Bale Bandung

Cucun Ahmad Syamsurijal: Pejabat Publik Jangan Bikin Gaduh

×

Cucun Ahmad Syamsurijal: Pejabat Publik Jangan Bikin Gaduh

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi III DPR RI H. Cucun Ahmad Syamsurijal
Anggota Komisi III DPR RI H. Cucun Ahmad Syamsurijal

CIPARAY, Balebandung.com – Anggota Komisi III DPR RI H. Cucun Ahmad Syamsurijal mengimbau agar seluruh stakeholder tetap solid dalam menangani terjadinya peningkatan kasus pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal itu diutarakannya menanggapi polemik antara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan Menkopolhukam Mahmud MD.

Ketua Fraksi PKB DPR RI ini juga berharap kepada pejabat publik untuk tidak membuat pernyataan atau statement maupun opini yang menimbulkan kegaduhan di kalangan masyarakat.

Cucun ingin semua pihak tetap bergandengan tangan dan solid dalam penanganan masalah di tengah masyarakat yang sedang dirundung pandemi Covid-19.

“Saya tegaskan, dalam ber-statement untuk tidak membuat kegaduhan baru. Tidak membuat opini baru yang membuat kegaduhan baru,” tandas Cucun kepada wartawan di sela reses di GOR Aska Cikoneng, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/12/20).

Cucun mengingatkan kepada semua pejabat negara pemegang amanat rakyat ini untuk tetap menjaga kondusivitas di tengah pandemi.

“Sama, saya juga mengingatkan ke teman-teman di Fraksi PKB di DPR RI, ayo sama-sama menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban, serta soliditas dalam penanganan Covid-19 ini,” imbuhnya.

Ia berprinsip, tidak ada pemerintahan manapun yang berpikir untuk membuat kemudaratan bagi warganya. “Seorang pemimpin pasti berpikir dalam kebijakannya itu untuk kemaslahatan umat,” kata Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung ini.

Ia menunjuk contoh soal vaksin sinovac yang malah dijadikan bahan bully-an sebagian kalangan dan dikhawatirkan malah menimbulkan masalah baru. “Soal vaksin sinovac itu, pemerintah pasti bertanggungjawab. Kalau vaksin itu menjadi mudharat, pasti tidak akan diberikan kepada rakyat,” kata Cucun.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]