Bale Bandung

Kidung Sundayana: Saat Orang Sunda Menyerbu ke Arah Gajah Mada

×

Kidung Sundayana: Saat Orang Sunda Menyerbu ke Arah Gajah Mada

Sebarkan artikel ini

BALEBANDUNG.COM – aum awighnamastu (semoga tiada halangan / semoga selamat)

Pupuh DHINGDANG 

ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…
maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa…

***

Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Naskah ini tidak hanya mencatat kekalahan. Ia menyimpan kemarahan, kehormatan, dan arah tuduhan: Gajah Mada.

Kidung Sundayana bukan catatan dingin tentang Perang Bubat. Ia adalah naskah sastra Jawa Pertengahan yang menyimpan luka politik dalam bentuk tembang. Naskahnya dikenal dari tradisi Bali, pengarangnya tidak diketahui, dan kisahnya berpusat pada perjalanan rombongan Sunda ke Majapahit sampai pecahnya perang di Bubat.

Naskah ditulis di atas daun lontar, berukuran panjang sekitar 35 sentimeter, lebar 3,5 sentimeter, terdiri dari 70 lembar, dan berasal dari Selat-kawan, Klungkung. Teksnya ditulis dalam aksara Bali dan memakai bahasa Jawa Pertengahan/Kawi. Ia menunjukkan bahwa luka Bubat tidak hanya hidup dalam ingatan Sunda, tetapi juga dalam tradisi sastra Jawa-Bali.

Di dalam naskah ini, orang Sunda tidak tampil sebagai rombongan yang datang meminta belas kasihan. Mereka datang sebagai keluarga kerajaan. Mereka membawa putri raja untuk perkawinan agung. Tetapi di Majapahit, kedatangan itu dibaca dengan cara lain: bukan sebagai hubungan setara dua kerajaan, melainkan sebagai tanda tunduk. Dari salah baca yang disengaja itulah Bubat menjadi perang.

Artinya, Kidung Sundayana bukan teks Sunda dalam arti bahasa. Tetapi isi dan simpati naratifnya kuat mengarah kepada pihak Sunda. Ia menyimpan ingatan tentang Bubat dari luar Sunda, tetapi tidak menjadikan Sunda sebagai pihak yang hina. Justru sebaliknya: naskah ini memberi ruang bagi kehormatan orang Sunda di medan perang.

Salah satu bagian paling penting dalam Kidung Sundayana muncul ketika barisan Sunda sudah dihantam pasukan Majapahit. Teks itu menyebut:

bubar wong Su??a mangke
orang Sunda kini tercerai-berai

Kalimat ini sering bisa disalahpahami. “Bubar” terdengar seperti kabur. Seperti pasukan yang kehilangan nyali. Tetapi kelanjutan adegan justru memperlihatkan hal sebaliknya: orang Sunda tercerai karena banyak yang gugur dan dihujani panah. Sisa yang masih hidup bergerak menuju raja. Mereka tidak sedang melarikan diri dari kehormatan; mereka sedang merapat kepada pusat kehormatan itu.

Dalam alih-baca kerja dari halaman 45B/46A, bagian itu berlanjut kira-kira begini:

?e?aning pejah padha mengsi n?pati
sisa yang belum gugur sama-sama menuju sang raja

Lalu:

tinut ing ngudanan ?ara
mereka diikuti/dihujani anak panah

Adegan ini penting. Kidung Sundayana tidak menggambarkan Sunda sebagai pihak yang kocar kacir karena takut. Mereka pecah karena dihujani maut. Setelah banyak yang mati, sisa pasukan masih mencari rajanya.

Di sinilah kehormatan Sunda bekerja: ketika barisan hancur, pusat yang dicari bukan jalan pulang, melainkan raja.

Anepaken dan Larang Agung Muncul di Tengah Pecahnya Barisan

Setelah menyebut barisan Sunda yang tercerai, naskah menghadirkan tokoh-tokoh perang. Salah satunya adalah patih Sunda, yang terbaca sebagai Anepaken atau Asepaken dalam beberapa alih-baca. Ia digambarkan berada di atas kuda. Ada pula Larang Agung, yang tampil di atas gajah.

Fragmen alih-baca kerjanya:

sira kryan apatih, adining Su??a Asepaken kaky?ti
dialah sang patih, utama Sunda, Asepaken yang termasyhur

Lalu tentang tunggangannya:

munggwing kuda
berada di atas kuda

Dan tentang Larang Agung:

kalih Ken Larang Agung, humunggwing liman
bersamanya Ken Larang Agung, berada di atas gajah

Ini bukan detail kecil. Kuda, gajah, patih, dan tokoh bangsawan menunjukkan bahwa perang dalam Kidung Sundayana masih dibingkai sebagai perang kerajaan. Orang Sunda tidak digambarkan sebagai gerombolan yang tercerai tanpa bentuk. Mereka masih membawa struktur, pemimpin, dan simbol kebesaran. Mereka sudah dikepung, tetapi belum kehilangan tata.

Kuda dalam adegan perang bangsawan bukan sekadar alat tunggang. Ia menandai status, kesiapan, dan tata militer. Patih Sunda masih berada dalam posisi pemimpin. Barisan boleh pecah, tetapi struktur kehormatan belum hancur.

Serangan Diarahkan ke Tempat Patih Majapahit

Bagian yang paling keras muncul ketika pasukan Sunda diarahkan maju. Dalam halaman lanjutan 46B/47A, Patih Sunda menyerukan agar pasukannya bergerak menuju tempat Patih Majapahit.

Fragmen alih-baca kerjanya:

balanira tinarik lumajwing ngarsa
pasukannya ditarik maju ke depan

Lalu perintahnya:

mene padha rowang kidul mangke
sekarang, kawan-kawan, bergeraklah ke selatan

Dan bagian kuncinya:

kang den ungsi ring yonggwanika apatih Majapahit
yang dituju adalah tempat Patih Majapahit

Dalam Kidung Sundayana, kemarahan Sunda punya alamat. Mereka tidak sekadar menyerang pasukan Jawa secara acak. Mereka menuju tempat Patih Majapahit. Dalam konteks Bubat, patih itu adalah Gajah Mada, figur politik yang dianggap bertanggung jawab atas penghinaan itu.

Maka naskah ini memberi kita arah tuduhan yang jelas: bagi ingatan Kidung Sundayana, sumber penghinaan bukan hanya “Majapahit” sebagai kerajaan besar, melainkan figur politik yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan.

Gajah Mada berdiri di pusat perkara.

Di sini Kidung Sundayana menjadi tajam: perang bukan hanya benturan senjata, tetapi pencarian terhadap sumber perkara.

Bubat Bukan Sekadar Kekalahan

Setelah itu, perang digambarkan keras. Ada pasukan yang maju, ada yang hancur, ada mayat, ada kekacauan medan. Fragmen yang terbaca menyebut:

rusak wadwa Jawa akeh kac?r?an
pasukan Jawa rusak; banyak yang hancur

Ini juga penting. Kidung Sundayana tidak membuat perang itu satu arah sejak awal. Orang Sunda memang akhirnya kalah, tetapi bukan tanpa perlawanan. Mereka sempat menghantam pasukan Jawa/Majapahit. Mereka tidak mati sebagai rombongan pasif. Mereka mati sebagai pihak yang melawan.

Di sinilah naskah ini kuat: ia tidak menulis Sunda sebagai korban yang diam. Ia menulis Sunda sebagai korban yang menggugat dengan senjata.

Larang Agung di atas gajah

Selain Anepaken/Asepaken, naskah juga menyebut Larang Agung. Ia digambarkan berada di atas gajah:

kalih Ken Larang Agung, humunggwing liman
bersamanya Ken Larang Agung, berada di atas gajah

Gajah dalam sastra perang lama adalah lambang kebesaran dan kekuatan. Kehadiran Larang Agung di atas gajah menunjukkan bahwa rombongan Sunda masih dipotret dalam tata kerajaan. Mereka bukan rombongan kecil tanpa martabat. Mereka membawa simbol-simbol perang bangsawan.

Adegan ini juga menegaskan bahwa Kidung Sundayana tidak memiskinkan Sunda sebagai korban pasif. Bahkan ketika kalah jumlah dan terjepit, tokoh-tokoh Sunda masih digambarkan dengan perangkat kebesaran: kuda, gajah, panji, payung, tameng, pedang, dan tombak.

Dengan kata lain, kekalahan Sunda dalam naskah ini bukan kekalahan martabat. Mereka kalah secara militer, tetapi tidak direndahkan secara moral.

“Bajah Mada” dan Nada Penghinaan

Dalam bagian yang sama, teks juga menyebut bentuk Bajah Mada, yang jelas merujuk kepada Gajah Mada. Penyebutan ini muncul dalam suasana perang dan seruan menyerbu. Nada teksnya bukan netral. Ia membawa kemarahan.

Memang, bagian ini perlu dibaca hati-hati karena teks yang tersedia berupa aksara Bali dan alih-baca digitalnya tidak selalu bersih. Tetapi konteks naratifnya terang: Gajah Mada tidak tampil sebagai tokoh agung yang dimuliakan. Ia tampil sebagai sasaran kemarahan pihak Sunda.

Ini membedakan Kidung Sundayana dari narasi yang terlalu memuja Gajah Mada. Dalam naskah ini, kebesaran Gajah Mada retak. Ia bukan pemersatu yang bersih dari darah, melainkan patih yang keputusannya menyeret rombongan Sunda ke perang.

Pasukan Jawa Juga Babak Belur

Kidung Sundayana tidak menggambarkan perang sebagai pembantaian satu arah sejak awal. Ada bagian yang menyebut pasukan Jawa babak belur dan banyak yang hancur:

rusak wadwa Jawa akeh kac?r?an
pasukan Jawa rusak; banyak yang hancur

Fragmen ini penting karena menunjukkan perlawanan Sunda tidak kecil. Mereka memang akhirnya binasa, tetapi sebelum itu mereka memberi pukulan. Mereka bukan korban yang diam.

Di sinilah naskah ini memberi kehormatan terakhir kepada Sunda: kalah, tetapi melawan; hancur, tetapi tidak tunduk; mati, tetapi masih sempat mengguncang lawan.

Kidung Sundayana dan Tafsir atas Bubat

Dari fragmen-fragmen di atas, Kidung Sundayana membangun Bubat dalam tiga lapis.

Pertama, lapis kehancuran. Orang Sunda pecah, banyak yang gugur, dihujani panah, dan terdesak di medan perang.

Kedua, lapis kehormatan. Sisa pasukan masih menuju raja. Patih Sunda masih tampil. Larang Agung masih digambarkan di atas gajah. Simbol kerajaan masih hadir.

Ketiga, lapis tuduhan. Serangan diarahkan ke tempat Patih Majapahit. Gajah Mada, dalam bentuk Bajah Mada, muncul sebagai alamat kemarahan.

Tiga lapis ini membuat Kidung Sundayana tidak bisa dibaca sebagai cerita kekalahan biasa. Ia adalah kisah tentang kehormatan yang diserang, lalu membalas sampai titik terakhir.

Bukan Kisah Sunda Meminta Pesta

Yang juga penting: dari bagian perang dalam Kidung Sundayana, tidak tampak citra orang Sunda sebagai rombongan yang datang untuk minta pesta atau kemewahan. Yang muncul justru rombongan kerajaan yang menjaga tata kehormatan, lalu terlempar ke medan perang karena relasi politik dirusak.

Jika ada pihak yang membaca tuntutan kehormatan sebagai tuntutan pesta, itu adalah pembacaan yang merendahkan. Kidung Sundayana tidak memberi bahan untuk mengejek Sunda sebagai pihak yang rewel soal perayaan. Naskah ini memberi gambar yang jauh lebih serius: orang Sunda mati dalam perang karena martabat mereka ditolak.

Bubat dalam Kidung Sundayana bukan soal pesta. Bubat adalah soal harga diri kerajaan.

Perjamuan Terakhir, Bukan Pesta Pora

Dalam Kidung Sunda, kisah Bubat memperoleh lapisan batin yang lebih kuat di malam sebelum pertempuran. Ada suasana perjamuan, makan-minum, berhias, dan pembagian harta benda bawaan rombongan pengantin Sunda. Di permukaan, adegan itu bisa disebut pesta. Tetapi jika dibaca bersama konteks perang yang sudah mendekat, maknanya berubah.

Ketika harta benda bawaan dibagikan oleh raja kepada pengikutnya, itu bukan gestur orang yang sedang bersenang-senang. Itu gestur orang yang tahu bahwa harta tidak akan dibawa pulang.

Itu penutupan urusan duniawi. Pemberian terakhir raja kepada orang-orangnya. Pengikat kesetiaan sebelum mati bersama. Ritual kehormatan sebelum kematian. Itu perjamuan terakhir.

Mereka makan, minum, berhias, dan menjaga tata kerajaan bukan karena lalai menghadapi bahaya. Mereka melakukannya karena sadar bahwa bahaya sudah tidak bisa dielakkan. Ketika jalan pulang tertutup, yang bisa dipertahankan tinggal martabat.

Maka yang oleh mata Majapahit mungkin disebut pesta, oleh orang Sunda adalah upacara terakhir kehormatan.

Perang yang Tidak Menghapus Sunda

Bubat memang berakhir dengan kehancuran rombongan Sunda. Pararaton menggambarkan darah seperti lautan dan mayat seperti gunung. Kidung Sundayana memperlihatkan barisan yang pecah, panah yang menghujani, dan pasukan yang tetap menyerbu ke arah patih Majapahit. Tetapi sejarah Sunda tidak berhenti di Bubat.

Justru dari luka itu, muncul bab penting berikutnya: Niskala Wastu Kancana, anak Prabu Linggabuana atau Prabu Wangi. Dalam tradisi Carita Parahyangan, ia dikenang sebagai putra Prabu Wangi yang kelak menjadi raja besar. Bubat membunuh ayahnya, tetapi tidak memadamkan garis kerajaan Sunda.

Di sini tragedi memperoleh jawaban sejarah. Gajah Mada boleh menumpahkan darah di Bubat. Tetapi ia gagal memadamkan Sunda. Anak yang ditinggalkan tragedi itu kelak tumbuh dalam asuhan Bunisora dan menjadi raja yang dikenang karena tata, kebajikan, dan ketertiban.

Bubat menghancurkan rombongan pengantin. Tetapi Bubat tidak menghancurkan martabat Sunda.

Dakwaan untuk Gajah Mada

Dalam sejarah resmi yang sering diajarkan, Gajah Mada berdiri sebagai mahapatih besar, pemersatu Nusantara, pelaksana Sumpah Palapa. Tetapi Bubat memperlihatkan sisi gelap dari ambisi itu. Persatuan yang dipaksakan dapat berubah menjadi penghinaan. Politik penyatuan dapat berubah menjadi pembantaian. Nama besar dapat berdiri di atas darah orang lain.

Dalam perkara Bubat, dakwaan terhadap Gajah Mada terang.

Ia bersalah karena mengubah perkawinan kerajaan menjadi penaklukan politik.

Ia bersalah karena menolak tata kehormatan Sunda.

Ia bersalah karena memosisikan putri raja sebagai tanda tunduk.

Ia bersalah karena membaca martabat sebagai pembangkangan.

Ia bersalah karena membawa diplomasi ke medan kematian.

Dan Kidung Sundayana memberi satu detail yang menusuk: ketika sisa pasukan Sunda masih mampu bergerak, mereka menuju tempat Patih Majapahit. Mereka tahu ke mana amarah harus diarahkan.

Ke Gajah Mada.

Penutup: Bubat adalah Perang Martabat

Perang Bubat bukan sekadar bentrokan dua rombongan. Ia bukan kecelakaan protokoler. Ia bukan tragedi karena Sunda meminta pesta. Ia adalah perang martabat yang lahir dari ketamakan politik.

Sunda datang untuk perkawinan kerajaan. Gajah Mada menghendaki penaklukan.

Sunda menuntut tata kehormatan. Gajah Mada menuntut tanda tunduk.

Sunda membawa putri raja. Gajah Mada hendak menjadikannya persembahan.

Di antara dua kehendak itulah darah tumpah di Bubat.

Pararaton mencatatnya pendek. Carita Parahyangan menyisakannya sebagai ingatan. Kidung Sunda memberi tubuh tragisnya. Dan Kidung Sundayana memperlihatkan medan perang: orang Sunda yang pecah karena dihujani maut, tetapi masih bergerak, masih menyerbu, masih mengarahkan kemarahan kepada sumber penghinaan.

Bubat, pada akhirnya, bukan kisah tentang Sunda yang kalah meminta pesta.

Bubat adalah kisah tentang Sunda yang mati mempertahankan martabat.

Dan dalam kisah itu, dakwaannya tetap sama: Gajah Mada bersalah.***

* Alur Sesuai Kidung

aum awighnam?stu (semoga tiada halangan / semoga selamat)

pupu? dhi?dha?
pupuh Dhingdhang

ndan kawa??na h? sang ?r? narendra haneng wilatik?a nagari han?ma ?r? hayamuruk prabhu subala…
maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa…


1. Pembukaan: Hayam Wuruk Raja Wilwatikta

Bagian awal naskah memperkenalkan Sri Hayam Wuruk sebagai Raja Wilwatikta/Majapahit. Ia digambarkan sebagai raja besar, tampan, perkasa, dan disukai rakyat.

Kutipan pembuka yang bisa dipakai:

haneng wilatik?a nagari han?ma ?r? hayamuruk
berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk

Fungsi bagian ini:

  • memperkenalkan pusat cerita: Majapahit/Wilwatikta;
  • menempatkan Hayam Wuruk sebagai raja besar;
  • membuka jalan ke kisah perkawinan dengan Putri Sunda.

2. Keinginan Hayam Wuruk Mencari Permaisuri

Cerita bergerak ke keinginan raja untuk memperoleh pasangan/permaisuri. Dalam alur Kidung Sundayana, inilah pintu masuk menuju Sunda.

Fungsi bagian ini:

  • memperkenalkan pusat cerita: Majapahit/Wilwatikta;
  • menempatkan Hayam Wuruk sebagai raja besar;
  • membuka jalan ke kisah perkawinan dengan putri Sunda.

3. Rombongan Sunda Menuju Majapahit

Bagian berikutnya mengisahkan kedatangan pihak Sunda. Inilah inti awal tragedi: rombongan Sunda datang bukan sebagai pasukan penakluk, melainkan dalam konteks perkawinan kerajaan.

Isi pokok:

  • Raja Sunda berangkat atau mengirim/menyertai rombongan.
  • Putri Sunda dibawa menuju Majapahit.
  • Rombongan datang dengan tata kerajaan.
  • Mereka bukan rombongan kecil tanpa martabat.

4. Konflik: Status Putri Sunda

Bagian konflik berkisar pada status Putri Sunda. Ini inti politik Bubat: apakah putri datang sebagai calon permaisuri dalam perkawinan setara, atau sebagai tanda tunduk/persembahan?

Dalam Kidung Sundayana, konflik itu kemudian mendorong perang.

Isi pokok:

  • pihak Majapahit/Gajah Mada menghendaki posisi Sunda sebagai pihak yang tunduk;
  • pihak Sunda menolak direndahkan;
  • kehormatan perkawinan kerajaan berubah menjadi sengketa politik;
  • perang menjadi tidak terhindarkan.

5. Pecahnya Perang Bubat

Bagian perang dari Kidung Sundayana.

bubar wong Su??a mangke
orang Sunda kini tercerai-berai

?e?aning pejah padha mengsi n?pati
sisa yang belum gugur sama-sama menuju sang raja

tinut ing ngudanan ?ara
mereka diikuti/dihujani anak panah

Makna bagian ini:

  • barisan Sunda pecah;
  • banyak yang sudah gugur;
  • sisa yang hidup menuju raja;
  • mereka dihujani panah.

“Bubar” bukan berarti lari hina. “Bubar” berarti barisan pecah setelah dihantam perang dan panah.

6. Anepaken/Asepaken: Patih Sunda di Medan Perang

Setelah barisan Sunda pecah, naskah menyebut tokoh Patih Sunda. Namanya dalam alih-baca kerja terbaca sebagai Anepaken atau Asepaken.

sira kryan apatih, adining Su??a Asepaken kaky?ti
dialah sang patih, utama Sunda, Asepaken yang termasyhur

munggwing kuda
berada di atas kuda

Makna:

  • pihak Sunda masih punya pemimpin perang;
  • Patih Sunda tidak digambarkan sebagai tokoh lemah;
  • ia tampil dalam posisi bangsawan/perwira.

7. Larang Agung di Atas Gajah

Selain Patih Sunda, naskah menyebut tokoh Larang Agung.

Kutipan:

kalih Ken Larang Agung, humunggwing liman
bersamanya Ken Larang Agung, berada di atas gajah

Makna:

  • gajah adalah simbol perang kerajaan;
  • Larang Agung tampil sebagai tokoh besar;
  • rombongan Sunda masih dipotret dengan martabat bangsawan.

8. Sisa Pasukan Sunda Menyerbu ke Arah Patih Majapahit

balanira tinarik lumajwing ngarsa
pasukannya ditarik maju ke depan

mene padha rowang kidul mangke
sekarang, kawan-kawan, bergeraklah ke selatan

kang den ungsi ring yonggwanika apatih Majapahit
yang dituju adalah tempat Patih Majapahit

Makna:

  • sisa pasukan Sunda tidak bergerak acak;
  • mereka diarahkan ke tempat Patih Majapahit;
  • dalam konteks Bubat, Patih Majapahit adalah Gajah Mada;
  • ini membuat Gajah Mada menjadi pusat kemarahan dalam narasi.

9. Penyebutan Bajah Mada/Gajah Mada

Dalam suasana perang, teks juga menyebut bentuk Bajah Mada, yang merujuk kepada Gajah Mada.

Kutipan yang bisa dipakai dengan hati-hati:

si Bajah Mada
si Bajah Mada / Gajah Mada

Catatan:
Bagian ini perlu dicek langsung pada halaman naskah karena alih-bacanya tidak selalu bersih. Tapi secara naratif, penyebutan ini muncul dalam konteks kemarahan dan serangan.

Kutipan siap pakai:

Penyebutan “si Bajah Mada” dalam bagian perang memperlihatkan bahwa tokoh ini tidak hadir sebagai figur netral. Ia berada dalam suasana tuduhan dan kemarahan. Kidung Sundayana tidak menempatkannya sebagai pahlawan bersih, melainkan sebagai alamat politik dari serangan Sunda.


10. Pasukan Jawa/Majapahit rusak

Naskah juga memberi gambaran bahwa serangan Sunda sempat menghancurkan pasukan Jawa/Majapahit.

Kutipan:

rusak wadwa Jawa akeh kac?r?an
pasukan Jawa rusak; banyak yang hancur

Makna:

  • Sunda tidak mati pasif;
  • mereka memberi perlawanan keras;
  • perang tidak digambarkan sebagai pembantaian satu arah sejak awal.

Perlawanan Sunda dalam Kidung Sundayana bukan simbol kosong. Teks menyebut “rusak wadwa Jawa akeh kac?r?an”—pasukan Jawa rusak, banyak yang hancur. Ini menunjukkan bahwa sebelum akhirnya binasa, orang Sunda sempat memukul balik lawan.


11. Medan Perang: Mayat, Kekacauan dan Kehancuran

Bagian akhir perang menggambarkan suasana kacau: banyak yang gugur, pasukan tercerai, medan penuh mayat, kuda, gajah, dan senjata.

Kutipan yang bisa dipakai:

tan ketang sang pejah
tak terhitung mereka yang gugur

Makna:

  • perang digambarkan sangat berdarah;
  • bukan duel kecil;
  • Bubat menjadi medan pembantaian dan kehancuran besar.

Setelah serangan dan balasan, medan Bubat berubah menjadi ruang kematian. Kidung Sundayana menyebut “tan ketang sang pejah”—tak terhitung mereka yang gugur. Frasa ini memberi bobot tragedi: Bubat bukan insiden kecil, melainkan perang yang menelan banyak nyawa.


Kalau disarikan, isi Kidung Sundayana adalah:

  1. Pembukaan doa dan pengenalan Hayam Wuruk di Wilwatikta.
  2. Rencana perkawinan dengan Putri Sunda.
  3. Kedatangan rombongan Sunda ke Majapahit.
  4. Konflik status: perkawinan kerajaan berubah menjadi tuntutan ketundukan.
  5. Pecahnya perang Bubat.
  6. Barisan Sunda tercerai setelah banyak gugur dan dihujani panah.
  7. Sisa pasukan Sunda menuju raja.
  8. Tokoh Sunda seperti Asepaken/Anepaken dan Larang Agung tampil di medan.
  9. Sisa pasukan diarahkan ke tempat Patih Majapahit.
  10. Gajah Mada/Bajah Mada menjadi alamat kemarahan.
  11. Pasukan Jawa/Majapahit juga rusak oleh serangan Sunda.
  12. Medan perang berakhir dengan kematian besar.

Jadi inti Kidung Sundayana bukan “Sunda bubar lalu kalah”. Intinya lebih kuat:

Sunda pecah karena dihujani panah, tetapi tetap merapat kepada raja dan menyerbu ke arah Patih Majapahit.

Kalimat artikel yang paling tajam:

Dalam Kidung Sundayana, Bubat bukan kisah orang Sunda yang lari dari medan perang. Bubat adalah kisah barisan kerajaan yang pecah karena dihujani panah, lalu sisa pasukannya bergerak menuju raja dan menyerbu ke tempat Patih Majapahit. Di sana, nama Gajah Mada berdiri bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai alamat kemarahan.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

RANCAEKEK, balebandung.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung menggelar Konferensi Anak Cabang (Konfercab) di Pondok Pesantren Miftahul Khoer, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, Sabtu 13 Juni 2026. Konferensi tersebut menjadi forum tertinggi organisasi di tingkat kecamatan untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus menyiapkan regenerasi kepemimpinan kader IPNU di […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna (KDS) melepas ratusan peserta Bapenda Bedas Run di Lapangan Upakarti Soreang, Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan yang diikui 500 runners dan mengusung tagline “Lunas Pajaknya, Happy Larinya” itu digelar sebagai bagian dari sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Dalam kesempatan […]

Bale Bandung

DAYEUHKOLOT, balebandung.com – Bupati Bandung Kang Dadang Supriatna (KDS) meninjau sejumlah titik rawan banjir di wilayah Kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah, Jumat (12/6/2026). Dari hasil peninjauan tersebut, Bupati Bandung menyiapkan sejumlah langkah percepatan penanganan banjir, mulai dari pembangunan drainase baru, normalisasi sungai, hingga penguatan kolaborasi pentahelix. Bupati KDS menyebut ada tiga titik yang menjadi fokus penanganan. […]

Bale Bandung

CICALENGKA, balebandung.com — Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono meresmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Kampung Pamoyanan RT 01 RW 04, Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis 11 Juni 2026. Kehadiran jembatan tersebut diharapkan mempermudah mobilitas warga sekaligus memperkuat akses sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono mengatakan pembangunan dan […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com — Dadang Supriatna kembali dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bandung untuk periode 2026-2031. Selain itu terpilih pula Sekretaris DPC PKB Kabupaten Bandung sebagai Sekretaris dan Bendahara Dudui Mustofa. Pengukuhan tersebut menandai berlanjutnya kepemimpinan Kang Dadang Supriatna (KDS) dalam memimpin partai berlambang bola dunia itu di Kabupaten […]

Bale Bandung

KUTAWARINGIN, balebandung.com — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung KH Agus Ahmad Qustholany melantik pengurus 11 Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Kutawaringin masa khidmat 2026-2031 di Aula Kecamatan Kutawaringin, Rabu, 10 Juni 2026. Pelantikan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput untuk memperkuat peran keagamaan, sosial, pendidikan, dan […]