balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan.
Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan sekadar tokoh besar Majapahit yang dikenang lewat Sumpah Palapa. Dalam pembacaan Kidung Sunda I, Gajah Mada mulai tampak sebagai aktor politik yang menggeser makna kedatangan rombongan Sunda: dari hubungan pernikahan menjadi perkara takluk-menaklukkan.
Tulisan ini menjadi pengantar awal setelah naskah Carita Parahyangan yang amat secuil, selanjutnya ke Kidung Sunda JIlid II, Kidung Sundayana, dan Pararaton.
Dalam susunan itu, Carita Parahyangan menjadi pintu masuk ingatan Sunda. Naskah itu hanya menyisakan catatan ringkas tentang “perang di Majapahit”. Tetapi justru dari kalimat pendek itu, luka Bubat dapat dibaca sebagai patahnya satu generasi raja Sunda.
Adapun Kidung Sunda I menjadi berkas awal perkara. Dari naskah inilah pembaca mulai melihat bagaimana hubungan yang semula dibayangkan sebagai pernikahan agung berubah menjadi jalan menuju tragedi. Di sana, cinta politik Hayam Wuruk kepada putri Sunda mulai bersentuhan dengan ambisi penyatuan wilayah yang melekat pada proyek kekuasaan Gajah Mada.
Karena itu, membaca Kidung Sunda I bukan hanya membaca tembang lama. Ia adalah upaya membuka kembali berkas sejarah: siapa datang membawa martabat, siapa mengubah pertemuan menjadi tuntutan tunduk, dan siapa yang akhirnya harus memikul dosa politik atas darah yang tumpah di Bubat.
Dalam sudut pandang tulisan ini, Linggabuana bukan raja kecil yang datang untuk menyerahkan diri. Ia datang sebagai raja merdeka, membawa putrinya dalam kehormatan pernikahan antar-kerajaan. Jika kemudian kedatangan itu dibelokkan menjadi simbol penaklukan, maka di situlah letak dosa politik yang harus dibaca ulang.
Gajah Mada boleh dikenang sebagai mahapatih besar. Tetapi kebesaran tidak menghapus kesalahan. Justru karena ia besar, tindakannya harus ditimbang lebih keras. Bubat menjadi noda politik karena martabat Sunda dipaksa tunduk pada ambisi kekuasaan Majapahit.
Maka tulisan ini tidak menempatkan Bubat sebagai dongeng cinta semata. Bubat adalah perkara politik. Ia adalah luka Sunda. Dan dalam pembacaan awal atas Kidung Sunda I, jalan menuju luka itu mulai terbuka.***
===== HALAMAN 8 =====
DANGDANGGULA
Dangdanggula pemanis reka
mengikuti tambo kuna
‘nukil dari buku lama
dirakit tembang kidung
gending Sunda masa kini
‘bahas sebagian babad
leluhur dahulu
tamak zaman yang silam
Kangjeng Prabu Maharaja Linggabuana unggul
moyang tanah Sunda
Konon Maha Sunda Aji (sebutan kehormatan untuk Raja Sunda)
mengembara ke luar negara
diiringi wadya bala
berniat memungut mantu
semua ke Majapahit
memenuhi janji
ratu dengan ratu
perjalanan lewat laut
amat banyak kapal pengiring Baginda
bermuatan lengkap
Ratu Sunda sebentar ~kita tinggalkan
mari uraikan sejarah
yang jadi pokok lelakon
bertahta maha kuasa
Ratu Agung Majapahit
harum mashur juluknya
Ratu Hayamwuruk
tersohor pandai dan arif
sakti tiada tara
tenar bijaksana
===== HALAMAN 9 =====
Dikasihi ningrat maupun rakyat
seisi pulau Jawa
setia menghadap Baginda
bahkan yang jauh pun
Wandan, Kud, Tumasik, Bali
Sawangkung, Tanjung Pura
semua tunduk takluk
menanti perintah
tiap tahun tak putus sembah upeti
pada kuasa Sang Nata wisesa
Sejahtera Sri Narpati
bagai Dewa Kamajaya
tampan pandai bersolek
tegap gagah perkasa
berdarah bangsawan Keling
ramah budi bahasanya
malum putera ratu
jelas ahli bertapa
tinggi agung keturunan satria
patut dipuja-puja
Meski Ratu kaya harta dan ilmu
bijak ‘merintah negara
namun masih ada cela
tempat tenun tetap hening
taman sari nampak lengang
bukan kurang sahaya
‘tuk mangatur dan mengurus
namun belum ada puteri patut
jadi pendamping Sang Nata
Tak terhitung istri cantik
puteri raja pelbagai negara
tak berkenan di hati Baginda
agaknya kurang serasi
tak sesuai dengan angan-angan Sang Prabu
===== HALAMAN 10 =====
masih saja mencari
memilih yang unggul
pandai, elok berdarah narpati
sederjat dengan Baginda
Para mantri tumenggung bupati
keras berupaya
memenuhi kehendak Sang Prabu
gambar-gambar puteri elok
karya pelukis ternama
dideretkan dihadapan Sri Baginda
Patih Mada, Pepatih Majapahit
bingung tak terhingga
Tiap negeri sudah diteliti
puteri Palembang, Madura
dilukis semua
tapi kalbu Sang Prabu
tak terger·ak gambar puteri
dimintanya puteri lebih molek lagi
Syahdan suatu ketika
tersiar kabar terbawa pawana
bahwa Maha Ratu Sunda
Mendapat kurnia Yang Maha Esa
bangga memandang puterinya
dijuluki Puteri Galuh
elok muda mempesona
bagai Dewi Sinta
bukan sembarang cantik
tak puas mata memandang
bercahaya gemilang
Syahdan Ratu Majapahit
seg’ra mengutus panggawa
membuktikan kata orang
juru gambar ikut serta
sebagaimana biasa
===== HALAMAN 11 =====
peralatan lengkap
usai berkemas bertolak
menuju pelabuhan
naik kapal angkat jangkar
kelasi memasang layar
Kebetulan angin baik berhembus
tak disebut perjalanan laut
pendeknya tibalah sudah
di negara yang dituju
juru gambar telah siap
melaksanakan tugasnya
menggambar Putri Galuh
tepat dengan aslinya
seolah Puteri bercermin di air
‘–
yang tampak bayang-bayangnya
Kagum orang melihat karya Arya Prabangkara
juru gambar tersohor
kekasih Sang Prabu
betul-betul kumia Yang Maha Suci
dalam hal menggambar
jelas unggul
tiada bandingan
bisa tertukar dengan yang asli
karena indahnya gambar
Usai menggambar sang Rajaputri
cepat naik kapal lagi
agar gambar dilihat Sang Prabu
dalam pada itu Narpati
Sang Ratu Kalwripan
meninggalkan keraton
serta dinda Raja Daha
menuju Majapahit
rindu pada kang putra
Raja Tua datang tak berkabar dulu
===== HALAMAN 12 =====
bersama dinda Prabu Daha (penguasa Daha/Kadiri, Sungai Brantas Jawa Timur, tokoh elite Majapahit, paman Hayam Wuruk
kaget Maha Prabu Muda
turun dari kraton
menyongsong yang baru datang
dodot menggapai ke belakang
Lepas dari pegangan sahaya
dengan bagian atas
badan telanjang
Prabu Muda bersembah
Kedua tamu yang baru datang
dipersilakan duduk
Iagi bersembah Baginda
ujar Sang Raja Tua
“Silakan engkau pun
duduk bersama kami.”
bersembah Sang Prabu
sebelum duduk
tuan rumah didekap kedua tamu
tersenyum sambil membeiai
Lalu ujar Prabu Tua
kau bagai bunga Iayu
apakah yang kau derita?
Badanmu pun agak kurus
seperti tak sehat
rama ikut bingung
dan ramamu dari Daha pun
datang bersama rama kemari
karena waswas nian
Penasaran ingin tahu jeias
penyebab penyakit
katakaniah cepat
ujar Sang Prabu Daha
Nanda, ketahuilah
kami datang ke sini
===== HALAMAN 13 =====
dengan rama Prabu
selain lama tak jumpa
ingin bertanya apa sebab kesusahan
Kurang apa lagi
anugrah ada pada ananda
pandai, kaya, muda, tampan
termashur tiada banding
tersohor ke mana-mana
dapat rama rasakan
ananda Prabu
ba’ Dewa dari Kayangan
Sayang tak masuk aka!
yang rama tidak mengerti
putra belum juga ingin
mengecap nikmat hidup
ibaratnya bagai
kembang di taman puspa
menuruti nafsu
di bulan purnama
kala bunga-bunga rekah
semerbak harum baunya
Namun heran bau harum
beribu jenis bunga
hanya dicium belaka
madunya tak dihisap
sungguh kumbang ganjil
itulah ibaratnya
maka rama bingung
bilakah kiranya
bergairah berahi
ataukah lagi bertapa?
Jawab Prabu Muda lirih
menyembah sambil tersenyum
“Sudilah ayah memaafkan segala khilaf nanda.”
Sesungguhnya sebab musababnya
nanda lama tak beristri
bukan karena bertapa
Atau karena gundah
tapi belum sampai waktu
masih ada yang dinanti
yakni Puteri Galuh
terkenal istri pilihan
puteri Sang Prabu Sunda
kabarnya tiada tara
nanda telah mengutus sang juru gambar
ingin tahu karyanya
Tak sedikit gambar para putri
putra raja mancanegara
tapi satu pun tak cocok
tampak dari air muka
dari wajah dan martabat putri
belum patut dihias
dinaungi payung agung
jadi ratu wanita
menguasai puri kraton Majapahit
yang besar nian
===== HALAMAN 14 =====
Prabu Tua tersenyum berkata
“Sukurlah kalau begitu
rama suka cita
dan punya nazar
bila jadi beristri
kedua mempelai
akan kududukkan di pangkuan
sesudah akad nikah
tanda suka, enyah sedih.”
tertawa Prabu Daha
Aria Patih pun suka cita
===== HALAMAN 15 =====
menyembah dengan cerah
Sang Prabu Tua melirik
“Setujukah Patih
kalau Ratu beristri?”
Ujar Patih
“Gusti Prabu
suka cita tak terhingga
siang malam mohon pada Maha Suci
agar cepat terlaksana
Hamba bersedih hati
belum juga menemukan
yang padan bagi permaisuri
utara, selatan dijelajah
susah payah sia-sia
mudah-mudahan sekarang
maksud tercapai
mohon restu nalendra
pula Kanjeng Prabu Daha.”
Prabu Daha berkata
“Sekarang mari kita masing-masing
berdoa agar berhasil
diterima Puteri Galuh.”
Seusai bercakap-cakap
mereka masuk ke puri
besar tetap bersama
tuan rumah dan tamu
alangkah suka citanya
malam hari tamu-tamu minta diri
dan esok harinya.
===== HALAMAN 16 =====
KINANTI
Esok harinya berkumpul
para tumenggung bupati
duduk tertib di pendopo
tak lama Maha Narpati
Prabu Sepuh Prabu Daha
ke luar dari keraton
Pakaiannya serba indah
silau dipandang mata
Sang Nalendra Kahuripan
prabu sukar tanding
dodotnya buatan seberang
dihiasi bunga emas
Sabuknya giringsing kawung
sedap ditatap mata
kerisnya kadipatian
gagangnya dari mas mumi
ditabur merah delima
serta mutiara manik
Cah’ya penata menyala
bersinar adu manis
bagai kunang-kunang hinggap
sanggul gayut ala Keling
digenggam emas berkilau
ditaburi intan adi
Ba’ garuda membelakang
elok dipandang mata
hias kuping bunga putih
molek di kanan kiri
gelang lengan atmaraksa
lebih gagah Sang Narpati
===== HALAMAN 17 =====
Anting-anting Brahma Wisnu
berkepala mirah adi
kilau bening samar-samar
tampak menyala merah
bergelang tiga wama
kinatelon lilit ubi
Patut bila ratu mulia
perkasa menjadi raja
sabar adil paramarta
dipuja seluruh hamba
di Janggala Kahuripan
jadi pelindung negara
Sang Prabu Daha
tegap ‘bagai narpati
berdodot sutera berbunga
disulam berwama emas
banyumasan kemerahan
nampak makin gagah
Serasi bagi ratu
memakai yang serba adi
sabuk giringsing wayang
pantas pakaian narpati
namplilkan keris pusaka
gagangnya berukir
Direka panglima buta
gagah mata terbelalak
sedang memegang kembang
kembang ‘nyala keemasan
ditimpa cahaya permata
pemandang terpesona
Sanggul ‘nonjol ke belakang
bagai sanggul ningrat Keling
rambutnya harum mewangi
===== HALAMAN 18 =====
mahkota intan sejati
bias kuping kembang hijau
elok binggap di telinga
Tampaknya makin serasi
bias kuping Daha A,ji
dirakit winalat kadqa
mengenakan anting-anting
bermata mirah delima
tampak merah padam
Memakai cincin pengayom
gelang lengan kecil manis
berkelip mengkilat
tak puas mata memandang
serasi dengan pemakai
pantas keturunan Daha
Mereka ke luar puri
menuju arab setinggil
disambut puruhita
Patih bupati mantri
semua menyembah
bersimpuh di muka Prabu .
Ratu kian suka cita
berdua sudah duduk
di kursi kerajaan
tak lama tampilah
Sang Nalendra Majapahit .
gagah tiada tanding
Cahayanya benderang terang
gagah pembawaan
tampan cantik dari kodrat
patut pengayom negara
tajam pandang matanya nan elok
tanda berakal tajam
===== HALAMAN 19 =====
Busana Sang Hayam Wuruk
tidak berlebihan
sungguh sederhana
dodot tidak dipegangnya
menghormati ayahanda
kala sampai di setinggil
Sembah pada Prabu Tua
Prabu negeri Kahuripan
senang melihat putranda
diajak duduk bersama
Sang Nalendra Majapahit
sebelum duduk bersembah
Jauh dari Prabu Tua
bukan di kursi gading
di tempat orang menghadap
beda dengan tempat duduk ayahanda
sekalian hadirin
pandang terarah ke Gusti
Lebih riang Prabu Tua
melihat putra Narpati
yang agung berkuasa
di negara Majapahit
sukar tandingannya
tampan, cakap, berbudi
Sang Prabu Tua bertanya
pada Patih Majapahit
Patih. bagaimana kabar
dari kijuru gambar
Belum datang jua
membawa gambar nyi Putri?
Ratu tak sabar menanti
ingin mendapat berita
kalau-kalau ditimpa aral melintang
===== HALAMAN 20 =====
di laut tiada angin
Sembah Arya Patih
Tepat betul sabda Gusti
Sebab mengarungi laut
ikut arah tiup angin
berbeda dengan di darat
sering ditimpa waswas
Gusti lebih-lebih maklum
bahaya menempuh air
Sang Prabu Tua menggangguk
tanda mengiakan Patih
karenanya p’ra ponggawa
amat bersuka cita
mendengar· Asmaranata
bersembah kepada Gusti
Ya, Gusti Maha Prabu
izinkanlah patih
Puruhita Sang Nata
menyampaikan warta
dari orang-orang kapal
yang datang kemarin
Adapun utusan Ratu
berkat restu Prabu
sudah pulang semua
kapal berlabuh di Terung (Terung Wetan di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur)
mendarat mencari air
lalu ke Mahibih
Agaknya sudah sampai ke Bubat
menurut hemat patih
bila tak aral melintang
hari ini juru gambar
dapat memperlihatkan karyanya
===== HALAMAN 21 =====
ke hadapan Tuanku
Tersenyum Sang Prabu Tua
Prabu Daha suka cita
mendengar Puruhita
kar’na dapat wartajelas
sekalian hadirin
bermohon pada Yang Widi
Mohon agar diluluskan
berhasil niat sangjuru gambar
dan agar cepat datang
karyanya diterima Sang Prabu
belum usai yang melapor
tampillah juru gambar
Segera menghadap Ratu
‘persembahkan gambar Putri
terbungkus beres rapi
bungkusnya sutera kuning
suka cita para raja
melihat sangjuru gambar
Patih cepat-cepat
membawa ki juru gambar
menghadap Sri Baginda
yang mula melihat
hasil karya juru gambar
ialah Ratu Kahuripan
Senang nian Ratu Tuan
memandang lukisan Putri
sepakat penuh
pantas jadi permaisuri
meratui pra wanita
di Keraton Majapahit
Sama halnya Prabu Daha
pada pandangan pertama
===== HALAMAN 22 =====
gambar putri Ratu Sunda
puji keelokan Dewi
ujamya, Tak ada taranya
di masa dewasa ini !
Puas benar punya mantu
tak perlu mencari lagi
Setelah puas memandang
berkata Sang Prabu Tua
Ambillah gambar ini
hasil karya juru gambar
Ratu Agung Hayam Wuruk
sekilas saja memandang
gambar Putri Ratu Sunda
dalam hati memujinya
merasa baru kini
melihat potongan putri
Molek, tegap dan berisi
bisa tertukar dengan peri
semakin lama ditatap
semakin tergila Putri
lenyap alam mayapada
hanya tinggal si jelita
Dikau putri maha molek
sungguh ratu para putri
tiada ada taranya
dikau bagai Dewi Ratih
mungkin bukan sembarangan
mungkin peri gentayangan
Atau Dewi yang menyamar
Dewi segala wangian
puspa-puspa petamanan
atau inti sari kasih
Dewi dari Kahyangan
menggoda ratu prihatin
===== HALAMAN 23 =====
ASMARANDANA
Sang Prabu bersuka cita
Raja Daha suka hati
mereka faham sudah
gambar diterima baik
Prabu Tua suka ria
tertawa sambil mengangguk
lalu berkata
Pada Patih para mantri
dan semua hadirin
agar supaya bubar
para ponggawa ke luar
Ketiga raja
masuk ke dalam keraton
duduk di made soka
Ruang tempat musyawarah
Ujar Sang Raja Tua
pada Prabu Majapahit
Sekarang bagaimana keputusan
ayah ingin ketegasan
mengenai Putri Galuh ·
putri Maha Ratu Sunda
Bersembah Sang Narpati
Berkat doa ayahanda
serta rama Prabu Daha
perkara Nyi Putri Sunda
hamba kira memadai
dinaungi payung agung
layak jadi permaisuri
Malah andaikan Nyi Putri
ada yang menghalang-rintang
agar Dewi gagal
dijadikan permaisuri
niscaya dianggap lawan
musuh turun temurun
===== HALAMAN 24 =====
Segera Patih dipanggil
cepat-cepat ia datang
khidmat menghadap Ratu
lalu Patih diperintah
bersiap-siap melamar
Nyai Putri Galuh
pada Ratu Sunda
Patih Mada mohon diri
cepat karena gembira
diperintah Sang Prabu
ke luar dari pendopo
menghimpun wadya bala
memilih mantri, tumenggung
yang patut dibawa pergi
Tak lama siaplah sudah
surat dan barang bawaan
bertolaklah mereka
ke pelabuhan
lalu naik kapal
kelasi-kelasi sibuk
angkat jangkar pasang layar
Kebetulan dapat angin
layar kapal melembung
meluncut arah ke barat
pelabuhan jauh sudah
perjalan:an lancar
tampaklah pesisir Sunda
Patih Mada siap-siap
mengatur barang bawaan
menuju ibu kota
===== HALAMAN 25 =====
mengunjungi kepatihan
Ki Anepaken kaget
cepat menyambut tamu
lalu menghadap Raja
Mewartakan ada Patih
utusan Wilatikta (Majapahit)
ujar Sang Prabu
Suruh istirahat dulu
besok kita kumpul
hadapkan tamu-tamu
Ki Anepaken Patih
bersembah mohon diri
lalu menyuruh benah
sediakan segala sesuatu
seperti biasa
mengumumkan titah Ratu
esok harus bersidang
Keesokan harinya
sudah berkumpul
para mantri berderet
di tempat masing-masing
tak lama Sri Baginda
ke luar dari keraton
berpakaian serba indah
Mengkilap mahkota emas
mata silau dibuatnya
pentolnya intan berkelip
dikitari mutiara
diselingi biduri
serasi dengan sanggul
sanggul mayang mekar
Terlebih manis nampaknya
dengan kembang anggrek bulan
===== HALAMAN 26 =====
cocok dengan pemakainya
anting dari mutiara
memakai dodot sanebab
panjang bagus makin tampan
dibatik emas menyala
Mengenakan sabuk batik
giringsing pandawajaya
serasi dengan Sang Prabu
seimbang dengan badannya
yang sedang-sedang
pengikat dari Tinggulun
gelangnya kanabantala
Gagang keris dari gading
diberi bentuk raksasa buas memegang mayat
sarungnya emas gemilang
ditaburi permata
serasi dipakai Ratu
silau dipandang mata
Yang paling diutamakan
ialah tugas satria
hak kewajiban ratu
menjaga keamanan
dan kemakmuran negara
hamba-hamba kecil besar
seantero tanah Sunda
Keluarlah Ratu dari keraton
berkerumun pengiringnya
para ponggawa istana
segera Sang Ratu duduk
di atas mahligai
dihadapi pra pembesar
pendeta pra brahmana
Jaksa perdata, manguri
===== HALAMAN 27 =====
di tempat masing-masing
bersila khidmat
Ki Anepaken bersiap
menghadapkan utusan
pada Baginda Ratu
menyampaikan lamaran
Arya Patih Majapahit
bertindak lebih hormat
sujud di hadapan Raja
mempersembahkan surat
kepada kaki Baginda
surat diambil Sang Ratu
beginilah bunyinya
Ke hadapan Tuanku Gusti
Ratu Agung bijaksana
yang mulia berwibawa
penguasa Tanah Sunda
ampun Gusti Panulun
dengan surat ini
Mohon perkenan Jeng Gusti
sudi Gusti mengasihi
nanda dalem yang hina
ikut mengakui rama
kepada Sri Nalendra
menyampaikan permohonan
semoga diterima
Hanya berkah rama Aji
yang nanda mohonkan
sebagai penawar hati
nanda Dalem yang prihatin
dewasa ini
bagaikan burung malam
rindu terang bulan
Atau bagai burung elang
yang melayang di angkasa
berbunyi di awan hijau
haus menantang hujan
musim kemarau
===== HALAMAN 28 =====
nanda Gusti mohon angin
mohon diberi berkah
Perkenankanlah nanda
melamar Sang Ayu Ratna
pujaan jimat keraton
mustika keputran Sunda
Putri Galuh yang mulia
akan diangkat
dijadikan permaisuri
Di keraton Majapahit
membawahi pra wanita
semua hamba istana
menantikan bakal gusti
jimat sanggar pujaan
dan Patih Mada selain
menyampaikan surat
Diminta oleh nanda
menjawab pertanyaan
ramanda Prabu
Seusai membaca surat
merenunglah Ratu Sunda
merasa belas kasih
membaca bunyi surat
Baginda ikut bersedih
merasa gundah gulana
menaruh belas yang sangat
setelah dipikir baik
tersenyum seraya bangkit
minta pada Patih Mada
===== HALAMAN 29 =====
ceritakanlah, Arya Patih
Keadaan Majapahit
betulkah Sri Nalendra
yang begitu pandai
terkena sakit pikiran
bagaimana mulanya
tak mengerti aku
dengan Putri belum jumpa, bukan?
Jangan-jangan tertukar
atau salah cipta
terpesona kabar angin
kabar tak nyata
dari sini sejari
sampai di sana sedepa
Bersembah Arya Patih
wahai, Gusti Maha Nalendra
patih yang teramat bodoh
akan menyampaikan
sebenarnya keadaan
Putra Gusti yang mulia
betul tergila-gila
Menurut hemat patih
obat penyembuhnya
hanya mesti terlaksana
permohonan yang tersurat
selain dari itu
Rakanda Maha Prabu
Ratu besar Kahuripan
Setia memegang janji
disaksikan Prabu Daha
saudara Sang Prabu
andai terlaksana
seusai akad nikah
Ratu besar bernazar
memangku pengantin baru
===== HALAMAN 30 =====
Tanda sangat suka cita
serta kasih sayang rasa
tersenyum Sang Raja Sunda
Sukur kalau demikian
aku merasa senang
mendengar akan bernazar
tandanya setuju penuh
Mungkin maklum akan putri
yang masih kanak-kanak
jauh dari orang tua
kurang ilmu pengalaman
moga-moga Maha Kuasa
memberi selamat
beres berumah tangga
Suka cita kalbu Prabu
segera Baginda menitah
demang ponggawa keraton
terima barang lamaran
emas, intan, pakaian
yang dibawa Patih Mada
benda-benda serba mahal
Seusai diperiksa
disimpan oleh Demang
Surat oleh Maha Raja
disimpan di tempat sirih
tempat sirih gading kembang
diukir dan dibubut
indah direka-reka
Kemudian Sang Narpati
memerintah pra ponggawa
agar bubar
utusan pun diminta
pulang ke pesanggrahan
menanti panggilan Ratu
===== HALAMAN 31 =====
sementara Sri Baginda
Masuk ke dalam puri
berunding dengan permaisuri
lalu pergi ke keputren
ingin menemui putri
Sementara Sang Kusumah
yang molek Putri Galuh
menyambut ramanda
Sudah bersiap-siap
sedia tempat duduk
dayang-dayang berderet
tak lama datanglah Raja
beserta ibunya
suka cita Ratnaayu
menyongsong ayah bunda
Cepat permaisuri
meraih tangan putri
mendekapnya penuh rindu
mencium keningnya
begitu pula Raja
sayang luar biasa
mengajak duduk bersama
Tersenyum Raja berkata
Ayah merasa senang
punya anak upik
yang menjadi pujaan
hati ayah dan hati ibumu
dianggap jimat negara
Walau upik nanti
bersuami raja lain
tetap anak ayah jua
takkan punah kasih ayah
takkan putus-putus
===== HALAMAN 32 =====
biar jauh orang tua
janganlah bimbang
Ayah niscaya menjaga
merestui dengan doa
demikian pula ibu
akan selalu berdoa
mohon pada Yang Kuasa
agar kau sejahtera
membina rumah tangga
Upik tak usah bermuram
malah sebaliknya
bersyukur pada Yang Esa
karena dapat anugerah
akan diperistri
ratu agung mulia
termashur bijaksana
Tampan, muda, kaya raya
belum berpermaisuri
ayah dan ibu setuju
bila jadi diperistri
oleh Sri Maha Nalendra
Maha Ratu Hayam Wuruk
Ratu Agung Majapahit
membawahi tujuh raja
para ratu besar
seantero Pulau Jawa
menyerah tak kecuali
pada kekuasaan Ratu
walau masih muda
===== HALAMAN 33 =====
SINOM
Bila jadi permaisuri
di keraton Majapahit
alangkah agungnya
membawah seisi puri
dan sekalian hamba
dinaungi payung agung
terpencil seorang diri
jadi dewi putri
luhur agung sejagat sujud padanya
Mungkin upik belum tahu
untung jadi permaisuri
diperistri Sri Nata
selain senang dan kaya
beroleh ningrat Keling
keturunan mulia adi
berdarah Kahuripan
satria sejati
patut menjadi moyang
‘Tuk memanjangkan ‘turunan
menurunkan darah adi
selain itu Nalendra
sudah berjanji tak salah
jika jadi dengan Upik
niscaya seumur hidup
Upik takkan dimadu
rindu dan cintanya
dicurahkan padamu semata
Seusai nasehat Ratu
tampillah Permaisuri
agar Putri lebih senang
===== HALAMAN 34 =====
suka jadi permaisuri
Upik jangan lupa
yang patuh pada orang tua
itulah anak mulia
hal itu jelas tertera
dalam Pendidikan Putra
Anak yang berbakti
tak menentang orang tua
tak menolak kehendaknya
tak berbuat salah
kalau salah tingkah
kembali ke jalan benar
ambil contoh Madhawi
orang tua tak pernah ditentang
Menurut pendapat ibu
upik beruntung nian
teipilih oleh Sang Raja
dijadikan permaisuri
rasa ibu yakin
upik tentu taat
pada buku Purana
pedoman tingkah sejati
takkan abaikan patokan
Selain dalam Purana
upik pun maklum
dalam Silokan tara
jelas tercantum
berkorban seratus kali
pahlanya tak menandingi
bakti pada orang tua
lagi pula manfaatnya
ayah bunda dapat pahla
Upik pun penuhi darma
melanjutkan lakon diri
sebarkan turunan Raja
bagaimana pikir upik
mau ataukah tidak
katakanlah terus terang
tanpa tedeng aling-aling
===== HALAMAN 35 =====
Putri tunduk murung sesaat
Bagai bulan terhalang mega
muramnya wajah Putri
namun nampak manis
si jelita sedang gundah
enggan bercampur malu
berterus terang
bagai macan lesu
bersimpuh tak bergerak
jari permainkan alas
Sulam permadani lepas
kembang-kembang jadi kusut
sebab dicubit ditarik
Retnaayu Citraresmi
sejenak Nyi Putri
tunduk menggigit bibir
mata berkedip-kedip
dan bagaikan sangat Ielah
kalungnya bergerak seirama dengan nafas
Berkilau cah’ya permata
di atas leher Sang Putri
pantas ba’ golek kencana
menerbitkan air liur
para dayang bisik-bisik
saling colek-mencolek
Ken Bayan, Ken Pasiran
Ken Paguneman, Ken Sangit
ingin tahu menantikan jawab
===== HALAMAN 36 =====
Tak lama Ratnaayu Putri
jelita bersembah
menjawab menahan tangis
Sang Ratu dan Permaisuri
memasang telinga
khawatir Putri tak mau
pelan-pelan ujar Putri
Kehendak ayah dan ibu
sungguh akan saya junjung
Berkah ayah dan ibu
siang malam kunantikan
sungguh rela lahir batin
jangankan jadi permaisuri
menjadi pengasuh pun
bila kehendak ‘rang tua
akan saya terima
saya rela lahir batin
p’rintah ayah saya terima dengan ikhlas
Tertawa Sang Ratu Sunda
sama halnya Permaisuri
suka cita tak terhingga
mendengar ujar Nyi Putri
berkata lagi Sang Ratu
sambil membelai Ratnaayu
Anaking jimat awaking (Anakku, jimat ayah)
ayah sangat senang hati
moga-moga selamatlah akhirnya
Usai menanyai putri
Sang Ratu dan Permaisuri
air mukanya gembira
lalu masuk dalam puri
keesokan harinya
gempar seluruh negeri
goncang setanah Sunda
ada kabar bahwa Ratu
sekeluarga akan mengarung lautan
===== HALAMAN 37 =====
Dengan bala, harta, benda
ke negara Majapahit
menikahkan putrinya
menjadi permaisuri
ningrat maupun rakyat
ikut bersuka cita
karena Putri Sunda
terpilih permaisuri
tanda unggul kala itu
Maka esok harinya
para mantri ‘kumpul lagi
sebagaimana biasa
Sang Ratu Sunda bersabda
wahai, mantri-mantri
kalian tentulah maklum
bahwa lamaran Sang Raja
Nalendra Majapahit
sementara sudah kuterima baik
Adapun niatku
mengantarkan Nyi Putri
ingin saksikan sendiri
dinobatkan permaisuri
semua ponagawa mantri
yang perlu harus ikut
mesti segera bersiap
berlayar ke Majapahit
lengkap bawa bekal dan senjata
Dan macam-macam tontonan
jangan ketinggalan
keanehan tanah Sunda
pendeknya bawa segala
kapal-kapal mesti bersih
dihiasi serba indah
sekalian ponggawa
yang mendengar sabda Ratu
===== HALAMAN 38 =====
riang ingin segera bertolak ·
~
Sudah dapat dibayangkan
meriahnya penobatan permaisuri
tiap pembesar Pasundan
bernazar menghormat Putri
kemudian Sri Narpati
menyuruh panggil Ki Mada
Patih perutusan
Ki Anepaken Patih
segera menghadapkan Ki Utusan
Setelah Utusan tiba
khidmat menghadap Prabu
Sang Ratu Sunda berkata
wahai Patih Majapahit
surat yang dibawa Patih
dan segala kiriman
lamaran Sri Nalendra
Ratu Agung Majapahit
hari ini resmi kuterima
Sekarang aku minta
agar Patih lekas pulang
sampaikan bakti dan hormat
pada Aji Kahuripan
sampaikan oleh Patih
aku amat suka cita ·
karena Sang Ratu besan
bernazar memangku Putri
dan Sang Nata habis ‘nikah
Dan pada Sri Nalendra
Ratu Agung Majapahit
sampaikan tak lama lagi
aku dan Permaisuri
akan mengantarkan Putri
dengan semua pembesar
pemerintah kerajaan
ingin menyaksikan
upacara pernikahan Sang Raja
Dan mengenai surat
yang dibawa Patih
tidak kubalas
sebab ‘kan datang sendiri
malah semua mantri
sedang berunding
bersiap berkemas
seusainya lekas berangkat
demikian amanat pacta Sang Nata
===== HALAMAN 39 =====
Sang utusan bersembah
Daulat Tuanku
segala amanat
untuk putranda Gusti
dan kakanda Gusti
tentu akan disampaikan
dan selain itu
dengan perkenan Gusti
patih mohon diri pulang
Memang betul, ujar Raja
mesti cepat-cepat pergi
tentu Prabu Kahuripan
dan Sang Ratu Mlijapahit
selalu menanti
segera Sang Ratu
‘merintahkan Patih Sunda
membekali yang berangkat
makanan minuman lengkap
Karena perintah Raja
tak lama telah sedia
pendeknya tak kekurangan
hormat Patih tuan rumah
===== HALAMAN 40 =====
maka beiangkatlah tamu
di jalan tak dicerita
jauh pun pastilah sampai
kita tunda kisah lamaran Nyi Putri
Syahdan Ratu Sunda
sedang sibuk berembuk
mengatur apa yang aneh
akan dibawa serta
tak lama bereslah sudah
hampir semua pembesar
ikut bersama istrinya
pun pula priyayi kecil
‘bagai raja yang akan pindah negara
Kira dua ratus kapal
berhias indah
serta perahu Madura
berderet tepi pesisir
lebih kurang dua ribu
semua siap sedia
sementara Sang Narpati
berangkat dari puri dan anak istri
Diiringi para dayang
dan segenap isi puri
menuju pelabuhan
disusul para pengiring
Patih dan para mantri
demang, rangga dan tumenggung
beriring jol!jampana
dikawal para prajurit
sampailah ke pelabuhan
===== HALAMAN 41 =====
Sang Prabu terheran-heran
di tepi pesisir nampak
darah segar campur beku
merah padam atas laut
Jalu nampak pula
berpuluh-puluh gagak
berbunyi ak-ak-ak
sambil menyemburkan darah
melayang di tepi laut
Baginda mengusap mata
memandang lebih tajam
setelah nyata peristiwa
pertanda bagi Narpati
bahwa ajal Gusti
cepat akan tiba
alamat celaka
berlayar menyongsong maut
Ratu berdiri merenung
Sebentar bungkam belaka
memikirkan takdir diri
kadar yang ‘kan menimpa
diri Kanjeng Gusti
setelah masak dipikir
air mukanya berubah
bagai riang gembira
khawatir terlihat Putri
dan para ningrat yang riang
Sejenak Sang Ratu Sunda
ingat keberuntungan Putri
akan jadi permaisuri
di keraton Majapahit
alangkah beruntungnya
mempunyai mantu agung
kesedihan Sri Ratu
saat itu punahlah
terhibur bah’gia putri
Berpikir lagi Sang Ratu
mustahil batal berlayar
===== HALAMAN 42 =====
padahal sudah berjanji.
hina bagi s’orang Nata
nista bagi s’orang Raja
tidak menepati janji
beruntung maupun mati
hanya maklum Maha Esa
Kemudian naiklah sampan
Raja dan Permaisuri
Puteri serta dayang-dayang
tiada yang ketinggalan
kemudian para mantri
serta segenap pembesar
beriring berlomba-lomba
naik perahu kecil
ikut Raja naik ke atas bahtera
Sesudah ada di kapal
lalu diatur diperiksa
setempatnya setempatnya
Ki Anepaken Patih
sigap mengurus prajurit
iringan kapal diatur
yang paling muka
kapal para senapati
dan prajurit, disusul kapal Baginda
Menyusul kapal ponggawa
golongan priyayi kecil
di belakangnya beriring
puluhan kapal
Ia~yang sarat diisi
barang yang dibawa Ratu
umpamanya kendaraan
gajah, kuda, tandu, joli
panji, tombak, bunyi-bunyian
Yang cakap main senjata
dan bermacam-macam lagi
kesenian kraton Sunda
tak disebut satu-satu
usai semua diperiksa
iring-iringan diatur
Patih memberi isyarat
tanda siap sudah
angkat jangkar, pasang layar
Segenap bunyi-bunyian
serentak ditabuh ramai
pelan bahtera meluncur
kebetulan dapat angin
para mantri semua
rangga, demang dan tumenggung
berangin di atas kapal
memandang pesisir
terharu bagai ‘kan pindah negara
Tingkah suara gamelan
bergaung di tengah laut
wadya bala sorak sorai
karena bersuka cita
jauh dari rasa waswas
sebab segalanya cukup
tak kurang sandang pangan
tak takut akan bahaya
sebab banyak yang membela
Layar kapal mengembang
meluncur dihembus angin
ba’ angsa mengepak sayap
berenang di tengah laut
apalagi kapal Ratu
besar tinggi dan elok
berbeda dari yang lain
karena tumpangan Prabu
Y ong Sasangi kapal layar kerajaan
===== HALAMAN 44 =====
Ba kapal buatan Tatar
zaman Sri Wijaya sakti
Ratu Agung yang termashur
kala menggempur Kediri
terharu hila melihat
keindahan kapal Ratu
kukuh dan sentosa
dikawal diiring-iring
ba Dew a Baruna pindah ke J awa
Tunda dulu yang berlayar
sementara Patih Madu
sudah tiba di bandar
akan menghadap Narpati
usai berdandan ia pergi
kebetulan Maha Prabu
Kahuripan dengan Daha
serta Ratu Majapahit
bertiga sedang bercakap
43
===== HALAMAN 45 =====
44
MAGATRU
Tengah asyik membicarakan Ki Patih
rasanya lama benar
jangan-jangan ada aral
karena maksud tak sampai
tiada kabar juga
Kala itu tibalah Patih Madu
menghadap Sri Narpati
suka cita Maha Prabu
sambil menatap Ki Patih
senyum lihat air muka
Ujarnya, mari sini Patih Madu
berhasilkah maksud kita
tak sabar ‘ku menanti
ingin Iekas dapat kabar
tentang Maha Raja Sunda
Bersembah Ki Patih Madu
Daulat, ya Tuanku
surat serta kiriman
semua sudah diterima
oleh Sang Prabu
Lalu Patih menguraikan
pengalaman dari awal
sampai akhir dengan cermat
senang hati Sang Narpati
tertawa Sang Prabu Daha
Sabda pacta Hayaw_uruk
Ayah ikut suka cita
semoga selamat sejahtera
sehat badan, sehat hati
tetap memangku keprabon
===== HALAMAN 46 =====
Kini penghibur telah ada
yang mendampingi siang malam
ajar sakti dukun bertuah
penawar hati merana
yakni Putri Jelita.”
Manis senyum Hayamwuruk
bersembah lalu berkata
Berkat doa restu ayah
semoga selamat afiat
dapat anugerah Yang Esa
Bukan main riang ketiga Ratu
kerjanya tiada lain
sejak tiba Patih Madu
hanya mengatur menata
serta menghias keraton
Semua hamba ikut sibuk
yang ke rimba yang ke sungai
berburu rusa dan banteng
menjala dan menjaring
dan menangkap ikan empang
Kerbau sapi buat tamu
sudah siap ‘tuk dipotong
pelbagai jenis ikan pun
yang besar, maupun kecil
penuh danau, penuh empang
Gempar heboh kota, desa
karena akan datang Putri
calon permaisuri Ratu
segenap pembesar negeri
ikut bersuka cita
Tiap hari yang bakti datang berbondong
utusan setiap negeri
membawa barang-barang nan elok
•
t
.
45
===== HALAMAN 47 =====
46
‘tuk Raja dan Rajaputri
busanalah yang terbanyak
Syahbandar sibuk mengurus barang
kapal datang tak habis-habis
berlomba-lomba berlabuh
berkerumun di pesisir
para tamu dan penonton
Luasnya wilayah Ratu
membawah empat lautan
tanah subur, tanah makmur
di kala Gusti berhajat
orang menjadi tercengang
Sampan dan berbagai perahu
yang berbakti pada Ratu
berderet beribu-ribu
sehingga air tak nampak
bagai kayu dalam empang
Makin lama makin gempar
orang kota orang desa
sibuk membuat melabur pagar
negeri mesti rapi bersih
apalagi di keraton
Cerah pajangan tenunan agung
diatur hingga serasi
karena pandai penata
rumbai diselang-seling
sedap dipandang mata
Alangkah senang Ratu Hayamwuruk
melihat hiasan puri
yang akan dipandang Ratna
jan tung pujaan hati
yang sedang dinantikan
===== HALAMAN 48 =====
Tunda dulu yang lagi sibuk
seisi Majapahit
yang ‘kan menyambut tamu
sedang yang dinanti-nanti
yakni Sang Nata Sunda
Yang berlayar bersuka ria di lau t
cuma sepuluh malam
sejak datang Patih Madu
ke negara Majapahit
tibalah iring-iringan
Patih sudah menghadap Sang Ratu
bahwa tamu segera datang
bahkan kapal terdepan
sedang bersiap-siap
akan membelok
Sabda Ratu, jika kita sudah masuk
ke Bengawan Majapahit
lebih baik kita tunggu
menjemput Sri Narpati
mencari tern pat jedah
Pilih saja tempat teduh
nantijuga ditemukan
segera Patih mohon diri
menerima titah Ratu
tak lama kapal membelok
Patih dan p’ra pembesar berembuk
dari muara terus mudik
beriring maju pelan
sesudah sampai
ke Bubat kapal pun tiba
Orang Bubat gempar melihat tamu
penuh sesak tepi sungai
memandang beratus kapal
47
===== HALAMAN 49 =====
48
Lurah Bubat siap sedia
melapor pada Baginda
Kebetulan Prabu Daha, Prabu Tua
dengan Ratu Majapahit
sedang duduk bertiga
memikirkan hal Nyi Putri
yang tengah dinantikan
Ketiga Ratu kala mendengar Ki Lurah
ada di balai tamu
melapor perkara tamu
segera dipanggil Ratu
ditanya, ada apa?
===== HALAMAN 50 =====
KIN ANTI
Daulat, ya Tuanku
perkenankanlah patik
menyampaikan kabar
bahwa tamu sudah datang
dengan beratus datang
dengan beratus bahtera
di bengawan penuh sesak
Tibanya Sang Ratu Sunda
jelas dengan Permaisuri
wadyabala tak terbilang
pangkat agung pangkat rendah
iku t sekeluarga
tiada yang tertinggal
Orang heboh tepi laut
penuh sesak di pesisir
muara penuh bahtera
simpang siur sampan perahu
datang beriring-iring
dari p·agi hingga senja
Perahu berlomba-lomba
‘milih tempat tepi sungai
dari kejauhan tampak
berkawan bagaikan laron
sebagian ‘layar ke hulu
karena mau menepi
Sudah sampai ke Canggu
iringan perahu kecil
berbaris di tepi sungai
adapun kapal Narpati
dengan kapal para ningrat
49
===== HALAMAN 51 =====
50
telah menepi di Bubat
Lalu mendirikan tarub
pasanggrahan tepi sungai
tiap ningrat masing-masing
diatur berderet-deret
dekat pesanggrahan
bersemayam Sang Narpati
Pesanggrahan Kanjeng Ratu
nyaman, sejuk tak terhalang
di tempat yang amat bagus
di bawah pohon beringin
berderet-deret panjinya
berkibar dihembus angin
Bebas ‘mandang ke selatan
yang jauh pun nampak jelas
sekeliling pesanggrahan
penuhalat-alat perang
tom bak merah tak terbilang
bedil bersandar berderet
Lurah teliti melapor
keadaan di pesisir
tiada yang terlampaui
bahkan perihal wanita
yang dibawa Ratu Sunda
disampaikan pada Prabu
Semua cantik dan manis
pelan betjalan di pantai
ba’ wanita kahyangan
turun dari langit
akan bermandi di !aut
untuk menghibur diri
Bersuka cita Sang Ratu
mendengar tamu datang
===== HALAMAN 52 =====
serta begitu jelas
laporan Ki Lurah
bertiga lalu berembuk
menjemput yang baru datang
Patih harus segera
kumpulkan para prajurit
joli jampana, kereta
yang ditabur mas permata
ditutup sutra dewangga
bangsal anyaman kulit rumbia
Besanku sudah datang
di Bubat tengah menanti
tibanya songsongan kita
ingin Iekas ‘ku bersua
dengan bakal menantuku
dan dengan besanku
lngin meluluskan Ratu
hendak menemui Putri
cepat-cepat bersiaplah
para mantri suka cita
mendengar perintah Raja
berkatalah pada Gusti
Beribu-ribu terima kasih
patik hendak serta
menyongsong Ratu Besan
menurut pendapat patik
memang sangat utama
kehendak Gusti
Menurut tutur nenek moya.ng
yang sayang dibalas sayang
yang keras dibalas keras
sekarang Sang Ratu Sunda
telah memenuhi janji
51
===== HALAMAN 53 =====
52
baiklah disongsong kini
Tentu Maha Ratu Sunda
tak berbeda dengan Gusti
ingin Iekas bertemu
mendapat songsongan Gusti
dan Sri Maha Nalendra
penguasa Majapahit
Sri Baginda Hayamwuruk
tersenyum ‘dengar pra mantri
berkata pada ayahandanya
tampak suka cita sangat
Prabu Tua Prabu Daha
tersenyum melihat Jucu
Lebih senang dalam hati
rasa seniat sepikir
sesuka dan seduka
baginda dan hamba-hamba
pendeknya saat itu
suka hati suka tawa
Kala itu tersebutlah pembesar
Patih Agung Majapahit
namanya Gajah Mada
tangan kanan Sri Narpati
tempat orang bertanya
bagaikan tiang negara
Amat tidak setuju
dengan kehendak Narpati
tak menyepakati niatnya
tak sepakat tak sepikir
dengan sangat Gajah Mada
mcnentang kehendak Gusti
Kening Sang Gajah mengernyit
khidmat di hadapan Ratu
===== HALAMAN 54 =====
semua yang suka cita
para mantri dan bupati
‘mandang air muka Patih
yang berlainan paham
Pengawal Seri Baginda
begitu pula sahaya
dari batik kambi kawat
mengintai diam-diam
cuma dengan sudut mata
berkali-kali melirik
Mereka yang maklum menunduk
tak habis berpikir
heran akan Gajah Mada
mengapa berbeda faham
berbeda dengan yang banyak
mengapa, tak masuk akal
Para bupati tumenggung
yang duduk agak jauh
sating colek dengan rekan
mengapa gerangan Patih
seperti tidak setuju
mungkin ada soal pelik
Hening segenap hadirin
melihat Patih bergeser
bersembah Gajah Mada
berkata pacta Narpati
Ya ampun, Maha Nalendra
perkenankanlah patik
Menyampaikan pendapat
bukanlah patik
menentang perintah
tak ikutbersuka cita
namun bila patik diam diri
taku t dipersalahkan
53
===== HALAMAN 55 =====
54
Ampun beribu ampun
hal perkara Kanjeng Gusti
ingin pergi ke Bubat
menyongsong Sang Ratu Sunda
baiklah bersabar dulu
sebab patik berpendapat
Kehendak Ratu Agung Sunda
mengenai Sang Putri
‘kan menyusahkan semua
karena melawan tata
melanggar tata negara
politik Majapahit
Ampun beribu ampun
dengan perkenan Tuanku
baik ditangguhkan dulu
sampai empat lima malam
Tuanku tentu lebih maklum
hal menyongsong tamu Gusti
Artinya Gusti menjunjung
nyatanya Gusti memunjung
hemat patik ‘kan mengikis
pengaruh Tuanku
melunturkan keagungan
menyuramkan Majapahit
Dan kalau dipikir-pikir
keagungan Tuanku
sesembahan para raja
Palembang, Wandan, Tumasik
Koci, Sawangkung, Madura
Tanjungpura serta Bali
Tentu pikir para ratu
yang bersujud pada Gusti
berbakti harta benda
yang menghadap telanjang
===== HALAMAN 56 =====
dibaluri bedak kuning
semua ‘kan sakit hati
Sebab tak seperti dulu
penerimaan Tuanku
bukan menentang kehendak
ampun beribu ampun
segala-galanya terserah
pada kehendak Tuanku
Maha Raja Hayamwuruk
menunduk mendengar Patih
mungkin betul demikian
kalbu Sang Ratu goncang
kar’na kata Gajah Mada
kemudian bersabda
Patih agaknya cemburu?
Daulat, Tuanku
cemburu membawa salah
dan hal keagungan kami
luas sepenuh jagat ray a
takkan punah tercubit sedikit
Ki Patih berkata lagi
Gusti, pujaan patik
tampaknya memang tak penting
tak mengandung bahaya
namun patik merasa
khawatir dan waswas
Makin lama makin tebal
lebih ngeri dari disayat sembilu
semula ba’ bersahabat
tapi patik yakin
bersahabat takkan lama
kelak niscaya terbukti
Berubahnya Ratu Sunda
55
===== HALAMAN 57 =====
56
karena diagung-agung
disongsong dihormat-honnat
tak segan pacta Tuanku
berani samai harkat
begitu pula hambanya
Karena memandang Ratu
tak takut dan tak khawatir
akhirnya tiada bedanya
lenyap keagungan Gusti
susut pengaruh negara
turun harkat Majapahit
Maha Ratu Hayamwuruk
termakan kata Sang Patih
seakan harus begitu
takdir Yang Maha Suci
gara-gara ada perang
permulaan banjir darah
Segala yang diucapkan
oleh Patih Gajah Mada
masuk dalam kalbu Ratu
tak terpikirkan Baginda
apakah kesalahan
maksud Patih itu
Hasil kerja Patih Madu
jerih payah siang malam
penghonnatan Ratu Sunda
pacta utusan Majapahit
musnah tak berbekas
lenyap dari pikir Gusti
===== HALAMAN 58 =====
PANGKUR
Bahkan sejak itu
Ratu melarang pra mantri
mengantarkan apa-apa
pada tumu, Ratu Sunda
para mantri, bupati dan. tumenggung
semua yang ikut sidang
kaget ‘dengar sabda Ratu
Seujung rambut tak terduga
Baginda terpikat Patih
sampai bersabda begitu
rasanya terbalik
jauh-jauh tamu dari Sunda datang
namun dimurkai
susu dibalas tuba
Semua ponggawa bergunjing
tapi takut menghadap Ratu
menunduk seraya bingung
melawan tak mungkin
sebab taat pada sumpah
takut paqa Gajah Mada
Patih panglima perang
Sementara di pesanggrahan
Ratu Sunda di Bubat dan para mantri
menanti songsongan Ratu
tiap hari bersiap
diatur kerja waktu berangkat
iringan dari Bubat
ke keraton Majapahit
Namun sekian lama
songsongan tak kunjung datang
konon Ratu mendapat
warta dari luar
57
===== HALAMAN 59 =====
t
l
58
tuan ramah menaruh syak
disebabkan Gajah Mada
Ratu Sunda heran
Lalu memanggil ponggawa
berembuk dengan p’ra mantri
setelah pembesar ‘kumpul
bersabda Ratu Sunda
apa yang didengarnya
kata-kata Gajah Mada
pada Ratu Majapahit
Para ponggawa sepakat
Iebih baik dibuktikan
kalau-kalau kabar palsu
segera Raja memanggil
mantri ponggawa kapal
agar mengawal utusan
menghadap ke Majapahit
Tumenggitng Penghulu Borang
berkata kepada Patih
Demang Caho, panglima perang
serta Penghulu Borang
Patih Pitar, patih Putri Galuh
dan tiga ratus prajurit
pilihan berpakaian bagus
Semua berangkat dari Bubat
arah ke selatan tanpa mengaso
menuju Mesjid Agung
terus ke Palawean
ke timur sampai jalan ke selatan
tiba di Palaban tikan
menuju rumah Patih
Sesampai di sana
Anepaken tanpa ‘tanya
===== HALAMAN 60 =====
dengan pengiringnya masuk
tanpa minta izin
lalu berhenti dan menanti
di bawah pohon asoka
murung dan jengkel
Waktu itu Gajah Mada
berembuk dengan mantri
mantri yang sudah tua
banyak makan garam
menceritakan kedatangan Ratu Sunda
bukan perbuatan wajar
karena tak berbakti
Cara bagai bersahabat
tapi bila dipikir berulang
tingkah lakunya palsu
Gajah Mada bercerita terus
tak mempedulikan yang datang
di luar kambi kawat
gunjingnya makin asyik
Beberapa waktu lamanya
utusan tak diacuhkan
semua tamu kesal
lalu maju serempak
masuk pintu gerbang berbondong
ke bangunan batu
tempat seba para mantri
Meminta izin menghadap
tetap tak dipedulikan
jangankan ramah disambut
malah para pengawal
melihat sikap majikan ikut merengut
membuang muka ba’ benci
utusan Sunda berunding
59
===== HALAMAN 61 =====
60
Tumenggung Penghulu Borang
berkata kepada Patih
J ika ki ta tak berani
masuk Iewat kambi kawat
padahal diperintah Ratu
kita selaku utusan
baik buruk mesti bukti
Demang Caho sepakat
lalu masuk dengan Ki Patih
setelah utusan masuk
Gajah Mada terkejut
dan berkata dalam hati
Oh, itulah pembesar Sunda
Ki Anepaken Patih
Maka bertanyalah Gajah Mada
Wahai, yang dari pesisir
sudah lama baru muncul
selamat datang orang Sunda
pangkat apakah yang datang ini
aku belum tahu
pangkat kalian masing-masing
J awab Anepaken sa bar
Saya berpangkat Patih
utusan Sri Maha Ratu
dan inilah Demang
Demang Caho, sedangkan yang itu
Tumenggung Penghulu Borang
dan yang seorang lagi,
Namanya Patih Pitar
Patih Putri Retnaayu
Citraresmi, Putri Galuh
tersenyum Ki Gajah Mada
mentertawakan tamu
oh, kalian semua menak
===== HALAMAN 62 =====
tapi tak tahu adat
Tak tahu basa-basi
datang tak minta izin
apakah lazim begitu
J awab Ki Anepaken,
Wahai, jangan tuduh demikian
sebaliknya kurasa
anda kurang tahu tata
Demikian lamanya
kami menunggu penyongsong
tapi tak kunjung tiba
sebab itu aku datang
mencari terang atas titah Ratu
sebab tiada perintah Raja Majapahit
Kehendak Sang Ratu Sunda
kalau sudah beres
segera akan mengu tus
menitah siap sedia
segenap hamba di Canggu
begitu pula yang lain
yang ada di Ampel Gading
Yang ada di Gresik pun
kapal-kapal mesti ‘kumpul
akan segera dipanggil
dan hamba dari Lasem
yang akan memikul, dan membawa
barang bawaan Raja
bagi Ratu Majapahit
Berbagai barang indah
begitulah titah Ratu Sunda
agar Iekas beres
terlaksana maksud
ingin Iekas melihat putra dan mantu
waktu pernikahan
61
===== HALAMAN 63 =====
62
begitu titah Baginda
Senyum Patih Gajah Mada
Anepaken, anda berpangkat Patih
tetapi tak tahu adat
tak tahu tata krama _
tak pemah berbuat adab
tak mengenal adat
tak patut jadi Patih
Anda tidak berkuasa
biarpun anda Patih
keturunan apa gerangan
berbuat amat ganjil
hila tahu tata dan hukum
pedoman mengurus negara
masakah tingkah kampungan?
J ika and a bel urn tahu
para ratu yang datang ke mari
menghadap Sang Ratu
Tumasik, Tanjung Pura
Sampit, Wandan, Koci, Bali dan Sawangkung
semua bersujud sembah
pada kaki Sri Narpati
Dan mempersembahkan barang
barang-barang aneh mahal
bakti pada Ratu Agung
itulah biasanya
bagus benar ditiru anda
sebab konon sudah siap
Rajaputri ‘kan dip~rsembahkan
Bila akan dibawanya
Putri dipersembahkan ke Gusti
lebih baik cepat-cepat
sebab begitulah adatnya
nanti kutawarkan pada Ratu
===== HALAMAN 64 =====
tentu Sri Maha N alendra
mengumpulkan pra pembesar
Para pujangga dan jaksa
dan sadu ‘kan menyaksikan
penerimaan tamu
paseban mungkin penuh
nah, setujukah demikian?
bangkitlah marah Utusan
mendengar ujar Sang Patih
Wajahnya ba’ lombok matang
kuping panas ba’ disentil
gemetar, lalu berkata
Hai, Patih Gajah Mada
kau sombong dan lancang
menghina rendahkan orang
berani menyuruh bakti
Bagai pada taklukannya
seperti ratu Wandan, Koci
apakah kau keliru
ataukah disengaja
Ratu Sunda tak perlu bersujud
sebab bukan taklukannya
kapan kalah perang?
Sunda belum kalah jurit
perang dengan Majapahit
belum pula takluk
malah kalau tak salah
waktu perang kau
membawa banyak bala
menggempur kampung kecil
Merampoki kampung-kampung
orang Sunda ‘sembunyi di mana-mana
teniara Jipang mendesak
kala muncul Patih Sunda
63
===== HALAMAN 65 =====
t J
I
t
64
tentaram u tunggang langgang
kedua mantrimu
tak mampu bertahan
Mantri Les temui cijal
Ki Beleteng pun gugur
balamu ‘larikan diri
terus menerus dikejar
sebagian mati bagai Iutung
terjerembab dalam jurang
yang masih hidup menyerah
Oleh sebab itu
jangan keterlaluan
angkuh dan suka memak.i
tak baik ak.ibatnya
kau pikir aturanmu bagus
tapi sebenamya
menyesatkan yang berbudi
Kalau tetap jahat niat
dengki pada yang berbudi
ingatlah hukuman Tuhan
menjadi umpan nerak.a
Gajah Mada menggigil karena marah
wajahnya merah padam
berkata sambil gemetar
Sepadan betul dengan rupamu
orang Sunda tak tahu adat
katanya Patih Madu
sudah mengikat janji
dipakai alasan menyusul
dasar orang bodoh
Perkara ini akan
kuatur dan tak lama lagi
akan kusampaikan pada Ratu
===== HALAMAN 66 =====
Bila berkenan
tentu Baginda ‘kan mengutus
tunggu saja di Bubat
keputusan Kanjeng Gusti
Kalau Ratu tak berkenan
mengutus orang ke pantai
tanda Bubat ‘kan dikepung
sampaikan pada Sang Raja
Ratu Sunda diharap menanti
dan jangan mundur
waspada, siapkan bala
Terserah Sang Raja Sunda
syukur bila memenuhi
kehendak Sang Ratu
Ratu di Wilatikta
namunjikalau tak sudi
tentu binasa dicincang
ditumpas habis-habisan
Dibuat alas di Bubat
dijadikan mangsa gagak
nah, sekarang engkau tahu
akan kehendak Nalendra
pikir masak-masak dan tenang
marah ujar Patih Sunda
Hai, Gajah Mada, khianat
Berkata sepuas hati
bukan adat senapati
bukan tingkah ningrat tinggi
menurut ajaran mana
tingkah itu bukanlah tingkah pembesar
melainkan polah jahat
yang khianat dan yang dengki
Tumenggung Penghulu Borang
65
===== HALAMAN 67 =====
66
dengan marah dan gigi gemertak
bersiap sam bil berkata
Hai, Patih Gajah Mada
apa guna banyak cakap
tak perlu dilcima-lama
segera iris orang Sunda
Aku ini tarneng R~a
tak takut menumpah darah
niatku membela Ratu
engkau mencari korban
sudah siap bala tiga ratus orang
sekarang ke luarlah
bawa semua prajurit
Kepunglah orang Sunda
mari hitung luka, takar darah
bila karni gugur
tentulah kau puas
sebab sisanya cuma wanita dan Permaisuri
kau senang merajalela
itulah tata cara Majapahit
Terbelalak Gajah Mada
muka merah kuping panas
gemetar lalu berdiri,
para prajurit pengawal
nyaring, bercakap, bersiap tunggu perintah
‘kan mengepung orang Sunda
ingin membabat semua
===== HALAMAN 68 =====
Pendita Asmaranatha
melihat air muka Patih
segera berkata sabar
J angan begitu, anakku
lebih baik damai saja
tak baik menurut nafsu
dan utusan ini
janganlah sakit hati
SIN OM
tunggu dulu, dengarkan kata-kataku
Janganlah turuti nafsu
lebih baik berdamai
sebab maksud Sri Nalendra
betul-betul baik
bila Sri Narpati
dan pra tumenggung semua
sudah berembuk mufakat
mungkin tak berubah lagi
tentu memegang j anjinya
Tercantum dalam Purana
riwayat zaman dahulu
yang bertingkah laku buruk
yang dengki iri hati
takkan salah lagi
diadili Maha Agttng
calon isi neraka
oleh karnanya, anakku
bicara jangan gugup, tenang scija
Bukankah Ratu Sunda
hingga sekarang pun
tetap ingin menikahkan putrinya
pada Ratu Majapahit
kini dua patih
di sini lagi herem buk
67
===== HALAMAN 69 =====
68
bagaimana mengatur
perkawinan Putri dan Gusti
belum beres, sedang ditimbang-timbang
Begitu ujar Pendita
dengan air muka manis
Anepaken menjawab
Wahai, rama Maha Resi
kata-kata rama tadi
sangat melegakan hati
nyaman dan wajar
meresap ke sanubari
ba’ mandi air khasiat
Memang betul Ratu Sunda
datangnya putih bersih
tidak bermuka dua
hanya memenuhi janji
mempertemukan Nyi Putri
dengan Prabu, caJon mantu
melaksanakan kehendak
namun maksud itu
dikeruhkan Gajah Mada
Dirusak tingkah biadab
dikotori orang dengki
sampai begini jadinya
habis kesabaran hamba
hilanglah adab Patih
terbakar orang cemburu
Gajah Mada bangkit
terbelalak muka bengis
sambil mengancam, menuding
Hai, Patih Sunda
kampungan, tak tahu adat
bagaimana kau artikan
kata-kataku tadi
===== HALAMAN 70 =====
mengaku sebagai patih
ilmunya seperti monyet
tak henti-hentinya
dari tadi ‘nuduh dengki
membuat malu, bedebah!
Anepaken bangkit lagi
balas menuding berani
Nyata manusia ini
tak patut dimaafkan
mesti dilawan sengit
berani menyebut monyet
hai, Patih Gajah Mada
monyet k’labu Majapahit
terus terang, apakah cirimu?
Tandanya di medan perang
tanda senapati jurit!
Jawab Gajah Mada cepat
Bila ingin tahu
panglima Majapahit
di atas kereta agung
payung sutera menyala
dengan tanda ningrat agung
panji disulam benang mas
Dilukis gajah mengamuk
serta didampingi
prajurit banyak sekali
nah, hila nanti kau lihat
kau tak boleh takut
ml\iu kalau berani
Jawab Ki Patih Sunda
Nantijika kau melihat
ningrat Sunda tunggang kuda
Kuda besar dan gagah
hitam lebam pilihan
69
===== HALAMAN 71 =====
70
pelana ditutupi mas
pedangnya pun demikian
dihiasi mas pennata
berbaju saten ungu
dikembangi benang mas
sabuknya menyala murni
ditaburi pennata aneka warna
W arna payung dan bend era
hitam mulus serba warna
pentol payungnya dari mas
tamengnya pun demikian
ditutupi emas murni
ditaburi intan bersinar
sambil memegang tombak
besi baja paling keras
gagang tom bak berbintik mas
Berhias kepala ningrat
pem besar tiada tanding
panglima prajurit Sunda
lagi pula bercelana
tanda patih negara
batiknya giringsing kawung
nah, hila nanti bertemu
dengan ciri-ciri tadi
janganlah mundur, itu dia Patih Sunda
Yang termashur ahli perang
yang melihat pasti takut
baiklah kau temui
‘tuk berunding berjanji
mungkin menemukan tanding
panglima Iawan panglima
saling luka melukai
siapa berkulit liat
ingin tahu siapa berbadan keras
===== HALAMAN 72 =====
Pendeta Asmaranatha
pelan melerai lagi
patih yang bersengketa
J anganlah begitu, nand a
mengapa sama-sama lupa
terlanjur kata-kata
sekarang baiklah tinjau
kenyataan sejenak
henti dulu agar pikir jadi tenang
Menurut pendapat rama
kalau disepakati
para utusan Pasundan
sekarang pulang saja
Sang Prabu tentu mengutus
putih maupun hitam
nanti akan terlihat
tunggu kira-kira dua hari
Tunggu saja di Bubat
agar nafsu jadi reda
moga-moga Sri Nalendra
ingin memenuhi janji
nanti kalau terbukti
barang tentu Patih Madu
yang akan diutusnya
sampaikan titah Narpati
nah, apa pendapat utusan?
Para u tusan Pasundan
setelah mendengar Resi
berkata demikian
tak panjang pikir lagi
mohon diri akan pulang
Sang Pendeta ucap syukur
orang bersama ke luar
dari pekarangan Patih
cepat kembali ke Bubat
71
===== HALAMAN 73 =====
72
DANGDANGGULA
Semengara Anepaken Patih
dan rombongan tiba di Bubat
lalu menghadap Ratu
ke pesanggrahan
para ponggawa dan mantri
sudah duduk beJjejer
bersimpuh menunduk
sedang pra prajurit duduk
tersebar bawah beringin
Anepaken bersem bah
Ampun beribu ampun, Tuanku
patik selaku utusan
telah cukup mencari keterangan
bahkan telah memenemui
Patih di Majapahit
yang bernama Gajah Mada
perisai Ratu
yang menaruh curiga
tetap menuduh kedatangan Gusti
bukan untuk mempertemukan putri
Namun menyembunyikan politik
nyata menurut warta
yang sampai pada Tuanku
begitu pula Sang Ratu
Sri Nalendra Majapahit
yang begitu agung
paling berilmu
terpikat sesat
oleh niat Gajah Mada
agar Tuanku maklum
Kegembiraan Gusti
yang terbayang sejak bertolak
ke luar dari keraton
===== HALAMAN 74 =====
musnah tak berbekas
begitu pun semua hamba
yang ingin ‘nyaksikan pesta
temui jalan buntu
kesukaran kelelahan
‘tuk menghormati Raja Putri
mubazir semua
Malah semua hamba
masih untung bisa pulang
menghadap Tuanku
mulanya akan mengamuk
mempertaruhkan nyawa
karena dihina
oleh Patih Agung
berceritalah Patih Sunda
tentang pengalamannya
tiada yang terlampaui
Ratu Sunda diam bungkam
asyik memikirkan kadar
teringat pada alamat
sem ua yang hadir
hening memasang kuping
hatinya ikut panas
karena dihina
diremehkan Gajah Mada
Ratu Sunda murka terpendam di hati
wajah merah padam
Mata menyala menatap Patih
senyum manis mereda amarah
tangan gemetar
akibat nafsu
hati-hati ujar Ratu Sunda
Kalau begitu
jelas kita ditipu
dielus dibujuk
73
===== HALAMAN 75 =====
74
bagus nian aka! orang Majapahit
matang betul tipunya
lngin senang pakai tipu Keling
ingin kaya pakai aka! Koja
agar terpikat tertarik
telah tertarik diborgol
seperti bukan lelaki
sekarang sudah terlanjur
jika tak beruntung, buntung
hai, semua pra ponggawa
terus teranglah tanpa tedeng aling-aling
bagaimana sekarang?
Siapa yang takut mati
jangan paksakan diri
lebih baik Iekas pulang
bawa semua wanita
senangkan dan hiburlah
kami tak ragu-ragu
akan membela negara
takkan hitung musuh
le bih baik gugur perang
daripada dicerca dihina
dipakai bahan ejekan
Baik buruk kehendak Yang Esa
semua beroleh bagian
rugi-un tung, sedih-senang
takkan ada mahluk
dapat memungkiri
segala yang menimpa
kadar yang datang
hasil kerja kita
yang baik maupun buruk
tak tertukar, tiba pada saatnya
Awal akhir buahnya akan dipetik
===== HALAMAN 76 =====
kita akan menerima
berat ringannya hukuman
adapun yang kami maksud
yang kami pikirkan
berniat ‘nerima cobaan
pem berian Yang Agung
untuk memohon ampun
akan perbuatan yang lalu
ingin membersihkan raga
Apakah buruknya lelaki
yang gugur di medan perang
tentu semua maklum
bahwa satria harus
menjalankan darma hidup
memenuhi tugas
teguh pegang kebenaran
dan membasmi keburukan
para mantri serempak berkata
Patik menyaksikan
Dan akan ikut
bertempur habis-habisan di medan perang
takkan ‘pisah dari Gusti
jika tak berani
ajal di medan jurit
tentu takkan selamat
menurut nenek moyang
yang gugur karena perang
membela bangsa negara
mendapat surga mulia
Disongsong pra bidadari
semua hasrat ‘kan terpenuhi
yang mati karena perang
menebus ayah bunda
di akherat kelak
punah segala dosanya
75
===== HALAMAN 77 =====
76
oleh ganjaran perang
kelak anak cucu Sunda
menyanyikan keberanian yuda
para satria Sunda
Lagipula kematian patik
guna membela negara
jadi ,-:arisan batin
adapun kemuliaan perbuatan
bagi satria tiada lain
hanya satu hal
yakni dalam perang
mengejar bahgia kemuliaan
kalah menang untungnya sama
untung tanpa rugi
Keuntungan lahir pemenang
jadi jago menguasai para raja
mulia, kaya raya
lalu bisa metik
hasil kemenangan perang
banda upah bhoga
paribhoga terkumpul
jelasnya sandang pangan
begitu pun pra wanita tersedia
upah menang perang
Yang kalah dalam perang
mati jaya melakukan darma
terhitung sama saja
dianggap menang jua
didapatnya upah perang
di alam baqa
cukup melimpah-ruah
tersedia apa yang diinginkan
bedanya cuma alam berlainan
kala mendapat upah
===== HALAMAN 78 =====
Usai pra mantri berjanji
ingin mati ‘bela bangsa
dan setia pada Ratu
mengejar bahagia mulia
ganjaran janii Yang Widi
Ratu Sunda beroleh semangat baru
hatinya makin berani
tampak dari wajahnya
tersenyum menekan nafsu
seraya berkata
Mantri-mantri, syukurlah kalau begitu
Iekas sambut kedatangan musuh
bulat tekad kami ingin mati
jauh dari menyesal
buang nyawa di Majapahit
Selesai berembuk
pra ponggawa mundur
diizinkan pulang
Ratu Sunda Ialu masuk
memenuhi istri dan putri
Permaisuri dan Rajaputri
sedang duduk di bangku indah
~etika melihat Sang Ratu
menyongsbng Baginda
oleh Sang Narpati putri
didekap dan dibelai
wahai, anakku sayang
jan tung hati jiwa ayah
sayang, tak kuduga ditakdirkan
menemui kegagalan
Niat mengawinkan upik
terhalang godaan besar
jelas tak adajodo
upik dengan Maha Ratu
tiada perkenan Yang Widi
77
===== HALAMAN 79 =====
78
terbukti ada halangan
merintangi maksud
ada permintaan Raja
agar upik dibaktikan
ayah tak sampai hati
Kehendak Sang Ratu
ia berubah sikap
ingkar dari janji dulu
ayah mesti bersujud
membaktikan upik, sayang
bagai ratu bawahan
yang sudah takluk
mesti memberi sogokan
upik dipakai upeti
ayah takut berdosa
Daripada hina lebih baik buang nyawa
ikhlas ridho daripada begitu
dihina dan diejek
agaknya Sunda mesti
tarung dengan Majapahit
seperti yang sudah-sudah
ayah takkan mundur
akan memenuhi darrna
meski kalah terima anugerah Gusti
di alam baqa
Oleh sebab itu, upik
lebih baik pulang ke Pasundan
biar kau nyaman dan tenteram
bersama-sama ibu
dan tak usah khawatir
teringat pada yang perang
sebab kewajiban ratu
penuhi darma satria
kudoakan upik senang sejahtera
selamat selalu
===== HALAMAN 80 =====
Ujar Ratu pada permaisuri
sambil membelainya
lstriku, penghibur hati,
istriku yang setia
pendampingku siang malam
pujaan kalbuku
permata yang kusayang
semoga tetap berirnan
jangan gugup dan kaget
Hari ini cobaanku tiba
mungkin hari penghabisan
akhir kasih dan rindu
hila kakak sampai ajal
semoga kau tetap tabah
mengurus dan merawat
si Upik Galuh
jangan susah dan murung
kita w~ib menerima
pem berian Yang W idi
Esok engkau mesti pulang
dengan Upik ke Pasundan
dengan semua wanita
Permaisuri menunduk
‘dengarkan ujar Baginda
tak lama lalu tegak
menyembah sambil berkata
Wahai, Sinuhun Sunda
Panembahan pujaim hamba
hamba enggan berpisah
Tak mengerti mengapa hamba
mesti pulang ke Pasundan
untuk menghibur hati
tinggalkan ayah ibu
menurut pendapat hamba
alasan Jeng Rama
79
===== HALAMAN 81 =====
80
begitu pun ibu
meninggalkan kerajaan
tak lain karen a ham ba
yang akan dibela
wiku mana yang menasehati
harus tega pacta ayah?
Bila Gusti hamba tinggalkan
hamba hina dan diejek
sebab ‘langgar ketentuan
berdosa sebesar gunung
tak dapat ditebus lagi
sebab hamba tega
meninggalkan orang tua
dosa pacta ayah ibu
yang mewujudkan mewakili Yang Widi
sehingga hamba lahir
Bila hamba takut mati
sama hamba tak beriman
oleh sebab itu
semoga ayah berkenan
hamba akan menanti
yang perang tanding
bila nanti ayah
tak beruntung, mangkat di medan jurit
pulang ke alam baqa
Tak salah ibu dan hamba
labuh geni mengikuti ayah
begitulah niat hamba
Ratu Sunda menunduk
mendengarkan ujar Putri
hatinya kian berani
akan maju perang
riuh isi pesanggrahan
oleh tangis pra sahaya
dan esok harinya
(Tam at jilid I )
===== HALAMAN 82 =====
KIDUNG SUNDA
jilid ka
HIJI
BEUNANG NYALIN TINA BASA KAWI
LALAKON ALAM MAJ APAIT
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN
PROYEK PENERBIT AN BUKU BACAAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
Jakarta 1980
===== HALAMAN 83 =====
DANGDANGGULA.
Dangdanggula rinengga mamanis,
nutur galur sajarah baheula,
metik tina kitab kahot,
dirakit sekar kidung,
gending Sunda jaman kiwari,
medar babad sempalan,
luluhur kapungkur,
talapakan nu baheula,
Kangjeng Prabu Maharaja nu lineuwih,
karuhun tanah Sunda.
Kacarita Maha Sunda Aji,
ngalalakon ngantunkeun nagara,
diiring ku balad kabeh,
kersana mundut mantu,
indit-sirib ka Majapait,
rek nohonan subaya,
ratu pada ratu,
angkatna ngambah lautan,
pirang-pirang kapal nu ngiring J eng Gusti,
lengkep momotanana.
Tunda heula Ratu Sunda tadi,
urang medar ungelna saj arah,
nu jadi jejer lalakon,
ngadeg ratu pinunjul,
Ratu Agung di Majapahit,
mashur jenenganana,
Ratu Hayamwuruk,
kongas binangkit binekas,
pilih tanding sakti manggulang-mangguling,
koncara binatara.
Menak-kuring sami wedi-asih,
83
===== HALAMAN 84 =====
84
hempak cepak eusi Pulo Jawa,
mantep madep ka Pagusten,
malah anujarauh,
Wandan, Koci, Tumasik, Bali,
Sawangkung, Tanjung Pura,
kabeh ulun sujud,
gumusti nadah parentah,
saban taun teu towong caos upeti,
ka Ratu nu wisesa.
Lulus mulus salira Narpati,
tinandingan Dewa Kamajaya,
kasep anom yasa nganggo,
sampulur cahya mancur,
tedak menak wedalan Keling,
someah hade basa,
wantu tedak ratu,
nyata wijiling atapa,
luhur agung tetesing andana warih,
pantes dipuja-puja.
Najan Ratu sugih harta-harti,
wijaksana ngaheuyeuk nagara,
aya keneh cuana teh,
jinem agungna suwung,
tamansari katingal sepi,
lain kurang wilayat,
nu ngatur nu ngurus,
tapi dumeh Sang Sri Nata,
tacan mendak istri nu pantes keur padmi.
utama keur pawarang.
Pirang-pirang istri nu gareulis,
putra raja ti manca nagara,
teu kamanah ku Sang Katong,
katimbang kurang surup,
teu ·nyumponan sakersa Gusti,
masih keneh ngotektak,
===== HALAMAN 85 =====
milih nu pinunjul,
pinter geulis terah raja,
samartabat sajajar jeung Sang Narpati,
cindek sami beusina.
Para mantri tumenggung bupati,
soson-soson pada alihtiar,
nohonan kersa Sang Katong,
gambar putri lalucu,
beunang nekin Ki Jurutekin,
dijajarkeun sadaya,
di pajuneun Ratu,
tapi taya nu kamanah,
Patih Madu, Papatih di Majapahit,
kalangkung kaewuhan.
Seubeuh nungtik nyungsi unggal nagri,
malah dayeuh Palembang Madura,
putrina ditekin kabeh,
tapi manah Sang Ratu,
teu kapincut ku gambar putri,
mundut nu leuwih endah,
nu surup jeung kalbu,
kacarita hiji mangsa,
aya warta selenting bawaning angin,
yen Maha Ratu Sunda.
Nuju tampi nugrahaning Gusti,
gerah manah ningali putrana,
istri keur sedengna an om,
katelah Putri Galuh,
pantes lamun pangirut galih,
wanda lir Dewi Sinta,
barajaning wuyung,
lain endah samanea,
matak geugeut matak teu seubeuh ningali,
gumilang cahayana.
85
===== HALAMAN 86 =====
86
Kacarita Ratu Majapahit,
teu talangke ngutus ponggawana,
ngadongdon nu kapiomong,
Jurutekin teu kantun,
sakumaha tali paranti,
parabot samaktana,
geus salse tuluy jung,
marangkat ka palabuan,
tumpak kapal jangkarna enggeus ditarik,
kalasi heber layar.
Kabeneran kapal meunang angin,
teu kacatur di lautanana,
caturkeun geus tepi bae,
ka dayeuh nu dijugjug,
Jurutekin enggeus tarapti,
metakeun kabisana,
nekin Putri Galuh,
ceples teu aya gesehna,
jiga pisan Putri ngeunteung dina cai,
tinggaleun kalangkangna.
Matak hemeng sakur nu ningali,
bubuatan Arya Prabangkara,
Jurutekin nu kasohor,
kakasih Kangjeng Ratu,
istu putuh ti Mahasuci,
tina pasal ngagambar,
nyata unggul punjul,
henteu aya sasamana,
aneh aheng matak pahili jeung bukti,
tina alusna gambar.
Sanggeus anggeus nekin Rajaputri,
buru-buru tumpak deui kapal,
rek mintonkeun ka Sang Katong,
tunda nu keur lumaku,
kacarita Maha Narpati,
===== HALAMAN 87 =====
Sang Ratu Kahuripan,
ngantunkeun kadatun,
sareng rai Raja Daha,
sasarengan ngajugjug ka Majapahit,
sumelang ka kang putra.
Raja Sepuh tumorojog sumping,
sareng rai Sang Parabu Daha,
kaget Maha Prabu An om,
jut lungsur ti kadatun,
hatur bakti ka nu sarumpin~,
sot nguculkeun dodotna,
nu ngambay ka pungkur,
lesot ti nu nyarekelan,
Prabu An om ngadeuheusna ngabuligir,
geus deukeut cong sembahna.
Dua tamu nu nembe sarumping,
dilinggihkeun dina palinggihan,
cong deui nyembah Sang Katong,
saur Sang Raja Sepuh,
“Hidep oge sumangga linggih,
di dieu babarengan,”
sampoyong Sang Prabu,
memeh linggih cong sembahna,
dua Raja sami ngarangkul pribumi,
mesem bari ngusapan.
Prabu Sepuh tuluy pok ngalahir,
“Naha hidep katingal ku ama,
siga kembang layu bae,
naon anu diangluh,
jeung salira wet rada langsip,
siga anu teu damang,
ama milu bingung,
jeung ieu rama ti Daha,
pangna bareng jeung ama ka dieu sum ping,
bawaning banget melang.
87
===== HALAMAN 88 =====
88
Panasaran hayang terang sidik,
anu jadi lantaran teu damang,
cing mangga enggal nyarios,”
Sang Ratu Daha nyaur,
“Duh kang putra mugi tingali,
pangna kang rama dongkap,
sareng rama Prabu,
jabi ti lami teu tepang,
rek tumaros dumeh banget buta tuli,
marganing kasesahan.
Mun diemut kirang naon deui,
kanugrahan menggah di salira,
pinter, sugih, anom, kasep,
mashur Ratu pinurijul,
kakongaskeun ka mana-mendi,
karaos ku kang rama,
menggah putra Prabu,
lir Dewa ti Kahiangan,
malih wami tumurun mariksa bumi,
buana panca tengah.
Hanjakalna istu teu kajudi,
ku kang rama weleh teu kapendak,
bet putra teu acan hoyong,
kana ;rasmining hiru p,
kenging oge didamel misil,
kumbang di kebon kembang,
keur ngayunkeun napsu,
meneran bulan Kartika,
mangsa beukah sesekaran tamansari,
nyambuang wawangina.
Tapi heran wet wangining sari,
sewu wama sesekaran taman,
ngan ukur diambung bae,.
teu purun nyeuseup madu,
aya kumbang aneh teh teuing,
===== HALAMAN 89 =====
tah kitu upamina,
pangna rama bingung,
iraha atuh mangsana,
hayang ningal babarna asih birahi,
naha putra keur tapa?”
Prabu Anom ngawangsulan aris,
cong sembahna mesem pok ngandika,
” Ngunjukkeun sembah pangbaktos,
ka pangkon rama Prabu,
mugi-mugi sarni ngaksami,
sugri kaluluputan,
dupi nu saestu,
jadi marganing lantaran,
!ami pisan kang putra teu gaduh padmi,
sanes kang putra tapa.
Atanapi nuju ngandung sedih,
mung teu acan dugi ka mangsana,
aya keneh nu diantos,
nya eta Putri Galuh,
kakongaskeun istri pinilih,
pu tra Sang Ratu Sunda,
wartosna pinunjul,
henteu aya sasamana,
malah putra prantos ngutus jurutekin,
hayang terang gambarna.
Henteu kirang gambar para putri,
putra raja ti manca nagara,
namung teu aya nu cocog,
katingal tina semu,
tina wanda martabat putri,
tacan pantes direngga,
dipayungan agung,
jadi ratuning wanita,
ngereh puri di karaton Majapahit,
nu sakieu ageungna.”
89
===== HALAMAN 90 =====
90
Prabu Sepuh mesem pok ngalahir,
“Sukur pisan mun kitu jalanna,
ama banget bungah hate,
jeung ama arek kaul,
lamun tulus kagungan padmi,
panganten duanana,
rek terus dilahun,
sabadana akad nikah,
tanda bungah lipur kasedihan ati,”
gumujeng Prabu Daha.
Arya Patih ngiring bingah galih,
cong sembahna bangun hegar pisan,
Sang Prabu Sepuh ngareret,
“Kumaha Patih rempug,
lamun Ratu kagungan padmi?”
Ki Patih ngawalonan,
“Nun Gusti Parabu,
bingah teu aya hinggana,
siang-wengi neneda ka Mahasuci,
mugi enggallaksana.
Abdi Gusti banget nyandang sedih,
tacan mendak bae titingalan,
nu surup kanggo Pagusten,
ngajajah ngaler-ngidul,
hese-cape tara katampi,
malah mandar ayeuna,
basil nu dirnaksud,
nyuhunkeun hibar Nalendra,
kitu deui Kangjeng Prabu Daha nagri,”
Prabu Daha ngandika.
“Ayeuna mah urang masing-masing,
ngadudu’a supaya laksana,
katampi Putri Galuh teh,”
salse nu gunem catur,
tuluy sareng lebet ka puri,
===== HALAMAN 91 =====
taruang berjamaah,
pribumi tatamu,
langkung-langkung gumbirana,
sanggeus peuting nu ngadareuheus baralik,
kacarita isukna.
KIN ANTI.
lsukna deui karumpul,
para tumenggung bupati,
hempak bayak di mandapa,
teu lila Maha Narpati,
Prabu Sepuh Prabu Daha,
kaluar ti jero puri.
Anggoanana aralus,
matak serab nu ningali,
Sang Nalendra Kahuripan,
ngagem kaprabon Iineuwih,
dodotna buatan Sebrang,
dikembang parada rukmi.
Beulitan giringsing kawung,
surup lamun ditingali,
duhungna kadipatian,
]andean duhung mas adi,
ditabur mirah dalima,
sarta mutiara manik.
Cahya permata harurung,
tinggalebyar adu mamis,
Iir cika-cika maruntang,
sanggul gayot cara Keling,
dicangklek kancana mubyar,
ditarapang inten bumi.
Direka garuda mungkur,
payus lamun ditingali,
91
===== HALAMAN 92 =====
92
disusumping kembang oodas,
mencenges di kanan-keri,
kilat bahu atmaraksa,
wuwuh surup Sang Narpati.
Anting-anting Brahma-Wisnu,
dipepentol mirah adi,
ngenclong herang maya-maya,
hurung euceuy katingali
nganggo pinggel tigawarna,
kinatelon lilit-hui.
Pantes mun ratu linuhung,
bahu denda nyakrawati,
sabar adil palamarta,
dipusti-pusti ku abdi,
di J anggala Kahuripan,
jadi papayung”nagari.
Sang Prabu Daha kacatur,
salira regep raspati,
nganggo dodot sutra kembang,
diparada wama sari,
sinjang kayas dibanyumas,
wuwuh sigit ditingali.
Sump mungguhing di ratu,
nganggo anu sarwa adi,
beulitan giringsing wayang,
pantes anggoan narpati,
nyungkelang duhung pusaka,
landeanana diukir.
Direka raksasa pamuk,
bosongot mata buncelik,
barina nyekelan kembang,
kembangna hurung dumeling,
ku sorot bangsa permata,
matak giung nu ningali.
===== HALAMAN 93 =====
Sanggulna nonjol ka pungkur,
cara sanggul menak Keling,
rambutna seungit nyambuang,
cudamani *) inten bumi,
kembang hejo susumpingna,
melok alus dina cepil.
Katingalna wuwuh payus,
susumping Sang Daha Aji,
dirakit winalat kadqa,
sarta nganggo anting-anting.
socana mirah dalima,
beureum euceuy katingali.
Dilelepen jagasatru,
kilat bahu alit manis,
tingkaretip tingkolenyay,
matak teu seubeuh ningali,
surup ka anu nganggona,
pantes terah Daha nagri.
Jut lalungsur ti kadatun,
angkat nyacat ka sitinggil,
ditampi ku puruhita,
ku Patih bupati mantri,
cungcong sami nyararembah,
marando payuneun Gusti.
Langkung bungah manah Ratu,
duanana geus caralik,
dina korsi kanyaan,
teu lila jebul ti puri,
Sang Majapahit Nalendra,
kasep, manis tanpa tanding.
Cahayana hurung mancur,
sigit bawana ngajadi,
*)
Pepentol makuta (nyamat).
Kidung Sunda.
93
===== HALAMAN 94 =====
1 ‘
i
94
tegep cakep ti kudratna,
pantes pangagung nagari,
seukeut cureuleuk socana,
tawis yen seukeut panggalih.
Sang Parabu Hayam Wuruk,
teu nganggo nu sarwa leuwih,
istuning basajan pisan,
dodotna henteu dicangking,
tawis yen hormat ka rama,
barang sumping ka sitinggil.
Cong nyembah ka Prabu Sepuh,
Prabu Kahuripan nagri,
bingah ningali kang putra,
disambat dicandak calik,
Sang Majapahit Nalendra,
nyembah deui tuluy linggih.
AI’I.ggang ti Parabu Sepuh,
lain dina korsi gading,
dina hiji palinggihan,
henteu nyamian Ramaji,
sakur nu kempel di dinya,
kayungyun ningali Gusti.
Langkung bungah Prabu Sepuh,
ningali putra Narpati,
nu agung murba wisesa,
di nagara Majapahit,
hese nyiar sasamana,
kasep binangkit berbudi.
Sang Parabu Sepuh nyaur,
ka Ki Patih Majapahit,
“Patih kumaha bejana,
perkara.ki J urutekin,
geuning tacan bae datang,
nyanggakeun gambar Nyi Putri.
===== HALAMAN 95 =====
Ratu geus teu sabar nunggu,
panasaraneun ku warti,
boa halangan harungan,
di laut teu meunang angin,”
Arya Patih cong sembahna,
“Henteu lepat dawuh Gusti.
Kawantos nu ngambah laut,
numutkeun nebakna angin,
benten sareng di daratan,
kawuwuh seueur kainggis,
Gusti nu langkung uninga,
rerepit nu ngambah cai.”
Sang Parabu Sepuh ingguk,
tawis cocogjeung Ki Patih,
ku hal eta praponggawa,
suka-bungah tanpa tanding,
mirengkeun Asmaranata,
nyembah unjukan ka Gusti.
“Nun Gusti Maha Parabu,
abdi Gusti neda widi,
pun Pliruhita Sang Nata,
rek ngunjukkeun nu kakuping,
cariosan urang kapal,
anu darongkap kanrui.
Perkawis utusan Ratu,
berkah hibaring Jeng Gusti,
parantos wangsul sadaya,
lebah Terung kapal nyisi,
rek ngala cai ka darat,
nu dijugjug ka Mahibit.
Kinten ka Bubat geus cunduk,
ku emutan abdi Gusti,
upami taya pambengan,
dinten ieu Jurutekin,
‘
95
===== HALAMAN 96 =====
96
tiasa mintonkeun gambar,
ka payunan Dampal Gusti.”
Mesem Sang Parabu Sepuh,
Prabu Daha kitu deui,
ngadangu Ki Puruhita,
dumeh kenging warta sidik,
sugri anu magelaran,
sami muntang ka Yang Widi.
Neneda mugi dikabul,
basil maksud Jurutekin,
sarta masing tereh datang,
tur kamanah ku Jeng Gusti,
tacan tutas nu unjukan,
jebul datang Jurutekin.
Gancang ngadeuheus ka Ratu,
nyanggakeun gambar Nyi Putri,
beunang mungkus heres rapat,
bungkusna ku sutra kuning,
gerah manah para Raja,
ningali Ki Jurutekin.
Jung Ki Patih gura-giru,
ngadeuheuskeun Jurutekin,
ka payunan Kangjeng Raja,
mimiti anu ningali,
bubuatan juru gambar,
Ratu Kahuripan nagri.
Langkung bingah Ratu Sepuh,
ningali gambar Nyi Putri,
istu panuju manahna,
pantes dijenengkeun padmi,
ngabawah para wanita,
di karaton Majapahit.
Prabu Daha pon nya kitu,
===== HALAMAN 97 =====
barang breh oge ningali,
gam bar Putri Ratu Sunda,
muji kageulisan Putri,
sauma “Taya tandingna,
menggah dijaman kiwari.
Suka pisan mulung mantu,
teu perlu neangan deui,”
sanggeus wareg ningalian,
Sang Prabu Sepuh ngalahir,
“leu hidep geura candak,
gambar beunang Jurutekin.”
Ratu Agung Hay am wuruk,
barang breh oge ningali,
gambar Putri Ratu Sunda,
muji salebeting galih,
ngaraos nembean pisan,
ningali dedegan Putri.
Nu sampulur cara kitu,
matak pahili jeung ipri,
beuki lami di teuteupna,
beuki kapincut ku Putri,
jagat raya ilang musna,
nu aya ngan putri geulis,
“Eulis mah ratuning lucu,
istuning putrining putri,
moal mendak sasamana,
salira lir Dewi Ratih,
boa lain samanea,
boa ipri nyiliwuri.
Atawa Dewi keur nyamur,
Dewi sagala wawangi,
sesekaran patamanan,
atawa sarining asih,
Pohaci ti Kahiangan,
97
===== HALAMAN 98 =====
98
ASMARANDANA.
Sang Parabu bingah galih,
Raja Daha ngiring suka,
enggeus kamanah kahartos,
yen gambar teh katarima,
Prabu Sepuh gumbira,
gumujeng barina ingguk,
enggalna tuluy ngandika.
Ka Patih jeung para mantri,
anu sami ngadeuheusan,
supaya bubaran bae,
gancangna ponggawa budal,
Raja tiluanana,
sami lebet ka kadatun,
lalenggah di made-soka.
Kamar paranti badami,
Sang Ratu Sepuh ngandika,
ka Sang Majapahit Katong,
“Kumaha hidep ayeuna,
ama menta putusan,
pasal eta Putri Galuh,
putra Maha Ratu Sunda.”
Cong sembahna Sang Narpati,
“Berkah hibar Kangjeng Rama
miwah rama Daha Katong,
perkawis Nyi Putri Sunda,
emutan cekap pisan,
surup dipayungan agung,
pantes didamel pawarang.
Dalah upami Nyi Putri,
aya nu ngahalang-halang,
===== HALAMAN 99 =====
supados Putri teu cios,
diangkir jadi pawarang,
nu ngahalangan tea,
‘mo lepat dianggap musuh,
jadi satru kabuyutan.”
Enggalna nyaur Papatih ~
teu lila Patih geus datang,
mando payuneun Pagusten,
tuluy Patih ditimbalan,
sadia keur ngalamar,
mundut Nyai Putri Galuh,
ka ramana Ratu Sunda.
Patih Madu gancang pamit,
bawaning banget bungahna,
tampi dawuhan Sang Katong,
geus kaluar ti mandapa,
ngumpulkeun wadyabala,
milih mantri jeung tumenggung.
nu pantes diajak miang.
Enggalna enggeus tarapti,
serat katut babawaan,
kocapkeun geus indit bae,
ngajugjug ka palabuan,
tuluy tarumpak kapal,
kalasi hibut pakepuk,
jait jangkar beber layar.
Kabeneran meunang angin,
kapal melenong layarna,
nyoloyong ka tebeh kulon,
geus jauh ti palabuan,
salamet di jalanna,
kacarita geus balabuh, ·
palebah basisir Sunda.
Patih Madu geus caringcing,
99
===== HALAMAN 100 =====
100
ngatur sakur babawaan,
ngajugjug ka dayeuh bae,
ngadeuheus ka kapatihan,
Ki Anepaken reuwas,
gura-giru nampi tamu,
tuluy ngadeuheus ka Raja.
Nguningakeun aya Patih,
utusan ti Wilatikta,
dawuhanana Sang Katong,
“Sina ngaso bae heula,
sadiakeun tempatna,
isukan urang karumpul,
jeung deuheuskeun tamu tea.”
Ki Anepaken Papatih,
mundur ti pajuneun Raja,
tuluy miwarang beberes,
nyadiakeun sapantesna,
kuma’ adat biasa,
jeung ngembarkeun dawuh Ratu,
yen isuk kudu kumpulan.
Kacatur isukna deui,
geus hempak nu magelaran,
para mantri geus ngaredes,
diuk satempat-tempatna,
teu lila Kangjeng Raja,
medal ti lebet kadatun,
nganggo anu sarwa endah.
Makuta hurung rinukmi,
matak serab artu ningal,
pepentolna inten obyor,
dironyok ku mutiara,
widuri panghapitna,
surup numpang kana sanggul,
disanggulna mayang mekar.
===== HALAMAN 101 =====
Wuwuh manis katingali,
nganggo kembang angkrek bulan,
sieup pantes ka nu nganggo,
antingna ku mutiara;
nganggo dodot sanebab,
panjang alus wuwuh payus,
dibatik parada mubyar.
Jeung nganggo beulitan batik,
giringsing pandawajaya,
surup pantes di Sang Katong,
narimbang kana salira,
salira bangbang awak,
bebed buatan Tinggulun,
pinggelna kanabantala.
Landean kerisna gading,
direka gambar raksasa,
bosongot nyekelan layon,
gumi1ang selutna emas,
ditaretes sosoca,
surup mungguhing di Ratu,
matak serab anu ningal.
Nujadi tiptaning galih,
medar darmaning satria,
nyepeng hak wajibing katong,
ngeker kertaning nagara,
ngaraksa kahatjaan,
para abdi leutik-agung,
sakuliah jagat Sunda.
Geus medal Ratu ti puri,
brul ngagimbung pangiringna,
bangsa ponggawa karaton,
enggalna Sang Ratu lenggah,
dina bale witana,
dideuheusan ku pangagung,
101
===== HALAMAN 102 =====
102
pandita para brahmana.
Jaksa perdata, m·anguri,
calik satempat-tempatna,
hempak marando mendeko;
Ki Anepaken sadia,
ngadeuheuskeun utusan,
ka payunan Kangjeng Ratu,
nyanggakeun serat panglamar.
Arya Patih Majapahit,
langkung hormat panatana,
sujud payuneun Sang Katong,
tuluy sor nyanggakeun serat,
kana sampean Rlija,
serat dicandak ku Ratu,
diilo kieu ungelna.
“Konjuk hing pangersa Gusti,
Ratu Agung wijaksana,
anu Iinuhung marabon,
nyakrawati bahudenda,
misesa tanah Sunda,
kulanun Gusti Pukulun,
hawiosing ieu serat.
Neda sih widi Jeng Gusti,
mugi Gusti luntur manah,
putra Dalem nu cumadong,
bade tumut ngangken rama,
ka pangkon Sri Nalendra,
ngunjukkeun sewu panuhun,
manawa bahan katampa.
Anging hibar rama Aji,
anu kasuhun kateda,
minangka panawa hate,
putra Dalem nu sungkawa,
dina danget ayeuna,
===== HALAMAN 103 =====
saibarat manuk cuhcur,
sumambat poekeun bulan.
Atanapi heulang rawing,
ngalayang di awang-awang,
gumelik di mega hejo,
hanaangeun nangtang hujan,
dina mangsa katiga,
putra Gusti neda bayu,
mugi dipasihan jiad.
Neda sih lunturing galih,
nyuhunkeun Sang Ayu Retna,
puputon jimat karaton,
mustika kaputren Sunda,
Putri Galuh nu mulya,
sumeja dijungjung lungguh,
diangkat jadi pawarang.
Di karaton Majapahit,
ngabawah para wanita,
sugri wilayat karaton,
ngantos pigustieunana,
jimat sanggar pamujan,
sareng ieu, Patih Madu,
jabi ti nyanggakeun serat.
Ku putra Dalem diperdih,
nadah sugri pamariksa,
piunjuk ka rama Katong,”
sanggeus tamat maos serat,
ngahuleng Ratu Sunda,
banget hawatosing kalbu,
ngadangu ungeling serat.
.
Ngiring sedih peurih galih,
raos ngarakacak manah,
bawaning banget hawatos,
sanggeus tutas dimanahna,
103
===== HALAMAN 104 =====
104
mesem barina cengkat,
ngandika ka Patih Madu,
“Cing Arya Patih nyarita.
Kaayaan Majapahit,
naha enya Sri Nalendra,
nu sakitu pintema teh,
keuna ku kasawat manah,
na’ kumaha asalna,
teu ngarti nu matak kitu,
kapan jeung Putri can tepang.
Boa pahili ngagalih,
atawa salah ciptaan,
heroy kabongroy ku omong,
perbawa bawaning beja,
beja anu teu nyata,
asal ti dieu satunjuk,
nepi ka ditu sadeupa.”
Cong sembahna Arya Patih,
“Nun Gusti Maha Nalendra,
abdi Gusti anu bodo,
sumeja hatur uninga,
ngunjukkeun kaayaan,
Putra Dalem nu linuhung,
istu pisan kaleleban.
Ku emutan taya deui,
menggah pilandongeunana,
mun kedah laksana bae,
sapamundut dina serat,
sareng jabi ti eta,
raka Dalem Maha Prabu,
Ratu besan Kahuripan . .
Tetep· tigin kana jangji,
kasaksi ku Prabu Daha,
saderekna Maha Katong,
===== HALAMAN 105 =====
upami pareng laksana,
dina sabada nikah,
Ratu besan bade kaul,
rek mangkon panganten anyar.
Tawis banget bingah galih,
jeung tawis nyaahna papak,”
mesem Maha Sunda Katong,
“Sukur upama kitu mah,
kula ngarasa bungah,
ngadenge besan dek kaul,
ciciren banget rempugna.
Meureun ngamaklum ka Putri,
tina kabudakanana,
anyaran pisah ti kolot,
kurang harti kurang luang,
muga ku Nu Kawasa,
dipasihan lulus banglus,
beres-roes cumarita.”
Langkung bingah manah Gusti,
enggalna tuluy nimbalan,
demang pagawe karaton,
narima barang panglamar,
emas, inten, anggoan,
babawaan Patih Madu,
rupa barang nu marahal.
Sanggeus tarapti diloris,
diampihan ku Ki Demang,
seratna ku Maha Katong,
disimpen dina tampekan,
tampekan gading kembang,
beunang ngukir jeung ngabubut,
diukir direka-reka.
Sanggeus kitu Sang Narpati,
ngandika ka praponggawa,
105
===== HALAMAN 106 =====
106
miwarang bubaran bae,
utusan geus didawuhan,
mulang ka pasanggrahan,
nunggu pangangkirna Ratu,
kacarita Kangjeng Raja.
Geus lebet ka jero puri,
barempag sareng pawarang,
tuluy angkat ka kaputren,
kersana nepangan put~,
kocapkeun Sang Kusumah,
anu geulis Putri Galuh,
bade kasumpingan rama.
Geus tata-tata sayagi,
nyayagikeun palinggihan,
emban dariuk ngaredes,
teu lila jebul Sri Nata,
sumping sareng ibuna,
bungah manahna Retnayu,
ningali ibu jeung rama.
Enggalna ku Prameswari,
dicandak pananganana,
dirangkul bangun nu sono,
diambung lebah taama,
kitu deui ku Raja,
kalangkung dipikalucu,
disambat diajak lenggah.
Sang Ratu mesem ngalahir,
“Ama teh ngarasa bungah,
dumeh boga anak enok,
maneh nu jadi pupujan,
puputon ati mama,
pupunjungan ati ibu,
memenur jimat nagara.
Najan lamun diri eulis,
===== HALAMAN 107 =====
boga jodo raja lian,
puguh anak ama keneh,
‘mo beak kanyaah ama,
angger ‘mo pegat-pegat,
masing geus jauh ti sepuh,
ulah boga hate bingbang.
Ku ama tangtu dijaring,
dihibaran ku pando’a,
ku ibu pon kitu keneh,
‘mo kendat ditapakuran,
neda ka Nu Kawasa,
sangkan salamet rahayu,
lulus runtut cumarita.
Jeung teu kudu eulis sedih,
malah kudu sabalikna,
nganuhunkeun ka Yang Manon,
dumeh geus tampi nugraha,
aya nu rek migarwa,
ratu nu agung linuhung,
koncara tur binatara.
Kasep anom sugih mukti,
teu acan kagungan garwa,
ama-ibu banget cocog,
lamun tulus dipigarwa,
ku Sri Maha Nalendra,
Kangjeng Ratu Hayamwuruk,
anu kongas wijaksana.
Ratu Agung Majapahit,
ngereh tujuh karajaan,
para ratu nu galede,
sakuliah Pulo Jawa,
teu aya nu teu serab,
kana kaluhungan Ratu,
najan anom keneh pisan.
107
===== HALAMAN 108 =====
108
SINOM.
Mun eulisjadi pawarang,
di karaton Majapahit,
sok tada teuing agemna,
ngabawah saeusi purl,
katut ais-pangampih,
sarta dipayungan agung,
nenggang ti anu rea,
jadi pohacining putri,
luhur agung disujudan ku sajagat.
Bisi eulis tacan terang,
untungna nu jadi padmi,
dipigarwa ku Sri Nata,
jaba senang sugih-mukti,
meunangkeun menak Keling,
nu istu turunan luhung,
terahing Kahuripan,
tetesing andanawarih,
pantes pisan diarah pencaranana.
Pikeun manjangkeun rundayan,
nitis neteskeun rah adi,
jaba eta Sri Nalendra,
geus jangji ‘mo salah deui,
lamun tulus ka eulis,
geus tangtu saumqr-umur,
moal kersa ngadua,
kahoneng katresnan galih,
ditamplokkeun ka eulis bae sorangan.”
Sanggeus Sang Ratu miwejang,
diganti ku Prameswari,
malar Putri tambah bungah,
kersaeun jumeneng padmi,
“Eulis ulah rek lali,
saha nu nurut ka sepuh,
===== HALAMAN 109 =====
eta mulyaning anak,
kapan nyata geus kauni,
dina buku Wulang Putri-
Wulang Putra.
Anak nu bakti ka sepah,
tara mungpang sapilahir,
tara bahula basangkal,
tara boga lampah sisip,
upama nincak sisip,
nu matak raheut ka sepuh,
gancang bae ditunda,
contona geuning Madhawi,
gede bagja da tara mungpang ka sepuh.
Ari mungguh ceuk ibu mah,
istuning bagjaning eulis,
bet kapilih ku Sang RaJa,
rek dijungjung prameswari,
tur ibu estu yakin,
yen eulis tinangtu nurut,
kana buku Purana,
wawaton lampah sajati,
sok piraku eulis ngamaha ugeran.
Salian dina Purana,
kapan eulis oge ngarti,
natrat ‘na Silokantara,
geuning di dinya kauni,
korban saratus kali,
ganjaranana ‘mo nyusul,
ka nu bakti ka sepuh,
sarta mangpa’atna deui,
indung-bapa kabawa meunang nugraha.
Jeung eulis nohonan dharma,
manjangkeun lalakon diri,
mencarkeun turunan raja,
109
===== HALAMAN 110 =====
110
cing kumaha pikir eulis,
purun atawa nampik,
geura wakcakeun ka ibu,
tapi masing balaka,
ulah dipandang-dipinding,”
Putri Galuh, tungkul alum sajongjongan.
Lir bulan kalingan mega,
alumna pasemon Putri,
matak kayungyun nu ningal,
nu geulis kur sumpeg galih,
seunggah pabaur isin,
bade balaka ka ibu,
jiga macan keur nahnay,
andeprok emok teu usik ,
rema bentik dianggo ngome amparan.
Sulam amparan aludar,
kembang alketip barusik,
diciwitan didudutan,
ku Retnayu Citrarasmi,
sajongjongan Nyi Putri,
ngegel lambey bari tungkul,
ngiceup peupeureudeuyan,
jeung jiga cape teh teuing,
kangkalungna obah kabawa rumenghap.
Ngolenyay cahya sosoca,
numpang kana tenggek Putri,
sieup lir golek kancana,
matak uruy nu ningali,
emban pating kacewis,
silih toel pad;t batur,
Ken Bayan, Ken Pasiran,
Ken Paguneman, Ken Sangit,
panasaran sami ngadago walonan.
Henteu lila cong sembahna,
===== HALAMAN 111 =====
nu lucu Retnayu Putri,
ngawalon bari dareuda,
Sang Ratu jeung Prameswari,
sami masangkeun cepil,
sieun Nyi Putri teu purun,
a1on Putri nyaurna,
“Nun ama-ibu sakalih,
menggah abdi seja ngambangkeun sakersa.
Mung hibar pandu’a sepah,
nu diantos siang-wengi,
istu pasrah raga-nyawa,
u1ah bon didame1 padmi,
najan jadi pangatik,
upami pangjurung sepuh,
sumeja dilakonan,
ik1as rila lahir-batin,
dawuh ama disangga ku tangan dua.”
Gumujeng Sang Ratu Sunda,
kitu deui Prameswari,
bingah teu aya hinggana,
ngadangu saur Nyi Putri,
Sang Ratu nyaur aris,
bari ngusapan Retnayu,
“Eh eulis jimat ama,
ama banget bungah ati,
muga-muga sing salamet di ahirna.”
Satutas mariksa putra,
Sang Ratu jeung Prameswari,
pasemon bungah gumbira,
sareng la1ebet ka puri,
kocap isukna deui,
ibur guyur sa1e1embur,
obyag satanah Sunda,
mareunang beja yen Gusti,
bade angkat balayar sagarwa-putra.
111
===== HALAMAN 112 =====
f
112
Nyandak balad dunya-brana,
ka nagara Majapahit,
rek ngarendengankeun putra,
Nyi Putrijumeneng padmi,
sakabeh menak-kuring,
ngiring bingah puji sukur,
dumeh Putri ti Sunda,
kapilih keur prameswari,
tawis punjul mungguh di jaman harita.
Kacaritakeun isukna,
para mantri kumpul deui,
kumaha adat biasa,
Sang Ratu Sunda ngalahir,
“He kabeh para mantri,
meureun geus pad a maraphum,
yen panglamAr Sang Raja,
Nalendra di Majapahit,
saayeuna ku kula geus ditarima.
Sarta paniatan kula,
rek ngajajapkeun Nyi Putri,
hayang nyaksian sorangan,
dijenengkeunana padmi,
kabeh ponggawa mantri,
atm perlu kudu milu,
kudu geuwat sadia,
keur miang ka Majapahit,
samaktana mawa bekeljeung pakarang.
Jeung rupa-rupa tongtonan,
utah aya anu kari,
kaanehan tanah Sunda,
cindek kudu kerid peuti,
kapal kudu beresih,
papaesan masing alus,”
kabeh para ponggawa,
nu ngaruping dawuh Gusti,
===== HALAMAN 113 =====
sararuka harayang geura jung miang.
Geus kacipta ti awalna,
karamean ngangkat padmi,
sugri pangagung Pasundan,
rek kaul ngahormat Putri,
tidinya Sri Narpati,
miwarang nyaur Ki Madu,
Patih utusan tea,
Ki Anepaken Papatih,
gura-giru ngadeuheuskeun Ki Utusan.
Sanggeus Ki Utusan dongkap,
mando payuneun ‘Jeng Gusti,
Sang Ratu Sunda ngandika,
“He Ki Patih Majapahit,
surat bawa Ki Patih,
katut sakabeh kikintun,
panglamar Sri Nalendra,
Ratu Agung Majapahit,
poe ieu dilisankeun ditarima.
Ayeuna pamenta kula,
Patih kudu geuwat balik,
unjukkeun bakti jeung hormat,
ka Sang Kahuripan Aji,
caritakeun ku Patih,
yen banget gumbira kalbu,
dumeh Sang Ratu besan,
rek kaul mangkon N yi Putri,
jeung Sang Nata dina sabadana nikah.
Ari ka Maha Nalendra,
Ratu Agung Majapahit,
unjukkeun yen moallepat,
kula reujeung Prameswari,
rek ngajajapkeun Putri,
bareng jeung kabeh pangagung,
113
===== HALAMAN 114 =====
114
rengrengan karajaan,
kabeh sumeja nakseni,
dina lebah hajat rendengan Sang Raja.
Jeung perkara surat tea,
anu dibawa ku Patih,
ku kula teu diwalonan,
sabab rek datang pribadi,
malah sakabeh mantri,
ayeuna eukeur barempug,
sadia pakeun miang,
sasaselna terus indit,
tah sakitu wekas kula ka Sang Nata.”
Cong sembahna Ki Utusan,
“Kaulanun dawuh Gusti,
menggah sadaya timbalan,
nu pakeun ka Putra Gusti,
sareng ka Raka Gusti,
sadaya wande kaunjuk,
kajabina ti eta,
mugi aya widi Gusti,
abdi Gusti katimbalan enggal mulang.”
“Enya bener” saur Raja,
“kudu buru-buru indit,
tangtu Prabu Kahuripan,
jeung Sang Ratu Majapahit,
teu kendat nganti-nganti,”
enggalna tuluy Sang Ratu,
nimbalan Patih Sunda,
nyanguan anu rek indit,
samaktana kadaharan jeung inuman.
Kawantu dawuhan 11\ia,
henteu lila geus sayagi,
cindek teu aya kakurang,
pan~ormat Patih pribumi,
===== HALAMAN 115 =====
kacarita geus indit,
Ki Patih Madu sabatur,
teu kocap di jalanna,
tebih hamo burung nepi,
urang tunda lampah nu mentas ngalamar.
Kacarita Ratu Sunda,
anu keur asik badami,
ngatur sugri kaanehan,
candakeun ka Majapahit,
enggalna geus tarapti,
meh kabeh para pangagung,
ngiring sareng garwana,
geus puguh priyayi leutik,
mani siga raja rek pindah nagara.
Kira dua ratus kapal,
meunang mapcijangan resmi,
sarta parahu Madura,
jumlah jeung parahu leutik,
heres sisi basisir,
kurang-leuwih dua rewu,
kabeh enggeus sadia,
kacarita Sang Narpati,
geus arangkat ti puri jeung garwa-putra.
Diiring ku para emban,
jeung sakabeh eusi puri,
ngajugjug ka palabuan,
ti pungkur gimbung nu ngiring,
Patih jeung para mantri,
demang rangga jeung tumenggung,
ngaleut joli jampana,
diaping ku parajurit,
kacarita geus sumping ka palabuan.
Sang Parabu hemeng manah,
ningali sisi basisir,
115
===== HALAMAN 116 =====
116
siga getih lalambaran,
jeung ruhay luhureun cai,
beh deui katingali,
ngabrul gagak puluh-puluh,
disada tingkoreak,
barina nyemburkeun getih,
tingkalayang haliber sisi sagara.
Kangjeng Raja ngusap soca,
bari negeskeun ningali,
sanggeus nyata gara-gara,
alamat ka Sri Narpati,
ciciren Kangjeng Gusti,
kawas-kawas tereh pupus,
ila-ila cilaka,
rek balayar mapag pati,
tuluy Ratu ngajanteng ngamanah-manah.
Sakedap teu sasauran,
ngagalih takdiring diri,
kadar nu bakal kasorang,
ku salira Kangjeng Gusti,
sanggeus asak digalih,
tuluy cengkat gentos semu,
bangun bingah gumbira,
inggis katangen ku Putri,
jeung ku kabeh menak nu keur sukan-sukan.
Ras deui Sang Ratu Sunda,
emut kana bagja Putri,
bakal jumeneng pawarang,
di karaton Majapahit,
raos untung teh teuing,
kagungan mantu linuhung,
kasedih Kangjeng Raja,
harita les bae leungit,
kabangbrangkeun ku bagja salira putra.
Tambah manahna Sang Nata,
===== HALAMAN 117 =====
asa ku piraku teuing,
teu dicioskeun balayar,
sakitu geus asak jangji,
laip mungguh di Gusti,
nista mungguhing di ratu,
cidra kana subaya,
wondening bahyajeung pati,
nu uninga ngan Gusti Anu Kawasa.
Enggalna geus nitih sampan,
Raja sareng Prameswari,
Putri sarta emban-emban,
henteu aya anu kari,
geus kitu para mantri,
jeung kabeh para pangagung,
ngabrul paheula-heula,
tarumpak parahu leutik,
ngiring Raja ararunggah kana kapal.
Sanggeus narepi ka kapal,
tuluy diatur diloris,
satempatna-satempatna,
Ki Anepaken Papatih,
tandang ngurus perjurit,
aleutan kapal diatur,
nu pangheulana pisan,
kapal para senapati,
jeung perjurit, ditema kapal titihan.
Geus kitu kapal ponggawa,
bangsa priyayi laleutik,
tukangeun eta ngajajar,
puluh-puluh kapal deui,
anu pepek dieusi,
ku cacandakan Sang Ratu,
sarupaning titihan,
gajah, kuda, tandu, joli,
jeung bandera lawe rontek tatabeuhan.
117
===== HALAMAN 118 =====
118
Nu bangkit maen pakarang,
sarta rupa-rupa deui,
karasmen karaton Sunda,
teu ditetek hiji-hiji,
sanggeus kabeh diloris,
aleutanana diatur,
Patih mere tangara,
nandakeun yen geus tarapti,
tuluy bareng jait jangkar beber 1ayar.
Breng sakabeh tatabeuhan,
disada asa kaindit,
kapallalaunan nengah,
kabeneran meunang angin,
sakabeh para mantri,
rangga demang jeung tumenggung,
ngangin di 1uhur kapal,
naringali ka basisir,
wararaas asa rek pindah nagara.
Tambah ku sora gamelan,
ngungkung di tengah jaladri,
wadya bala susurakan,
ku bawaning suka ati,
jauh tina karisi,
kawantu sagala cukup,
teu kurang sandang-pangan,
teu inggis manggffi balai,
boga rasa loba anu bakal bela.
Kapal melenong layarna,
nyoloyong katebak angin,
siga soang ngirab jangjang,
ngojay di tengah jaladri,
komo kapal N arpati,
gede luhur sarta alus,
nenggang ti anu rea,
kawantu titihan Gusti,
===== HALAMAN 119 =====
Jong Sasanga kapallayar karajaan.
Lir kapal buatan Tatar,
jaman Sri Wijaya sakti,
Ratu Agung anu kongas,
waktu ngagempur Kediri,
matak waas ningali,
kaagrengan kapal Ratu,
tohaga tur sayaga,
diaping diiring-iring,
siga Dew a Baruna ngalih ka J awa.
Tunda nu keur lalayaran,
kocap Patih Majapahit,
geus nepi ka palabuan,
rek ngadeuheus ka Narpati,
sanggeus dangdan jung indit,
kabeneran Maha Prabu,
Kahuripan jeung Daha,
sarta Ratu Majapahit,
nuju kempel tiluan keur sasauran.
MAGATRU.
Eukeur guntreng nyaurkeun Ki Patih Madu,
asa lila-lila teuing,
boa mendakan pakewuh,
lantaran maksud teu hasil,
henteu aya bae wartos.
Eukeur kitu jebul dongkap Patih Madu,
ngadeuheus ka Sang Narpati,
bungah manah Maha Prabu,
bari neuteup ka Ki Patih,
mesem ningali pasemon.
Tuluy nyaur “Ser ka dieu Patih Madu,
kumaha maksud teh hasil,
119
===== HALAMAN 120 =====
120
kula mani kesel nunggu,
hayang geura meunang warti,
pasal Maha Sunda Katong.”
Cong sembahna ki utusan Patih Madu,
“Kaulanun hibar Gusti,
serat sinareng kikintun,
sadaya prantos katampi,
ku rai Dalem Sang Katong.”
Patih Madu galantang tuluy miunjuk,
PC!mendakna ti mimiti,
sarambut henteu kalarung,
bingah manah Sang Narpati,
gumujeng Sang Daha Katong.
Tuluy nyaur ka Sang Prabu Hayamwuruk,
“Ama milu bungah ati,
muga masing lulus-banglus,
waras badan waras ati,
tetep tumetep marabon.
Ayeuna mah geus aya panglipur kalbu,
nu sumanding beurang-peuting,
ajar sakti dukun lepus,
keur nambaan rudet galih,
nya eta Nyi Putri anom.”
Mesem leleb Maha Ratu Hayamwuruk,
cong sembahna pok ngalahir,
“Hibar pangdu’a kasuhun,
sing lulus suka basuki,
tampi nugraha Yang Manon.”
Langkung bingah manah eta tilu Ratu,
damelna teu aya deui,
ti sajolna Patih Madu,
ngan tata-tata sayagi,
bari mapaes karaton.
===== HALAMAN 121 =====
Abdi-abdi kabeh pakepuk tagiwur,
nu ka leuweung nu ka cai,
ngalasan uncal jeung lembu,
anu lintar nu ngajaring,
anu ngabedahkeun balong.
Munding lembu keur sayagian tatamu,
geus sadia kari meuncit,
kitu deui bangsa lauk,
anu gede anu leutik,
pinuh situ pinuh balong.
Geunjleung dayeuh ibur gujur salelembur,
ku beja Putri rek sumping,
pipadmieun Kangjeng Ratu,
sakabeh pangagung nagri,
ngiring bingah ka Sang Katong.
Unggal poe merul nu bakti ka Ratu,
utusan ti unggal nagri,
nyandak barang nu aralus.
keur Ratu jeung Rajaputri,
nu pangreana panganggo.
Ki Sahbandar ripuh nguruskeun kikintun,
kapal jol deui-:iol deui,
paheula-heula balabuh,
mani nakleuk di basisir,
ku semah jeung ku nu nongton.
Ku bawaning lega jajahan Sang Ratu,
ngabawah opat jaladri,
tanah nu len do nu mahmur,
dina lebah hajat Gusti,
matak olohok nu nenjo.
Kapal sampan jeung rupa-rupa parahu,
nu babakti ka Narpati,
pateep mangrewu-rewu,
121
===== HALAMAN 122 =====
122
mani teu katenjo cai,
lir kayu apu di balong.
Tambah poe tambah pakepuk tagiwur,
urang dayeuh urang sisi,
riab nu mager nu nyapu,
nagri kudu resik resmi,
komo di jero karaton.
Hurung mendung papajangan jinem agung,
diatur diadu manis,
tina bisana nu ngatur,
rarawis disulang-seling,
matak sedep anu nenjo.
Bingah manah Kangjeng Ratu Hayamwuruk,
ningali papaes puri,
pintonkeuneun ka Retnayu,
kembang soca buah ati,
anu keur diantos-antos.
Tunda heula anu keur ibur tagiwur,
eusi nagri Majapahit,
nu rek kasumpingan tamu,
kocap nu dianti-anti,
nya eta Sang Sunda Katong.
Nu keur ngalun sukan-sukan tengah laut,
ngan heuleut sapuluh peuting,
ti sajolna Patih Madu,
ka nagara Majapahit,
aleutan kapal geus anjog.
Anepaken geus ngadeuheus ka Sang Ratu,
nguningakeun tereh sumping,
” … malah kapal nu ti payun,
keur tata-tata sayagi,
moallami deui mengkol.”
Saur Ratu: “Di mana urang geus asup,
===== HALAMAN 123 =====
ka bangawan Majapahit,
leuwih hade urang nunggu,
pamapagkeun Sri Narpati,
neangan tempat keur ngaso.
Milih bae tempat anu rada iuh,
engke oge sugan manggih,”
gancangna Patih geus mundur,
ngemban dawuhan Narpati,
henteu lila kapal mengkol.
Geus badami Patih jeung para pangagung,
ti muhara terus mudik,
ngaleut lalaunan maju,
kacarita enggeus nepi,
ka Bubat kapal geus anjog.
Urang Bubat tagiwur lalajo tamu,
heurin usik sisi cai,
nongton kapal ratus-ratus,
Ki Kuwu Bubat caringcing.
gancang lapor ka Sang Katong.
Kabeneran Prabu Daha Prabu Sepuh,
sareng Ratu Majapahit,
nuju lalinggih ngariung,
gendu raos bab Nyi Putri,
anu keur diantos-antos.
Tilu Ratu barang ngadangu Ki Kuwu,
geus aya di pancaniti,
rek lapor perkara tamu,
enggal disaur ku Gusti,
dipariksa “Aya naon?”
KIN ANTI.
“Dawuh Gusti kaulanun,
mugi aya widi Gusti,
123
===== HALAMAN 124 =====
124
bade ngundjukkeun pamendak,
reh tatamu prantos sumping,
nyandak ratus-ratus kapal,
di bangawan heurin usik.
Sumpingna Sang Sunda Prabu,
nyata sareng Rajaputri,
baladna tanpa wilangan,
pangkat agung pangkat alit,
dicandak katut garwana,
dikerid peuti sanagri.
lbur guyur sisi laut,
heurin usik di basisir,
muhara pinuh ku kapal,
sampan parahu pabeulit,
dongkapna aleut-aleutan,
ti enjing dongkap ka burit.
Parahu paburu-buru,
‘llilih tempat sisi cai,
ditingal ti katebihan,
ngabrullir siraru jadi,
sapalih layar ka girang,
ku bawaning hayang nyisi.
Parantos dugi ka Canggu,
aleutan parahu alit,
ngajajar sisi walungan,
dupi kapal Sri Narpati,
sareng kapal para menak,
lebah Bubat prantos nyisi.
Teras ngadamel tatarub,
masanggrahan sisi cai,
unggal menak sewang-sewang,
dupi kapal Sri Narpati,
sareng kapal para menak,
lebah Bubat prantos nyisi,
===== HALAMAN 125 =====
Pasanggrahan Kangjeng Ratu,
negla garenah tariis,
kenging tempat sae pisan,
dina handapeun caringin,
beres redes banderana,
ngelebet katebak angin.
Ngemplong mun ningal ka kidul,
awas ka nu tebih-tebih,
sakuriling pasanggrahan,
pinuh ku parabot jurit,
tumbak binang teu kabilang,
bedil naranggeuh ngabaris.”
Ki Kuwu gemet miunjuk,
kaayaan di basisir,
teu aya anu kaliwat,
malah pasal para istri,
cacandakan Ratu Sunda,
diunjukkeun ka Narpati.
Yen gareulis tur lalucu,
tinglalenghoy di basisir,
lir wanita kahiangan,
‘tarurun ti luhur langit,
rek sariram di sagara,
ameng ngabeberah galih.
Kangjeng Ratu bingah kalbu,
ngadangu tatamu sumping,
jeung sakitu tetelana,
laporan Ki Kuwu tadi,
tuluy barempag tiluan,
rek mapag nu nembe sumping.
,Patih kudu buru-buru,
kumpulkeun kabeh perjurit,
joli jampana kareta,
125
===== HALAMAN 126 =====
126
nu ditabur emas manik,
dikeput sutra dewangga,
papayonna kajang resmi.
Besan kula enggeus cunduk,
di Bubat keur nganti-nganti,
datangna pamapag urang,
kula geus hayang papanggih,
jeung piminantueun kula,
jeung besan pon kitu deui.
J eung hayang ngayunkeun Ratu,
hoyongeun tepang jeung Putri,
pek gancang geura sadia,”
para mantri suka ati,
mirengkeun timbalan Raja,
sami unjukan ka Gusti.
,Laksa bingah sewu nuhun,
abdi Gusti seja ngiring,
mapag Kangjeng Ratu Besan,
bawi raos abdi Gusti,
estuning utami pisan,
menggahing keresa Gusti.
Ngagem pituturing sepuh,
nu asih dipulang asih,
nu keras dipulang heuras,
ayeuna Sang Sunda Aii,
sumping nohonan subaya,
sae dipapag dipusti.
Tangtos Maha Sunda Ratu,
moal benten saieng Gusti,
palayeun enggal patepang,
nakseni pangangken Gusti,
sareng Sri Maha Nalendra,
anu mangkon M~apahit.”
===== HALAMAN 127 =====
Kangjeng Ratu Hayamwuruk,
mesem ngadangu pramantri,
arunjukan ka ramana,
bangun gumbira teh teuing,
Prabu Sepuh Prabu Daha,
arimut lucu ningali.
Langkung bingah lebet kalbu,
raos saniat sapikir,
sakasuka sakaduka,
anjeunna jeung abdi-abdi,
cindekna mangsa harita,
nuju raos suka seuri.
Kocapkeun hiji pangagung,
Patih Agung Majapahit,
katelahna Gajah Mada,
tameng dada Sri Narpati,
patarosan sadayana,
minangka tutunggul nagri.
Banget teu milu panuju,
kana kersa Sang Narpati,
teu co cog jeung kahayangna,
henteu rujuk teu sapikir,
pageuh keukeuh Gajah Mada,
salia jeung kersa Gusti.
Patih Gajah Mada kerung,
tungkul di payuneun Gusti,
kabeh nu keur galumbira,
para mantri jeung bupati,
nenjo ulat Gajahmada,
bangun nu salia pikir.
Balakrama Kangjeng Ratu,
gulang-gulang kitu deui,
ngintip ti carangcang kawat,
127
===== HALAMAN 128 =====
128
tapi taya nu kaciri,
ngan nenjo ku juru mata,
reret deui-reret deui.
Nu geus nyahoeun tarungkul,
barina teu kendat mikir,
heran ku Ki Gajah Mada,
naha salia pamanggih,
beda pisan ti nu rea,
naon sabab teu kaharti.
Para bupati tumenggung,
nu calikna rada tebih,
silih toel jeung baturna,
nganaha-naha Ki Patih,
wet siga nu teu mupakat,
boa aya pasal muskil.
Jepjempe nu keur karumpul,
nenjo Patih ngeser calik,
cong sembahna Gajah Mada,
unjukan ka Sri Narpati,
, Nun Gusti Maha Nalendra,
mugi aya widi Gusti.
Sumeja nyundul pihatur,
sanes pisan abdi Gusti,
teu tuhu kana dawuhan,
teu ngiring bingah ka Gusti,
namung awon teu unjukan,
bilih lepat abdi Gusti.
Nyembahkeun sewu bebendu,
hal perkawis Kangjeng Gusti,
ngersakeun angkat ka Bubat,
mapag Sang Sunda Narpati,
sae kasarehkeun heula,
reh emu tan abdi Gusti.
===== HALAMAN 129 =====
Kersa Ratu Sunda Agung,
tina perkawis Sang Putri,
matak sesah ka sadaya,
reh ngamaha tata-titi,
ngarempak tata nagara,
pulitikna Majapait.
Sewu bebendu kasuhun,
upami sarjuking galih,
sae diantoskeun heula,
wangkid opat-Iima wengi,
Jeng Gusti lintang uninga,
menggah mapag tamu Gusti.
Hartosna Gusti mupunjung,
nyatana Gusti mupusti,
ku emutan matak cambal,
ka salira Dampal Gusti,
matak pupul kaagungan,
matak surem Majapait.
Sareng upami diemut,
kaagungan Dampal Gusti,
disembah ku para raja,
Palembang, Wandan, Tumasik,
Koci, Sawangkung, Madura,
Tanjung Pura sareng Bali.
Tangtos manah para ratu,
sugri nu sujud ka Gusti,
babakti dunya barana,
anu ngadeuheus buligir,
diboboreh atal punar,
sadaya sami nyungkelit.
Margi bent en ti kapungkur,
menggahing panampi Gusti,
sanes mapalangan kersa,
129
===== HALAMAN 130 =====
130
nyembahkeun agung aksami,
sumerah sadaya-daya,
kumambang ka kersa Gusti.”
Kangjeng Raja Hayamwuruk,
tumungkul ngadangu Patih,
boa bener boa enya,
manah Sang Ratu gurningsir,
ku piunjuk Gajah Mada,
enggalna tuluy ngalahir.
,Jadi Patih teh timburu?”
,Kaulanun dawuh Gusti.”
,Timburu sok mawa salah,
jeung hal kaagungan kami,
jembar pinuh jagat raya,
moalleungit ku kaciwit.”
Pok deui Ki Patih matur,
, Duh Gusti panutan abdi,
yaktos rupina mokaha,
raos teu matak balai,
namung karisi karempan,
menggahing di abdi Gusti.
Wuwuh lami wuwuh nyusun,
inggis batan maut hinis,
awit karaos misobat,
nanging keukeuh dina ati,
moallana misobatna,
engke ge tangtos katawis.
Robahna Sang Sunda Ratu,
jalaran dipundi-pundi,
dipapag dihormat-hormat,
tangtos miconggah ka Gusti,
wantun mapadani harkat,
abdina nya kitu deui.
===== HALAMAN 131 =====
J alaran ningali Ratu,
taya kainggis kagimir,
antukna taya bentenna,
musna kaagungan Gusti,
suda komara nagara,
turun harkat Majapahit.”
Kangjeng Ratu Hayamwuruk,
kairut ku saur Patih,
kawas geus kitu kuduna,
takdir Anu Mahasuci,
gara-gara aya perang,
pupucuking banjir getih.
Sagala nu dipiunjuk,
ku Gajah Mada Papatih,
lebet kana manah Raja,
ku Ratu geus teu kagalih,
menggah kasalahanana,
alpukahna eta Patih,
Beubeunangan Patih Madu,
hese-cape beurang-peuting,
jeung panghonnat Ratu Sunda,
ka utusan Majapait,
musna teu aya gunana,
mungk ur tina manah Gusti.
PANGKUR.
Malah ti waktu harita,
Kangjeng Ratu ngalarang para mantri,
teu meunang arek pupundut,
ka tamu Ratu Sunda,
para mantri bupati para tumenggung,
sakabeh anu kumpulan,
kaget mireng dawuh Gusti.
131
===== HALAMAN 132 =====
132
Teu sangka sacongo rema,
Kangjeng Ratu kapincut ku Ki Patih,
nepi ka nimbalan kitu,
asa tibalik pisan.
jauh-jauh tamu ti Sunda ngajugjug,
ari datang dibenduan,
nu asih dipulang sengit.
Kabeh ponggawa ngarupat,
ngan teu wani unjukan ka Narpati,
tungkul sami ngandung bingung,
rek baha taya peta,
sabab jalma kana sumpah kudu tuhu,
jeung sieun ku Gajah Mada,
Papatih pamukingjurit.
Kocap nu· keur masanggrahan,
Ratu Sunda di Bubat jeung pramantri,
ngantosan pamapag Ratu,
unggal poe sadia,
geus diatur pipetaeun waktunajung,
iring-iringan ti Bubat,
ka karaton Majapahit.
Tapi sakitu lilana,
taya bae pamapag Sri Narpati,
enggalna Ratu ngadangu,
warta ti kaluaran,
yen pribumi kagungan manah timburu,
lantaran ti Gajah Mada,
Ratu Sunda hemeng galih.
Teras ngumpulkeun ponggawa,
rek barempag jeung kabeh para mantri,
sanggeus pangagung karumpul,
tuluy pok Ratu Sunda,
ngadawuhkeun sagala anu kadangu,
piunjukna Gajah Mada,
===== HALAMAN 133 =====
ka Sang Ratu Majapahit.
Pirempag para ponggawa,
langkung sae tegeskeun masing sidik,
bilih eta wartos palsu,
enggalna Kangjeng Raja,
geus nirnbalan mantri ponggawa gegedug,
keur ngapingan Ki Utusan,
ngadeuheus ka Majapahit.
Harita nu baris miang,
Anepaken tameng dada Narpati,
Demang Caho pamuk pupuh,
katut Pa..Tlghulu Borang,
Patih Pitar papatih Sang Putri Galuh,
reujeung tilu ratus balad,
nu karosen beunang milih.
Sami marangkat ti Bubat,
terns ngidul henteu ngaraso deui,
ngajugjug Masigit Agung,
terns ka Palawean,
tuluy ngetan bras ka jalan anu ngidul,
nepi ka Pabalantikan,
ngajugjug bumi Ki Patih.
Barang geus nepi ka dinya,
Anepaken geus teu tatanya deui,
jeung pangiringna arasup,
teu menta idin heula,
tuluy eureun di ancak saji narunggu,
handapeun tangkal asoka,
mesum bangun anu pusing.
Harita Ki Gajah Mada,
nuju aya keur nyarios jeung mantri,
mantri werda nu geus sepuh,
nu geus legok tapakna,
nyarioskeun sumpingna Sang Sunda Prabu,
133
===== HALAMAN 134 =====
134
lain peta sawajarna,
tawisna henteu babakti.
Jalanna kawas misobat,
tapi lamun dipikir bulak-balik,
tetela lampahna palsu,
terus Ki Gajah Mada,
nyariosna henteu tolih ka nu cunduk ,
luareun carangcang kawat,
jongjon ngupatna ngabuih.
Sababaraha lilana,
Ki Utusan diantep ku pribumi,
keuheul sakabeh tatamu,
maniju babarengan,
sup ka regol terus ngambreg mani ngabrul,
ka lebah wanguntur sela,
tempat seba para mantri.
Menta idin ngadeuheusan,
tapi weleh teu pisan dipiduli,
bolampar ngaku ngarawu,
malah anu jaraga,
nenjo ulat dunungan milu merengut,
ngabalieur bangun ngewa,
utusan Sunda badami.
Tumenggung Panghulu Borang,
sasauran ka Anepaken Patih,
,Mun urang teu wani asup,
liwat carangcang kawat,
siga naon kapan ngemban dawuh Ratu,
urang keur jadi utusan,
hade-goreng kudu bukti.
Ti batan jeung dihina mah,
ku emutan utama miceun pati,
batur mawa tilu ratus,
asa fneujeuhna pisan,
===== HALAMAN 135 =====
lamun urang mangsa ieu kudu tarung,
ngetoh pati jiwa niga,
parepeh keur bela bumi.”
Demang Caho geus mupakat,
tuluy geblus arasup jeung Ki Patih,
sanggeus Utusan arasup.
Gajah Mada curinghak,
bari nyaur dina salebeting kalbu,
,Tah geuning pangagung Sunda,
Ki Anepaken Papatih.”
Pok Gajah Mada mariksa,
,Aeh-aeh geuning nu ti basisir,
geus lila kakara muncul,
bagea urang Sunda,
pangkat naon ieu anu cararunduk,
kaula mah tacan terang,
pangkat anjeun hiji-hiji.”
Anepaken ngawalonan,
sareh pisan ,Sim kuring pangkat Patih,
utusan Sri Maha Ratu,
sareng ieu ki Demang,
Demang Caho .ari itu nu beh ditu,
Tumenggung Panghulu Borang,
eta nu saurang deui.
KatelahnaPatih Pitar,
Patih Putri Retnayu Citraresmi,
jujuluk Nyi Putri Galuh,”
mesem Ki Gajah Mada,
bari .nyaur ngagumujengkeun tatamu,
,Kutan kabeh oge menak,
naha atuh dusun teuing.
Patih teu nyaho di tata,
tumorojog teu peremisi deui,
naha biasana kitu?”
135
===== HALAMAN 136 =====
136
Ki Anepaken jawab,
,Aeh-aeh ulah waka nyebut dusun,
rasa kuring sawangsulna,
anjeun kurang tata-titi.
Kuring sakitu lilana,
nunggu-nunggu anu mapag ti nagri,
tapi henteu aya cunduk,
nu matak kuring datang,
ditimbalan ngadongdon ku Kangjeng Ratu,
dumeh teu aya timbalan,
ti Sang Raja Majapahit.
Kersana Sang Ratu Sunda,
mun geus heres moal dilami-lami,
bade enggal-enggal ngutus,
nimbalan tata-tata,
sakabehna abdi-abdi nu di Canggu,
kitu deui anu lian.
nu aya di Ampel Gading
Jeung nu di Geresik pisan,
kapal-kapal kudu kumpul ngahiji,
arek gancang disalaur,
jeung kabeh somah-somah,
urang Lasem nu baris nyuhun jeung nanggung,
mawa cacandakan Raja,
pikeun Ratu Majapahit.
Rupa barang nu arendah,
Ratu Sunda kitu ngutus ka kuring,
sangkan geura lulus banglus,
laksana nu diseja,
hayang geura ningali putra jeung mantu,
palebah rendenganana,
kitu kersa Kangjeng Gusti.”
Mesem Patih Gajah Mada,
===== HALAMAN 137 =====
,Anepaken anjeun teh pangkat Patih,
tapi patih ~ge dusun,
teu terang di urusan,
henteu pernah anjeun make peta kitu,
henteu terang kana adat,
teu meujeuhna jadi Patih.
Anjeun teu boga kawasa,
enya oge anjeun teh jadi Patih,
na’ turunan naon kitu,
aneh teuing nya peta,
lamun anjeun paham tata reujeung hukum,
papagon ngeuyeuk nagara,
piraku sonagar sisi.
Bisi anjeun tacan terang,
para ratu nu sarumping ka nagri,
rek ngadeuheus ka Sang Ratu,
Tumasik, Tanjung Pura,
Sampit, Wandan, Koci, Balijeung Sawangkung,
kabeh sumujud sumembah,
kana dampal Sri Narpati.
Jeung nyanggakeun rupa-rupa,
barang-barang nu araneh arawis,
babakti ka Ratu Agung,
tah kitu biasana,
alus pisan lamun ku anjeun ditiru,
da bejana geus sadia,
arek bakti P..ajaputri.
lraha rek dicandakna,
Rajaputri disanggakeun ka Gusti,
atuh mending buru-buru,
sabab kitu tatana,
engke kula nu ngunjukkeun ka Sang Ratu,
tangtu Sri Maha Nalendra,
ngempelkeun pangagung nagri,
137
===== HALAMAN 138 =====
138
Bujangga jeung jaksa-jaksa,
para sadu tangtu kabeh nyakseni,
baris narima tatamu,
meureun pinuh paseban,
cing kumaha mupakat upama kitu?”
pudigdig ngambek Utusan,
ngadangu saur Ki Patih.
Rarayna lir cabe asak,
cepil panas raraosan disebit,
ngagidir tuluy pok nyaur,
,He Patih Gajah Mada,
nyata anjeun adigung jeung langsung saur,
ngahina ngahampas jalma,
wani miwarang babakti.
Siga ka bawahanana,
disamikeun ka ratu Wandan, Koci,
naha anjeun teh kaliru,
atawana dih<ija,
Ratu Sunda teu kudu sumujud kitu,
da lain bawahanana,
na iraha eleh jurit.
Sunda tacan eleh.perang,
rebut jiwa jeung urang Majapahit,
sumawon ngarasa taluk,
malah lamun teu salah,
jeung teu lila anjeun basa perang pupuh,
nyandak balad pirang-pirang,
ngagempur lembur laleutik.
Ngarajah di pakampungan,
urang Sunda mubus ka mana-mendi,
balad Jipang ngangseg maju,
barang jol Patih Sunda,
maju jurit balad anjeun kalalabur,
mantri anjeun duanana,
===== HALAMAN 139 =====
teu kuat ngayonan jurit.
Mantri Les nepi ka mangsa,
Ki Beleteng oge nemahan pati,
pe!jurit anjeun malabur,
dihantem dibuburak,
sawareh mah paraehna siga lutung,
tingjumpalik kana jurang,
nu harirup serah diri.
Ku sabab eta ayeuna,
ku kahayang ulah kaliwat teuing,
adigung jeung langsung saur,
teu hade balukarna,
rasa anjeun aturan anjeun teh alus,
tapi saenya~nyana,
nyasabkeun nu bersih ati.
Lamun keukeuh goreng niat,
julig dengki ka nu beresih ati,
sing emut hukum Yang Agung,
jadi parab naraka,”
Gajah Mada ngadegdeg bawaning napsu,
mani beureum pameunteuna,
nyaur barina ngagidir.
,Surup temen ka patutna,
urang Sunda teu boga titi surti,
majar maneh Patih Madu,
geus asak subayana,
diparake tutur catur pangna nyusul,
asa heueuh dipienya,
jalma henteu boga pikir.
leu perkara ku kula,
rek diatur jeung moal lila deui,
diunjukkeun ka Sang Ratu,
lamun geus kawidian,
tangtu pisan Kangjertg Ratu engke ngutus,
139
===== HALAMAN 140 =====
140
tungguan bae di Bubat,
putusanana Jeng Gusti.
Lamun Ratu teu mupakat,
kana ngutus ponggawa ka basisir,
Bubat alamat dikepung,
unjukkeun ka Sang Raja,
Ratu Sunda sina ngantos ulah mundur,
sadia masing sayaga,
tata balad taki-taki.
Kuma’ kersa Raja Sunda,
sukur pisan lamun kersaeun ngiring,
kana kahoyong Sang Ratu,
Ratu di Wilatikta,
tapi lamun anjeunna, mungkir teu -purun,
tangtu dirayah dicacag,
ditumpes dibabad pacing.
Dijieun balay di Bubat,
rek dipake parab gagak dibasmi,
tah ayeuna anjeun maphum,
kana kersa Nalendra,
pek pikiran masing asak masing lembut,”
ngambek Ki Papatih Sunda,
“He Gajah Mada nu julig.
Ngucap teu diungang-ungang,
sanes adat panata senapati,
sanes tata menak luhur,
nurutkeun kitab mana,
tata kitu jauh ti tata pangagung,
estu lampah jalma jahat,
tukang julig tukang dengki.”
Tumenggung Panghulu Borang,
ambek nyedek kumerot jeung ngagidir,
singkil barina pok nyaur,
“He Patih Gajah Mada,
===== HALAMAN 141 =====
eukeur naon loba-loba teuing saur,
teu perlu dilila-lila,
urang Sunda geura siksik.
Kuring tamengdada Raja,
moat miris ku pati jeung ku getih,
jeung niat bela ka Ratu,
anjeun neangan wadal,
geus sadia aya balad tilu ratus,
hayoh ayeuna kaluar,
candak sadaya perjurit.
Geura kepung urang Sunda,
urang ngitung tatu jeung naker getih,
mun kuring kabeh geus tumpur,
anjeun tangtu sugema,
sab nu nyesa ngan para istri jeung Ratu,
anjeun senang nya ngarayah,
kitu tata Majapahit.”
Mundelik Ki Gajah Mada,
raray beureum cepit raosna rawing,
ngadegdeg tuluy jung nangtung,
perjurit nu jaraga,
cekcok ngomong saringkil ngantosan dawuh,
rek ngaronom urang Sunda,
hayangeun ngababad pacing.
SINOM.
Pandita Asmaranatha,
ningali ulat Ki Patih,
enggal nyaur sareh pisan,
“Hi utah kitu anaking,
mending sing repeh-rapih,
henteu sae ngumbar napsu,
reujeung ieu utusan,
utah pada nyeri ati,
141
===== HALAMAN 142 =====
142
engke heula dangukeun omongan ama.
Ulah ngalumbar amarah,
mending sing rapih badami,
da maksudna Sri N alendra,
istuning sae teh teuing,
dimana Sri Narpati,
jeung kabeh para tumenggung,
geus barempag mupakat,
meureun moal robah deui,
tangtos pisan tuhu kana petjangjian.
Kaungel dina Purana,
riwayat anu bihari,
yen nu goreng laku-lampah,
nu sok hasud hiri dengki,
geus moal salah deui,
tam pi adiling Yang Agung,
calon eusi naraka,
ku sabab eta anaking,
ulah gugup nyarios sing lungsur-langsar.
Kapan kersa Ratu Sunda,
tetep nepi ka kiwari,
rek ngarendengankeun putra,
ka Sang Ratu Majapahit,
ayeuna dua patih,
di dieu eukeur barempug,
kumaha dtatuma,
rendengan Putri jeung Gusti,
tacan beres keur nuju ditim bang-tim bang.”
Kitu saur Sang Pandita.
kalawan pasemon manis,
Anepaken ngawalonan,
“Duh jeng rama Maha Resi,
pisaur anu tadi,
langkung kateda kasuhun,
===== HALAMAN 143 =====
raos sareng merenah,
nyerep kana sanubari,
karaosna mandi ku cikahuripan.
Estu yaktos Ratu Sunda,
sumpingna putih beresih,
teu aya manah rangkepan,
mung bade nohonan jangji,
ngajajapkeun Nyi Putri,
nepangkeun ka Prabu Mantu,
ngalaksanakeun kersa,
namung paniatan tadi,
dikiruhan ku Ki Patih Gajah Mada.
Diruksak ku peta badag,
dirurujit ku nu dengki,
dugi ka kieu jadina,
seep kasabaran abdi,
Jeungit panata patih,
kaduruk ku ahli hasud,”
Ki Gajah Mada cengkat,
molotot pasemon bengis,
bari ngancam ngamang-ngamangkeun curukna.
“Aeh-aeh Patih Sunda,
patih dusun ti paminggir,
na’ kumaha kahartina,
omongan kaula tadi,
ngaku bae papatih,
pangartina kawas kunyuk,
make euweuh eureunna,
ti tatadi nuding dengk~
ngawiwirang nurus tunjung ka patutna.”
Anepaken deui cengkat,
males nunjuk istu wani,
“leu manusa teh nyata,
lain hampuraeun deui,
143
===== HALAMAN 144 =====
144
kudu dilawan bengis,
make wani nyebut kunyuk,
he Patih Gajah Mada,
kunyuk rawun Majapahit,
geura wakca naon ciciren andika.
Ageman di pangperangan,
tanda senapati jurit,”
Gajah Mada gancang jawab,
“Bisi hayang nyaho ciri,
pamuking Majapahit,
nu dina kareta agung,
payungna sutra mubyar,
make tanda menak leuwih,
banderana disulam ku benang emas.
Direkakeun gajah meta,
sarta diaping diiring,
ku perjurit pirang-pirang,
tah engke Iamun ningali,
anjeun ulah rek gimir,
maju lamunna kauntup,”
walon Ki Patih Sunda,
“Engke mun anjeun ningali,
menak Sunda nu dongkapna nitih kuda.
Kudana gede tur gagah,
hideung meles beunang milih,
selana dilakop emas,
pedangna nya kitu deui,
dipontrang emas manik,
make baju saten wungu,
disuat udat emas,
sabukna hurung dumeling,
ditaretes ku sosoca mancawarna.
Warna payung jeung bandera,
hideung mulus wisnuwarni,
===== HALAMAN 145 =====
/
pepentot payungna emas,
tamengna pon kitu deui,
dilakop emas manik,
ditaretes inten murub,
bari nyeketan tumbak,
beusi maleta lineuwih,
gagang tumbak diceptok-ceptok ku emas,
Make siger tanda menak,
pangagung anu pinilih,
pamanggut perjurit Sunda,
jeung make catana deui,
tanda papatih nagri,
batikna giringsing kawung,
tah engke tamun mendak,
nu ngagem ciciren tadi,
utah mundur tangtu eta Patih Sunda.
Nu geus kongas ahli perang,
matak gimir nu ningali,
sae ku anjeun tepangan,
bisi rek padu pasini,
meureunan manggih tanding,
tepung pamuk pada pamuk,
silih tatuan awak,
saha anu liat kulit,
hayang nyaho saha anu teuas awak.”
Pandita Asmaranatha,
nyaur deui ririh rintih,
nyapih Patih nu patetak,
“Hih utah kitu anaking,
naha bet pada tali,
pacta kalangsu nya nyaur,
cing atuh ayeuna rhah,
urang nyare’at saeutik,
liren heuta ngarah tiis mamanahan.
l45
===== HALAMAN 146 =====
146
Ari emutan ama mah,
lamun sapuk sareng galih,
para utusan Pasundan,
ayeuna mah sae mulih,
da moallepat deui,
Maha Prabu tangtos ngutus,
cek bule cek hideungna,
engke tangtos katingali,
antos bae watara dua dinten mah.
Caralik bae di Bubat,
ambrih temper heula galih,
muga-muga Sri N alendra,
kersaeun nohonan jangji,
engke lamuf! geus bukti,
moallepat Patih Madu,
nu baris diutusna,
ngemban dawuhan Narpati,
cing kumaha emutan para utusan?”
Para utusan Pasundan,
sanggeus ngadangu Sang Resi,
kitu kasauranana,
teu panjang digalih deui,
tuluy pamit rek mulih,
Sang Pandita muji sukur,
enggalna geus barudal,
ngabrul ti pakuwon Patih,
gagancangan marulih deui ka Bubat.
DANGDANGGULA.
Kacarita Anepaken Patih,
sakancana geus nepi ka Bubat,
teras ngadareuheus bae,
ka pasanggrahan Ratu,
para tanda jeung para mantri,
===== HALAMAN 147 =====
geus caralik ngajajar,
marando tarungkul,
ari perjurit diukna,
hempak bayak dina handapeun caringin,
Anepaken cong nyembah.
”Kaulanun Sang Naradipati,
abdi Gusti sadaya utusan,
parantos cekap ngadongdon,
malah parantos tepung,
sareng Patih di Majapahit,
pun Gajah Mada tea,
tameng dada Ratu,
nu ngandung hate curiga,
tetep nyangka pang Gusti ka dieu sumping,
sanes nepangkeun putra.
Namung ngandung pulitik nu buni,
nyata pisan saungeling warta,
nu kadangu ku Pagusten,
kitu deui Sang Ratu,
Sri Nalendra di Majapahit,
nu sakitu agungna,
pinunjullinuhung,
kapincut kabawa sasab,
ku alpukah Ki Gajah Mada Papatih,
mugi Gusti uninga.
Cindekna mah kabingahan Gusti,
nu kacipta ti ngawitan angkat,
waktos jengkar ti karaton,
musna taya nu kantun,
kitu deui sadaya abdi,
nu rek nakseni pesta,
pugag buntu laku,
kahesean kacapean,
nyayagikeun panghormat ka Raja Putri,
mubadir sadayana.
147
===== HALAMAN 148 =====
148
Dalah ieu sadayana abdi,
un tung keneh tiasa marulang,
ngadeuheusan ka Pagusten,
awitna bade ngamuk,
tetekadan narohkeun pati,
ku jalaran dihina,
ku Ki Patih Agung,”
galantang Ki Patih Sunda,
nyarioskeun lampahna di Majapahit,
teu aya nu kaliwat.
Ratu Sunda mindel teu ngalahir,
uleng anteng ngamanahan kadar,
ras emut kana totonden,
sugri anu keur kumpul,
sepi jempling masangkeun ceuli,
hatena milu panas,
dumeh dihahangu,
dihampas ku Gajah Mada,
Ratu Sunda bendu nguwung dina galih,
raray beureum ngagabag.
Soca hurung neuteup ka Ki Patih,
imut leleb pameper amarah,
pananganana ngadegdeg,
perbawa hawa napsu,
Ratu Sunda ngandika rintih,
”Lamun kitu tete lao;.
urang teh ditipu,
diomongan dibibita,
alus temen akal urang Majapahit,
asak enya tipuna.
Hayang mukti make tipu Keling,
hayang beunghar make akal Koja,
ngarah haripeut kabongroy,
geus kairut nalikung,
kawas lain pada lalaki,
===== HALAMAN 149 =====
ayeuna mah kapalang,
mun teu untung buntung,
he sakabeh praponggawa,
geura wakca ulah dipandang-dipinding,
cing kumaha ayeuna.
Saha anu sieun kana pati,
ulah maksa mending geuwat mulang,
bawa sakabeh awewe,
beberah jeung Iilipur,
ari kami geus gilig pikir,
niat bela nagara,
teu rek ngitung musuh,
mending paeh dina medan,
batan hirup dihina teu aya aji,
dipake popoyokan.
Ala-becik kapan kersa Gusti,
kabeh oge pada kabagean,
rugi-untung sedih-atoh,
geus moal aya mahluk,
anu bisa mungkir sumingkir,
sagala nu tumiba,
eta kadar cunduk,
buahna panggawe urang,
boh nu hade boh nu goreng teu pahili,
datang dina mangsana.
Awal-ahir buahna kapetik,
diri urang anu bakal nyangga,
beurat-hampangna bebendon,
demi anu dimaksud,
nu diileng ku hate kami,
niat nyangga cocoba,
pasihan Yang Agung,
pikeun nobatan masalah,
laku-lampah nu geus kasorang ku kami,
cindek rek nyeuseuh raga.
149
===== HALAMAN 150 =====
150
Lebah mana gorengna lalaki,
anu paeh dina medan perang,
sarerea oge nyaho,
yen satria mah kudu,
ngalakonan wajibing hurip,
nohonan kana darma,
nyekel bener pengkuh,
jeung ngabasmi kagorengan,”
para mantri bareng unjukan ka Gusti,
“Abdi Gusti nyaksian.
Sareng seja ngiring Dampal Gusti,
tutumpuran dina medan perang,
moal pisah ti Pagusten,
upami henteu wantun,
miceun pati di medan jurit,
tangtos moal jamuga,
caturing karuhun,
nu hilangjalaran perang,
bela bangsa sinareng bela nagari,
kenging sawarga mulya.
Dipapagkeun para widadari,
sakahayang tangtos tinekanan,
sareng nu maot perang teh,
sasat dianggo nebus,
indung-bapa engke di batin,
lebur kabeh dosana,
ku ganjaran pupuh,
jaga seuweu-putu Sunda,
ngararawih ngawihkeun wawanen jurit,
kendel satria Stmda.
Sareng deui pati abdi Gusti,
nu dianggo bela ka nagara,
jadi warisan jajaten,
menggah luhuring laku,
keur satria teu aya deui,
===== HALAMAN 151 =====
jabi ti saperkara,
dina perang pupuh,
ngudag bagjaokaluhuran,
kawon-unggul kauntunganana sami,
untung taya rugina.
Anu unggul batina di lahir,
jadi jago ngereh para raja,
mulya mukti salieuk beh,
iasa lajeng mupu.
mipit hasil kengingna jurit,
bhoga jeung upabhoga,
paribhoga kumpul,
tegesna pangan jeung sandang,
kitu deui istri-istri nyararanding,
buruhan unggul perang.
Anu kawon dina· perang jurit,
paeh jaya ngalakonan darma,
kaetangna sami keneh.
dianggap unggul punjul,
kapendakna buruhan jurit,
di alam kalanggengan,
wareg lubak-libuk,
sagala kahayang aya,
\
bentenna teh mung alamna sanes deui,
waktos tampi buruhan.”
Sanggeus kabeh para mantri jangji,
yen geus niat paeh bela bangsa,
sarta bela ka Pagusten,
rek ngudag bagja luhur,
kanugrahan jangji Yang Widi,
pudigdig Ratu Sunda,
manah wuwuh wantun,
kaciri tina rarayna,
tuluy mesem mepes napsu nu rek bijil,
barina pok ngandika.
.-
.,
‘
151
===== HALAMAN 152 =====
152
“Mun kitu mah sukur para mantri,
gancang papag musuh anu datang,
kami gilig niat paeh,
jauh tina kaduhung,
miceun pati di Majapahit,1’
sanggeus salse barempag,
praponggawa mundur,
kawidian baris mulang,
Ratu Sunda enggalna Jebet ka bumi,
nepangan garwa-putra.
Prameswari sareng Rajaputri,
nuju lenggah dina bangku endah,
barang ningali Pagusten,
ngabujeng ka Sang Ratu,
Rajaputri ku Sang Narpati,
dirangkul diusapan,
”Eh anak nu lucu,
buah ati nyawa ama,
deudeuh teuing teu nyana ku titis-tulis,
bakal pugag nya lampah.
Niat arek mangatenkeun eulis,
kahalangan ku goda rancana,
tetela teu aya jodo,
eulis ka Maha Ratu,
henteu idin Gusti Yang Widi,
bukti aya halangan,
nu megatan Iaku,
aya pamundut ti Raja,
diri eulis kudu dipake babakti,
ama henteu kaduga.
Kersa Ratu nagri Majapahit,
ayeuna teh robah ti subaya,
cidra ti jangji bare to,
ama teh kudu sujud,
ngabaktikeun anak kakasih,
===== HALAMAN 153 =====
cara ratu bawahan,
anu geus taraluk,
kudu nyanggakeun rumba,
diri eulis kudu dijieun upeti,
ama sieun doraka.
Manan nista mending miceun pati,
suka rila manan kitu peta,
dihina jeung dijojore,
kawasna Sunda kudu,
tarung deui jeung Majapahit,
cara katukang-tukang,
ama moal mundur,
rek nohonan kawajiban,
najan eleh tampi nugrahaning Gusti,
di alam kalanggengan.
Tina eta ayeuna mah eulis,
leuwih hade balik ka Pasundan,
sing genah sing tengtrem hate,
bareng bae jeung ibu,
sarta ulah ngandung wawatir,
sumelang ka nu perang,
da wajibing ratu,
nohonan darma satria,
didoakeun sing lulus suka basuki,
rahayu salawasna.”
Ratu Sunda pok deui ngalahir,
ka garwana barina ngusapan,
“Duh nyai panglipur hate,
istri anu satuhu,
nu sum an ding beurang j eung peu ting,
pupunden hate kakang,
pupujaning kalbu,
·
sosoca galih katresnan,
muga-muga masing tetep iman nyai,
ulah gugup jeung reuwas.
153
===== HALAMAN 154 =====
154
Poe ieu cocobaning diri,
mun teu salah poe panungtungan,
panutup asih jeung sono,
mun kakang taya umur,
muga nyai sing tetep galih,
rumaksa jeung rumawat,
ka si Enok Galuh,
ulah rek ringrang sumelang,
urang wajib tumarima ka Yang Widi,
sangga pasihanana.
Poe isuk nyai kudu indit,
jeung si Enok ka tanah Pasundan,
bareng jeung kabeh awewe,”
Prameswari ngaheruk,
ngadangukeun pilahir Gusti,
teu lami tuluy cengkat,
nyembah bari nyaur,
“Nun Gusti Sinuhun Sunda,
Panembahan nu jadi pupujan abdi,
abdi teu sanggem pisah.
Najan lara tumeka ing pati,
seja bela ngiring ka panu tan,
abdi teu reuwas teu keder,
sumeja urun umur,
asal ulah pisah ti Gusti,
‘mun Gusti taya bagja,
dina perang pupuh,
abdi mah narah ditilar,
moallepat abdi tangtos labuh geni,
ngiring ka kalanggengan.
Saupami ngiring dawuh Gusti,
abdi wangsul ka tanah Pasundan,
tangtos ·sami keneh bae,
abdi dipuuk bingung,
dituturkeun sedih prihatin,
===== HALAMAN 155 =====
tungtungna abdi ajal,
ngiring Gusti pupus,
ka naraka ka sawarga,
sanajanna Gusti pupus tujuh kali,
abdi hayang ngiringan.
Bade niron Dewi Setyawati,
nu satia ka caroge tea,
tampi nugraha Yang Manon,”
barang Putri ngadangu,
piunjukna ibu ka Gusti,
cong nyembah bangun hegar,
di payuneun Ratu,
unjukan kieu saurna,
“Duh Jeng Rama nyuhunkeun agung aksami,
teu pisan abdi baha.
Mung teu ngartos naha abdi Gusti,
didawuhan wangsul ka Pasundan.
baris ngalipurkeun hate,
ngantunkeun para sepuh,
dupi menggah emutan abdi,
anu mawi Jeng Rama,
kitu deui ibu,
angkat ngantun karajaan,
taya sanes kajabi ti diri abdi, ·
nu bade dibelaan.
Rama-ibu miwelas miasih,
karaosna teu aya hinggana,
bet panarima abdi teh,
dina lebah pakewuh,
sieun paeh lajeng jung nyingkir,
ku emutan teu pernah,
menggah tedak ratu,
abdi gaduh kitu peta,
wiku mana anu miwulang weweling,
kedah te5a ka rama.
155
===== HALAMAN 156 =====
156
Saupami abdi ngantun Gusti,
nista hina jadi pamoyokan,
margi ngarempak papakon,
dosa abdi sagunung,
moal kenging dilebur deui,
jalaran abdi tega,
ngantun para sepuh,
doraka ti indung-bapa,
nu ngayuga wawakil Gusti Yang Widi,
jadi lantaran gelar.
Lamun abdi sieun kana pati,
sasat abdi henteu gaduh iman,
apan sawarga cumadong,
tina eta panuhun,
mugi-mugi Jeng Rama widi,
abdi bade ngantosan,
anu perang pupuh,
upami engke Jeng Rama,
taya bagja pupus dina medan jurit,
mulih ka kalanggengan.
Moallepat ibu sareng abdi,
labuh geni bade ngiring ama,
kitu paniatan hate,”
Ratu Sunda tumungkul,
ngadangukeun piunjuk Putri,
manahna wuwuh luas,
kana mcijeng pupuh,
ibur eusi pasanggrahan,
ku nu nangis sadaya ais pangampih,
kacarita isukna.
Tamat jilid kahiji.(*)







