Yang banyak di-shot adalah peran seorang ayah yang bisa mengikhlaskan dan mendidik putrinya menjadi seorang perempuan yang bisa menjaga marwahnya,” katanya.
Ibadah dan Cinta sendiri tidak semata mengangkat kisah percintaan, tetapi juga membawa tema keluarga, kehilangan dan proses belajar mengikhlaskan. Dalam film tersebut, Margaret menjadi bagian dari cerita yang menghubungkan persoalan cinta dengan nilai keagamaan.
Bagi kader Fatayat NU Bandung Raya, nobar tersebut akhirnya bukan sekadar agenda menonton film. Kehadiran sosok Margaret di layar menjadi pengingat atas perjalanan pengabdian seorang kader perempuan NU yang pernah memimpin Fatayat di tingkat nasional.
“Pesan moral dan spiritualnya banyak. Tapi bagi kami, film ini juga menjadi salah satu cara mengenang Ning Margaret,” ujar Susanti.***







