Bale Kab Bandung

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [9] : Senapati dari Kesatuan Brajanata

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

– Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.-

Balebandung.com – Tetapi memang orang itu layak menjadi pemimpin kelompok kecil para durjana itu. Hanya dalam hitungan detik, setelah menggeleng-gelengkan kepala dan memperbaiki letak dagunya, orang itu kembali berdiri.

Matanya sudah menunjukkan bahwa ia tak punya harapan. Namun tak punya harapan sama sekali membuat orang tak pernah berhitung lagi mau apa yang terjadi sedetik nanti. Orang seperti itu hanya perlu menghilangkan sebanyak mungkin rasa kehilangan, sebelum melakukan hal terakhir sepanjang sisa hidupnya.

Jujur saja, Ukur lebih ngeri menghadapi orang-orang nekat tanpa harapan ke depan, dibanding mereka yang masih berpikir tentang hidup hari esok. Jenis yang terakhir ini masih bisa diajak bicara, masih bisa diiming-imingi janji dan pengampunan. Jenis pertama, tidak.

Betul saja, orang itu kini membabatkan goloknya tanpa aturan jurus silat yang benar. Menyerang Ukur dari berbagai arah dengan sabetan-sabetan kuat yang berbahaya. Perut, leher, lalu golok itu kembali mengarah ke dada, sebelum mencoba menusuk perut setelah serangan sebelumnya pun luput.

“Edan! Modaaar kowe!” Kali ini si orang bertopeng lebih sering berteriak, seolah melepaskan kecewa dan kesalnya karena serangannya selalu luput.

Dalam sebuah kesempatan Ukur berhasil mengelakkan serangan golok si topeng yang menebas mendatar mengincar ruas lehernya. Ukur merunduk sejenak, memastikan golok itu lewat di atas kepalanya, sekaligus membuat lawannya kelimpungan terbawa tenaganya sendiri. Saat itulah, tongkat Weregunya seolah melenting dari bawah mengarah ke muka si topeng.

“Buk!” Bunyi tongkat Weregu bertemu sasarannya terdengar kuat, diiringi jeritan menyayat yang dikeluarkan si topeng. Ukur berkelit menghindari tubuh si topeng yang terjatuh hampir menimpa dirinya.

Si topeng berguling berkali-kali di tanah, merasakan sakit yang tak terkira pada bagian wajahnya. Bila kayu itu mengenai hidung, bisa dipastikan hidung itu hancur remuk terkena hantaman. Sebenarnya bukan soal kerasnya hantaman semata, tapi memang dalam kayu itu, seperti pernah dikatakan kakek kepadanya, Ukur tahu di sana berdiam jin sebangsa Aria Brajadenta yang memiliki kesenangan menghajar orang.

Ukur melihat topeng orang itu terlepas saat ia berguling-guling. Namun wajah orang itu tak bisa ia lihat jelas. Selain karena rusak terhantam kayu Weregu, kedua tangan orang itu pun tak pernah lepas memeganginya akibat kesakitan yang sangat.

Perlahan Ukur melangkah mendekati orang yang boleh dibilang hampir sekarat tersebut. Dengan jarak yang lebih dekat ia berharap lebih bisa dengan cermat menelisik bagaimana rupa orang tersebut. Benar, kemungkinan besar ia tak mengenalinya. Tetapi enam bulan berada di keraton Mataram dan sekitarnya, bergaul dengan segala jenis manusia di lapangan olah keprajuritan, di pasar, di warung makan, bukan tak mungkin ia bisa tahu dari lingkungan seperti apa orang itu berasal.

Namun baru saja Ukur melangkah lebih dekat, tiba-tiba sesosok tubuh dengan cepat mencelat ke dekat badan yang sekarat itu. Begitu cepat, memastikan orang yang melakukannya memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Sosoknya Ukur kenali. Ya, ia menduga orang itu Senapati Ronggonoto. Tak banyak orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sehebat itu, dan dengan jabatan tinggi yang dimilikinya saat ini, Ukur tahu Ronggonoto sangat mungkin menguasai banyak ilmu kanuragan.

Orang itu masih membelakangi Ukur manakala dengan sigap ia membungkuk, menjambak rambut sosok yang tergolek antara hidup dan mati itu, menariknya hingga posisinya tak lagi menggeletak. Masih dengan kecepatan yang sama, tangan orang itu meraba bagian belakang pinggangnya, menghunus sebentuk keris kecil.

“Sreeet!” terdengar suara baja tajam itu mengiris leher. Lalu sebentar kemudian bunyi gedebuk tubuh yang dilempar kembali ke tanah, sebelum akhirnya disusul suara mengorok yang keras. Ukur menyaksikan darah seolah mancur, deras menyembur dari leher orang itu. Ukur seorang prajurit dan jawara yang tentu telah berkali-kali melihat orang-orang terluka kehilangan nyawa.

Tetapi di sini, di tanah Jawa tempat kekuasaan besar bertahta dan mencengkeram seantero wilayah tetangganya, kematian dengan cara-cara keji itu seolah begitu biasa. Ukur sampai berpikir, apakah memang hanya dengan cara kejilah orang bisa berkuasa dan menegakkan kekuasaannya di bumi ini? Bila itu memang syaratnya, apa sesungguhnya yang membuat orang betah dalam kekuasaan, sementara dengan gampang ia sadar bahwa kekuasaannya hanya mengalirkan darah semena-mena?

Usai melakukan pembantaian orang itu enteng saja membalikkan badan menghadap Ukur.

“Bekel Ukur, para penjahat seperti ini tak boleh dibiarkan hidup. Mereka akan jumawa dan menganggap kita para prajurit penegak keamanan negara tak ada harga,” kata salah seorang hulubalang yang bertugas sebagai pemimpin Abdi Dalem Brajanata itu. Entah darimana datangnya, tiba-tiba tempat itu kini dipenuhi para prajurit Brajanata, satuan yang bertugas menjaga gerbang keraton dengan jiwanya.

“Bereskan layon-layon ini malam ini juga. Kubur di pemakaman para penjahat dan orang hukuman,” kata Senapati Ronggonoto memberikan perintah. Ia berlaku seolah Ukur tak ada di depannya, juga seolah orang-orang yang kini telah menjadi mayat itu tak pernah ada sangkut pautnya dengan Ukur.

Ukur hanya diam. Kepalanya berputar cepat mengulang kejadian-kejadian yang terjadi malam ini dengan begitu cepatnya. Sejak makan malam tadi, lalu kedatangan tiga durjana yang hendak menghabisinya, lalu tiba-tiba tanpa bewara pimpinanya telah berada di sini, mengunjunginya. Namun tentu saja tidak pada tempatnya ia bertanya. Biarlah pada saat yang tepat ia memikirkan kejadian ini lebih teliti. Bukan saat ini, minimal bukan pada saat orang-orang ini berada di tempat tinggalnya.

Para prajurit segera melaksanakan perintah pimpinannya, Senapati Ronggonoto. Mereka mengangkat mayat-mayat itu setelah lebih dulu menutupinya dengan karung goni. Rupanya mereka telah mempersiapkan semua dengan baik, terbukti dengan cepat sebuah kereta mayat telah tiba pula. Mungkin memang begitulah standar pelaksanaan pekerjaan di Kesatuan Brajanata. Lengkap, dengan membawa-bawa kereta jenazah segala kemana-mana.

“Kowe besok disuruh menghadap Gusti Sultan di balairung,” kata Ronggonoto. “Sebelum Dhuhur, sehingga kowe masih bisa sasarap lebih dulu.”

Menurut Ronggonoto, tadi sore tiba Raja Sumedang Larang Pangeran Raden Aria Suradiwangsa. Ia tiba di mataram untuk menyatakan serah bongkokan alias menyatakan takluk kepada kekuasaan Mataram.

“Nah, kowe orang Sunda disuruh Gusti Sultan menemani Sinuhun menerima itu orang taklukan,” kata Ronggonoto. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [8]: Nyawa-nyawa Perlaya

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close