Bale Bandung

Jelang Nataru, Barang Bukti Belasan Ribu Miras dan Obat Terlarang Hasil Operasi Pekat Dimusnahkan

×

Jelang Nataru, Barang Bukti Belasan Ribu Miras dan Obat Terlarang Hasil Operasi Pekat Dimusnahkan

Sebarkan artikel ini
Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo saat pemusnahan barang bukti hasil Operasi Pekat Lodaya di Balerame Soreang, Jumat (20/12/24).

BALERAME, Balebandung.com – Jelang libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, Polresta Bandung melaksanakan pemusnahan barang bukti hasil Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) di pelataran Dome Bale Rame Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (20/12/2024).

Kapolresta Bandung Kombes Pol Kusworo Wibowo menyebut yang dimusnahkan antara lain sebanyak 11.500 botol minuman keras (miras), 15.000 butir obat-obatan keras seperti Trihexiphenidyl dan Tramadol, serta 900 knalpot brong.

Barang-barang ini disita selama dua hingga tiga bulan terakhir dalam rangkaian Operasi Pekat yang intensif.

“Tujuan dari pemusnahan ini adalah untuk mencegah libur panjang Natal dan Tahun Baru diwarnai pesta miras, mabuk-mabukan, atau tindakan yang dapat merusak generasi muda,” jelas Kapolresta Bandung.

Pihaknya akan terus berupaya menindak pelanggaran terkait obat keras dan miras agar masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terhindar dari barang-barang terlarang ini.

Kapolresta mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan peredaran miras dan obat-obatan terlarang.  “Kerja sama dari masyarakat sangat kami harapkan. Informasi dari warga menjadi kunci keberhasilan kami dalam menindak pelanggaran di lapangan,” tuturnya.

Terkait sanksi terhadap pelanggaran Perda, Kombes Kusworo menjelaskan adanya rencana revisi aturan yang lebih tegas.

Selama ini, pelanggar Perda hanya dikenai sanksi denda atau kurungan. Namun, dengan revisi aturan, sanksi akan menjadi denda dan kurungan agar memberikan efek jera yang lebih kuat.

“Harapannya, tidak ada lagi penjual miras maupun narkoba yang berani beroperasi di wilayah Kabupaten Bandung,” ucapnya.

Pemusnahan barang bukti ini menjadi bukti komitmen Polresta Bandung untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat jelang Nataru.

“Dengan langkah tegas dan dukungan masyarakat, situasi kondusif selama libur akhir tahun diharapkan dapat terwujud,” jar Kusworo.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – aum awighnam?stu (semoga tiada halangan / semoga selamat) Pupuh DHINGDANG  ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa… *** Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]