Bale Bandung

Hayu Urang ka Bale Nyungcung

×

Hayu Urang ka Bale Nyungcung

Sebarkan artikel ini
Kemegahan Masjid Agung Bandung diabadikan dalam lukisan W Spreat, pelukis Inggris pada tahun 1852 dalam buku De Zieke Reiziger via wikipedia.

Balebandung.com – “Hayu urang ka Bale Nyungcung atuh Neng!” ajak seorang pemuda kepada calon istrinya, pada jaman baheula. (Mari kita ke Bale Nyungcung). Pangantenan jaman baheula di Bandung diceritakan oleh Us Tiarsa R. dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Ketika Bandung Masih Berembun).

Masih sekitar tahun 1950-an, pelaksanaan akad nikah saat itu belum lajim dilakukan di rumah, akan tetapi di masjid, urang Bandung menyebutnya kaum. Ada dua kaum yang dipakai menikahkan yaitu di Alun-alun (Kaum Bandung) dan Kaum Cipaganti.

Masyarakat kala itu menyebut masjid atau kaum dengan Bale Nyungcung, bale adalah bangunan, kalau nyungcung bahasa Sunda yang artinya kerucut seperti bentuk limas runcing ke atas. Mereka menyebut masjid di Kaum Bandung itu dengan sebutan Bale Nyungcung. Sebetulnya bukan cuma di Bandung, dahulu Bale Nyungcung ada di hampir tiap kabupaten di Jawa Barat.

Jadi, Bale Nyungcung adalah bangunan yang atapnya berundak tiga dan runcing di puncaknya. Bale Nyungcung adalah masjid agung yang juga terdapat kantor urusan agama tempat orang yang mau menikah.

Pada tahun 1955, Bale Nyungcung di Alun-alun Bandung hilang menjadi bentuk kubah bulat bagaikan bawang. Bale Nyungcung itu tinggal kenangan saja sekarang. Kalaupun masih ada, hanya ada Masjid Cipaganti yang masih asli bentuknya.

Menurut sumber Haryoto Kunto, yang mengusulkan perubahan konsep mesjid ini ialah Ir Sukarno. Konsep baru ini diusulkan dalam rangka diadakannya Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955.

Masjid-Raya-BandungMasjid Raya Bandung yang dulu kita kenal dengan nama Masjid Agung merupakan masjid yang berada di Alun-alun Kota Bandung, dekat ruas Jalan Asia-Afrika. Pertama kali Masjid ini dibangun tahun 1812, dan sejak didirikannya sudah mengalami delapan kali renovasi pada abad ke-19, kemudian lima kali pada abad 20 sampai akhirnya direnovasi kembali pada tahun 2001 hingga peresmian Masjid Raya Bandung tanggal 4 Juni 2003 yang diresmikan Gubernur Jabar HR Nuriana.

Masjid Raya Agung ini memiliki dua menara kembar di sisi kanan dan kiri masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap Sabtu dan Minggu. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 13.000 jamaah.

Sejarahnya, Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat pemerintahan atau ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak atau sekarang namanya Dayeuhkolot, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang atau Dalem Kaum Bandung.

Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil wudhu. Air kolam ini pun berfungsi juga untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-alun Bandung pada tahun 1825.

Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranata Kusumah IV, atap masjid diganti dengan genteng, sedangkan dindingnya diganti dengan tembok batu-bata.

Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai diabadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan masyarakat menyebutnya dengan sebutan Bale Nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Seiring perkembangan jaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain, bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).

Kemudian pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid, sehingga makin mempercantik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung.

Menjelang Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalami perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya Timur Tengah seperti bawang.

Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar, sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin puting beliung dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970.

Berdasarkan SK GubernurJawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan Kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar.

Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bandung, KH. Dr. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A., menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Fathu, Soreang Jumat (6/11/2026). Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah memahami hakikat keberuntungan dan kesuksesan hidup berdasarkan tuntunan Al-Qur’an. Mengangkat Surah Al-‘Ashr dan Surah Al-Mu’minun ayat 1–10, ia menjelaskan bahwa kesuksesan sejati tidak […]

Bale Bandung

SOREANG, balebadung.com – Bupati Bandung, Dadang Supriatna (KDS) meminta Galih Hendrawan yang terpilih sebagai Ketua DPC APDESI Merah Putih Kabupaten Bandung periode 2026–2031 untuk merangkul seluruh kepala desa dan menjaga soliditas organisasi. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah desa dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan Kabupaten Bandung. Pesan tersebut disampaikan KDS seusai […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Kepala Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Galih Hendrawan, terpilih sebagai Ketua DPC Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia Merah Putih (APDESI MP) Kabupaten Bandung periode 2026–2031. Galih meraih kemenangan telak dalam Musyawarah Cabang (Muscab) VI yang digelar di Gedung Moh. Toha, Soreang, Jumat (6/11/2026). Berdasarkan hasil rekapitulasi dan penghitungan suara, Galih yang […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan komitmen negara untuk memenuhi seluruh hak keluarga prajurit yang gugur saat menjalankan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Komitmen tersebut disampaikan Agus saat menjadi Inspektur Upacara (Irup) pemakaman militer Letkol Cpn Anumerta Dudi Firmansyah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bandung, Kamis (5/11/2026). Agus menyebut […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mengukuhkan kepengurusan Forum Kabupaten Bandung Sehat (FKBS) periode 2026–2030 sekaligus menghadiri rapat koordinasi bersama jajaran pengurus dan pemangku kepentingan terkait, di Gedung M Toha Soreang, Kamis (5/11/2026). Dalam sambutannya, KDS menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus FKBS yang telah dikukuhkan. Ia menegaskan pembangunan Kabupaten Sehat tidak dapat hanya […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Perkembangan pasar modal Indonesia belakangan ini menjadi perhatian publik, terutama setelah munculnya berbagai isu terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dinamika tersebut tidak hanya menjadi perhatian investor, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi ekonomi nasional dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis […]