BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan.
Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda Bubat, ada rombongan Sunda, ada konflik antara perkawinan dan persembahan, lalu orang Sunda hancur.
Namun dalam Kidung Sundayana, Bubat tidak sekadar lewat sebagai catatan. Ia bergerak. Ia bersuara. Ia memperlihatkan barisan yang pecah, tokoh-tokoh yang masih bertahan, kuda dan gajah perang, panji, payung, tameng emas, pedang, tombak, dan sisa pasukan Sunda yang mengarahkan amarahnya ke satu titik: tempat Patih Majapahit.
Di titik itu, nama yang harus dibaca sebagai pusat perkara adalah Gajah Mada.
Bukan karena perang membutuhkan kambing hitam. Tetapi karena dalam tradisi teks Bubat, terutama ketika Pararaton, Kidung Sunda, dan Kidung Sundayana dibaca bersama, garisnya makin jelas: tragedi itu lahir ketika Gajah Mada mengubah bahasa perkawinan menjadi bahasa penaklukan.
Sunda datang sebagai rombongan kerajaan. Gajah Mada memaksa mereka dibaca sebagai pihak yang harus tunduk.
Di sanalah Bubat pecah.
Bukan sepanjang Kidung Sunda, tapi jauh dari sekadar catatan pendek
Secara porsi cerita, Kidung Sundayana berada di tengah. Ia tidak sesingkat Pararaton atau Carita Parahyangan. Tapi ia juga tidak sepanjang dan sedramatis Kidung Sunda.
Posisinya kira-kira begini: Carita Parahyangan adalah ingatan pendek; Pararaton adalah kronik; Kidung Sundayana adalah narasi perang yang lebih berkembang; sedangkan Kidung Sunda adalah kisah paling dramatik tentang Bubat—lengkap dengan diplomasi, dialog, kehormatan, keputusan mati, dan tragedi putri Sunda.
C.C. Berg, filolog Belanda yang meneliti tradisi ini, membedakan dua versi: Kidung Sunda dan Kidung Su???yana. Versi pertama lebih panjang dan dinilai lebih kuat secara sastra, sedangkan Kidung Sundayana adalah versi yang lebih pendek. Tetapi “lebih pendek” bukan berarti miskin cerita. Ia tetap menyimpan adegan perang yang penting.
Dalam pembacaan populer, perbedaan ini penting. Kalau Pararaton memberi kerangka konflik, Kidung Sundayana memberi gerak medan. Ia memperlihatkan bagaimana pasukan Sunda, setelah banyak yang gugur, tidak sekadar bubar dalam arti menyerah. Mereka tercerai karena dihujani maut, lalu sisa yang masih hidup bergerak kembali ke pusat kehormatan: raja mereka.
Dari sana, perang berubah menjadi dakwaan.
“Bubar wong Sunda” bukan tanda pengecut
Salah satu bagian penting dalam Kidung Sundayana adalah frasa “bubar wong Su??a”. Jika dibaca tergesa-gesa, kata “bubar” bisa terdengar seperti kekalahan moral: orang Sunda tercerai, lari, kalah, selesai.
Tetapi kelanjutan teks menunjukkan hal lain.
Dalam alih-baca kerja dari halaman 45B/46A naskah Kidung Sundayana, bagian itu menggambarkan orang Sunda yang tercerai setelah banyak gugur. Sisa yang belum mati bergerak menuju raja. Mereka dihujani anak panah. Banyak yang remuk dan murka. Di sana masih tampil tokoh seperti Asepaken atau Anepaken, patih utama Sunda, dan Larang Agung, yang digambarkan berada di atas gajah.
Ini bukan gambaran pasukan yang kehilangan martabat.
Teks justru melukiskan mereka dalam tata perang bangsawan: kuda, gajah, panji, payung, tameng emas, pedang, tombak, dan perlengkapan perang yang dihias. Bahkan ketika barisan pecah, simbol-simbol kerajaan masih hadir. Artinya, mereka bukan sekadar massa yang panik. Mereka adalah rombongan kerajaan yang sedang dihancurkan, tetapi masih berusaha mempertahankan bentuk terakhir dari kehormatan.
Kata “bubar” dalam konteks ini bukan bukti pengecut. Itu pecahnya barisan setelah dihujani panah dan kematian.
Yang tersisa tidak menyerah.
Mereka mencari raja.
Mereka merapatkan kehormatan.
Lalu mereka menyerbu.
Serangan diarahkan ke tempat Patih Majapahit
Bagian paling penting dari kelanjutan Kidung Sundayana adalah arah serangan pasukan Sunda. Dalam halaman 46B/47A, teks menggambarkan pasukan ditarik maju. Sang patih berkata agar kawan-kawannya bergerak ke selatan, menghadapi senjata besar, dan menuju tempat Patih Majapahit.
Ini detail yang tidak boleh dilewatkan.
Dalam ingatan Kidung Sundayana, sisa pasukan Sunda tidak sekadar menyerbu pasukan Majapahit secara acak. Mereka diarahkan menuju tempat patih. Dalam konteks Bubat, patih itu adalah Gajah Mada.
Artinya, pusat kemarahan Sunda bukan Majapahit sebagai ruang abstrak. Pusat kemarahan itu adalah figur politik yang dianggap menjadi sumber penghinaan: Gajah Mada.
Teks bahkan memakai bentuk “Bajah Mada” untuk menyebut Gajah Mada, lalu disusul ungkapan bernada hinaan. Bagian itu sulit dibaca sepenuhnya dari aksara dan OCR, tetapi konteksnya jelas: pihak Sunda mengecam Gajah Mada dan menyerukan agar ia diserbu.
Di sini Kidung Sundayana memberi bahan penting untuk membaca Bubat bukan sebagai perang biasa, melainkan sebagai perang kehormatan. Orang Sunda tidak sedang berebut wilayah. Mereka tidak datang untuk menaklukkan Majapahit. Mereka datang membawa putri raja untuk perkawinan. Tetapi ketika kehormatan itu dipaksa berubah menjadi penyerahan, perang menjadi jalan terakhir.
Dan sasaran moral perang itu jelas: Gajah Mada.
Gajah Mada dan politik yang mengubah pengantin menjadi upeti
Untuk memahami kenapa kemarahan Sunda mengarah ke Gajah Mada, kita harus kembali ke kerangka Pararaton dan Kidung Sunda.
Pararaton menyebut peristiwa itu sebagai Pasunda Bubat. Dalam ringkasan akademik, Pasunda Bubat dipahami sebagai peristiwa berdarah ketika Prabu Maharaja, Raja Sunda-Galuh, mengantar putrinya—Dyah Pitaloka atau Citraresmi—yang dilamar Hayam Wuruk untuk menjadi permaisuri. Tetapi Gajah Mada tidak setuju dengan perkawinan itu dan menghadapi rombongan Sunda dengan senjata. Kisah berakhir tragis: rombongan dari Tatar Sunda tak tersisa.
Di sinilah persoalan utamanya.
Bagi Sunda, kedatangan ke Majapahit adalah urusan perkawinan kerajaan. Mereka datang sebagai keluarga pengantin, membawa putri raja, dengan martabat kerajaan yang harus dihormati.
Bagi Gajah Mada, kedatangan itu harus dibaca sebagai tanda tunduk. Putri Sunda tidak ditempatkan sebagai calon permaisuri yang setara, melainkan sebagai semacam persembahan politik. Dalam kerangka ambisi Majapahit, terutama proyek penyatuan wilayah di bawah bayang Sumpah Palapa, Sunda harus ditundukkan. Jika tidak melalui perang terbuka, maka melalui simbol: putri raja dijadikan tanda takluk.
Inilah inti dakwaan terhadap Gajah Mada.
Ia mengubah perkawinan menjadi penaklukan.
Ia mengubah pengantin menjadi upeti.
Ia mengubah tata kehormatan menjadi tuntutan tunduk.
Ketika Sunda menolak, perang pecah.
Sunda tidak meminta pesta, Sunda menuntut martabat
Salah satu tafsir yang perlu dibongkar adalah anggapan bahwa rombongan Sunda “meminta pesta”. Tafsir ini sering muncul dari pembacaan dangkal atas frasa dalam Pararaton yang menyebut pihak Sunda menghendaki awiramena.
Kalau diterjemahkan tanpa konteks, frasa itu bisa terdengar seperti tuntutan kemeriahan. Tetapi dalam diplomasi kerajaan, tuntutan itu lebih tepat dibaca sebagai permintaan atas tata kehormatan perkawinan kerajaan.
Sunda tidak datang untuk meminta hiburan.
Sunda datang untuk menegakkan martabat.
Dalam logika kerajaan, perkawinan antar-dinasti bukan urusan pribadi dua orang. Ia adalah peristiwa politik. Ia menyangkut hubungan dua kerajaan, kedudukan putri raja, kehormatan keluarga, dan pengakuan kedaulatan. Maka ketika Sunda meminta tata yang pantas, itu bukan kemewahan. Itu protokol politik.
Masalahnya, Gajah Mada membaca protokol itu sebagai hambatan bagi ambisi.
Di sinilah bahasa menjadi senjata. Tuntutan kehormatan bisa dibingkai sebagai “minta pesta”. Penolakan terhadap penghinaan bisa dibingkai sebagai pembangkangan. Martabat bisa dibaca sebagai kesombongan. Dengan cara itu, korban dibuat tampak bersalah.
Padahal yang terjadi lebih mendasar: Sunda menolak direndahkan.
Perjamuan terakhir, bukan pesta pora
Dalam Kidung Sunda, kisah Bubat memperoleh lapisan batin yang lebih kuat. Ada suasana perjamuan, makan-minum, berhias, dan pembagian harta benda bawaan rombongan pengantin Sunda. Di permukaan, adegan itu bisa disebut pesta. Tetapi jika dibaca bersama konteks perang yang sudah mendekat, maknanya berubah.
Ketika harta benda bawaan dibagikan oleh raja kepada pengikutnya, itu bukan gestur orang yang sedang bersenang-senang. Itu gestur orang yang tahu bahwa harta tidak akan dibawa pulang.
Itu penutupan urusan duniawi.
Itu pemberian terakhir raja kepada orang-orangnya.
Itu pengikat kesetiaan sebelum mati bersama.
Itu ritual kehormatan sebelum kematian.
Itu perjamuan terakhir.
Mereka makan, minum, berhias, dan menjaga tata kerajaan bukan karena lalai menghadapi bahaya. Mereka melakukannya karena sadar bahwa bahaya sudah tidak bisa dielakkan. Ketika jalan pulang tertutup, yang bisa dipertahankan tinggal martabat.
Maka yang oleh mata Majapahit mungkin disebut pesta, oleh orang Sunda adalah upacara terakhir kehormatan.
Perang yang tidak menghapus Sunda
Bubat memang berakhir dengan kehancuran rombongan Sunda. Pararaton menggambarkan darah seperti lautan dan mayat seperti gunung. Kidung Sundayana memperlihatkan barisan yang pecah, panah yang menghujani, dan pasukan yang tetap menyerbu ke arah patih Majapahit. Tetapi sejarah Sunda tidak berhenti di Bubat.
Justru dari luka itu, muncul bab penting berikutnya: Niskala Wastu Kancana, anak Prabu Linggabuana atau Prabu Wangi. Dalam tradisi Carita Parahyangan, ia dikenang sebagai putra Prabu Wangi yang kelak menjadi raja besar. Bubat membunuh ayahnya, tetapi tidak memadamkan garis kerajaan Sunda.
Di sini tragedi memperoleh jawaban sejarah.
Gajah Mada boleh menumpahkan darah di Bubat. Tetapi ia gagal memadamkan Sunda. Anak yang ditinggalkan tragedi itu kelak tumbuh dalam asuhan Bunisora dan menjadi raja yang dikenang karena tata, kebajikan, dan ketertiban.
Bubat menghancurkan rombongan pengantin.
Tetapi Bubat tidak menghancurkan martabat Sunda.
Mengapa Kidung Sundayana penting
Kidung Sundayana penting karena ia mengisi ruang antara kronik dan drama. Ia tidak sekering Pararaton, tetapi juga tidak sepanjang Kidung Sunda. Ia memberi kita adegan perang yang cukup hidup untuk melihat bahwa orang Sunda tidak digambarkan sebagai pihak yang sekadar kalah dan bubar.
Mereka tercerai karena banyak yang mati.
Mereka dihujani panah.
Mereka masih memiliki pemimpin.
Mereka masih membawa tata perang bangsawan.
Mereka masih menyerbu.
Dan yang paling penting: serangan itu diarahkan ke tempat Patih Majapahit.
Detail ini memperkuat pembacaan bahwa dalam memori Bubat, Gajah Mada bukan sekadar pejabat yang hadir di pinggir peristiwa. Ia adalah pusat kemarahan. Ia adalah orang yang membuat perkawinan berubah menjadi penyerahan. Ia adalah figur yang, dalam pembacaan Sunda, harus dimintai tanggung jawab moral.
Maka Kidung Sundayana tidak boleh dibaca sebagai pelengkap kecil. Ia adalah salah satu saksi sastra yang menunjukkan bagaimana luka Bubat diingat: bukan sebagai pesta yang gagal, melainkan sebagai kehormatan yang diinjak.
Vonis untuk Gajah Mada
Dalam sejarah resmi yang sering diajarkan, Gajah Mada berdiri sebagai mahapatih besar, pemersatu Nusantara, pelaksana Sumpah Palapa. Tetapi Bubat memperlihatkan sisi gelap dari ambisi itu. Persatuan yang dipaksakan dapat berubah menjadi penghinaan. Politik penyatuan dapat berubah menjadi pembantaian. Nama besar dapat berdiri di atas darah orang lain.
Dalam perkara Bubat, dakwaan terhadap Gajah Mada terang.
Ia bersalah karena mengubah perkawinan kerajaan menjadi penaklukan politik.
Ia bersalah karena menolak tata kehormatan Sunda.
Ia bersalah karena memosisikan putri raja sebagai tanda tunduk.
Ia bersalah karena membaca martabat sebagai pembangkangan.
Ia bersalah karena membawa diplomasi ke medan kematian.
Dan Kidung Sundayana memberi satu detail yang menusuk: ketika sisa pasukan Sunda masih mampu bergerak, mereka menuju tempat Patih Majapahit. Mereka tahu ke mana amarah harus diarahkan.
Ke Gajah Mada.
Penutup: Bubat adalah perang martabat
Perang Bubat bukan sekadar bentrokan dua rombongan. Ia bukan kecelakaan protokoler. Ia bukan tragedi karena Sunda meminta pesta. Ia adalah perang martabat yang lahir dari ketamakan politik.
Sunda datang untuk perkawinan kerajaan.
Gajah Mada menghendaki penaklukan.
Sunda menuntut tata kehormatan.
Gajah Mada menuntut tanda tunduk.
Sunda membawa putri raja.
Gajah Mada hendak menjadikannya persembahan.
Di antara dua kehendak itulah darah tumpah di Bubat.
Pararaton mencatatnya pendek. Carita Parahyangan menyisakannya sebagai ingatan. Kidung Sunda memberi tubuh tragisnya. Dan Kidung Sundayana memperlihatkan medan perang: orang Sunda yang pecah karena dihujani maut, tetapi masih bergerak, masih menyerbu, masih mengarahkan kemarahan kepada sumber penghinaan.
Bubat, pada akhirnya, bukan kisah tentang Sunda yang kalah meminta pesta.
Bubat adalah kisah tentang Sunda yang mati mempertahankan martabat.
Dan dalam kisah itu, vonisnya tetap sama: Gajah Mada bersalah.







