Episode 2 — Julukan yang Lahir dari Ruang Sidang
balebandung.com – Bandung pada dekade 1920-an bukan lagi kota kecil yang tenang di Priangan. Kota itu mulai dipenuhi diskusi politik, rapat organisasi, dan perdebatan tentang masa depan bumiputra di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di berbagai sudut kota, kaum terdidik pribumi mulai berbicara tentang hak rakyat, pendidikan, hingga gagasan kemerdekaan.
Di tengah suasana itu, nama Otto Iskandardinata semakin sering terdengar.
Ia dikenal sebagai pembicara yang keras, tajam, dan sulit ditekan. Dalam berbagai rapat organisasi maupun forum politik, Otto kerap menyampaikan kritik terbuka terhadap ketimpangan yang dialami rakyat pribumi. Ia tidak berbicara dengan bahasa elite kolonial yang berputar-putar. Gaya bicaranya langsung dan mudah dipahami.
Pada masa itu, banyak tokoh bumiputra memilih berhati-hati ketika berbicara di depan pejabat kolonial. Namun Otto justru tampil berbeda. Ia sering menyerang lawan debatnya secara terbuka dan tidak segan menyampaikan kritik di ruang sidang.
Sikap itu membuat namanya cepat dikenal di lingkungan pergerakan Sunda. Otto dianggap mewakili generasi baru bumiputra terdidik yang tidak lagi ingin terus-menerus tunduk kepada kolonialisme. Ia aktif berpidato, menulis, dan membangun jaringan organisasi melalui Paguyuban Pasundan.
Bandung sendiri sedang berubah menjadi salah satu pusat pergerakan politik bumiputra. Kota itu dipenuhi pelajar, guru, wartawan, aktivis organisasi, hingga tokoh-tokoh nasional yang datang membawa gagasan baru. Dalam suasana seperti itu, kemampuan berbicara menjadi senjata politik yang penting.
Dan Otto memiliki kemampuan itu.
Ia dikenal mampu membuat rapat organisasi yang semula datar menjadi hidup. Otto berbicara dengan nada tegas, kadang keras, tetapi tetap mudah dipahami rakyat biasa. Ia tidak berbicara sebagai bangsawan yang menjaga jarak dengan masyarakat. Ia berbicara seperti orang Sunda yang memahami keresahan rakyatnya sendiri.
Dari situlah julukan “Si Jalak Harupat” mulai lahir.
Dalam budaya Sunda, jalak harupat dikenal sebagai burung kecil yang lincah, berani, dan sulit ditaklukkan. Meski tubuhnya kecil, burung itu dikenal galak ketika menghadapi lawan. Karakter itulah yang dianggap mirip dengan Otto.
Beberapa sumber sejarah dan cerita lisan di lingkungan Paguyuban Pasundan menyebut julukan itu pertama kali muncul dari kalangan rekan-rekan pergerakan Sunda yang sering melihat cara Otto berbicara dalam rapat organisasi maupun sidang politik. Ia dianggap seperti jalak harupat: cepat, tajam, dan tidak mudah mundur ketika berhadapan dengan lawan.
Meski begitu, sampai hari ini tidak ada catatan tunggal yang benar-benar pasti tentang siapa orang pertama yang memberikan julukan tersebut. Ada yang menyebut julukan itu muncul di lingkungan Paguyuban Pasundan, ada pula yang menyebut berasal dari kalangan wartawan dan aktivis pergerakan di Bandung. Namun hampir semua cerita sepakat bahwa julukan itu lahir karena gaya bicara Otto yang keras dan keberaniannya menyerang lawan debat.
Pada masa itu, ruang sidang dan forum organisasi memang menjadi arena penting perjuangan politik. Tokoh-tokoh bumiputra mulai memahami bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak hanya dilakukan melalui senjata, tetapi juga lewat gagasan, pidato, pendidikan, dan organisasi.
Otto berada di garis depan dalam perubahan itu.
Ia aktif mendorong perkembangan Paguyuban Pasundan menjadi organisasi modern yang tidak hanya bergerak di bidang budaya, tetapi juga pendidikan dan politik. Sekolah-sekolah didirikan, diskusi-diskusi digelar, dan kesadaran masyarakat Sunda perlahan mulai tumbuh.
Dalam banyak kesempatan, Otto berbicara tentang pentingnya harga diri bangsa. Menurutnya, rakyat bumiputra tidak boleh terus hidup dalam mentalitas bawahan di tanahnya sendiri. Pemikiran seperti itu membuatnya semakin populer di kalangan rakyat, tetapi sekaligus semakin diawasi pemerintah kolonial.
Belanda mulai melihat bahwa organisasi-organisasi bumiputra sedang berkembang menjadi kekuatan politik baru. Mereka khawatir tokoh seperti Otto dapat memengaruhi masyarakat melalui pendidikan dan komunikasi publik.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.
Otto memang bukan tokoh militer. Namun ia memiliki sesuatu yang tidak kalah berbahaya bagi kolonialisme: kemampuan membangun kesadaran rakyat.
Dalam berbagai forum, Otto sering mengkritik ketimpangan pendidikan antara kaum Eropa dan bumiputra. Ia juga berbicara tentang pentingnya masyarakat Sunda memperoleh akses pendidikan yang lebih luas agar mampu bersaing di tengah perubahan zaman.
Bagi Otto, pendidikan bukan sekadar alat mencari pekerjaan. Pendidikan adalah jalan membangun martabat masyarakat.
Pemikiran itulah yang membuatnya berbeda dari banyak elite pribumi lain pada masa itu. Sebagian masih memilih aman di bawah sistem kolonial, sementara Otto justru mendorong rakyat untuk lebih berani berbicara dan berorganisasi.
Julukan Si Jalak Harupat semakin melekat ketika Otto mulai aktif di Volksraad atau Dewan Rakyat bentukan pemerintah kolonial. Meski kewenangan lembaga itu terbatas, Volksraad menjadi panggung politik penting bagi tokoh-tokoh bumiputra untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Di ruang sidang Volksraad, Otto dikenal sebagai pembicara yang keras dan lugas. Ia tidak segan mengkritik kebijakan kolonial yang dianggap merugikan rakyat Indonesia. Sikapnya membuat namanya semakin dikenal hingga tingkat nasional.
Pada titik itu, Si Jalak Harupat bukan lagi sekadar julukan di lingkungan pergerakan Sunda. Nama itu telah berubah menjadi identitas politik Otto Iskandardinata.
Namun julukan itu sebenarnya juga menggambarkan situasi politik yang sedang berubah di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mulai menghadapi generasi baru bumiputra yang tidak lagi puas hanya menjadi pegawai atau pelengkap administrasi kolonial. Mereka mulai membangun organisasi, membentuk opini publik, dan memperjuangkan kesadaran kebangsaan.
Otto termasuk salah satu tokoh penting dari generasi tersebut.
Ia memahami bahwa perjuangan membutuhkan organisasi yang kuat. Karena itu, selain aktif di politik, Otto juga terus membangun jaringan pendidikan dan komunikasi publik melalui Paguyuban Pasundan.
Di tengah aktivitasnya yang semakin besar, Otto tetap mempertahankan gaya bicara yang keras dan langsung. Sikap itulah yang membuat banyak rakyat menyukainya. Mereka melihat Otto sebagai tokoh yang berani mengatakan apa yang tidak berani diucapkan banyak orang.
Namun keberanian itu juga membawa konsekuensi.
Semakin besar pengaruh Otto, semakin besar pula perhatian pemerintah kolonial terhadap dirinya. Belanda mulai melihat bahwa tokoh seperti Otto dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas kolonial.
Dan sejak saat itulah, nama Si Jalak Harupat perlahan mulai masuk ke dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.
Kelak, Otto akan melangkah lebih jauh ke panggung politik nasional. Ia akan bertemu dengan tokoh-tokoh besar pergerakan Indonesia, masuk ke lingkaran republik, hingga akhirnya ikut membentuk negara yang baru lahir.
Namun sejarah juga sedang menyiapkan akhir yang tragis untuk dirinya.
Sebab tidak semua tokoh yang membantu melahirkan republik berakhir dengan kemenangan yang tenang. Ada yang justru hilang di tengah kekacauan revolusi.
Dan salah satunya adalah Si Jalak Harupat.*** bersambung ke episode 3
CATATAN SERIAL
Serial “SI JALAK HARUPAT — Otto Iskandardinata dan Republik yang Belum Selesai” merupakan narasi sejarah versi balebandung.com bersama Bale PASCAD untuk menghidupkan kembali memori publik tentang Otto Iskandardinata sebagai tokoh Sunda modern, organisator, komunikator publik, dan salah satu arsitek awal Republik Indonesia.
Serial ini dikembangkan sebagai historical storytelling project yang akan menjadi fondasi pengembangan intellectual property (IP), dokumentasi budaya, dan pengembangan cinematic universe Otto Iskandardinata di masa mendatang.







