KINANTI
Ponggawa sudah berkumpul
tinggi maupun rendah
menghadap Sang Raja
menyebar bawah beringin
Mantri werda jagatsaya
duduk tunduk di muka baginda
Begitu pun Jatiguru
dan semua senapati
Demang Makara yang mashur
tuan Unur yang sakti
dan Rangga Caho
tuan Sirikan pun hadir
Panji Melong yang tersohor
tangan·kanan Sri Narpati
Tumenggung Penghulu Borang
andalan Kanjeng Gusti
menyusul Rangga Sowan
dan mantri-mantri lainnya
Di samping para panglima
duduklah tuan Gelempong
dan Ki Urang Makara
Begitu pun para patih
Anepaken dengan Pitar
Patih Larang Agung Sakti
Tunduk di hadapan Raja
khidmat kepada Baginda
===== HALAMAN 9 =====
Lalu raja bersabda
Wahai, ponggawa dan mantri
pahlawan tanah Sunda
dengarkan agar mengerti
Sekalian tentu maklum
mengapa dipanggil kami
Mesti awas waspada
bersiap sedia
Nanti jika musuh datang
maju serempak taruhkan jiwa
Jangan hitung jumlah musuh
karena lawan sedikit
bukan tanding kita
Tapi mesti tabah hati
bela bangsa dan negara
pikiran terpadu satu
Jangan pandang untung rugi
ingat kewajiban jantan
penuhi darma satria
Gugur di medan perang
berarti mati mulia
mati intisari pati
Cadangan surga agung
mendapat ganjaran tinggi
Tentu semua faham
akan ajaran resi
ganjaran yang gugur perang
bela bangsa dan negara
Pra ponggawa yang berkumpul
serentak memberi sembah
membenarkan sabda gusti
sama seniat sepikir
bertekad bulat
mengamuk ‘taruhkan nyawa
===== HALAMAN 10 =====
Kata para panglima
Tuanku, pujaan kami
tuanku jangan khawatir
semua prajurit Galuh
bertekad mati bersama
akan mengorbankan jiwa
Ketika Ratu mendengar
janji setia panglima
baginda memerintahkan
membagi uang emas
dan pakaian pusaka
bawaan Sang Narpati
Segala milik Ratu
barang aneh dan mahal
yang akan dipamerkan
guna menyenangkan Putri
dikeluarkan semua
dibagikan sama rata
Sudah bulat tekad Ratu
khusuk merenungi asal
Tak tergoda, tak tergoyah
dari ratu hingga hamba
Lenyap niat suka ria
yang tinggal hanyalah maut
Seusai ratu bersabda
seusai membagi-bagi
hadiah dari Sang Raja
lalu sekalian mantri
bubar ‘tuk bersiap·siap
bersedia untuk perang
Para tumenggung sibuk
senapati hilir mudik
memeriksa alat perang
dan pakaian buat jurit
serta kostum kebesaran
segera sudah sedia
===== HALAMAN 11 =====
Berkilap berkilau
kostum para senapati
para mantri, para tanda
sudah siap sedia
ba’ macan menanti singa
semua tampak berani
Sementara yang menanti musuh
alkisah di Majapahit
wadya bala dikerahkan
dari pelbagai jurusan
dari Kahuripan dan Daha
berhimpun di Majapahit
Patih Agung Gajahmada
‘merintah para prajurit
pukul canang pusaka
kumpulkan seisi negeri
canang agung Basantaka
isyarat akan berperang
Suara sang canang agung
tertangkap di mana-mana
timbulkan waswas dan ngeri
Gempar kota Majapahit
para mantri, para tanda
datang membawa prajurit
Berduyun kereta dan kuda
menjerit suara gajah
semua ponggawa siap
memegang senjata perang
Di tapal batas negara
prajurit berdesak-desak
Dalam kota orang resah
begitu pula di pasar
Berbondong di punggung bukit
===== HALAMAN 12 =====
lembah dipenuhi mantri
para mantri dari Daha
Pakaian singsat serasi
wajah membayangkan berani
kostimnya berbinar-binar
yang menjadi senapati
bernama tuan Rajata
cakap mengatur prajurit
Para panglima berkumpul
hadir Lembu Lalawon
pun pula Ken Wirajaksa
dan Tumenggung Wiragati
serta Demang Megantaka
berderet rangga-rangganya
Mantri muda tak tertinggal
pendeknya pada waspada
sebagaimana biasa
prajurit akan berperang
Para mantri Kahuripan
berhimpun siap sedia
Pakaiannya serba bagus
ganjaran dari Narpati
berkembang aneka warna
cerah bagai taman sari
ditimpa cahya mentari
segar semerbak
Apalagi yang jadi pemimpin
senapati dalam perang
bernama Ken Gagah Setra
nampak gagah berani
Ada lagi serombongan
berkostim warna kuning
===== HALAMAN 13 =====
Ningrat agung terbayang dari wajahnya
sikapnya bagai panglirna
Paling ujung mantri werda
Ken Jiwaraga dan Patih
yang disebut Panjang Jiwa
patih yang tangkas
Kaya pengalaman dan ilmu
dan ada lagi yang cakap
Ki Tumenggung Wirandaka
dan Demang Pamanah sakti
Menyusul Rangga Palana
serta Panji Sureng Pati
Yang berkerumun lainnya
kebanyakan para mantri
mantri muda serta rangga
Semua ‘darah prajurit
para muda Kahuripan
serba cakap dan pilihan
Sekarang yang dikisahkan
senapati Majapahit
Termashur gagah perkasa
berani tiada tanding
Patih Agung Gajah Mada
panglirna buana Jawa
Yang memegang panji agung
bendera perlambang diri
serasi dengan namanya
Panjinya digambari
gambar gajah mengamuk
mengamuk ikut perang
Belalainya diangkat ke atas
gambar elok sekali
disulam benang emas
===== HALAMAN 14 =====
silau dipandang mata
Bila ‘kena cahya surya
mengkilat seperti kilat
Kala itu pra pembesar
seantero Majapahit
berkostim kebesaran
Sebagairnana adat
diajari Gajah Mada
cara-cara berperang
Pra senapati berkumpul
patih-patihnya berderet
mantri werda Lembu Werda
Patih Madu serta Gowi
Mento dan Kebo-Bungsang
Teteg Menjung Marga-Leuwih
Arya Tadah, ahli perang
yang tua di medan jurit
dan pra pemuda pilihan
putra Majapahit asli
Pra mantri muda yang gagah
keturunan Singasari
Para rangga talc tertinggal
tindaknya sabar dan manis
nyaman bila dipandang
Setelah usai diperiksa
dicoba cara-caranya
untuk dalam perang kelak
Sesudah perintah terlaksana
pembesar serta prajurit
alat senjata sedia
tinggal berangkat saja
Malamnya tak dikisahkan
maka esok harinya
===== HALAMAN 15 =====
Pagi-pagi bergemuruh
semua bunyian dipukul
bagaikan akan kiamat
Hiruk suara prajurit
beriring-iringan
dari segala jurusan
Kala itu Prabu Tua
begitu pun Prabu Daha
keluar dari keraton
Ba’ mentari kembar terbit
bahkan diiring putranda
pujaan Majapahit
Maha Prabu Hayam Wuruk
tampan lagipula ramah
pakaiannya serba elok
silau pabila dipandang
bisa lumpuh tergila-gila
tak puas ‘mandang Narpati
Cahya terang timbulkan berahi
berahi medal sari
tampan tiada tara
Pria penyebab gandrung
satria bunga impian
pantas layak dipuja
Air muka Maha Prabu
seperti terus berpikir
rindu dan sayang
tetap pada si jelita
Tapi kala itu terhalang
kegembiraan prajurit
Dan gemuruh bunyi-bunyian
tanda akan maju perang
Paling muka wadyabala
===== HALAMAN 16 =====
diringi para tanda
begitu pun para mantri
Menyusul sang Patih Agung
pemuka di Majapahit
Mangkubumi Gajah Mada
kepala semua prajurit
Duduk tinggi di kereta
tampak dari mana-mana
Panji agungnya di depan
memakai bendera kecil
di kepala kereta
Berderet pantas dan cantik
hiasan dari emas
patut kereta perang
Ujung bendera ditaburi
permata berkelip-kelip
Dengan payung kebesaran
payung hitam pinggir kuning
berkilau karena emas
ba’ Maha Prabu Darwati
Di belakang Patih Agung
Sri Baginda Majapahit
menaiki gajah besar
pantas kendaraan ratu
Pakaiannya menyala
menyilaukan mata
Maha Ratu Hayam Wuruk
berbeda dari semua raja
Kostimnya dari wol putih
kalungnya teratai manikam
Di tengahnya ada mirah
nampak merah padam
===== HALAMAN 17 =====
Tambah berbendera di muka
dan panji-panjinya
Sutera putih bergambar
perlambang ratu unggul
disulam dengan benang mas
yang digambarkan hewan laut
Dan memakai payung agung
putih pentolnya manikam
bundar menyala menyilaukan
tampak dari mana-mana
ba’ Batara Kamajaya
baru turun dari langit
Di belakang gajah Ratu
Sang Aji Prabu Daha
naik gajah bertabur mas
nampak berbinar-binar
benderanya sutera kuning
Dan memakai gambar burung
dari emas jelas manis
direka burung dewata
Sang Prabu duduknya cermat
berperisai dada panjang
pinggimya ditutup manikam
Memegang kipas putih elok
tangan sebelah lagi
memegang panah dan busur
panah menyala silau
Bukan sembarang panah
melainkan panah api
Mengecutkan hati musuh
menakutkan yang melihatnya
Di belakang gajah Baginda
berbondong mantri senapati
===== HALAMAN 18 =====
gagah menunggang kuda
pelananya mas digosok
Semua mantri berpayung
bagai jamur baru tumbuh
Berkibar benderanya
tombaknya berderet rapi
Prajurit pilihan yang paling muka
berpakaian serba bagus
Disusul sang Prabu Tua
Ratu negeri Kahuripan
berpakaian serba indah
Kumisnya menambah tampan
sanggul gaplek adikara
mahkota ratna manikam
Bentuk bagai candi agung
cantik dipandang mata
Duduk di atas gajah
gajah dari negeri Bogor
Nama gajah Supratika
pakaiannya kelap kelip
Ditabur permata cemerlang
silau dipandang mata
serasi dengan penunggang
bagai Dewa Sakyamurni
Payung dan benderanya
hitam lebam lebih elok
Pinggir benderanya ‘nyala
karena air mas direka
bagaikan bendera Syiwa
berkibar terhembus angin
Berderet bendera kecil
garnbarnya dibordir merah
===== HALAMAN 19 =====
Dihiasi ditaburi
mutiara mas manikam
bagaikan kunang-kunang
Tombaknya runcing dan tajam
ba’ keris Batara Indra
cemas orang melihatnya
Dari belakang berbondong
pra mantri pengiring
semua menunggang kuda
Dipayungi serba tampan
serta membawa bendera
dikemas lebih indah
Iringan prajurit maju
tidak lama telah sampai
ke padang Wilajanggala
Sedang bala Majapahit
jedah di Pabalantikan
sebagian di Ampel Gading
Dan di Gapura Agung
berkumpul menjadi satu
tempat dipenuhi prajurit
Sang Patih Gajah Mada
segera menghadap Raja
bahwa segala siap sedia
Namun sebelum perang
mohon perkenan Tuanku
untuk mengirim utusan
‘meriksa sekali lagi
Barangkali orang Sunda
ketakutan maju jurit
Bersujud pada Tuanku
mempersembahkan Nyi Putri
Gajah Mada dapat izin
===== HALAMAN 20 =====
lalu memilih petugas
yang patut sampaikan pesan
tidak lama sudah siap
Ki Teteg dan KiMenjung
yang terpilih oleh Patih
diturijuk jadi utusan
membawa seratus bala
Setelah mendapat perintah
meninggalkan Majapahit
PANGKUR
Perjalanan tak dikisah
tinggalkan dulu hal Majapahit
Kini kita ceritakan
orang-orang.Sunda di Bubat
Pra mantri dan tumenggung pesta pora
siang malam bersenang-senang
buat penghabisan kali
Pikirannya sudah bulat
enggan pisah dari Ratu
Nanti di waktu perang
mengamuk habis-habisan
Pangkat rendah dan agung sepakat
karenanya waktu itu
suka ria lebur diri
Jauh dari takut dan susah
wadyabala bagai mabuk
puas makan puas minum
puas tertawa-tawa
Gong berbunyi sampai pagi
siang bunyi-bunyian berganti
malam beramai-ramai lagi
===== HALAMAN 21 =====
Gempar senatero Bubat
Ratu senang melihatnya
Tapi tak banyak cakap
tetap pikirannya
Yang direnung hanyalah hasil perang
suatu waktu Kanjeng Raja
duduk di bawah beringin
Muncullah ki utusan
datang tanpa izin lagi
mendekati Sri Baginda
Katanya, Hai, Ratu Sunda
jangan ragu, akulah utusan Ratu
Majapahit Sri Nalendra
diperintah cepat-cepat
Minta jawaban yang tegas
jika tuan takut mati
lekas berbakti ke Ratu
bersujud serah diri
Cepat persembahkan putri
sekarang Maha Nalendra
meninggalkan Majapahit
Membawa bala melimpah
dan pra senapati sakti
Di dekat Gaputa Agung
berhenti sambil menanti
Sekarang ambillah Nyi Putri Ayu
jangan dilama-lama
kalau-kalau Ratu murka
Jikalau tuan lamban
tak cepat ‘menuhi kehendak Ratu
tuan pasti tutup umur
Dan semua orang Sunda
pasti binasa digempur habis-habisan
===== HALAMAN 22 =====
tak akan menyisa
Sabda Sang Ratu Sunda
Wahai, segenap utusan
alangkah pongahnya kalian
nyawa orang diremehkan
Coba dengarkan
kini pulanglah kalian
tak usah banyak cakap
aku pun mengerti sudah
Sampaikan kepada Raja
aku tidak bemiat
apalagi bersujud
memberikan anakku
bersua pun tak bermaksud
Perihal mengajak perang
siang berani, malam berani
Tak takut seujung rambut
karena sama lelaki
keturunan senapati
Pendeknya cepat sekarang
sarnpaikan kepada Ratu
aku pun sudah siap
berdandan akan berperang
Walaupun balaku kurang
orang Sunda tak takut buang nyawa
perang tak indahkan musuh
Anepaken tak tahan
melihat ulah utusan di depan Ratu
wajahnya merah padam
gigi gemertak sambil gemetar
Tumeqggung Penghulu Borang
lebih marah dari Patih
Mondar-mandir sambil menunjuk
===== HALAMAN 23 =====
pada semua utusan
Hai, utusan kampungan
jangan banyak cakap
sekarang pulanglah segera
Cepat jemput kawan-kawanmu
ingin tahu lekas kami basmi
Mana senapatimu yang kebal
ingin melihat wajahnya
Suruh maju besok ke medan perang
utusan cepat menjawab
Besok semua dibasmi!
Utusan segera mundur
pra mantri Sunda tak acuh
akan utusan yang pulang
Asyik bersenang-senang
walau nafsu bergejolak
Semua tahan marah
malu pada Baginda
Dalam pada itu utusan
menghadap Ratu Majapahit
menyembah, lalu berkata
Tuanku Sri Nalendra
patih dan seratus prajurit
telah sampai ke Bubat
menemui Ratu Sunda
Keputusan Ratu Sunda
tak sudi membaktikan Nyi Puteri
Jika akan digempur
berniat menghadapinya
Siang malam dinanti datangnya musuh
meski bala sedikit
siap mempertaruhkan nyawa
Kemudian ia menceritakan
===== HALAMAN 24 =====
cermat segala pengalamannya
serambut pun tak lewat
Segera Sri Narpati
‘merintah mantri tumenggung
Wahai semua ponggawa
siap sedialah
Gempurlah seisi Bubat
perlihatkan kesaktian perangmu
Ujar Patih Gajah Mada
Wahai, tuanku Nalendra
sabda Ratu patih junjung
sudah matang berunding
dengan para senapati
Namun ampun beribu ampun
moga diperkenankan tuanku
Ada yang patih mohonkan
karena sekarang ini
surya tak lama lagi terbenam
Mohon timbangan Nalendra
bagaimana kalau esok?
Tentu semua prajurit
lebih segar dan kuat berperang
Kini akan diatur
cara mengepung Bubat
dari timur, barat dan selatan
Pasti orang Sunda nanti
tertutup jalan ke luar
Bila tampak sekelibat
pasti disergap prajurit
Tiap orang yang mendengar
ujar Gajah Mada
setuju, malah Sri Baginda
mengangguk tanda sepakat
akan pennohonan Patih
===== HALAMAN 25 =====
Seusai sidang semua pulang
para mantri masuk ke tangsi
Tangsi dibangun mendadak
tidak campur aduk
kelompok senapati masing-masing
Pondok kepala di tengah
dikitari pondok prajurit
Malamnya tak dikisahkan
Esok harinya surya pun terbit
menyala di sela gunung
gemilang cahayanya
Menimpa pakaian para tumenggung
yang berbaris akan perang
berkilau berkelip
Dari arah timur beriring
tentera Ratu Majapahit
Maha Raja Hayarnwuruk
Prajuritnya pilihan
berpakaian bagus, malum prajurit Ratu
ponggawa pengawal Raja
pilihan ahli perang
Berderet-deret bedilnya
tameng mendung ba’ awan putih
Pedang mengkilat berbinar-binar
tertimpa cahya surya
Tombak merah beribu-ribu
narnpak bagaikan hujan
berkumpul bening kecil
Dari barat tampak lagi
prajurit mengiring dua narpati
iringan Prabu Tua
dan Prabu Daha
Di muka iringan mantri tumenggung
pendamping tameng dada
===== HALAMAN 26 =====
yang setia pada Ratu
Di selatan pun tampak
ratus ribu prajurit pilihan
Yangjadi panglima perang
Ki Patih Gajah Mada
Patih Agung tenar jago perang
Duduk tinggi di kereta
didampingi para mantri
Pakaiannya serba elok
serba kuning ditaburi mas permata
menyala ba’ bunga waru
Begitu pula sabuknya
sabuk batik indah sungguh serasi
sewarna dengan baju
nama batik lubeng leuwih
Semua prajurit waspada
di selatan, barat, demikian pula timur
sudah ingin bertarung
Prajurit yang lebih dulu
sudah tiba di Bubat dan sudah siap
Musuh lawan bersiaga
sama-sama berani
Prajurit barahmasara
yang bersenjatakan bedil
maju lebih dulu
menerjang orang Sunda
disertai sorak dan gong tiada henti
Dibalas orang Sunda
dengan sorak lebih nyaring
Dunia bagaikan kiamat
bumi gemetar bagai diguncang gempa
Gemuruh ba’ gunung longsor
karena nyaringnya sorak
===== HALAMAN 27 =====
Tak satu pun prajurit undurkan diri
maju musuh dan lawan
menggelegar suara bedil
DURMA
Di kapal amat banyak orang Sunda
bersiap berjaga-jaga
Dan para awak kapal
memasang meriam
Peluru ‘nyembur bagai penabur
lepas secepat kilat
menghambur ke mana-mana
Semua waspada menanti musuh
bala Majapahit
ditunggu yang paling muka
Para prajurit Sunda
berperang berani dan cermat
tak sembarangan
menurut pedoman perang
Yang luka kena senjata musuh
membalasnya dengan adil
Tak menuruti nafsu
teliti dan tertib
menurut darma prajurit
tingkah satria
perang karena wajib
Pucuk bala Majapahti maju ke tengah
orang Sunda sudah siap
Musuh dan lawan
mulai mainkan senjata
sama-sama berani
Bertempur campur aduk
sama mempertaruhkan jiwa
===== HALAMAN 28 =====
Saling tusuk, saling tetak, saling tombak
saling tendang, saling tampar
Patih Gajah Mada
mempercepat balanya
Prajurit beratus ribu
datang serempak
bagai ombak di pesisir
Ramai sorak gemuruh memenuhi Bubat
bersama suara bedil
serta bunyi-bunyian
Kungkung suara canangnya
mengajak maju jurit
Se-Bubat menjadi gelap
tertutup asap bedil
Meriam berdentam-dentam
peluru menghambur bagai penabur
Pepohonan tumbang
prajurit berserakan
Mayatnya bertumbang tindih
terinjak -injak
prajurit kian berani
Amat banyak orang Sunda yang gugur
yang hidup kian berani
nekad mengamuk
bagai banteng terluka
Dengan darah bercucuran
mengangkat senjata
Bersamaan maju menerjang musuh
prajuti Majapahit
rebah ba’ dilanda banjir
bercerai-berai
Banyak yang mundur dan minggir
bubar tunggang langgang
didesak dikejar
===== HALAMAN 29 =====
Beribu yang mati berserakan
semua mandi darah
Wadyabala Sunda
mendesak makin cepat
Mundur orang Majapahit
sambil bertahan
tapi terus dikejar
Pucuk bala Gajah Mada rusak
serta bermandikan darah
Banyak yang melarikan diri
kabur cerai berai
Para mantri Majapahit
bertindak cepat
melihat anak buah ketakutan
Memerintah maju lagi serentak
sambil bersorak nyaring
Sengit, berperang lagi
sama-sama berani
Tak seorang pun minggir
mayat bergelimpangan
bagai disabet pedang
Di medan sebelah timur
dekat tepi sungai
yang paling sengit
Perang tiada henti
ramai tiada tara
sambil bersorak-sorai
gemuruh mengerikan
Awak kapal terus memasang meriam
menembak dari laut
peluru bagaikan hujan
Pasukan Sri Nalendra
Ratu Agung Majapahit
yang paling depan
===== HALAMAN 30 =====
dekat tepi sungai
Habis sama-sekali dibasmi orang kapal
Mayat bertumpang tindih
dengan badan rusak
Lengan terpisah dari kaki
kepala pecah
banyak orang ditetak pedang
Yang masih hidup meninggalkan Raja
bersembunyi di hutan sukar ditembus
Tak peduli perangkap
tunggul dan batang dilanggar
mencari tempat terlindung
di lembah-lembah
diam bagai trenggiling
Orang Sunda mengamuk habis-habisan
tak sayang hilang nyawa
Serempak maju ke tengah
perang makin sengit
Bersorak senyaring mungkin
sambil tertawa-tawa
menantang perang
Disertai suara dentuman
meriam dan bedil
Peluru bagai hujan
gelap seluruh Bubat
Debu dan asap bedil
memenuhi medan
dan bau amis darah
Berkelebat cahya api bagai kilat
dari laras bedil
Perang makin seru
rapat musuh dan lawan
Maju semua senapati
===== HALAMAN 31 =====
mempercepat pasukan
campur dengan prajurit
Suara kuda ketakutan
gajah menjerit-jerit
jagat bagaikan rebah
Ponggawa dan ningrat
pilihan Majapahit
banyak yang mati
gugur dalam perang
Rangga Caho, Rangga Soan mengangkat pedang
menyemangati prajurit
Rangga Wiramangsa
dan temannya KenJalak
dua panglima Majapahit
maju ke tengah
sambil menantang perang
Bertemu dengan yang mengangkat pedang
Rangga Caho sudah siap
Rangga Soan menantang
Sesudah saling bertanya
lalu sengit perang tanding
musuh dan lawan
sama-sama berani
Sama pandai mainkan pedang
senjata berganti-ganti
Rangga Wiramangsa
lama kelamaan tak kuat
kalah nekat kalah gesit
oleh senapati Sunda
ditetak telah terguling
Orang Sunda yang melihat sorak sorai
Ken Jalak bersiap
Rangga Soan manantang
===== HALAMAN 32 =====
sambil mengangkat pedang
Ken Jalak dipancung
lehemya putus
kepalanya menggelinding
Orang Sunda bersorak tiada henti
seraya menantang perang
menyemangati atasan
Perang semakin seru
prajurit lawan prajurit
Semua ponggawa
Iringan Majapahit
Panas hati melihat kawannya mati
Tak ragu lagi
mencambuk kudanya
sambil menyerbu pasukan maju
Makin seru yang perang
ponggawa lawan ponggawa
sama-sama berani
Pasukan yang demikian tebal
iringan Majapahit
yang maju lebih dulu
membanjiri medan _perang
sekarang makin tipis
Agak jarang
tampak yang memimpin
Orang Sunda repot menghadapi musuh
sudah cuma sedikit
lagipula tak seimbang
banyaknya bala musuh
Malah dikeroyok
dari tiap mazhab
dibanjiri prajurit
Perang sengit berkelompok
===== HALAMAN 33 =====
orang Sunda tak gentar
hatinya sudah ikhlas
Perangnya makin bernafsu
para mantri Majapahit
maju ke tengah medan
bersama prajurit
Patih Gowi Arya Tadah mencarnbuk kuda
dengan Patih Marga Leuwih
mengeroyok Ki Rangga
Kedua pahlawan Sunda
tak sanggup bertahan
kehabisan tenaga
tapi maksakan diri mengejar
Tak lama kedua pahlawan kalah
gugur di medan jurit
Teman-temannya mengejar
lalu memulai
bergantian perang tanding
Musuh dan lawan
yang bersorak makin keras
Patih Madu dan Ken Teteg masuk medan
maju ke medan jurit
mengajak bala
Kebetulan bersua
dengan seorang kepala perang
bangsawan Tanah Sunda
Ki Jatiguru Sakti
Jatiguru senyum menatap musuhnya
katanya,
===== HALAMAN 34 =====
Wahai, ki Patih
yang dahulu
datang ke Tanah Sunda
bersujud pada Narpati
Halus basanya
tak kusangka ‘niat jahat
Padahal kami mengadakan segala
dikira tak busuk hati
Bukankah anda ningrat
tahu akan adat
Tapi tak masuk akal
bertekad demikian
Ilmu apakah yang dianut?
Bila belajar ilmu darma satria
mengapa menempuh jalan pelik
tipu dan khianat
manis di bibir
Setelah tertarik membujuk
manusia apakah itu?
Jika anda berani
Serbulah Tanah Sunda
Tak ayal akan dikejar
kami juga sama
keturunan ah1i perang
Patih Maju terbelalak
mukanya merah
mendengar kata tak enak
Tak tahan mendengar pahlawan Sunda
dituding khianat
Menjawab sambil membentak
Mengapa banyak cakap
menghina rendahkanku
Dikatakan khianat
Aku tak terima
Salahmu datang tak tahu adat
jika ingin hidup
mesti serah diri
seperti raja bawahan
berbakti pada Narpati
Bila enggan pasrah
===== HALAMAN 35 =====
mesti pertaruhkan jiwa
Jawab Jatiguru, Memang aku berniat
menghadapi perang tanding
Kedua-duanya maju ke muka
sama-sama memainkan pedang
Jago menemukan tanding
sama-sama pandai
sama-sama ah1i perang
Saling tetak dengan pedang amat tajam
pandainya yang menangkis
sampai gemerlapan
Perisai berkilat-kilat
terkena pedang perang
bagai berapi
karena kerasnya tetak
Kuda Patih Madu menendang meronjat
melompat berlari miring
sambil mendengus karena takut
Jatiguru cepat
kudanya dipacu
agar mengambil ancang-ancang
Tapi kuda Patih Madu lebih gagah
pantas tunggangan perang
Bila melihat tuannya
diterjang musuh
lalu mengamuk bagai mengerti
seolah ingin membela
Ki Jatiguru gusar
Jatiguru tak mendapat kesempatan sama sekali
terhalang kuda Patih
sampai nyaris terjatuh
Patih Madu lalu
menetak cepat dan keras
===== HALAMAN 36 =====
Ki Jati terjatuh
tapi pedang tertangkis
Ketika bangkit akan naik kuda lagi
ditetak oleh Ki Patih
jatuhlah tamengnya
Dibacok ke dua kalinya
terguling kembali
terkena dadanya
tertusuk pedang patih
Jatiguru tak kuat bangkit lagi
berlumuran darah
Darah bagai pancuran
memancar dari dada
Kemudian jatuh pingsan
sampai wafat
gugur di perang
Meledak sorak sorai ramai
prajurit Majapahit
Panji Melong mengejar
melemparkan tombaknya
diarahkan kepada Patih
Tombak mengelibat
Patih jatuh terguling
Tak cedera hanya jatuh dari kuda
Ken Teteg melihat Patih
terjatuh dari kuda
mengejar akan membela
Melemparkan tombak kecil
kepada yang menombak
Panji Melong terguling
Saat itu lehemya dipancung
pra prajurit sorak sorai
Riuh bunyi-bunyian
===== HALAMAN 37 =====
orang Sunda tunggang langgang
akan memberitahu Prabu
bahwa pemimpin mereka
gugur dalam perang
Kala bala Sunda lari pontang panting
oleh orang Majapahit
dihujani panah
Dalam pada itu Patih Sunda
Anepaken, panglima perang
pemimpin Sunda
diiringi prajurit
Amat gagah berpakaian kebesaran
pantas pemimpin perang
Rumbai-rumbai mengkilap
hitam bagai sayap kumbang
Tampan sukar mencari taranya
kudanya gagah
tunggangan dalam perang
Kuda hitam tinggi pantas kuda pembesar
patut tunggangan Patih
Si Gagak Mayura
nama kuda itu
Bagus karena pilihan
asli dari Bima
sedap dipandang mata
Patih Sunda kala itu sedang berembuk
dengan Larangagung sakti
Sudah sama-sama siap
upacara sedia
memegang payung dan panji
Warna payungnya
sama dengan warna Patih
Hitam lebam begitu pun panjinya
===== HALAMAN 38 =====
sama dengan Ki Patih
cuma tunggangannya beda
Larangagung naik gajah
Kedua senapati itu
di Tanah Sunda
dianggap pilihan dan paling gagah
Tameng Patih gemerlap bertabur permata
pedang diputar-putar
di atas kepalanya bening berkilat-kilat
Tombaknya pun demikian
tajam bercahaya
dilapisi mas permata
Pegang tombak kecil berumbai benang merah
tombak amat bagus
pentolnya emas
gagangnya disalut mas
besar, tajam serta runcing
Pada ujungnya
bening jelas gemilang
Di ujungnya terselip mutiara
Ki Anepaken Patih
di Tanah Sunda
adalah ningrat teragung
Menjadi kepala mantri
kepala perang
tangan kanan Narpati
Anapaken didampingi pra jejaka
pintar-pintar pilihan
Memakai tameng dada
dengan emas bercahaya
dan memegang tombak
tampan dan gagah
putra Sunda tulen
===== HALAMAN 39 =====
Sudah siap pra prajurit dan jejaka
Anepaken memerintah
Ayo, maju serempak
pusatnya kita kepung
pra pengawal Majapahit
Jangan serampangan
hati-hati dan berani
Nun, di selatan berada Ki Gajah Mada
Patih, pemimpin perang
dan pasukannya
yang berbuat jahat
Jangan diberi waktu
kejar halaukan
sampai ke Majapahit
Gajah perkasa tindak para jejaka
malum bala pilihan
maju dengan cepat
Ki Larangagung tampil
ke depan besiap sedia
tak kenai takut
ba’ macan mencium darah
Bagai tombak pasukan Ki Gajah Mada
semua bersiap-siap
mengamati musuh
Ki Larangagung segera
perintah percepat jalan
bagaikan haus
ingin menghisap darah
Larangagung mengamuk ba’ banteng ketaton
prajurit Majapahit
bubar cerai-berai
Yang beriring-iring panjang
bagaikan tembok pasir
di tepi samudra
===== HALAMAN 40 =====
dihantam gelombang keras
Mantri kraton bemaina Kuda Wirada
pilihan Majapahit
dan Ki Wirasalitra
siap menahan serangan
Tapi Larangagung sakti
terus menerjang
tak menghiraukan musuh
Maju ke tengah sambil mengangkat pedang
tanpa pilih besar kecil
Prajurit atau pemimpin
yang kelihatan
dikejar-kejar
Ki Mantri kraton
gugur disabet pedang
Larangagung bukan sembarang senapati
betul-betul pemimpin perang
sungguh hebat
Barang siapa mendekat
tak diberi tempo lagi
pasti mati
leher putus dipancung
Anepaken menyusul memacu kudanya
pedang diputar-putar
di atas kepalanya
sambil mencepatkan pasukan
Cerai berai bala Majapahit
oleh Patih Sunda
yang mengejar mengamuk
Gajah Mada tenang di atas kereta
melihat pasukan minggir
demikian banyaknya
kabur tunggang langgang
Lalu berdiri, dahi berkerut
memandang orang Sunda
yang mengejar mengamuk
===== HALAMAN 41 =====
Timbul nafsu Gajah Mada
gigi gemertak badan gemetar
Erat memegang tombak
menyuruh pegang tombak
pada Ken Enti, kusir kereta
Ken Enti siap sedia
Tak lama kemudian datanglah Anepaken
marah sampai gemetar
di atas kuda
Setelah mengamuk .
memenggal kepala prajurit
kini bertemu
dengan pemimpin perang
Anepaken tersenyum pada Gajah Mada
Gajah Mada membelalak
ujar Patih Sunda
Nah, sekarang bertemu
dengan gembong Majapahit ,
yang membuat onar
dan memutuskan janiji
Aku ingat ketika aku dihina
di hadapan Sang Ratu
kala di paseban
Sekarang terlaksana
anda pun takkanlupa
Mari tuan
bertanding menakar darah
Niat anda membasmi orang Sunda
telah berhasil
kini Sunda hampir habis
mati dengan rela
membela tanah air
Tidak mengapa
lumrah bagi laki-laki
===== HALAMAN 42 =====
Tinggal kita belum menepati janji
belum memutuskan janji
Ayo, Gajah Mada
bila betul-betul jantan
di negara Majapahit
Sekarang turunlah
dari kereta perang
Mari ukur keunggulan panglima Sunda
dan panglima Majapahit
Di sini di bawah
siapa yang lebih kuat
keras tulang liat kulit
Ayo, sekarang
turunlah, tuan Patih!
Gajah Mada terbelalak bermuka merah
waspada sambil gemetar
Wahai, Patih Sunda
sudah, jangan banyak cakap
Aku juga mengerti
memang sudah waktunya
kita pertaruhkan jiwa
Sebenarnya sudah kutunggu
syukur sekarang bersua
Agaknya sudah waktunya
Perlihatkan kegagahan
Siapa yang menang
yang ahli perang
dialah senapati
Ayo maju biar dekat dengan kereta
bila ingin jadi mayat
Anepaken segera
mengitari kereta
akan mempati musuhnya
===== HALAMAN 43 =====
Ki Gajah Mada
sudah siap sedia
Gajah Mada berdiri di atas kereta
Ki Anepaken memilih
papan yang enak
Niatnya akan melompat
tak terduga Ken Enti
tukang kereta
menolong tuannya
Kala Anepaken melompat dari kuda
akan merenggut musuhnya
erat memegang kereta
menusuklah Ken Enti
pada perut Patih
darah Patih Sunda
menyembur ke luar
Berpegang erat sambil menutupi lukanya
sekali lagi melompat
ke atas kereta
akan melawan musuhnya
dengan berlumuran darah
Ki Gajah Mada
lalu menombak dengan bengis
Anepaken jatuh dari kereta
terlempar terjungkir balik
berupaya bangkit lagi
Gajah Mada cepat
menyambutnya dengan tombak
Ki Patih Sunda
roboh tak bangun lagi
Patih Sunda sampai pada ajalnya
gugur di medan perang
Ki larangagung
dikeroyok para mantri
banyak tak terkira
bertahan menghadap lawan
===== HALAMAN 44 =====
Lama kelamaan karena banyak musuh
menyerbu dari segala arah
letih tak tahan lagi
Tapi pikirnya ikhlas
niat mati dalam perang
maksudnya berhasil
wafat bela tanah air
PANGKUR
Sementara itu Ratu Sunda
mendengar kabar dari para menteri
bahwa panglima perang
senapati tanah Sunda
Anepaken dan mantri Larangagung
gugur di medan perang
Raja merasa sebatang kara
Para ponggawa yang gagah
satu demi satu gugur berperang
Barisan dari belakang
semakin jarang
jauh berbeda dengan pasukan musuh
Para mantri, para tanda
yang hidup tinggal sedikit
Ki Jagasatya ki Borang
Demang Caho, Unur, siap sedia
mengamuk, membela Ratu
dan membela negara
ikhlas perang tanpa menghirau musuh
Para prajurit
semua siap waspada
Wadya bala Tanah Sunda
ba’ kapal patah kemudi
===== HALAMAN 45 =====
tali layamya terputus
putus oleh angin taufan
Kapal terkatung-katung di laut
diduga Ratu Sunda
tak mungkin pulang lagi
Tentu karam di samudra
tutup umur menjalani nasib
Maka Ratu memerintah
Wahai, semua tanda
para mantri, siap-siap jangan mundur
Lawan pasukan Daha
dan negara Kahuripan
Mari maju serentak
kerahkan semua prajurit
yang masih hidup
ke sebelah barat
Segera siaplah sudah
Ratu Sunda naik gajah besar tinggi
telah lengkap upacara
lazimnya Ratu berperang
Tak dikisah di jalannya
Musuh pun siap sedia
sorak ditingkah bunyi canang
tanda mencepatkan bala
Pecah perang campur baur
tiada pihak yang mundur
sating tetak, saling tombak
sungguh sama-sama berani
Senapati Gagak Setra
panglima Kahuripan
maju ba’ banteng mengamuk
sambil mencepatkan bala
===== HALAMAN 46 =====
Siap musuh mendekat ditusuk
tak mampu melawan
orang takut melihatnya
Jagatsaya, senapati Sunda
melihat tingkah Gagaksetra
amarahnya berkobar
Lalu cepat mengejar
kala bertemu ke dua senapati bertarung
ditusuk Ki Gagaksetra
roboh tak bangkit lagi
Lalu lehemya dipotong
orang bersorak sambil menantang perang
Jiwaraga mengangkat keris
melihat Gagaksetra tewas
lalu mengejar balas menusuk
Ki Jagatraya Cekatan
lalu menusukl lagi
Kemudian bergelut berguling-guling
saling tusuk sama-sama berani
bermandikan darah
Tarungnya tak lama
keduanya lemas lalu lunglai
bersamaan sampai mati
mayatnya bertindih-tindih
Kawan lawan sorak sorai
amat ramai sama-sama berani
Senapati lawan senapati
ponggawa Kahuripan
banyak yang tewas berperang
Malah mantri kepalanya
gugur dalam perang
===== HALAMAN 47 =====
Oleh gajah Ratu Sunda
Raja Daha dan Kahuripan
kaget panglimanya gugur
pasukannya cerai berai
Melihat-lihat binatang tunggang musuh
berdiri di atas gajah
setelah terlihat jelas
Gajah Ratu Sunda
mengamuk mengejar musuh
Ratu Kahuripan maju
sambil membawa busur
Ratu Daha maju dari belakang
tak lama bertemulah
narpati dengan narpati
Gajahnya terus mengamuk
bagai marah saling tusuk dengan gading
belalai mengacung-acung
Tersenyum Sang Ratu Sunda
menatap Raja Kahuripan
berkata perlahan lembut
Rasanya kebetulan
Dinda Dalem bertemu
dengan Kanda yang dinantikan
semula bemiat baik
akan bersahabat
Tadi besan melaksanakan kehendak
akan menepati janji
di negeri Majapahit
Tapi ada aral melintang
tak beruntung mengikat tali
Begitu kehendak Yang Agung
hanya kita harus pasrah
Raka Prabu meski suka dan rela
===== HALAMAN 48 =====
jika betul ingin bersaudara
buktikanlah sekarang
Mesti semaksud seniat
kawan perang bertanding menakar darah
Siapa terbanyak luka
jangan lancang dan curang
taati pedoman perang
penuhi tugas satria
tepati aturan yuda
Tertawa Sang Kahuripan
bagai riang lalu berkata
Memang betul, Dinda Prabu
seharusnya demikian
Jangan sangka kanda berniat palsu
kanda pun turut aturan
pedoman tugas perang
Sungguh beruntung
bersua di medan perang
berebut nyawa menghitung luka
dan Dinda Ratu Sunda
jangan takut, Dinda Prabu
agaknya kini waktunya
bertanding mainkan senjata
Lalu Ratu Sunda maju
dengan tombak berpentol permata
Rumbainya jelas bercahya
dan pada ujungnya
mutiara jernih menyala
dilemparkan kepada musuhnya
Prabu Kahuripan
Menombaknya cepat beruntun
yang ditombak cekat menangkis
hanya perisainya hancur
tertembus tombak
Pennata serba indah beijatuhan
dari tameng dan tombak
mutiaranya terlepas
Jatuh berserak di tanah
terinjak gajah berperang
===== HALAMAN 49 =====
Sementara Prabu Daha maju
melihat kakaknya perang
bersiap membantu menombak musuh
Sang Ratu Sunda cepat
dikeroyok dua raja
Karena samaa ahli perang
tak lengah, cepat menembak menangkis
tapi Ratu Sunda repot
melawan dua raja
Walau cepat tambah main tusuk
lama kelamaan tak tahan
karena menangkis kanan-kiri
Maha Prabu Kahuripan
makin maju menombaknya hati-hati
Prabu Daha pun maju
membidik menunggu lengah
Kala lengah sedikit Sang Ratu Sunda
oleh Prabu Daha
ditombak lurus dan keras
Dada Ratu Sunda
terkena sampai tembus
Prabu Kahuripan maju
melemparkan tombaknya
Dua tombak menembus badan Ratu
tertelentang Ratu Sunda
tidak bergerak lagi
===== HALAMAN 50 =====
Terlentang di atas gajah
mangkat sesuai dengan surat~
Demikian kehendak Yang Agung
buah hati tanah Sunda
wafat korban jiwa. pada moyang
roh patut naik sorga
Seluruh Bubat menjadi gelap
Langit muxrm, turun hujan rintik
guruh bergemuruh
kilat menyambar-nyambar
Bumi goncang ada gempa tak menentu
cahaya matahari suram
langit terbelah .pelangi
Tanda wafat buah hati
Ratu Agung, kekasih rakyat
Medan perang sunyi senyap
balatentara Tanah Sunda
yang hidup lunglai tak berdaya
Segera memberi tanda
berserah diri
Karena tahu tak berdaya
hilang semangat tinggal sedih prihatin
Layu ba’ anak piatu
ba’ anak ayam tak berinduk
Membungkuk jalan tak tentu arah
kuyup disiram hujan
berlindung di bawah pohon
Sungguh amat sedih
orang Sunda ditinggal Narpati
Hidup di negara orang
tak punya pegangan
===== HALAMAN 51 =====
Ada juga kepala yang masih hidup
yaitu Patih Pitar
patih Sang Rajaputri
Tapi seorang pengecut
malah niat memasrahkan putri
dan pasukan yang masih hidup
serta seisi negara
pada musuh, Maha Prabu Hayam Wuruk
Sebab tak sanggup
mengamuk, takut mati
Pergilah Ki Patih Pitar
menghadap Ratu Majapahit
Maha Prabu Hayam Wuruk
bangkit, terus bertanya
Mari, apa yang akan kau sampaikan?
Patih Pitar membungkuk-bungkuk
bersimpuh di muka Raja
Lalu ia bersembah
air mukanya muram bagai prihatin
Wahai, Tuanku pujaan kami
patih menyerah diri
Mudah-mudahan berkenan
Tuanku melindungi
patih yang hina’ dina
Yang hina, Patih Pi tar
patih putri Citrarasmi
mohon dibiarkan hidup
Berserah jiwa raga
akan setia mengabdi gusti
turut kehendak Nalendra
mengabdi lahir batin
Dan mempersembahkan ponggawa
balatentara sisa perang
dan ·seisi taman bunga
para istri Tanah Sunda
semua yang menyisa
===== HALAMAN 52 =====
Sang Ratu belas kasihan
melihat yang serah diri
Seusai menghadap Raja
Patih Pitar mengundurkan diri
untuk selesaikan urusan
Sementara Prabu Daha
Kahuripan dan Prabu Hayam Wuruk
duduk untuk berunding
di bawah beringin
Dihadapi pra perwira
para mantri bersembah pada Ratu
Wahai, tuanku pujaan
patih semua
ikut sedih sebab banyak panglima
dan prajurit muda-muda
gugur di medan perang
WIRANGRONG
Maha Ratu Majapahit
menunduk dengan air muka lain
Layu tak berdaya
sedih dalam hati
teringat pada tentara
dan tingkahnya sendiri
Menyesal menyambut dengan perang
Kala itu baru terasa
akibat perang besar
Ratus ribu jiwa melayang
tamu habisi tentaranya
balanya sendiri tak menyisa
Maha Patih Majapahit
sedih mengingat yang mati
Ponggawa•pahlawan perang
===== HALAMAN 53 =====
yang pandai mengurus negeri
Ingat pada Ratu Sunda
yang kasih dibalas jahat
Sang Prabu berkata pelan
Demikian kehendak Yang Agung
semua tewas karena perang
Hanya mesti pasrah dan bakti
pada Sang Pencipta Alam
terima dengan rela
Sekarang semua mantri
harus mengurus jenazah
Kumpulkan jenazah pembesar
urus mayat prajurit
Pelihara semestinya
jangan sampai ada yang terlewat
Sekian perihal mengurus mayat
Tersebutlah Ratu Sunda
yang gugur di medan perang
penuhi tugas prajurit
Kini akan diceritakan
yang setia pada Prabu
Setelah wafat Sang Prabu
kelana rimba melapor
langsung pada Permaisuri
bahwa Raja telah mangkat
berpulang ke rakhmatullah
Maka manangislah Permaisuri
disusul oleh Sang Putri
dan para istri pembesar
Begitu pun para dayang
mendadak hujan air mata
karena terlalu sedih
===== HALAMAN 54 =====
Lalu semua wanita
yang iman pada patokan
setia kepada Raja
setia pada suami
gosok badan dan keramas
kenakan pakaian putih
Potong kuku sampai bersih
gigi geligi digosok
Kulit bersih bercahaya
gigi putih ba’ melati
Hati telah tetap
setia kepada Raja
Syahdan Raja Putri
puteri pujaan keraton
bintang Tanah Sunda termashur
makin elok tambah manis
Rambut panjang keriting
bersih sesudah keramas
Terurai menutup pantat
berombak tebal ~au
lengkung bagai awan mendung
Gigi putih bagai melati
matanya tajam bersih
badan ramping semampai
Cantik lagi pula pandai
teguh memegang patokan
berkat banyak pengalaman
berani karena berilmu
tawakal dan tetap iman
taat pada ayah bunda
Tetap tekad Nyi Putri
akan membela Sang Prabu
Mengharap berkah orang tua
===== HALAMAN 55 =====
agar dapat rahmat Tuhan
Yang dipikir dicipta
hanya bela pada bapak
Nyi Putri memegang keris
dipegang sambil dipangku
sudah enggan hidup lama
Keris dilirik lagi
dipegang gagangnya
cuma tinggal tunggu saat
Permaisuri segera
berkata lirih
Neng, biji mata ibu
zimat ibu lahir batin
bila Neng akan setia
ikut roh ramanda
Lebih baik sekarang
menyusul ayahanda Prabu
Jangan banyak yang dinanti
jangan ikut ke medan perang
Biarlah ibu sendiri
mencari jenazah ayah
Bila Neng ikut pergi
ke sana cari jenazah
tentu Neng tidak jadi
Gagal mengikuti ayah
mungkin temui halangan
dicegat musuh kita
Batallah niat neng
tak memenuhi patokan
Menurut pendapat ibu
lebih baik sekarang
pindah alam ikut ayah
mungpung musuh belum datang
===== HALAMAN 56 =====
Nanti bila sudah wafat
bersua dengan ayah
Katakan ibu menyusul
tunggu sebentar lagi
lbu ingin bersama
bertiga naik surga
Yang ibu khawatirkan
jika tak bersama ayah
tentu tak ada pembimbing
di titian ugal-agil
yang condong ke sorga
titian ke alam baqa
Setelah usai permaisuri
menasehati Putri Muda
Nyi Putri merangkul
Diciumi Permaisuri
dicium berkali-kali
karena segera ‘kan berpisah
Puas berkasih-kasihan
dan melepas rindu
bersembah Nyi Putri Galuh
Lalu duduk lunglai
mohon berkah ibunda
dan mohon maaf
Lalu Putri Retnayu
berseru pada Sang Prabu
Ratu Sunda yang tiada
Wahai, rama tunggu dulu
saya, Galuh, ‘kan membela
Akan ikut lahir batin
menepati patokan
menepati kehendak Yang Agung
===== HALAMAN 57 =====
Lalu cepat Nyai putri
mencabut kerisnya
diarahkan pada dada
Sang Puteri menusuk diri
ujung keris menancap dalam
menembus jantung
Rebahlah Retnayu Putri
wafat seketika
berpulang ke alam baqa
Pra wanita yang melihat
laku Putri Muda
banyak yang jatuh lunglai
karena ngeri khawatir
Menjerit memekik
terbaring tak berdaya
Yang tahan hanya Permaisuri
menepati patokan
tebal iman, setia, tetap hati
Sungguh bertekad bulat
lenyap cinta duniawi
niatnya tak menyimpang
Tak lama para wanita
para dayang berkerumun
Ramai menangis tersedu
ngeri bercampur sedih
Gempar isi pasanggrahan
curah hujan air mata
Segera Permaisuri
membersihkan diri, lalu
berpakaian putih elok
Semua istri mantri
sama berniat membela
dan memakai serba putih
===== HALAMAN 58 =====
MASKUMAMBANG
Berkerurnun para istri mantri
yang akan membela
pergi dari pasanggrahan
tertunduk berjalan pelan
Beriring putih bagai bunga alang-alang
Yang paling depan
Permaisuri Raja Sunda
disusul istri kedua
Bernama Paduka Matur
demikian disebutnya
Istri raja dahulu
istri nomor dua
Dari belakang beriring istri pra mantri
memegang senjata
Semua membawa keris
pergi ke medan perang
Mencari jenazah Raja Sunda
Sesudah itu menyusul
wanita seisi puri
para dayang dan lainnya
Tersedu, sebagian menangis pelan
karena sedih
lngat pada nasib diri
mati di pengembaraan
===== HALAMAN 59 =====
Heran pra prajurit Majapahit
tiap orang yang melihat
tingkah semua wanita
yang akan membela
Tiap mantri yang melihat
semua menitik air mata
Menaruh belas dan ikut sedih
pada para istri Sunda
Kebetulan mentari condong ke barat
makin mengharukan
Ba’ melihat para peri
dalam hutan belantara
Berjalan pelan putih beriring
tiap orang yang melihat
tak terasa lagi
titik air matanya
Teringat keriangan pra wanita
tatkala baru datang
‘kan bersolek memestakan Putri
akhirnya dicegat bah’ya
Sampai hati Maha Ratu Majapahit
begitu pintamya
tergoda kata-kata manis
bujuk Gajah Mada
Amat banyak prajurit Majapahit
ikut merasa sedih
ikut sakit, ikut pedih
pada wanita-wanita Tanah Sunda
Para wanita tibalah
di medan perang
Kaget melihat mayat
bertumpuk bertumpang-tindih
Menggunung tumpang tindih ba’ batang pisang
kepala berserakan
Menggenang merah rawa darah
di seluruh medan perang
===== HALAMAN 60 =====
Tak lama ada orang lari arijing
duduk, lalu bersembah
sujud pada kaki Pennaisuri
temyata Patih Pitar
Ujamya Wahai, Gusti Permaisuri
Ratu S1rnda
mudah-mudahan tak murka
patih Pitar, terlambat memberi tahu
Sri Baginda mangkat di medan perang
dengan pra ponggawa
Begitu pun senapati Sunda
sama-sama membela
Semua mantri setia pada Gusti
sama mengorbankan jiwa
Cuma patih yang penakut
tak berani bela negara
Sadar patik cuma patih hina
jadi ejekan orang
tak punya keberanian
nolak satria Sunda
Takut melihat anak panah menghambur
bagaikan hujan
Tak teringat pada Gusti
membela diri pribadi
Ampun Gusti, mohon dimaafkan
karena kebodohan patik
Bukan tak waswas dan tak kasihan
namun hina watak patik
Dengan tangis mewarta pada Permaisuri
seperti orang sedih
karena pengecut
bukan tak mau membela
===== HALAMAN 61 =====
Kata Pennaisuri lembut
Sudahlah, Patih Pitar
sekarang marilah pergi
tunjukkan jenazah Raja
Cepat, kami sudah terlambat
sudah ingin bertemu
akan mengikuti Narpati
ke mana pun perginya
Tak mau berpisah, lahir batin mau ikut
Bersembahlah Ki Pitar
Perkara jenazah Gusti
sudah dipelihara
Diurus patik pribadi
sampai suci
sebagaimana istiadat
mengurus jenazah Raja
Dibaringkan di bawah,pohon itu
dengan semua orang
jenazah satria pra mantri
yang setia pada Raja
Jenazah mantri patik yang atur
menurut pangkatnya
dideret dibariskan
di seberang kaki Nalendra
Ayo, Pitar, ujar Pennaisuri
Pitar jalan Iebih dulu
Lalu berjalan para wanita
mengikuti Patih Pitar
Setiba di bawah pohon
lalu ditemukanlah
jenazah Sang Raja Sunda
dan jenazah pra bangsawan
===== HALAMAN 62 =====
Bertebaran puluhan jenazah mantri
para pembesar Pasundan
Segera Permaisuri
dekati jenazah Raja
Para istri patih dan mantri
sama-sarna melihat
membuka tutup jenazah
suami masing-masing
Permaisuri membuka tutup Baginda
muka jenazah Raja
diusap Permaisuri
ditatap diamat-amati
Diawasi wajah Raja
dan potongan tubuhnya
bersih tak seperti mayat
bagai orang tidur nyenyak
Tampak matanya agak terpejam
gigi-giginya putih
jelas ba’ bunga srigading
lukanya tidak nampak
Sedikit hampir tak kelihatan
bahwa bekas senjata
sesudah teliti Permaisuri
memeriksa badan Raja
Lalu bersujud berseru pada Narpati
Duhai, kanda Nalendra
gusti pujaan hamba
semoga sudi menanti
Hamba ikut lahir batin
enggan bercerai
dengan pujaan hamba
‘kan setia dunia akhirat
===== HALAMAN 63 =====
ASMARANDANA
Segera Permaisuri
bangkit mencabut kerisnya
sungguh tidak takut
Lalu menusuk tangannya pas urat nadi
menyembur darah ke luar
Darah dipakai berkumur
untuk menyucikan badan
Seusai berkumur dengan darah
Permaisuri buka dada
pikiran tertuju pada suami
Sambil meluruskan keris
erat memegang gagangnya
dada jadi sasaran
tepat di ulu hati
Kemudian Permaisuri
menusuk diri sangat dalam
Darah menyembur ke luar
keris tepat kena jantung
Permaisuri rebah
tersungkur di pangkuan Raja
Sudah wafat kembali kepada asal
Patih Pitar jatuh pingsan
melihat darah menyembur
rebah tak bergerak
Oleh istrinya
dengan pembantunya sibuk
menolong yang pingsan
Setelah diperciki air
Pitar bisa bangkit lagi
badan lunglai bagai lesu
Berkata di dalam hati
Terima kasih pada Tuhan
masih diberi hidup
tanda dilindungi
Selama hidup di dunia
barulah sekarang
terkejut hampir mati
tapi syukurlah tertolong
Sementara yang ‘kan membela
istri para pembesar
setelah Pennaisuri wafat
Semua mencabut keris
berseru pada suami
menyatakan cinta hati
‘kan setia dunia akhirat
ngeri mendengarnya
===== HALAMAN 64 =====
Penonton terisak-isak
menangis ikut bersedih
Seusai berseru akan ikut
lalu melukai diri
sesuai bunyi patokan
Setelah berkumur dengan darahnya
terus membuka dada
lalu mengangkat keris
tusuk diri sampai mati
Sehabis membela semua wafat
berpulang ke alam baqa
Jenazah pada bergelung
di pangkuan suaminya
Ramai yang menangisi
terisak tersedu-sedu
tergila-gila pada yang tewas
Patih Pitar sibuk
memelihara jenazah
dirawat baik-baik
===== HALAMAN 65 =====
dideretkan ditutupi
Habis itu Pitar
kumpulkan yang masih hidup
para wanita Tanah Sunda
Dipersembahkan kepada Prabu
Sang Nalendra Majapahit
dianggap barang bakti
pada pemilik negara
tanda pindah mengabdi
Maha Prabu Hayam Wuruk
sangat riang hatinya
Segera Ratu Majapahit
pergi ke pasanggrahan
menemui Putri Muda
air muka cerah riang
ingin lekas bertemu
dengan Putri Galuh elok
bintang negara Tanah Sunda
Hati tertarik cinta
terbawa penasaran
bernafsu ingin Iekas bersua
terbayang rupanya
takkan beda dengan gambar
Ratu terseret nafsu
tergila sebelum temu
Cepat-cepat Maha Prabu
masuk ke pasanggrahan
Sang Prabu mengira
Putri tak ikut membela
tak menyertai ibunya
tentu Putri sedang sedih
niatnya akan dihibur
===== HALAMAN 66 =====
Kala Sang Prabu tiba
menginjak anak tangga
kediaman Sang Putri
ramai terdengar ke luar
suara yang berseru
sebagian menangis tersedu-sedu
seperti sakit hati
Setelah jelas terlihat
bahwa yang menangis dayang
segera Prabu bertanya
pada dayang yang tertua
pengasuh Putri Retnayu
Ujar dayang pada Ratu
Putri ada di pendapa
Maha Ratu Majapahit
terus pergi ke pendopo
Terlihat oleh Sang Prabu
dari kejauhan
ada yang ditutupi
selimut sangatlah indah
sutera hijau sulam emas
Segera didekati Sang Prabu
tutup yang hijau dibuka
jelas Sang Putri Muda
buah hati kembang mata
yang diidam-idarnkan
Sang Ratu Hayam Wuruk
terkejut hatinya
Tak disangka sama sekali
bahwa Putri telah wafat
Sejenak Prabu terdiam
hadapi jenazah Putri
sambil menatap mukanya
Putri bagai sedang tidur
tidur nyenyak sekali
===== HALAMAN 67 =====
Matanya agak terbuka
bibir bagai bergerak
seolah ‘ngajak bicara
giginya putih jelas
menggiurkan yang memandang
Prabu Muda makin sedih
tergila pada yang wafat
Makin ditatap Sang Prabu
makin seperti berkata
Duhai, Gusti Prabu Muda
beginilah akibatnya
yang bertamu ke Jawa
menurut kehendak orang tua
menepati janji
Andai dari kemarin
Gusti periksa ke sini
mungkin hamba masih hidup
Hamba kira tak kan salah
hamba tentu terbawa
Sekarang putus harapan
bagia tercegat bahaya
Di dunia kita gagal
mudah-mudahan kelak
diperkenankan Yang Esa
bertemu di alam baqa
penuhi kehendak ‘rang tua
kita dapat bergaul
tetap tenteram bersama
Takkan ada iri dengki
seperti di alam dunia
begitu kata Sang Putri
Terdengar oleh Sang Raja
yang tergila-gila
Sang Ratu sedih menyesal
===== HALAMAN 68 =====
Lalu rebah terjatuh
tergila pada yang wafat
Gempar semua dayang
pendidik pembimbing Raja
menangis meratap
suaranya gemuruh
mendengung ba’ lebah pindah
Wanita pengiring Ratu
cepat cari air mentah
lekas membasahi
kepala Nalendra
Tak lama Raja bangkit
menangis berseru mengeluh
sambil menyeka air mata
Tanggalkan pakaian Raja
dan segala perhiasan
terus dilepas saja
Blangkon dan selempang
direntangkan Raja
dipakai tutup Ratnayu
karena sangat cintanya
Muka Putri Ratnayu
dibelai oleh Sang Raja
disertai kata kasih
Duhai, buah hati, zimat kanda
mestika peraduan
biji mata buah kalbu
yang manis istri kakanda
Meski dicari kakanda
menjelajah gunung, menuruni lembah
melayari mengarung lautan
ingin bersua hidup
dengan azimat kanda
tentu takkan berhasil
sebab dinda sudah tiada
===== HALAMAN 69 =====
Sang Raja semakin lupa
akan keagungannya
tergila pada Sang Putri
Duhai, dinda kanda sadar
berbuat salah
keliru terburu nafsu
sampai begini jadinya
Duhai, pujaan buah hati
hidup kanda
sama dengan mati
sedih senantiasa
tak mungkin terhibur
Dinda juwita, kanda ikut
ke mana kanda menyusul
Coba tunjukkan
ke mana kanda menyongsong
Jangan lama menanti
ke surga, ke neraka
ke bumi sapatala
kanda ingin ikut
sesuka seduka
Walau berkali-kali menitis
ingin bersama saja
sampai ke alam baqa
agar kita kelak
jadi pokok kisah buah bibir
ucap masyarakat
===== HALAMAN 70 =====
Seusai Sang Prabu
mengutarakan isi hati
kasih pada Nyi Putri
segera menyeka air mata
lalu bersabda
pada mantri yang berkumpul
Wahai, semua mantri, ponggawa
Jenazah Sang Raja Sunda
dan jenazah Permaisurinya
istri yang ke dua pun
sekarang bawa ke mari
terus pelihara
Para mantri cepat
penuhi perintah Raja
Ratu memerintah lagi
bawa bangku gading indah
buat memandikan Raja
Maklum perintah Narpati
sebentar telah sedia
lalu jasad Ratu Sunda
istri-putri dimandikan
Sudah bersih diberi air suci
seperti adat biasa
dan diasap wewangian
wewangian tujuh macam
Tutupnya sutra menyala
dibatiknya lubeng luhung
disulami benang emas.
Dinding kurung batang indah
pinggimya dibatik
sedap bila dipandang
Batiknya giringsing ringgit
dan dihiasi bunga
Usai dihiasi pucuk
dibawa ke pembakaran
Berdesak-desak wanita puri
lengkap pegang upacara
===== HALAMAN 71 =====
sambil menopang sajen
Gemerincing suata genta
bunyi-bunyian pendeta
suara guntangnya halus
ditingkah puji-pujian
Ratu Negara Kehuripan
dan adiknya, Ratu Daha
dan mantri yang masih hidup
mengiringkan mayat Raja
ke lapang pembakaran
Tempat membakamya bagus
tinggi, miring anjungannya
Orang berdesak-desakkan
mengiringkan mayat Raja
Ke pembakaran telah tiba
segera para pendeta
pendeta Siwa-Budha
diminta maju ke depan
menyempurnakan rukun
Seusai para resi
melakukan rukun-rukun
lalu jenazah Sang Prabu
dan mayat kedua istri
dan jenazah Retnaayu
berturut-turut dibakar
gemuruh suara api
Seusai pembakaran selesai
abu mayat ditaruh dalam wadah
Ialu dihanyutkan
seperti adat biasa
dibawa ke laut
Sempumalah mayat Ratu
putri dan ke dua istrinya
===== HALAMAN 72 =====
Lalu mengurus mayat mantri
yang tewas di medan perang
dikumpul sudah berderet
Majapahit dan Sunda
dan mayat yang membela
wanita Sunda yang setia
setia pada suami
Mula mayat para mantri
yang dibakar lebih dulu
lalu yang membela semua
Abunya telah diwadahi
dibawa ke taut
selesai pembakaran
terus semuanya diperiksa
Sesudah usai diperiksa
bala dan alat-alat perang
dipakai ketika ratu
akan pulang ke negara
Setelah tiba waktunya
iring-iringan Ratu
ke luar dari Bubat
Prabu negara Kahuripan
begitu pun Prabu Daha
dua-duanya ‘lah pulang
berpisah dengan putra
Sementara Hayam Wuruk
diiring Patih Pitar
Dan amat banyak wanita
asal tanah Tanah Sunda
yang masih hidup
lringan MahaRaja
yang demikian panjangnya
tampak muram dan murung
tak ada yang gembira
===== HALAMAN 73 =====
Tibanya d Majapahit
malam sedang sunyi sepi
Ratu masuk ke kraton
para mantri sudah bubar
Maka esok harinya
Pitar menghadap Ratu
berbakti pada Raja
Menyerahkan para wanita
bawaan dari Tanah Sunda
kepada Maha Prabu
tanda setia
pindah berbakti
Pitar diganjar Ratu
uang dan pakaian
PUCUNG
Perang sengit tak panjang dikisah
kini akan dibahas
cerita Prabu Anom
tergila-gila pada Putri Tanah Sunda
Setiba Ratu di keraton
tak seperti biasa
kurang makan, kurang minum
kurang tidur, kumpulan pun jarang-jarang
Makin lama penyawatnya makin parah
yang akan menghadap
tak diterima lagi
diam diri sambil selalu mengesah
Pada Retnayu yang akan setia
sampai tutup umur
binasa seisi keraton
susu dibalas air tuba
===== HALAMAN 74 =====
Sang Prabu sangat menyesal
akan perbuatannya
selalu teringat pada putri
hati tak dapat dihibur
Semua ponggawa bingung
tak menemukan obatnya
buat menyembuhkan Prabu
para mantri ikut merasa prihatin
Lambat laun badan Prabu
tak dapat menahan
beratnya bencana hati
agaknya sudah sampai waktunya
Tutup usia tamat riwayat
di bulan Kartika
yang sedang baik saatnya
kebetulan tanggal lima belas
Ratu Hayam Wuruk yang mashur
sudah meninggalkan dunia
mangkat meninggalkan kraton
gempar seisi kerajaan
Bergemuruh dalam kraton
gaduh yang meratap
ingar gempar geger
pra ponggawa menyebar kabar
Orang desa yang dekat, maupun jauh
setelah mendapat warta
segera berdandan
berbondong pergi ke kota
Beriringan yang dari utara selatan
dari barat dan timur
berduka cita pada Ratu
jalannya gugup bagai berlomba
===== HALAMAN 75 =====
Maklum Ratu berbudi dan berilmu
murba berkuasa
di Jawa dan Nusantara
pendapa dipadati pra ponggawa
Setelah para pembesar berkumpul
lalu bersiap-siap
memelihara Sang Ratu
para Ulantri hafal cara-caranya
Serba indah persiapan pembakaran
tinggi anjungannya
peti matinya mengagumkan
tempat tulang tampak menyala
Amat bagus diukir berupa lembu
tanduk menganjur ke atas
ujung menunjuk ke depan
sebelah muka tepat bagai lembu asli
Lembu hitam mulus bagai menyala
setelah mayat Raja
ditutupi baik-baik
ditaruh di tempat yang dihiasi
Menanti waktu akan dibakar
lamanya ditahan
sebulan dan tujuh hari
selamatan dulu menghormati arwah Raja
Gong berbunyi terus dan bunyi-bunyian gemuruh
segala tontonan
seperti wayang wong dan ronggeng
begitu pun penca mainkan senjata
Puluhan rombongan tak terhitung
tujuh macam penca
yang cuma mainkan senjata
lain lagi serimpi bedaya
===== HALAMAN 76 =====
Yang memuja dan berziarah
menghormati yang wafat
tiap hari tak hentinya
gantian membawa bermacam bunga
Letup bedil bercampur dengan guruh
gemuruh yang sorak sorai
berpadu dengan suara gong
yang terdengar tiada henti
Berkerumun para Brahmana berkumpul
membaca puji-pujian
menghormat arwah Sang Prabu
tiap hari dapat upah
Sudah dihitung untung yang akan didapat
oleh pra Brahmana
ongkos bantu suci-sajen
dan bawa debu ke laut
Puluh ribu untung resi berilmu
dan para istrinya
bekerja tekun
itu amat menguntungkan
Istri Resi bekerja sebagai buruh
memuja dan menangisi
turut sedih pada Raja
itu semua diupah
Ratusan menangis tersedu-sedu
bergemuruh tamburnya
di dalam keraton geger
bagai menyongsong hari terakhir
===== HALAMAN 77 =====
Sudah kumpul wanita yang bela Ratu
seribu banyaknya
semua perawan cantik
membersihkan diri secara adat
Setia tabah membela Ratu
niatnya tetap
bagai kepada suami
meski belum digauli
Setelah tiba pada waktunya
mayat dirawatnya cukup
sebulan dan tujuh hari
jenazah diusung ke pembakaran
Usungan jenazah besar dan tinggi
hiasannya indah
sesuai dengan upacara kerajaan
rumbai emas kertasnya gemerlapan
MUJI..
Beriringan ponggawa yang mengikuti
jenazah Sang Prabu
terdepan berderet para wanita
setia membela Ratu
beijalan tertunduk
Di belakang para wanita
kurung batang Ratu
bunga-bungaan menggunung
ngeri melihatnya
gaduh suara bedil
sorak bergemuruh
Sepanjang jalan berdesak
orang-orang yang menonton
orang tua, anak, pria dan wanita
menangis terisak-isak
semua berduka cita
kehilangan Ratu
===== HALAMAN 78 =====
Debu jalan bagai asap bedil
mengatasi pepohonan
menggelapkan pandangan
Yang kedengaran pun
mengharukan, mengerikan
canang tak putus berbunyi
Medan pembakaran mayat
tak lama tampaklah
Yang bersorak kian ramai
begitu pun bunyi-bunyian
Ketika semua sampai
di tempat pembakaran
Usungan Sang Prabu
oleh para pengusung
menurut perintah para resi
dibawa mengitar
sampai tiga kali
tertib dan pelan
Disaksikan para resi
menurut patokan
adapun yang dikitari
Bangunan tinggi tersendiri
bagai jembatan indah
hiasannya bersinar
Setelah tiga kali mengitar
jenazah Sang Prabu
diturunkan dari usungan
Tertib dibawa raja
ditaruh dalam peti
yang akan dibakar
Lalu semua resi maju
menyempumakan mayat
Resi Siwa dan Budha berderet
sebagaimana biasa
===== HALAMAN 79 =====
sama memuja-muji
sebelum membakar
Obor menyala diberkati resi
menurut patokan
setelah selesai resi tak ragu
menyulut tumpukan kayu
tak lama kemudian
api menyala berkobar-kobar
Gemuruh bagai Gunung Merapi
hebat dipandang mata
Yang membela semua siap
sama-sama mencabut keris
menusuk diri
lalu cepat melompat
Ke dalam api membela Ratu
Para penonton tercengang
melihat keberanian wanita
yang setia pada Prabu
perawan serba molek
jumlahnya seribu
Seusai wanita yang seribu
memenuhi patokan
segera datang wanita berbondong
akan membela Sang Prabu
tak sucikan diri dulu
tiada yang dimandikan
Hanya kar’na setia pada Ratu
ingin mengiringi Prabu
bersama melompat ke dalam api
Kaget barang siapa yang lihat
merasa ngeri
seolah semua ‘kan punah
===== HALAMAN 80 =====
Para wanita Majapahit
sama-sama ikut Raja
tetap iman dan tabah hati
tak takut.hilang nyawa
karena sayang
kepada Ratu
Banyak penonton menangis
sebagian terbelalak
lihat tingkah yang membela
Kala itu di Majapahit
amat banyak wanita
musnah jadi abu
Sebab api ba’ lautan menyala
di ngarai yang dalam
Yang masuk segera hangus
maka sesudah mati
si pembakar mayat
tinggal memilih abu
Abu Raja diurus sang resi
menurut patokan
Begitu pun yang membela
diurus seperti biasa
oleh semua resi
yang berkumpul
Brahmana Siwa-Budha memuji
membaca mantra kuna
hapus dosa, Iahir, hidup, mati
Seusainya terus berangkat
membawa abu mayat
ke tengah laut
Menghanyutkan abu Sri Narpati
menurut patokan
dan abu para pembela
===== HALAMAN 81 =====
Setelah usai terus pulang
dan semua mantri
menuju keraton
Para mantri murung sedih
melihat keraton
tampak kosong sunyi senyap
Majapahit sepi hening
pria dan wanita
sedih muram layu
Sejak wafat Sang Prabu
kota bagai kosong
menakutkan seakan selalu
tampak yang telah berpulang
dan banyak orang waswas
sebab tak ada ratu
Suatu waktu datang Prabu Tua
dengan Raja Daha
dihadapi pra pembesar
Para resi ikut hadir
duduk berderet
Setelah semua berkumpul
Prabu Tua bersabda
jelas dan pelan
Dengarkan semua ponggawa
kami datang ke mari
bersama Prabu Daha
berniat mengusut
Tak tahu sebab yang jelas
mengapa Maha Prabu
segera sakit keras
Sungguh tak masuk akal
tanpa ada lantaran
dijenguk sudah repot
Tiada luka, tak tentu yang nyeri
Matanya cekung
badannya bagaikan kapuk
lunglai, kurus nampak mengkal
bagai terluka hati
pedih mengidap bingung
===== HALAMAN 82 =====
SINOM
Pendeta Asmaranata
menyampaikan pada Prabu
tentang asal usul
yang jadi bibit penyakit
Sang Maha Raja
Prabu Muda Hayam Wuruk
Penyebab wafat Baginda
yang diusut olehnya dan para mantri
Begini kata Pendeta
Wahai, Paduka Tuanku
salah tidak disampaikan
Perkara putranda Gusti
menderita sakit kalbu
Diterjang panah asmara
sedih tak berujung
tiada obat mujarab
tergila pada Putri
Tuanku lebih maklum
ketika gambar Nyi Putri
yang dilukis Prabangkara
diterima putranda Prabu
dilihat dan dicipta
dipangku dan dirayu
wajahnya cerah
Putranda riang gembira
karena cocok dengan kalbu
===== HALAMAN 83 =====
Apalagi kala utusan
melaporkan Raja Putri
‘kan datang dengan ayahnya
sudi jadi permaisuri
senangnya putranda
bagai kebanjiran madu
Terutama sekali
kala Ratu Sunda tiba
dengan Putri bermalam di Bubat
Suka cita Rajaputra
tak terkatakan lagi
segar melebihi bunga mekar
nyaman dipandang mata
Patik sekalian
ikut senang niat nazar
bahkan ingin cepat
jemput calon Permaisuri
ingin tahu Sang Putri tanah Pasundan
Keriangan senegara
dibendung satu manusia
yaitu Gajah Mada
Menguraikan lagi politik
semua yang tertawa
terhenti, berubah keruh
akhirnya meratap
Sampai tega jiwa
Putra Tuanku gering, lalu mangkat
Sekian yang dijumpai
dan disaksikan patik
yang menyebabkan bahaya
bagi Sri Narpati
sampai pada takdirnya
tutup usia Sang Prabu
Namun patik mohon ampun
===== HALAMAN 84 =====
terserah pada Tuanku
dan pada Tuanku Prabu Daha
Maha Prabu Kahuripan
sesaat tidak bersabda
diam sarnbil memikirkan
laporan para resi
Para mantri menyaksikan
segala yang dilaporkan
nyata tiada salah
Prabu Daha ikut sedih
tunduk murung diam diri
Lalu melirik ke kanda
Maha Raja Kahuripan
Sang Prabu Daha melihat
bahwa kakandanya gusar
Badannya gemetar
muka merah mata menyala
murka pada Gajah Mada
yang menggegerkan negara
dan penyebab wafat putra
Prabu Daha bersabda
yang menjadi sebab wafat
dinda rasa Gajah Mada
sudah pantas dihukum mati
menggegerkan negara
rintangi kehendak Ratu
punah puluh ribu jiwa
termasuk wafat Ratu
Kanda Prabu ikut rugi
Andai tak beruntung .
kala sengit perang tanding
Kanda Prabu juga wafat
demikian pula dinda
Rasanya tak pantas
===== HALAMAN 85 =====
Ratu wafat, Patih hidup
Bagaimana kalau fitnah
dengki pada Narpati
tak patut tingkah Patih begitu
Maha Prabu Kahuripan
murka sambil bersabda
Betul, rasanya sudah patut
dijatuhi hukum mati
Dinda, silakan
kepung Patih Gajah Mada
lalu terus bunuh
Semua ponggawa saksikan
setelah sepakat para mantri-ponggawa
Segera bersiap-siap
mengumpulkan pra prajurit
Canang pusaka dipukul
pusaka azimat negara
gempar seluruh Majapahit
dengar bunyi canang tiada henti
Jelas, Ki Basantaka
dipukul mantri tak putus
yang mendengar segera ambil senjata
Bersama beriring-iring
orang dari mana-mana
bersiap ba’ akan perang
masuk ke ibu kota
Semua ponggawa-mantri
berdandan terus berkumpul
berkerumun di lapangan
siap bereskan barisan
diatur sepanji-panjinya
Prajurit datang mendadak
simpang siur kiri kanan
mencari kepalanya
===== HALAMAN 86 =====
Setelah beres, diperiksa
para mantri berunding
akan mengepung Ki Patih
Syahdan esok harinya
gemuruh suara bedil
sorak sorai seolah maju berperang
Tak henti canang berbunyi
tanda pasukan berangkat
lalu semua pnijurit
menyergap keraton Patih
Tanpa ragu-ragu lagi
tembok tinggi dibongkar
pagar-pagar didobrak
Kaget pegawai Ki Patih
menjerit melolong, meratap
Mereka lari tunggang-langgang
takut pada prajurit
Gubuk mereka tinggalkan
yang tinggal sujud menangis
mohon dikasihani
mengesah jangan dibunuh
Tapi Ki Lembu Muksa
begitu julukan Patih
Gajah Mada, titisan Wisnu Batara
Dari awal sudah tahu
saat aial telah tiba
akhir riwayat di dunia
berniat akan menghilang
pulang ke tempat suci
ke surga agung
surga Hariloka
Siap membersihkan diri
lazimnya orang menghilang
Pakai dodot sutra putih
===== HALAMAN 87 =====
hiasannya lebih elok
cocok dengan pemakainya
karena Wisnu sejati
sungguh Dewa pilihan
Di celana batik bagus
giringsing udayana
nampak lebih tampan
pakai sabuk indah atmaraka
Pegang tasbih ginatria
dan mawar sambil memuja
Berdiri di halaman
mengepal erat membaca ilmu gaib
Hilanglah Gajah Mada
pulang ke asal semula
lenyap dengan raganya
tidak yang menyisa
raga sukma masuk kesempurnaan
Syahdan para istrinya
sama merasa prihatin
berniat membela suami
ikut ke alam gaib
lekas membersihkan diri
mengenakan serba putih
bulat tekad cabut keris
semua menusuk diri
Mayatnya bergelimpangan
ngeri melihatnya
Menurut cerita orang
sekalian istri Patih
yang sama-sama membela
batal tak sampai maksud
sebab semua tersesat
tak temukan pelita hati
telusuri jalan neraka
===== HALAMAN 88 =====
Tunda dulu kisah yang wafat
Mereka yang mencari Patih
memeriksa tiap kamar
dan tempat-tempat tersembunyi
di belakang dan di samping
pondok dan gubuk-gubuk
terus diperiksa teliti
di kebun dan di pohon
tapi tak ditemukan juga
Dicari di huma-huma
di lembah, di bukit-bukit
di tepi-tepi sungai
di gunung dan di pesisir
Gua tempat tapa resi
tiada yang terlampaui
tak ditemukan juga
seluruh Majapahit
sampai ke luar negara
Tunda yang sedang mencari
‘kan dikisahkan prajurit
yang menyerbu kepatihan
merampas barang Ki Patih
Apa yang ditemukan
diambil diangkut semua
dibawa ke rumahnya
dianggap sebagai milik
Harta benda Gajah Mada
menyamai para raja
Sungguh Patih paling kaya
luas tanah, banyak uang
Begitu pun emas intan
menggunung tidak terbilang
Di kala itu tersohor
===== HALAMAN 89 =====
Patih Agung kaya raya
sangat gagah, kaya harta, kaya ilmu
Semua raja takut
pada Patih Gajah Mada
maklum turunan Batara
sakti perkasa
Tamat riwayat Patih
habislah ceritanya
cuma tinggal nama harum
termashur ke mana-mana
Gajah Mada kembali ke tempat dewa
Dalam pada itu Ratu Kahuripan
dan dindanya, Ratu Daha
pemeluk agama Siwa
dan Budha zaman dahulu
Merasa bingung sekali
wajahnya muram kecewa
tergila pada putranda
yang telah pulang ke asal
hati pilu teringat pada yang hilang
Tercipta dan terbayang
Ratu Muda Majapahit
disembah dan dipuji
para ratu luar negeri
Maka kedua Raja
minta diri pada pra pembesar
pulang ke negaranya
Yang satu ke Daha
satu lagi ke Janggala, Kahuripan
===== HALAMAN 90 =====
DANGDANGGULA
Kidung Sunda cerita dahulu
hari Senin selesai ditulis
pada pasaran Keliwon
wukunya Kuruwelut
tanggal tujuh awal bulan
kebetulan bulan Magha
bulan kesepuluh
dalam hitungan Saka
tepat seribu delapan ratus
Mohon beribu maaf!
TAMAT







