BOJONGSOANG, balebandung.com — Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Bandung menggelar nonton bareng (nobar) film Ibadah dan Cinta bersama sekitar 40 kader Fatayat NU se-Bandung Raya, termasuk dari Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bandung Susanti mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus kesempatan bagi kader untuk menikmati film yang memiliki kedekatan khusus dengan Fatayat NU. Film Ibadah dan Cinta sendiri resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 24 September 2026 dan mengangkat kisah cinta, keluarga, kehilangan serta perjalanan menemukan kembali iman.
“Alhamdulillah pada hari ini kami bisa bersilaturahmi dengan PC Fatayat se-Bandung Raya. Ada sekitar 40 kader Fatayat dari Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Cimahi dan KBB,” kata Susanti di XXI Transmart Buah Batu Bandung.
Nobar tersebut terasa berbeda bagi para kader Fatayat karena film Ibadah dan Cinta turut menampilkan almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum PP Fatayat NU periode 2022–2026. Selain Margaret, Anggia Erma Rini, Dewan Pembina PP Fatayat NU, juga tampil dalam film tersebut. Keterlibatan keduanya dalam film juga dikonfirmasi NU Online.
Bagi Susanti, kehadiran sosok yang memiliki kedekatan dengan Fatayat NU membuat suasana nobar semakin emosional. Apalagi, film tersebut tidak hanya menghadirkan cerita percintaan, tetapi juga membawa pesan tentang keluarga, keikhlasan dan pencarian makna iman.
“Alhamdulillah selain mengharukan karena ada orang-orang terkasih bagi kami di Fatayat NU, ceritanya pun tak kalah mengharukan. Banyak sekali pesan moral dan pesan spiritual,” ujarnya.
Menurut Susanti, salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah penggambaran sosok ayah dalam keluarga. Film tersebut memperlihatkan bagaimana seorang ayah berusaha mendidik dan membimbing putrinya hingga mampu menjaga kehormatan serta nilai yang diyakininya.
“Yang banyak di-shot itu peran seorang ayah yang bisa mengikhlaskan dan mendidik putrinya menjadi seorang perempuan yang bisa menjaga marwahnya,” kata Susanti.
Film yang disutradarai Jastis Arimba tersebut memang menempatkan lingkungan pesantren dan keluarga sebagai bagian penting dari cerita. Tokoh Santun, yang diperankan Indah Permatasari, digambarkan sebagai perempuan yang tumbuh dalam lingkungan pesantren, sementara perjalanan Rico menjadi pintu masuk bagi tema pencarian iman dan perubahan diri.
Bagi Fatayat NU Kabupaten Bandung, nobar tersebut akhirnya tidak hanya menjadi agenda hiburan. Film menjadi ruang refleksi bagi kader mengenai keluarga, pendidikan perempuan, keikhlasan dan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat hadir melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Susanti menilai pesan-pesan tersebut menjadi bagian penting yang membuat kegiatan nobar sekaligus memiliki nilai silaturahmi dan pembelajaran bagi kader Fatayat NU.***







