Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/baleband/public_html/index.php:1) in /home/baleband/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/class-counter.php on line 1053
Carita Parahyangan dan Luka Bubat: Saat Naskah Sunda Kuno Mencatat Perang di Majapahit | Bale Bandung
Bale Bandung

Carita Parahyangan dan Luka Bubat: Saat Naskah Sunda Kuno Mencatat Perang di Majapahit

×

Carita Parahyangan dan Luka Bubat: Saat Naskah Sunda Kuno Mencatat Perang di Majapahit

Sebarkan artikel ini

Sebuah naskah tua dari daun lontar menyimpan ingatan panjang tentang Sunda. Namanya Carita Parahyangan.

Naskah ini dikenal sebagai naskah anonim Sunda Kuno. Nama penulisnya tidak diketahui. Para ahli umumnya memperkirakan naskah ini disusun pada akhir abad ke-16, sekitar tahun 1580 M, tidak lama setelah masa akhir Pakuan Pajajaran.

Dalam tradisi pernaskahan, naskah ini dikenal sebagai Kropak 406. Istilah kropak merujuk pada satu unit koleksi atau wadah naskah lontar. Naskah ini disebut berkaitan dengan kawasan Galuh, Ciamis, lalu masuk ke koleksi lama lembaga pengetahuan masa kolonial di Batavia, sebelum kini dikenal sebagai bagian dari koleksi naskah Sunda Kuno di Jakarta.

Di dalamnya, nama Galuh, Pakuan, Sanjaya, Linggabuana, hingga Niskalawastu Kancana muncul sebagai bagian dari garis panjang kekuasaan di Tatar Sunda.

Namun Carita Parahyangan bukan kronik modern seperti buku sejarah hari ini. Ia perlu dibaca sebagai teks silsilah, ingatan politik, dan naskah mitis-historis. Di dalamnya, dunia raja, resi, kabuyutan, perang, dan ajaran moral bercampur dalam satu alur panjang.

Karena itu, naskah ini tidak selalu memberi rincian peristiwa secara panjang. Banyak bagian hadir ringkas, padat, bahkan kadang samar. Tetapi justru dalam kepadatan itu, ada jejak penting tentang bagaimana orang Sunda lama mengingat asal-usul raja dan kekuasaan.

Salah satu bagian paling penting ialah catatan tentang Prabu Maharaja atau Maharaja Linggabuana. Dalam ingatan Sunda, nama ini berkaitan erat dengan tragedi Perang Bubat.

Dalam Carita Parahyangan, kisah itu tidak diceritakan panjang seperti dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana. Tidak ada uraian panjang tentang rombongan pengantin dari Sunda, tuntutan takluk dari pihak Majapahit, atau perdebatan politik yang menyeret nama Gajah Mada.

Tetapi naskah ini menyimpan satu catatan pendek yang sangat penting: terjadi perang di Majapahit.

Catatan itu muncul dalam rangkaian silsilah raja-raja Sunda. Setelah menyebut garis raja dan peristiwa yang menimpa Prabu Maharaja, teks bergerak kepada penerusnya, yaitu Prabu Niskalawastu Kancana.

Di sinilah letak penting Carita Parahyangan. Ia tidak memberi adegan perang secara rinci, tetapi menempatkan peristiwa di Majapahit sebagai titik luka dalam garis kekuasaan Sunda.

Dalam pembacaan sejarah Sunda, catatan “perang di Majapahit” itu kerap dikaitkan dengan Perang Bubat, tragedi yang menewaskan Prabu Linggabuana bersama rombongan kerajaan Sunda di tanah Majapahit.

Bagi pembaca hari ini, satu kalimat pendek itu mungkin terasa terlalu sedikit. Tetapi bagi sebuah naskah silsilah, catatan singkat semacam itu justru dapat menjadi penanda besar. Ia menunjukkan bahwa peristiwa di Majapahit dianggap cukup penting untuk disisipkan dalam ingatan raja-raja Sunda.

Dengan kata lain, Carita Parahyangan tidak sedang menulis drama perang. Ia sedang menandai patahnya satu garis generasi.

Linggabuana tidak hadir sebagai tokoh panjang dengan dialog dan adegan heroik. Ia hadir sebagai raja yang namanya terkait dengan bencana besar di Majapahit. Dari sana, ingatan Sunda bergerak kepada penerusnya. Tokoh penerus itu adalah Niskalawastu Kancana.

Dalam Carita Parahyangan, Niskalawastu Kancana digambarkan sebagai raja yang memerintah sangat lama, yakni 104 tahun. Angka ini tentu perlu dibaca hati-hati dalam konteks naskah lama, tetapi maknanya jelas: ia diposisikan sebagai raja besar, stabil, dan pemulih.

Teks menggambarkan masa pemerintahannya sebagai masa yang baik. Agama berjalan. Tata negara tertib. Rakyat hidup tenteram. Negara berada dalam keadaan sejahtera.

Bagian ini penting karena muncul setelah catatan tentang perang di Majapahit. Seolah-olah, setelah luka besar Bubat, Sunda memasuki masa pemulihan panjang di bawah Niskalawastu Kancana.

Di sini Carita Parahyangan memberi perspektif yang berbeda. Tragedi tidak berhenti pada kematian raja. Tragedi itu dilanjutkan oleh upaya memulihkan negara, menata kembali pemerintahan, dan menjaga martabat Sunda.

Maka, jika Kidung Sunda memberi gambaran lebih hidup tentang ketegangan Bubat, Carita Parahyangan memberi kerangka ingatan Sunda: ada raja yang gugur, ada perang di Majapahit, lalu ada penerus yang memulihkan negeri.

Dengan cara itu, Carita Parahyangan menjadi penting bukan karena ia paling rinci, melainkan karena ia berasal dari tradisi ingatan Sunda sendiri.

Naskah ini menunjukkan bahwa Sunda tidak mengingat dirinya sebagai negeri pinggiran. Sunda mengingat dirinya melalui garis raja, kabuyutan, ajaran moral, dan pusat-pusat kekuasaan seperti Galuh dan Pakuan.

Karena itu, catatan pendek tentang perang di Majapahit tidak bisa dianggap remeh. Ia adalah luka yang ditulis singkat, tetapi maknanya panjang.

Dalam konteks Perang Bubat, Carita Parahyangan dapat dibaca sebagai salah satu jejak internal Sunda. Ia tidak berdiri sendiri. Untuk membaca tragedi itu secara lebih lengkap, naskah ini perlu disandingkan dengan Kidung Sunda, Kidung Sundayana, dan Pararaton.

Namun justru karena singkat, catatan dalam Carita Parahyangan terasa kuat. Ia seperti bekas luka pada tubuh sejarah: tidak banyak bicara, tetapi tetap terlihat.

Dari naskah inilah pembaca dapat melihat bahwa Bubat bukan hanya cerita perang antara Sunda dan Majapahit. Bubat juga menjadi bagian dari ingatan politik Sunda tentang martabat, kehilangan, dan pemulihan.

Setelah Linggabuana gugur dalam peristiwa yang dikaitkan dengan perang di Majapahit, Niskalawastu Kancana tampil sebagai raja pemulih. Ia menjadi simbol bahwa Sunda tidak selesai oleh Bubat.

Sunda terluka, tetapi tidak hilang.

Dari luka itu, negara ditata kembali. Dari patahnya satu generasi, muncul pemerintahan panjang yang dalam naskah digambarkan tenteram dan sejahtera.

Di sinilah Carita Parahyangan memberi pesan penting. Sebuah bangsa tidak hanya dikenang dari kemenangan perang, tetapi juga dari kemampuannya bertahan setelah kehilangan besar.

Bubat adalah luka. Tetapi dalam ingatan Carita Parahyangan, setelah luka itu masih ada pemulihan, masih ada raja, masih ada negara, dan masih ada martabat Sunda yang dijaga.*** by iwa

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BANDUNG, Balebandung.com – Telkom University menetapkan sanksi administratif dan akademik terhadap dua mahasiswa terkait kasus perundungan di asrama putra yang terjadi Jumat (9/10). Sementara pemeriksaan terhadap mahasiswa lainnya masih berlangsung. Kasus tersebut melibatkan empat mahasiswa putra, terdiri dari tiga mahasiswa yang diduga sebagai pelaku dan satu mahasiswa sebagai korban. Berdasarkan pemeriksaan awal, peristiwa itu berupa […]

Bale Bandung

BANDUNG, Balebandung.com – Telkom University (Tel-U) tengah menangani dugaan perundungan di lingkungan kampus yang menjadi perhatian publik. Direktorat Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) melakukan pemeriksaan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Dalam siaran pers tertanggal 10 Oktober 2026, Tel-U menegaskan keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan mahasiswa […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mendorong Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) memperkuat peran dalam percepatan penurunan stunting melalui edukasi gizi, pendampingan keluarga, dan intervensi berbasis data. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar program kesehatan lebih tepat sasaran. Pesan tersebut disampaikan Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) dalam pelantikan pengurus DPC PERSAGI Kabupaten Bandung periode […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Sebuah pesan dari Kapolresta Bandung Kombes Pol Dr Tri Suhartanto, S.H., M.H., M.Si. mengalir ke ruang para Kabag, Kasat, Kapolsek jajaran Polresta Bandung. Ada enam butir arahan disampaikan di mana setiap butirnya menyimpan tekanan moral. Butir pertama, setiap pimpinan melakukan pengawasan melekat kepada anggota. Jangan sampai ada pelanggaran. Jangan sampai ada kejahatan. […]

Bale Bandung

MARGAHAYU, balebandung.com – Kepedulian Lanud Sulaiman terhadap persoalan lingkungan dan penanganan banjir mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M. (KDM). Gubernur Jabar menilai Lanud Sulaiman turut berperan aktif dalam upaya normalisasi sungai sebagai langkah mengatasi banjir yang kerap melanda wilayah Margahayu dan sekitarnya. Hal tersebut disampaikan Gubernur KDM saat transit di […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menekankan pentingnya evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) sebagai dasar perbaikan kinerja perangkat daerah. Hal itu disampaikan dalam agenda Penetapan Peringkat SAKIP Award 2026 dan Pemberian Penghargaan kepada Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung di Grand Sunshine Soreang, Jumat (9/10/2026). Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) mengatakan, […]