Bale Bandung

Kidung Sunda Jilid I dan Dosa Politik Gajah Mada: Membaca Awal Tragedi Bubat

×

Kidung Sunda Jilid I dan Dosa Politik Gajah Mada: Membaca Awal Tragedi Bubat

Sebarkan artikel ini

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan.

Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan sekadar tokoh besar Majapahit yang dikenang lewat Sumpah Palapa. Dalam pembacaan Kidung Sunda I, Gajah Mada mulai tampak sebagai aktor politik yang menggeser makna kedatangan rombongan Sunda: dari hubungan pernikahan menjadi perkara takluk-menaklukkan.

Tulisan ini menjadi pengantar awal setelah naskah Carita Parahyangan yang amat secuil, selanjutnya ke Kidung Sunda JIlid II, Kidung Sundayana, dan Pararaton.

Dalam susunan itu, Carita Parahyangan menjadi pintu masuk ingatan Sunda. Naskah itu hanya menyisakan catatan ringkas tentang “perang di Majapahit”. Tetapi justru dari kalimat pendek itu, luka Bubat dapat dibaca sebagai patahnya satu generasi raja Sunda.

Adapun Kidung Sunda I menjadi berkas awal perkara. Dari naskah inilah pembaca mulai melihat bagaimana hubungan yang semula dibayangkan sebagai pernikahan agung berubah menjadi jalan menuju tragedi. Di sana, cinta politik Hayam Wuruk kepada putri Sunda mulai bersentuhan dengan ambisi penyatuan wilayah yang melekat pada proyek kekuasaan Gajah Mada.

Karena itu, membaca Kidung Sunda I bukan hanya membaca tembang lama. Ia adalah upaya membuka kembali berkas sejarah: siapa datang membawa martabat, siapa mengubah pertemuan menjadi tuntutan tunduk, dan siapa yang akhirnya harus memikul dosa politik atas darah yang tumpah di Bubat.

Dalam sudut pandang tulisan ini, Linggabuana bukan raja kecil yang datang untuk menyerahkan diri. Ia datang sebagai raja merdeka, membawa putrinya dalam kehormatan pernikahan antar-kerajaan. Jika kemudian kedatangan itu dibelokkan menjadi simbol penaklukan, maka di situlah letak dosa politik yang harus dibaca ulang.

Gajah Mada boleh dikenang sebagai mahapatih besar. Tetapi kebesaran tidak menghapus kesalahan. Justru karena ia besar, tindakannya harus ditimbang lebih keras. Bubat menjadi noda politik karena martabat Sunda dipaksa tunduk pada ambisi kekuasaan Majapahit.

Maka tulisan ini tidak menempatkan Bubat sebagai dongeng cinta semata. Bubat adalah perkara politik. Ia adalah luka Sunda. Dan dalam pembacaan awal atas Kidung Sunda I, jalan menuju luka itu mulai terbuka.***

===== HALAMAN 8 =====

DANGDANGGULA

Dangdanggula pemanis reka
mengikuti tambo kuna
‘nukil dari buku lama
dirakit tembang kidung
gending Sunda masa kini
‘bahas sebagian babad
leluhur dahulu
tamak zaman yang silam

Kangjeng Prabu Maharaja Linggabuana unggul
moyang tanah Sunda
Konon Maha Sunda Aji (sebutan kehormatan untuk Raja Sunda)
mengembara ke luar negara
diiringi wadya bala
berniat memungut mantu
semua ke Majapahit
memenuhi janji
ratu dengan ratu
perjalanan lewat laut
amat banyak kapal pengiring Baginda
bermuatan lengkap
Ratu Sunda sebentar ~kita tinggalkan
mari uraikan sejarah
yang jadi pokok lelakon
bertahta maha kuasa
Ratu Agung Majapahit
harum mashur juluknya
Ratu Hayam Wuruk
tersohor pandai dan arif
sakti tiada tara
tenar bijaksana

===== HALAMAN 9 =====

Dikasihi ningrat maupun rakyat
seisi pulau Jawa
setia menghadap Baginda
bahkan yang jauh pun
Wandan, Kud, Tumasik, Bali
Sawangkung, Tanjung Pura
semua tunduk takluk
menanti perintah
tiap tahun tak putus sembah upeti
pada kuasa Sang Nata wisesa
Sejahtera Sri Narpati
bagai Dewa Kamajaya
tampan pandai bersolek
tegap gagah perkasa
berdarah bangsawan Keling
ramah budi bahasanya
malum putera ratu
jelas ahli bertapa
tinggi agung keturunan satria
patut dipuja-puja
Meski Ratu kaya harta dan ilmu
bijak ‘merintah negara
namun masih ada cela
tempat tenun tetap hening
taman sari nampak lengang
bukan kurang sahaya
‘tuk mangatur dan mengurus
namun belum ada puteri patut
jadi pendamping Sang Nata
Tak terhitung istri cantik
puteri raja pelbagai negara
tak berkenan di hati Baginda
agaknya kurang serasi
tak sesuai dengan angan-angan Sang Prabu

===== HALAMAN 10 =====

masih saja mencari
memilih yang unggul
pandai, elok berdarah narpati
sederjat dengan Baginda
Para mantri tumenggung bupati
keras berupaya
memenuhi kehendak Sang Prabu
gambar-gambar puteri elok
karya pelukis ternama
dideretkan dihadapan Sri Baginda
Patih Mada, Pepatih Majapahit
bingung tak terhingga
Tiap negeri sudah diteliti
puteri Palembang, Madura
dilukis semua
tapi kalbu Sang Prabu
tak terger·ak gambar puteri
dimintanya puteri lebih molek lagi
Syahdan suatu ketika
tersiar kabar terbawa pawana
bahwa Maha Ratu Sunda
Mendapat kurnia Yang Maha Esa
bangga memandang puterinya
dijuluki Puteri Galuh
elok muda mempesona
bagai Dewi Sinta
bukan sembarang cantik
tak puas mata memandang
bercahaya gemilang
Syahdan Ratu Majapahit
seg’ra mengutus panggawa
membuktikan kata orang
juru gambar ikut serta
sebagaimana biasa

===== HALAMAN 11 =====

peralatan lengkap
usai berkemas bertolak
menuju pelabuhan
naik kapal angkat jangkar
kelasi memasang layar
Kebetulan angin baik berhembus
tak disebut perjalanan laut
pendeknya tibalah sudah
di negara yang dituju
juru gambar telah siap
melaksanakan tugasnya
menggambar Putri Galuh
tepat dengan aslinya
seolah Puteri bercermin di air
‘–
yang tampak bayang-bayangnya
Kagum orang melihat karya Arya Prabangkara
juru gambar tersohor
kekasih Sang Prabu
betul-betul kumia Yang Maha Suci
dalam hal menggambar
jelas unggul
tiada bandingan
bisa tertukar dengan yang asli
karena indahnya gambar
Usai menggambar sang Rajaputri
cepat naik kapal lagi
agar gambar dilihat Sang Prabu

dalam pada itu Narpati
Sang Ratu Kalwripan
meninggalkan keraton
serta dinda Raja Daha
menuju Majapahit
rindu pada kang putra
Raja Tua datang tak berkabar dulu

===== HALAMAN 12 =====

bersama dinda Prabu Daha (penguasa Daha/Kadiri, Sungai Brantas Jawa Timur, tokoh elite Majapahit, paman Hayam Wuruk

kaget Maha Prabu Muda
turun dari kraton
menyongsong yang baru datang
dodot menggapai ke belakang
Lepas dari pegangan sahaya
dengan bagian atas
badan telanjang
Prabu Muda bersembah

Kedua tamu yang baru datang
dipersilakan duduk
Iagi bersembah Baginda
ujar Sang Raja Tua
“Silakan engkau pun
duduk bersama kami.”
bersembah Sang Prabu
sebelum duduk
tuan rumah didekap kedua tamu
tersenyum sambil membeiai

Lalu ujar Prabu Tua
kau bagai bunga Iayu
apakah yang kau derita?
Badanmu pun agak kurus
seperti tak sehat
rama ikut bingung
dan ramamu dari Daha pun
datang bersama rama kemari
karena waswas nian
Penasaran ingin tahu jeias
penyebab penyakit
katakaniah cepat
ujar Sang Prabu Daha
Nanda, ketahuilah
kami datang ke sini

===== HALAMAN 13 =====

dengan rama Prabu
selain lama tak jumpa
ingin bertanya apa sebab kesusahan
Kurang apa lagi
anugrah ada pada ananda
pandai, kaya, muda, tampan
termashur tiada banding
tersohor ke mana-mana
dapat rama rasakan
ananda Prabu
ba’ Dewa dari Kayangan

Sayang tak masuk aka!
yang rama tidak mengerti
putra belum juga ingin
mengecap nikmat hidup
ibaratnya bagai
kembang di taman puspa
menuruti nafsu
di bulan purnama
kala bunga-bunga rekah
semerbak harum baunya

Namun heran bau harum
beribu jenis bunga
hanya dicium belaka
madunya tak dihisap
sungguh kumbang ganjil
itulah ibaratnya
maka rama bingung
bilakah kiranya
bergairah berahi
ataukah lagi bertapa?

Jawab Prabu Muda lirih
menyembah sambil tersenyum
“Sudilah ayah memaafkan segala khilaf nanda.”
Sesungguhnya sebab musababnya
nanda lama tak beristri
bukan karena bertapa
Atau karena gundah
tapi belum sampai waktu
masih ada yang dinanti
yakni Puteri Galuh
terkenal istri pilihan
puteri Sang Prabu Sunda
kabarnya tiada tara
nanda telah mengutus sang juru gambar
ingin tahu karyanya
Tak sedikit gambar para putri
putra raja mancanegara
tapi satu pun tak cocok

tampak dari air muka
dari wajah dan martabat putri
belum patut dihias
dinaungi payung agung
jadi ratu wanita
menguasai puri kraton Majapahit
yang besar nian

===== HALAMAN 14 =====

Prabu Tua tersenyum berkata
“Sukurlah kalau begitu
rama suka cita
dan punya nazar
bila jadi beristri
kedua mempelai
akan kududukkan di pangkuan
sesudah akad nikah
tanda suka, enyah sedih.”
tertawa Prabu Daha
Aria Patih pun suka cita

===== HALAMAN 15 =====

menyembah dengan cerah
Sang Prabu Tua melirik
“Setujukah Patih
kalau Ratu beristri?”
Ujar Patih
“Gusti Prabu
suka cita tak terhingga
siang malam mohon pada Maha Suci
agar cepat terlaksana
Hamba bersedih hati
belum juga menemukan
yang padan bagi permaisuri
utara, selatan dijelajah
susah payah sia-sia
mudah-mudahan sekarang
maksud tercapai
mohon restu nalendra
pula Kanjeng Prabu Daha.”

Prabu Daha berkata
“Sekarang mari kita masing-masing
berdoa agar berhasil
diterima Puteri Galuh.”

Seusai bercakap-cakap
mereka masuk ke puri
besar tetap bersama
tuan rumah dan tamu
alangkah suka citanya
malam hari tamu-tamu minta diri
dan esok harinya.

===== HALAMAN 16 =====

KINANTI
Esok harinya berkumpul
para tumenggung bupati
duduk tertib di pendopo
tak lama Maha Narpati
Prabu Sepuh Prabu Daha
ke luar dari keraton
Pakaiannya serba indah
silau dipandang mata
Sang Nalendra Kahuripan
prabu sukar tanding
dodotnya buatan seberang
dihiasi bunga emas
Sabuknya giringsing kawung
sedap ditatap mata
kerisnya kadipatian
gagangnya dari mas mumi
ditabur merah delima
serta mutiara manik
Cah’ya penata menyala
bersinar adu manis
bagai kunang-kunang hinggap
sanggul gayut ala Keling
digenggam emas berkilau
ditaburi intan adi
Ba’ garuda membelakang
elok dipandang mata
hias kuping bunga putih
molek di kanan kiri
gelang lengan atmaraksa
lebih gagah Sang Narpati

===== HALAMAN 17 =====

Anting-anting Brahma Wisnu
berkepala mirah adi
kilau bening samar-samar
tampak menyala merah
bergelang tiga wama
kinatelon lilit ubi
Patut bila ratu mulia
perkasa menjadi raja
sabar adil paramarta
dipuja seluruh hamba
di Janggala Kahuripan
jadi pelindung negara
Sang Prabu Daha
tegap ‘bagai narpati
berdodot sutera berbunga
disulam berwama emas
banyumasan kemerahan
nampak makin gagah
Serasi bagi ratu
memakai yang serba adi
sabuk giringsing wayang
pantas pakaian narpati
namplilkan keris pusaka
gagangnya berukir
Direka panglima buta
gagah mata terbelalak
sedang memegang kembang
kembang ‘nyala keemasan
ditimpa cahaya permata
pemandang terpesona
Sanggul ‘nonjol ke belakang
bagai sanggul ningrat Keling
rambutnya harum mewangi

===== HALAMAN 18 =====

mahkota intan sejati
bias kuping kembang hijau
elok binggap di telinga
Tampaknya makin serasi
bias kuping Daha A,ji
dirakit winalat kadqa
mengenakan anting-anting
bermata mirah delima
tampak merah padam
Memakai cincin pengayom
gelang lengan kecil manis
berkelip mengkilat
tak puas mata memandang
serasi dengan pemakai
pantas keturunan Daha
Mereka ke luar puri
menuju arab setinggil
disambut puruhita
Patih bupati mantri
semua menyembah
bersimpuh di muka Prabu .

Ratu kian suka cita
berdua sudah duduk
di kursi kerajaan
tak lama tampilah
Sang Nalendra Majapahit .
gagah tiada tanding
Cahayanya benderang terang
gagah pembawaan
tampan cantik dari kodrat
patut pengayom negara
tajam pandang matanya nan elok
tanda berakal tajam

===== HALAMAN 19 =====

Busana Sang Hayam Wuruk
tidak berlebihan
sungguh sederhana
dodot tidak dipegangnya
menghormati ayahanda
kala sampai di setinggil
Sembah pada Prabu Tua
Prabu negeri Kahuripan
senang melihat putranda
diajak duduk bersama
Sang Nalendra Majapahit
sebelum duduk bersembah
Jauh dari Prabu Tua
bukan di kursi gading
di tempat orang menghadap
beda dengan tempat duduk ayahanda
sekalian hadirin
pandang terarah ke Gusti
Lebih riang Prabu Tua
melihat putra Narpati
yang agung berkuasa
di negara Majapahit
sukar tandingannya
tampan, cakap, berbudi

Sang Prabu Tua bertanya
pada Patih Majapahit
Patih. bagaimana kabar
dari kijuru gambar
Belum datang jua
membawa gambar nyi Putri?
Ratu tak sabar menanti
ingin mendapat berita
kalau-kalau ditimpa aral melintang

===== HALAMAN 20 =====

di laut tiada angin
Sembah Arya Patih
Tepat betul sabda Gusti
Sebab mengarungi laut
ikut arah tiup angin
berbeda dengan di darat
sering ditimpa waswas
Gusti lebih-lebih maklum
bahaya menempuh air

Sang Prabu Tua menggangguk
tanda mengiakan Patih
karenanya p’ra ponggawa
amat bersuka cita
mendengar· Asmaranata
bersembah kepada Gusti
Ya, Gusti Maha Prabu
izinkanlah patih
Puruhita Sang Nata
menyampaikan warta
dari orang-orang kapal
yang datang kemarin
Adapun utusan Ratu
berkat restu Prabu
sudah pulang semua
kapal berlabuh di Terung (Terung Wetan di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur)
mendarat mencari air
lalu ke Mahibih
Agaknya sudah sampai ke Bubat
menurut hemat patih
bila tak aral melintang
hari ini juru gambar
dapat memperlihatkan karyanya

===== HALAMAN 21 =====

ke hadapan Tuanku
Tersenyum Sang Prabu Tua
Prabu Daha suka cita
mendengar Puruhita
kar’na dapat wartajelas
sekalian hadirin
bermohon pada Yang Widi
Mohon agar diluluskan
berhasil niat sangjuru gambar
dan agar cepat datang
karyanya diterima Sang Prabu

belum usai yang melapor
tampillah juru gambar
Segera menghadap Ratu
‘persembahkan gambar Putri
terbungkus beres rapi
bungkusnya sutera kuning
suka cita para raja
melihat sangjuru gambar
Patih cepat-cepat
membawa ki juru gambar
menghadap Sri Baginda
yang mula melihat
hasil karya juru gambar
ialah Ratu Kahuripan
Senang nian Ratu Tuan
memandang lukisan Putri
sepakat penuh
pantas jadi permaisuri
meratui pra wanita
di Keraton Majapahit
Sama halnya Prabu Daha
pada pandangan pertama

===== HALAMAN 22 =====

gambar putri Ratu Sunda
puji keelokan Dewi
ujamya, Tak ada taranya
di masa dewasa ini !
Puas benar punya mantu
tak perlu mencari lagi
Setelah puas memandang
berkata Sang Prabu Tua
Ambillah gambar ini
hasil karya juru gambar

Ratu Agung Hayam Wuruk
sekilas saja memandang
gambar Putri Ratu Sunda
dalam hati memujinya
merasa baru kini
melihat potongan putri
Molek, tegap dan berisi
bisa tertukar dengan peri

semakin lama ditatap
semakin tergila Putri
lenyap alam mayapada
hanya tinggal si jelita
Dikau putri maha molek
sungguh ratu para putri
tiada ada taranya
dikau bagai Dewi Ratih
mungkin bukan sembarangan
mungkin peri gentayangan
Atau Dewi yang menyamar
Dewi segala wangian
puspa-puspa petamanan
atau inti sari kasih
Dewi dari Kahyangan
menggoda ratu prihatin

===== HALAMAN 23 =====

ASMARANDANA
Sang Prabu bersuka cita
Raja Daha suka hati
mereka faham sudah
gambar diterima baik
Prabu Tua suka ria
tertawa sambil mengangguk
lalu berkata
Pada Patih para mantri
dan semua hadirin
agar supaya bubar
para ponggawa ke luar

Ketiga raja
masuk ke dalam keraton
duduk di made soka
Ruang tempat musyawarah
Ujar Sang Raja Tua
pada Prabu Majapahit

Sekarang bagaimana keputusan
ayah ingin ketegasan
mengenai Putri Galuh ·
putri Maha Ratu Sunda

Bersembah Sang Narpati
Berkat doa ayahanda
serta rama Prabu Daha
perkara Nyi Putri Sunda
hamba kira memadai
dinaungi payung agung
layak jadi permaisuri
Malah andaikan Nyi Putri
ada yang menghalang-rintang

agar Dewi gagal
dijadikan permaisuri
niscaya dianggap lawan
musuh turun temurun

===== HALAMAN 24 =====

Segera Patih dipanggil
cepat-cepat ia datang
khidmat menghadap Ratu
lalu Patih diperintah
bersiap-siap melamar
Nyai Putri Galuh
pada Ratu Sunda
Patih Mada mohon diri
cepat karena gembira
diperintah Sang Prabu
ke luar dari pendopo
menghimpun wadya bala
memilih mantri, tumenggung
yang patut dibawa pergi

Tak lama siaplah sudah
surat dan barang bawaan
bertolaklah mereka
ke pelabuhan
lalu naik kapal
kelasi-kelasi sibuk
angkat jangkar pasang layar
Kebetulan dapat angin
layar kapal melembung
meluncut arah ke barat
pelabuhan jauh sudah
perjalan:an lancar
tampaklah pesisir Sunda
Patih Mada siap-siap
mengatur barang bawaan
menuju ibu kota

===== HALAMAN 25 =====

mengunjungi kepatihan
Ki Anepaken kaget
cepat menyambut tamu
lalu menghadap Raja
Mewartakan ada Patih
utusan Wilatikta (Majapahit)

ujar Sang Prabu
Suruh istirahat dulu
besok kita kumpul
hadapkan tamu-tamu
Ki Anepaken Patih
bersembah mohon diri
lalu menyuruh benah
sediakan segala sesuatu
seperti biasa
mengumumkan titah Ratu
esok harus bersidang

Keesokan harinya
sudah berkumpul
para mantri berderet
di tempat masing-masing
tak lama Sri Baginda
ke luar dari keraton
berpakaian serba indah
Mengkilap mahkota emas
mata silau dibuatnya
pentolnya intan berkelip
dikitari mutiara
diselingi biduri
serasi dengan sanggul
sanggul mayang mekar
Terlebih manis nampaknya
dengan kembang anggrek bulan

===== HALAMAN 26 =====

cocok dengan pemakainya
anting dari mutiara
memakai dodot sanebab
panjang bagus makin tampan
dibatik emas menyala
Mengenakan sabuk batik
giringsing pandawajaya
serasi dengan Sang Prabu
seimbang dengan badannya
yang sedang-sedang
pengikat dari Tinggulun
gelangnya kanabantala
Gagang keris dari gading
diberi bentuk raksasa buas memegang mayat
sarungnya emas gemilang
ditaburi permata
serasi dipakai Ratu
silau dipandang mata
Yang paling diutamakan
ialah tugas satria
hak kewajiban ratu
menjaga keamanan
dan kemakmuran negara
hamba-hamba kecil besar
seantero tanah Sunda

Keluarlah Ratu dari keraton
berkerumun pengiringnya
para ponggawa istana
segera Sang Ratu duduk
di atas mahligai
dihadapi pra pembesar
pendeta pra brahmana
Jaksa perdata, manguri

===== HALAMAN 27 =====

di tempat masing-masing
bersila khidmat
Ki Anepaken bersiap
menghadapkan utusan
pada Baginda Ratu
menyampaikan lamaran

Arya Patih Majapahit
bertindak lebih hormat
sujud di hadapan Raja
mempersembahkan surat
kepada kaki Baginda

surat diambil Sang Ratu
beginilah bunyinya
Ke hadapan Tuanku Gusti
Ratu Agung bijaksana
yang mulia berwibawa
penguasa Tanah Sunda

ampun Gusti Panulun
dengan surat ini
Mohon perkenan Jeng Gusti
sudi Gusti mengasihi
nanda dalem yang hina
ikut mengakui rama
kepada Sri Nalendra
menyampaikan permohonan
semoga diterima

Hanya berkah rama Aji
yang nanda mohonkan
sebagai penawar hati
nanda Dalem yang prihatin
dewasa ini
bagaikan burung malam
rindu terang bulan
Atau bagai burung elang

yang melayang di angkasa
berbunyi di awan hijau
haus menantang hujan
musim kemarau

===== HALAMAN 28 =====

nanda Gusti mohon angin
mohon diberi berkah
Perkenankanlah nanda
melamar Sang Ayu Ratna
pujaan jimat keraton
mustika keputran Sunda
Putri Galuh yang mulia
akan diangkat
dijadikan permaisuri
Di keraton Majapahit
membawahi pra wanita
semua hamba istana
menantikan bakal gusti
jimat sanggar pujaan

dan Patih Mada selain
menyampaikan surat
Diminta oleh nanda
menjawab pertanyaan
ramanda Prabu

Seusai membaca surat
merenunglah Ratu Sunda
merasa belas kasih
membaca bunyi surat
Baginda ikut bersedih
merasa gundah gulana
menaruh belas yang sangat

setelah dipikir baik
tersenyum seraya bangkit
minta pada Patih Mada

===== HALAMAN 29 =====

ceritakanlah, Arya Patih
Keadaan Majapahit
betulkah Sri Nalendra
yang begitu pandai
terkena sakit pikiran
bagaimana mulanya
tak mengerti aku
dengan Putri belum jumpa, bukan?
Jangan-jangan tertukar
atau salah cipta
terpesona kabar angin
kabar tak nyata
dari sini sejari
sampai di sana sedepa

Bersembah Arya Patih
wahai, Gusti Maha Nalendra
patih yang teramat bodoh
akan menyampaikan
sebenarnya keadaan
Putra Gusti yang mulia
betul tergila-gila
Menurut hemat patih
obat penyembuhnya
hanya mesti terlaksana
permohonan yang tersurat
selain dari itu
Rakanda Maha Prabu
Ratu besar Kahuripan
Setia memegang janji
disaksikan Prabu Daha
saudara Sang Prabu
andai terlaksana
seusai akad nikah
Ratu besar bernazar
memangku pengantin baru

===== HALAMAN 30 =====

Tanda sangat suka cita
serta kasih sayang rasa
tersenyum Sang Raja Sunda
Sukur kalau demikian
aku merasa senang
mendengar akan bernazar
tandanya setuju penuh
Mungkin maklum akan putri
yang masih kanak-kanak
jauh dari orang tua
kurang ilmu pengalaman
moga-moga Maha Kuasa
memberi selamat
beres berumah tangga
Suka cita kalbu Prabu

segera Baginda menitah
demang ponggawa keraton
terima barang lamaran
emas, intan, pakaian
yang dibawa Patih Mada
benda-benda serba mahal
Seusai diperiksa
disimpan oleh Demang
Surat oleh Maha Raja
disimpan di tempat sirih
tempat sirih gading kembang
diukir dan dibubut
indah direka-reka

Kemudian Sang Narpati
memerintah pra ponggawa
agar bubar
utusan pun diminta
pulang ke pesanggrahan
menanti panggilan Ratu

===== HALAMAN 31 =====

sementara Sri Baginda
Masuk ke dalam puri
berunding dengan permaisuri
lalu pergi ke keputren
ingin menemui putri
Sementara Sang Kusumah
yang molek Putri Galuh
menyambut ramanda
Sudah bersiap-siap
sedia tempat duduk
dayang-dayang berderet
tak lama datanglah Raja
beserta ibunya

suka cita Ratnaayu
menyongsong ayah bunda
Cepat permaisuri
meraih tangan putri
mendekapnya penuh rindu
mencium keningnya
begitu pula Raja
sayang luar biasa
mengajak duduk bersama

Tersenyum Raja berkata
Ayah merasa senang
punya anak seperti neng
yang menjadi pujaan
hati ayah dan hati ibumu
dianggap jimat negara
Walau neng nanti
bersuami raja lain
tetap anak ayah jua
takkan punah kasih ayah
takkan putus-putus

===== HALAMAN 32 =====

biar jauh orang tua
janganlah bimbang
Ayah niscaya menjaga
merestui dengan doa
demikian pula ibu
akan selalu berdoa
mohon pada Yang Kuasa
agar kau sejahtera
membina rumah tangga

Neng tak usah bermuram
malah sebaliknya
bersyukur pada Yang Esa
karena dapat anugerah
akan diperistri
ratu agung mulia
termashur bijaksana
Tampan, muda, kaya raya
belum berpermaisuri

ayah dan ibu setuju
bila jadi diperistri
oleh Sri Maha Nalendra
Maha Ratu Hayam Wuruk
Ratu Agung Majapahit
membawahi tujuh raja
para ratu besar
seantero Pulau Jawa
menyerah tak kecuali
pada kekuasaan Ratu
walau masih muda

===== HALAMAN 33 =====

SINOM

Bila jadi permaisuri
di keraton Majapahit
alangkah agungnya
membawah seisi puri
dan sekalian hamba
dinaungi payung agung
terpencil seorang diri
jadi dewi putri
luhur agung sejagat sujud padanya

Mungkin neng belum tahu
untung jadi permaisuri
diperistri Sri Nata
selain senang dan kaya
beroleh ningrat Keling
keturunan mulia adi
berdarah Kahuripan
satria sejati
patut menjadi moyang
‘Tuk memanjangkan ‘turunan
menurunkan darah adi

selain itu Nalendra
sudah berjanji tak salah
jika jadi dengan Neng
niscaya seumur hidup
Neng takkan dimadu
rindu dan cintanya
dicurahkan padamu semata

Seusai nasehat Ratu
tampillah Permaisuri
agar Putri lebih senang

===== HALAMAN 34 =====

suka jadi permaisuri
Neng jangan lupa
yang patuh pada orang tua
itulah anak mulia
hal itu jelas tertera
dalam Pendidikan Putra
Anak yang berbakti
tak menentang orang tua
tak menolak kehendaknya
tak berbuat salah
kalau salah tingkah
kembali ke jalan benar
ambil contoh Madhawi
orang tua tak pernah ditentang
Menurut pendapat ibu
Neng beruntung nian
teipilih oleh Sang Raja
dijadikan permaisuri
rasa ibu yakin
Neng tentu taat
pada buku Purana
pedoman tingkah sejati
takkan abaikan patokan
Selain dalam Purana
neng pun maklum
dalam Silokan tara
jelas tercantum
berkorban seratus kali
pahlanya tak menandingi
bakti pada orang tua
lagi pula manfaatnya
ayah bunda dapat pahla
Neng pun penuhi darma
melanjutkan lakon diri

sebarkan turunan Raja
bagaimana pikir Neng
mau ataukah tidak
katakanlah terus terang

tanpa tedeng aling-aling

===== HALAMAN 35 =====

Putri tunduk murung sesaat
Bagai bulan terhalang mega
muramnya wajah Putri
namun nampak manis
si jelita sedang gundah
enggan bercampur malu
berterus terang
bagai macan lesu
bersimpuh tak bergerak
jari permainkan alas
Sulam permadani lepas
kembang-kembang jadi kusut
sebab dicubit ditarik

Retnaayu Citraresmi
sejenak Nyi Putri
tunduk menggigit bibir
mata berkedip-kedip
dan bagaikan sangat Ielah
kalungnya bergerak seirama dengan nafas
Berkilau cah’ya permata
di atas leher Sang Putri
pantas ba’ golek kencana
menerbitkan air liur
para dayang bisik-bisik
saling colek-mencolek
Ken Bayan, Ken Pasiran
Ken Paguneman, Ken Sangit
ingin tahu menantikan jawab

===== HALAMAN 36 =====

Tak lama Ratnaayu Putri

jelita bersembah
menjawab menahan tangis
Sang Ratu dan Permaisuri
memasang telinga
khawatir Putri tak mau

pelan-pelan ujar Putri
Kehendak ayah dan ibu
sungguh akan saya junjung
Berkah ayah dan ibu
siang malam kunantikan
sungguh rela lahir batin
jangankan jadi permaisuri
menjadi pengasuh pun
bila kehendak ‘rang tua
akan saya terima
saya rela lahir batin
p’rintah ayah saya terima dengan ikhlas

Tertawa Sang Ratu Sunda
sama halnya Permaisuri
suka cita tak terhingga
mendengar ujar Nyi Putri

berkata lagi Sang Ratu
sambil membelai Ratnaayu
Anaking jimat awaking (Anakku, jimat ayah)
ayah sangat senang hati
moga-moga selamatlah akhirnya

Usai menanyai putri
Sang Ratu dan Permaisuri
air mukanya gembira
lalu masuk dalam puri

keesokan harinya
gempar seluruh negeri
goncang setanah Sunda
ada kabar bahwa Ratu
sekeluarga akan mengarung lautan

===== HALAMAN 37 =====

Dengan bala, harta, benda
ke negara Majapahit
menikahkan putrinya
menjadi permaisuri
ningrat maupun rakyat
ikut bersuka cita
karena Putri Sunda
terpilih permaisuri
tanda unggul kala itu

Maka esok harinya
para mantri ‘kumpul lagi
sebagaimana biasa
Sang Ratu Sunda bersabda
wahai, mantri-mantri
kalian tentulah maklum
bahwa lamaran Sang Raja
Nalendra Majapahit
sementara sudah kuterima baik
Adapun niatku
mengantarkan Nyi Putri
ingin saksikan sendiri
dinobatkan permaisuri
semua ponagawa mantri
yang perlu harus ikut
mesti segera bersiap
berlayar ke Majapahit
lengkap bawa bekal dan senjata
Dan macam-macam tontonan
jangan ketinggalan
keanehan tanah Sunda
pendeknya bawa segala
kapal-kapal mesti bersih
dihiasi serba indah
sekalian ponggawa
yang mendengar sabda Ratu

===== HALAMAN 38 =====

riang ingin segera bertolak ·
~
Sudah dapat dibayangkan
meriahnya penobatan permaisuri
tiap pembesar Tatar Sunda

bernazar menghormat Putri
kemudian Sri Narpati
menyuruh panggil Ki Mada

Patih perutusan
Ki Anepaken Patih
segera menghadapkan Ki Utusan

Setelah Utusan tiba
khidmat menghadap Prabu
Sang Ratu Sunda berkata
wahai Patih Majapahit
surat yang dibawa Patih
dan segala kiriman
lamaran Sri Nalendra
Ratu Agung Majapahit
hari ini resmi kuterima

Sekarang aku minta
agar Patih lekas pulang
sampaikan bakti dan hormat
pada Aji Kahuripan
sampaikan oleh Patih
aku amat suka cita ·
karena Sang Ratu besan
bernazar memangku Putri
dan Sang Nata habis ‘nikah
Dan pada Sri Nalendra
Ratu Agung Majapahit
sampaikan tak lama lagi
aku dan Permaisuri
akan mengantarkan Putri
dengan semua pembesar

pemerintah kerajaan
ingin menyaksikan
upacara pernikahan Sang Raja
Dan mengenai surat
yang dibawa Patih
tidak kubalas
sebab ‘kan datang sendiri
malah semua mantri
sedang berunding
bersiap berkemas
seusainya lekas berangkat
demikian amanat pacta Sang Nata

===== HALAMAN 39 =====

Sang utusan bersembah
Daulat Tuanku
segala amanat
untuk putranda Gusti
dan kakanda Gusti
tentu akan disampaikan
dan selain itu
dengan perkenan Gusti
patih mohon diri pulang

Memang betul, ujar Raja
mesti cepat-cepat pergi
tentu Prabu Kahuripan
dan Sang Ratu Mlijapahit
selalu menanti
segera Sang Ratu
‘merintahkan Patih Sunda
membekali yang berangkat
makanan minuman lengkap
Karena perintah Raja
tak lama telah sedia
pendeknya tak kekurangan
hormat Patih tuan rumah

===== HALAMAN 40 =====

maka beiangkatlah tamu
di jalan tak dicerita
jauh pun pastilah sampai
kita tunda kisah lamaran Nyi Putri

Syahdan Ratu Sunda
sedang sibuk berembuk
mengatur apa yang aneh
akan dibawa serta
tak lama bereslah sudah
hampir semua pembesar
ikut bersama istrinya
pun pula priyayi kecil
‘bagai raja yang akan pindah negara
Kira dua ratus kapal
berhias indah
serta perahu Madura
berderet tepi pesisir
lebih kurang dua ribu
semua siap sedia

sementara Sang Narpati
berangkat dari puri dan anak istri
Diiringi para dayang
dan segenap isi puri
menuju pelabuhan
disusul para pengiring
Patih dan para mantri
demang, rangga dan tumenggung
beriring jol!jampana
dikawal para prajurit
sampailah ke pelabuhan

===== HALAMAN 41 =====

Sang Prabu terheran-heran
di tepi pesisir nampak
darah segar campur beku
merah padam atas laut
Jalu nampak pula
berpuluh-puluh gagak
berbunyi ak-ak-ak
sambil menyemburkan darah
melayang di tepi laut

Baginda mengusap mata
memandang lebih tajam
setelah nyata peristiwa
pertanda bagi Narpati
bahwa ajal Gusti
cepat akan tiba
alamat celaka
berlayar menyongsong maut
Ratu berdiri merenung
Sebentar bungkam belaka
memikirkan takdir diri
kadar yang ‘kan menimpa
diri Kanjeng Gusti

setelah masak dipikir
air mukanya berubah
bagai riang gembira
khawatir terlihat Putri
dan para ningrat yang riang
Sejenak Sang Ratu Sunda
ingat keberuntungan Putri
akan jadi permaisuri
di keraton Majapahit
alangkah beruntungnya
mempunyai mantu agung
kesedihan Sri Ratu
saat itu punahlah
terhibur bah’gia putri
Berpikir lagi Sang Ratu
mustahil batal berlayar

===== HALAMAN 42 =====

padahal sudah berjanji.
hina bagi s’orang Nata
nista bagi s’orang Raja
tidak menepati janji
beruntung maupun mati
hanya maklum Maha Esa

Kemudian naiklah sampan
Raja dan Permaisuri
Puteri serta dayang-dayang
tiada yang ketinggalan
kemudian para mantri
serta segenap pembesar
beriring berlomba-lomba
naik perahu kecil
ikut Raja naik ke atas bahtera
Sesudah ada di kapal
lalu diatur diperiksa
setempatnya setempatnya

Ki Anepaken Patih
sigap mengurus prajurit
iringan kapal diatur
yang paling muka
kapal para senapati
dan prajurit, disusul kapal Baginda
Menyusul kapal ponggawa
golongan priyayi kecil
di belakangnya beriring
puluhan kapal

Ia~yang sarat diisi
barang yang dibawa Ratu
umpamanya kendaraan
gajah, kuda, tandu, joli
panji, tombak, bunyi-bunyian
Yang cakap main senjata

dan bermacam-macam lagi
kesenian kraton Sunda
tak disebut satu-satu
usai semua diperiksa
iring-iringan diatur
Patih memberi isyarat
tanda siap sudah
angkat jangkar, pasang layar
Segenap bunyi-bunyian
serentak ditabuh ramai
pelan bahtera meluncur
kebetulan dapat angin
para mantri semua
rangga, demang dan tumenggung
berangin di atas kapal
memandang pesisir
terharu bagai ‘kan pindah negara

Tingkah suara gamelan
bergaung di tengah laut
wadya bala sorak sorai
karena bersuka cita
jauh dari rasa waswas
sebab segalanya cukup
tak kurang sandang pangan
tak takut akan bahaya
sebab banyak yang membela
Layar kapal mengembang
meluncur dihembus angin
ba’ angsa mengepak sayap
berenang di tengah laut
apalagi kapal Ratu
besar tinggi dan elok
berbeda dari yang lain
karena tumpangan Prabu
Yong Sasangi kapal layar kerajaan

===== HALAMAN 44 =====

Ba kapal buatan Tatar
zaman Sri Wijaya sakti
Ratu Agung yang termashur
kala menggempur Kediri
terharu bila melihat
keindahan kapal Ratu
kukuh dan sentosa
dikawal diiring-iring
ba Dewa Baruna pindah ke Jawa
Tunda dulu yang berlayar
sementara Patih Mada
sudah tiba di bandar
akan menghadap Narpati
usai berdandan ia pergi
kebetulan Maha Prabu
Kahuripan dengan Daha
serta Ratu Majapahit
bertiga sedang bercakap

===== HALAMAN 45 =====

MAGATRU
Tengah asyik membicarakan Ki Patih
rasanya lama benar
jangan-jangan ada aral
karena maksud tak sampai
tiada kabar juga

Kala itu tibalah Patih Mada
menghadap Sri Narpati
suka cita Maha Prabu
sambil menatap Ki Patih
senyum lihat air muka
Ujarnya, mari sini Patih Mada
berhasilkah maksud kita
tak sabar ‘ku menanti
ingin Iekas dapat kabar
tentang Maha Raja Sunda

Bersembah Ki Patih Mada
Daulat, ya Tuanku
surat serta kiriman
semua sudah diterima
oleh Sang Prabu
Lalu Patih menguraikan
pengalaman dari awal
sampai akhir dengan cermat
senang hati Sang Narpati
tertawa Sang Prabu Daha
Sabda pacta Hayam Wuruk
Ayah ikut suka cita
semoga selamat sejahtera
sehat badan, sehat hati
tetap memangku keprabon

===== HALAMAN 46 =====

Kini penghibur telah ada
yang mendampingi siang malam
ajar sakti dukun bertuah
penawar hati merana
yakni Putri Jelita.”

Manis senyum Hayam Wuruk
bersembah lalu berkata
Berkat doa restu ayah
semoga selamat afiat
dapat anugerah Yang Esa
Bukan main riang ketiga Ratu
kerjanya tiada lain
sejak tiba Patih Mada
hanya mengatur menata
serta menghias keraton
Semua hamba ikut sibuk
yang ke rimba yang ke sungai
berburu rusa dan banteng
menjala dan menjaring
dan menangkap ikan empang
Kerbau sapi buat tamu
sudah siap ‘tuk dipotong
pelbagai jenis ikan pun
yang besar, maupun kecil
penuh danau, penuh empang
Gempar heboh kota, desa
karena akan datang Putri
calon permaisuri Ratu
segenap pembesar negeri
ikut bersuka cita
Tiap hari yang bakti datang berbondong
utusan setiap negeri
membawa barang-barang nan elok

===== HALAMAN 47 =====

‘tuk Raja dan Rajaputri
busanalah yang terbanyak
Syahbandar sibuk mengurus barang
kapal datang tak habis-habis
berlomba-lomba berlabuh
berkerumun di pesisir
para tamu dan penonton
Luasnya wilayah Ratu
membawah empat lautan
tanah subur, tanah makmur
di kala Gusti berhajat
orang menjadi tercengang
Sampan dan berbagai perahu
yang berbakti pada Ratu
berderet beribu-ribu
sehingga air tak nampak
bagai kayu dalam empang
Makin lama makin gempar
orang kota orang desa
sibuk membuat melabur pagar
negeri mesti rapi bersih
apalagi di keraton
Cerah pajangan tenunan agung
diatur hingga serasi
karena pandai penata
rumbai diselang-seling
sedap dipandang mata

Alangkah senang Ratu Hayamwuruk
melihat hiasan puri
yang akan dipandang Ratna
jantung pujaan hati
yang sedang dinantikan

===== HALAMAN 48 =====

Tunda dulu yang lagi sibuk
seisi Majapahit
yang ‘kan menyambut tamu
sedang yang dinanti-nanti
yakni Sang Nata Sunda
Yang berlayar bersuka ria di laut
cuma sepuluh malam

sejak datang Patih Mada
ke negara Majapahit
tibalah iring-iringan
Patih sudah menghadap Sang Ratu
bahwa tamu segera datang
bahkan kapal terdepan
sedang bersiap-siap
akan membelok
Sabda Ratu, jika kita sudah masuk
ke Bengawan Majapahit
lebih baik kita tunggu
menjemput Sri Narpati
mencari termpat jedah
Pilih saja tempat teduh
nantijuga ditemukan

segera Patih mohon diri
menerima titah Ratu
tak lama kapal membelok
Patih dan p’ra pembesar berembuk
dari muara terus mudik
beriring maju pelan

sesudah sampai
ke Bubat kapal pun tiba
Orang Bubat gempar melihat tamu
penuh sesak tepi sungai
memandang beratus kapal

===== HALAMAN 49 =====

Lurah Bubat siap sedia
melapor pada Baginda
Kebetulan Prabu Daha, Prabu Tua
dengan Ratu Majapahit
sedang duduk bertiga
memikirkan hal Nyi Putri
yang tengah dinantikan
Ketiga Ratu kala mendengar Ki Lurah
ada di balai tamu
melapor perkara tamu
segera dipanggil Ratu
ditanya, ada apa?

===== HALAMAN 50 =====

KINANTI
Daulat, ya Tuanku
perkenankanlah patih
menyampaikan kabar
bahwa tamu sudah datang
dengan beratus datang
dengan beratus bahtera
di bengawan penuh sesak
Tibanya Sang Ratu Sunda
jelas dengan Permaisuri
wadyabala tak terbilang
pangkat agung pangkat rendah
ikut sekeluarga
tiada yang tertinggal

Orang heboh tepi laut
penuh sesak di pesisir
muara penuh bahtera
simpang siur sampan perahu
datang beriring-iring
dari pagi hingga senja
Perahu berlomba-lomba
‘milih tempat tepi sungai
dari kejauhan tampak
berkawan bagaikan laron
sebagian ‘layar ke hulu
karena mau menepi
Sudah sampai ke Canggu
iringan perahu kecil
berbaris di tepi sungai
adapun kapal Narpati
dengan kapal para ningrat
telah menepi di Bubat

===== HALAMAN 51 =====

Lalu mendirikan tarub
pasanggrahan tepi sungai
tiap ningrat masing-masing
diatur berderet-deret
dekat pesanggrahan
bersemayam Sang Narpati
Pesanggrahan Kanjeng Ratu
nyaman, sejuk tak terhalang
di tempat yang amat bagus
di bawah pohon beringin
berderet-deret panjinya
berkibar dihembus angin
Bebas ‘mandang ke selatan
yang jauh pun nampak jelas
sekeliling pesanggrahan
penuh alat-alat perang
tombak merah tak terbilang
bedil bersandar berderet

Lurah teliti melapor
keadaan di pesisir
tiada yang terlampaui
bahkan perihal wanita
yang dibawa Ratu Sunda
disampaikan pada Prabu
Semua cantik dan manis
pelan berjalan di pantai
ba’ wanita kahyangan
turun dari langit
akan bermandi di !aut
untuk menghibur diri
Bersuka cita Sang Ratu
mendengar tamu datang

===== HALAMAN 52 =====

serta begitu jelas
laporan Ki Lurah
bertiga lalu berembuk
menjemput yang baru datang
Patih harus segera
kumpulkan para prajurit
joli jampana, kereta
yang ditabur mas permata
ditutup sutra dewangga
bangsal anyaman kulit rumbia

Besanku sudah datang
di Bubat tengah menanti
tibanya songsongan kita
ingin lekas ‘ku bersua
dengan bakal menantuku
dan dengan besanku
lngin meluluskan Ratu
hendak menemui Putri
cepat-cepat bersiaplah
para mantri suka cita
mendengar perintah Raja
berkatalah pada Gusti
Beribu-ribu terima kasih
patik hendak serta
menyongsong Ratu Besan
menurut pendapat patih
memang sangat utama
kehendak Gusti

Menurut tutur nenek moyang
yang sayang dibalas sayang
yang keras dibalas keras
sekarang Sang Ratu Sunda
telah memenuhi janji

===== HALAMAN 53 =====

baiklah disongsong kini
Tentu Maha Ratu Sunda
tak berbeda dengan Gusti
ingin lekas bertemu
mendapat songsongan Gusti
dan Sri Maha Nalendra
penguasa Majapahit
Sri Baginda Hayamwuruk
tersenyum ‘dengar pra mantri
berkata pada ayahandanya
tampak suka cita sangat
Prabu Tua Prabu Daha
tersenyum melihat Jucu
Lebih senang dalam hati
rasa seniat sepikir
sesuka dan seduka
baginda dan hamba-hamba
pendeknya saat itu
suka hati suka tawa

Kala itu tersebutlah pembesar
Patih Agung Majapahit
namanya Gajah Mada
tangan kanan Sri Narpati
tempat orang bertanya
bagaikan tiang negara
Amat tidak setuju
dengan kehendak Narpati
tak menyepakati niatnya
tak sepakat tak sepikir
dengan sangat Gajah Mada
mcnentang kehendak Gusti
Kening Sang Gajah mengernyit
khidmat di hadapan Ratu

===== HALAMAN 54 =====

semua yang suka cita
para mantri dan bupati
‘mandang air muka Patih
yang berlainan paham
Pengawal Seri Baginda
begitu pula sahaya
dari batik kambi kawat
mengintai diam-diam
cuma dengan sudut mata
berkali-kali melirik
Mereka yang maklum menunduk
tak habis berpikir
heran akan Gajah Mada
mengapa berbeda faham
berbeda dengan yang banyak
mengapa, tak masuk akal
Para bupati tumenggung
yang duduk agak jauh
saling colek dengan rekan
mengapa gerangan Patih
seperti tidak setuju
mungkin ada soal pelik
Hening segenap hadirin

melihat Patih bergeser
bersembah Gajah Mada
berkata pacta Narpati
Ya ampun, Maha Nalendra
perkenankanlah patih
Menyampaikan pendapat
bukanlah patih
menentang perintah
tak ikutbersuka cita
namun bila patih diam diri
takut dipersalahkan
Ampun beribu ampun
hal perkara Kanjeng Gusti
ingin pergi ke Bubat
menyongsong Sang Ratu Sunda
baiklah bersabar dulu
sebab patih berpendapat
Kehendak Ratu Agung Sunda
mengenai Sang Putri
‘kan menyusahkan semua
karena melawan tata
melanggar tata negara
politik Majapahit

===== HALAMAN 55 =====

Ampun beribu ampun
dengan perkenan Tuanku
baik ditangguhkan dulu
sampai empat lima malam
Tuanku tentu lebih maklum
hal menyongsong tamu Gusti
Artinya Gusti menjunjung
nyatanya Gusti memunjung
hemat patih ‘kan mengikis
pengaruh Tuanku
melunturkan keagungan
menyuramkan Majapahit
Dan kalau dipikir-pikir
keagungan Tuanku
sesembahan para raja
Palembang, Wandan, Tumasik
Koci, Sawangkung, Madura
Tanjungpura serta Bali
Tentu pikir para ratu
yang bersujud pada Gusti
berbakti harta benda
yang menghadap telanjang

===== HALAMAN 56 =====

dibaluri bedak kuning
semua ‘kan sakit hati
Sebab tak seperti dulu
penerimaan Tuanku
bukan menentang kehendak
ampun beribu ampun
segala-galanya terserah
pada kehendak Tuanku

Maha Raja Hayamwuruk
menunduk mendengar Patih
mungkin betul demikian
kalbu Sang Ratu goncang
kar’na kata Gajah Mada
kemudian bersabda

Patih agaknya cemburu?
Daulat, Tuanku
cemburu membawa salah
dan hal keagungan kami
luas sepenuh jagat raya
takkan punah tercubit sedikit
Ki Patih berkata lagi
Gusti, pujaan patih
tampaknya memang tak penting
tak mengandung bahaya
namun patih merasa
khawatir dan waswas
Makin lama makin tebal
lebih ngeri dari disayat sembilu
semula ba’ bersahabat
tapi patih yakin
bersahabat takkan lama
kelak niscaya terbukti
Berubahnya Ratu Sunda

karena diagung-agung
disongsong dihormat-honnat
tak segan pacta Tuanku
berani samai harkat
begitu pula hambanya
Karena memandang Ratu
tak takut dan tak khawatir
akhirnya tiada bedanya
lenyap keagungan Gusti
susut pengaruh negara
turun harkat Majapahit

===== HALAMAN 57 =====

Maha Ratu Hayamwuruk
termakan kata Sang Patih
seakan harus begitu
takdir Yang Maha Suci
gara-gara ada perang
permulaan banjir darah
Segala yang diucapkan
oleh Patih Gajah Mada
masuk dalam kalbu Ratu

tak terpikirkan Baginda
apakah kesalahan
maksud Patih itu
Hasil kerja Patih Mada
jerih payah siang malam
penghonnatan Ratu Sunda
pacta utusan Majapahit
musnah tak berbekas
lenyap dari pikir Gusti

===== HALAMAN 58 =====

PANGKUR
Bahkan sejak itu
Ratu melarang pra mantri
mengantarkan apa-apa
pada tamu, Ratu Sunda
para mantri, bupati dan. tumenggung
semua yang ikut sidang
kaget ‘dengar sabda Ratu
Seujung rambut tak terduga
Baginda terpikat Patih
sampai bersabda begitu
rasanya terbalik
jauh-jauh tamu dari Sunda datang
namun dimurkai
susu dibalas tuba
Semua ponggawa bergunjing
tapi takut menghadap Ratu
menunduk seraya bingung
melawan tak mungkin
sebab taat pada sumpah
takut pada Gajah Mada
Patih panglima perang

Sementara di pesanggrahan
Ratu Sunda di Bubat dan para mantri
menanti songsongan Ratu
tiap hari bersiap
diatur kerja waktu berangkat
iringan dari Bubat
ke keraton Majapahit
Namun sekian lama
songsongan tak kunjung datang

===== HALAMAN 59 =====

konon Ratu mendapat
warta dari luar
tuan ramah menaruh syak
disebabkan Gajah Mada
Ratu Sunda heran
Lalu memanggil ponggawa
berembuk dengan p’ra mantri
setelah pembesar ‘kumpul
bersabda Ratu Sunda
apa yang didengarnya
kata-kata Gajah Mada
pada Ratu Majapahit
Para ponggawa sepakat
Lebih baik dibuktikan
kalau-kalau kabar palsu
segera Raja memanggil
mantri ponggawa kapal
agar mengawal utusan
menghadap ke Majapahit

Tumenggung Penghulu Borang
berkata kepada Patih
Demang Caho, panglima perang
serta Penghulu Borang
Patih Pitar, patih Putri Galuh
dan tiga ratus prajurit
pilihan berpakaian bagus
Semua berangkat dari Bubat
arah ke selatan tanpa mengaso
menuju Gapura Agung
terus ke Palawean
ke timur sampai jalan ke selatan
tiba di Palaban tikan
menuju rumah Patih

===== HALAMAN 60 =====

Sesampai di sana
Anepaken tanpa ‘tanya

dengan pengiringnya masuk
tanpa minta izin
lalu berhenti dan menanti
di bawah pohon asoka
murung dan jengkel
Waktu itu Gajah Mada
berembuk dengan mantri
mantri yang sudah tua
banyak makan garam
menceritakan kedatangan Ratu Sunda
bukan perbuatan wajar
karena tak berbakti
Cara bagai bersahabat
tapi bila dipikir berulang
tingkah lakunya palsu
Gajah Mada bercerita terus
tak mempedulikan yang datang
di luar kambi kawat
gunjingnya makin asyik

Beberapa waktu lamanya
utusan tak diacuhkan
semua tamu kesal
lalu maju serempak
masuk pintu gerbang berbondong
ke bangunan batu
tempat seba para mantri
Meminta izin menghadap
tetap tak dipedulikan
jangankan ramah disambut
malah para pengawal
melihat sikap majikan ikut merengut
membuang muka ba’ benci
utusan Sunda berunding

===== HALAMAN 61 =====

Tumenggung Penghulu Borang
berkata kepada Patih
Jika kita tak berani
masuk Iewat kambi kawat
padahal diperintah Ratu
kita selaku utusan
baik buruk mesti bukti
Demang Caho sepakat
lalu masuk dengan Ki Patih

setelah utusan masuk
Gajah Mada terkejut
dan berkata dalam hati
Oh, itulah pembesar Sunda
Ki Anepaken Patih
Maka bertanyalah Gajah Mada
Wahai, yang dari pesisir
sudah lama baru muncul
selamat datang orang Sunda
pangkat apakah yang datang ini
aku belum tahu
pangkat kalian masing-masing

Jawab Anepaken sabar
Saya berpangkat Patih
utusan Sri Maha Ratu
dan inilah Demang
Demang Caho, sedangkan yang itu
Tumenggung Penghulu Borang
dan yang seorang lagi,
Namanya Patih Pitar
Patih Putri Retnaayu
Citraresmi, Putri Galuh

===== HALAMAN 62 =====

tersenyum Ki Gajah Mada
mentertawakan tamu
oh, kalian semua menak

tapi tak tahu adat
Tak tahu basa-basi
datang tak minta izin
apakah lazim begitu

Jawab Ki Anepaken,
Wahai, jangan tuduh demikian
sebaliknya kurasa
anda kurang tahu tata
Demikian lamanya
kami menunggu penyongsong
tapi tak kunjung tiba
sebab itu aku datang
mencari terang atas titah Ratu
sebab tiada perintah Raja Majapahit
Kehendak Sang Ratu Sunda
kalau sudah beres
segera akan mengutus
menitah siap sedia
segenap hamba di Canggu
begitu pula yang lain
yang ada di Ampel Gading
Yang ada di Gresik pun
kapal-kapal mesti ‘kumpul
akan segera dipanggil
dan hamba dari Lasem
yang akan memikul, dan membawa
barang bawaan Raja
bagi Ratu Majapahit
Berbagai barang indah
begitulah titah Ratu Sunda
agar lekas beres
terlaksana maksud
ingin lekas melihat putra dan mantu
waktu pernikahan
begitu titah Baginda

===== HALAMAN 63 =====

Senyum Patih Gajah Mada
Anepaken, anda berpangkat Patih
tetapi tak tahu adat
tak tahu tata krama _
tak pemah berbuat adab
tak mengenal adat
tak patut jadi Patih
Anda tidak berkuasa
biarpun anda Patih
keturunan apa gerangan
berbuat amat ganjil
bila tahu tata dan hukum
pedoman mengurus negara
masakah tingkah kampungan?

Jika anda belum tahu
para ratu yang datang ke mari
menghadap Sang Ratu
Tumasik, Tanjung Pura
Sampit, Wandan, Koci, Bali dan Sawangkung
semua bersujud sembah
pada kaki Sri Narpati
Dan mempersembahkan barang
barang-barang aneh mahal
bakti pada Ratu Agung
itulah biasanya
bagus benar ditiru anda
sebab konon sudah siap
Rajaputri ‘kan dipersembahkan
Bila akan dibawanya
Putri dipersembahkan ke Gusti
lebih baik cepat-cepat
sebab begitulah adatnya
nanti kutawarkan pada Ratu

tentu Sri Maha Nalendra
mengumpulkan pra pembesar
Para pujangga dan jaksa
dan sadu ‘kan menyaksikan
penerimaan tamu
paseban mungkin penuh

nah, setujukah demikian?

===== HALAMAN 64 =====

bangkitlah marah Utusan
mendengar ujar Sang Patih
Wajahnya ba’ lombok matang
kuping panas ba’ disentil
gemetar, lalu berkata
Hai, Patih Gajah Mada
kau sombong dan lancang
menghina rendahkan orang
berani menyuruh bakti
Bagai pada taklukannya
seperti ratu Wandan, Koci
apakah kau keliru
ataukah disengaja
Ratu Sunda tak perlu bersujud
sebab bukan taklukannya
kapan kalah perang?
Sunda belum kalah jurit
perang dengan Majapahit
belum pula takluk
malah kalau tak salah
waktu perang kau
membawa banyak bala
menggempur kampung kecil
Merampoki kampung-kampung
orang Sunda ‘sembunyi di mana-mana
tentara Jipang mendesak
kala muncul Patih Sunda
tentaramu tunggang langgang
kedua mantrimu
tak mampu bertahan
Mantri Les temui cijal
Ki Beleteng pun gugur
balamu ‘larikan diri
terus menerus dikejar
sebagian mati bagai lutung
terjerembab dalam jurang
yang masih hidup menyerah
Oleh sebab itu
jangan keterlaluan
angkuh dan suka memaki
tak baik akibatnya
kau pikir aturanmu bagus
tapi sebenamya
menyesatkan yang berbudi
Kalau tetap jahat niat
dengki pada yang berbudi
ingatlah hukuman Tuhan
menjadi umpan neraka

Gajah Mada menggigil karena marah
wajahnya merah padam
berkata sambil gemetar
Sepadan betul dengan rupamu
orang Sunda tak tahu adat
katanya Patih Mada
sudah mengikat janji
dipakai alasan menyusul
dasar orang bodoh
Perkara ini akan
kuatur dan tak lama lagi
akan kusampaikan pada Ratu

===== HALAMAN 66 =====

Bila berkenan
tentu Baginda ‘kan mengutus
tunggu saja di Bubat
keputusan Kanjeng Gusti
Kalau Ratu tak berkenan
mengutus orang ke pantai
tanda Bubat ‘kan dikepung
sampaikan pada Sang Raja
Ratu Sunda diharap menanti
dan jangan mundur
waspada, siapkan bala
Terserah Sang Raja Sunda
syukur bila memenuhi
kehendak Sang Ratu
Ratu di Wilatikta
namun jikalau tak sudi
tentu binasa dicincang
ditumpas habis-habisan
Dibuat alas di Bubat
dijadikan mangsa gagak

nah, sekarang engkau tahu
akan kehendak Nalendra
pikir masak-masak dan tenang
marah ujar Patih Sunda

Hai, Gajah Mada, khianat
Berkata sepuas hati
bukan adat senapati
bukan tingkah ningrat tinggi
menurut ajaran mana
tingkah itu bukanlah tingkah pembesar
melainkan polah jahat
yang khianat dan yang dengki

===== HALAMAN 67 =====

Tumenggung Penghulu Borang
dengan marah dan gigi gemertak
bersiap sambil berkata
Hai, Patih Gajah Mada
apa guna banyak cakap
tak perlu dilama-lama
segera iris orang Sunda
Aku ini para Tumenggung

tak takut menumpah darah
niatku membela Ratu
engkau mencari korban
sudah siap bala tiga ratus orang
sekarang keluarlah
bawa semua prajurit
Kepunglah orang Sunda
mari hitung luka, takar darah
bila karmi gugur
tentulah kau puas
sebab sisanya cuma wanita dan Permaisuri
kau senang merajalela
itukah tata cara Majapahit

Terbelalak Gajah Mada
muka merah kuping panas
gemetar lalu berdiri,
para prajurit pengawal
nyaring, bercakap, bersiap tunggu perintah
‘kan mengepung orang Sunda
ingin membabat semua

===== HALAMAN 68 =====

Pendita Asmaranatha
melihat air muka Patih
segera berkata sabar
Jangan begitu, anakku
lebih baik damai saja
tak baik menurut nafsu
dan utusan ini
janganlah sakit hati

SINOM
tunggu dulu, dengarkan kata-kataku
Janganlah turuti nafsu
lebih baik berdamai
sebab maksud Sri Nalendra
betul-betul baik
bila Sri Narpati
dan pra tumenggung semua
sudah berembuk mufakat
mungkin tak berubah lagi
tentu memegang janjinya
Tercantum dalam Purana
riwayat zaman dahulu
yang bertingkah laku buruk
yang dengki iri hati
takkan salah lagi
diadili Maha Agung
calon isi neraka
oleh karnanya, anakku
bicara jangan gugup, tenang suci
Bukankah Ratu Sunda
hingga sekarang pun
tetap ingin menikahkan putrinya
pada Ratu Majapahit
kini dua patih
di sini lagi berembuk
bagaimana mengatur
perkawinan Putri dan Gusti
belum beres, sedang ditimbang-timbang
Begitu ujar Pendita

===== HALAMAN 69 =====

dengan air muka manis
Anepaken menjawab
Wahai, rama Maha Resi
kata-kata rama tadi
sangat melegakan hati
nyaman dan wajar
meresap ke sanubari
ba’ mandi air khasiat
Memang betul Ratu Sunda
datangnya putih bersih
tidak bermuka dua
hanya memenuhi janji
mempertemukan Nyi Putri
dengan Prabu, calon mantu
melaksanakan kehendak
namun maksud itu
dikeruhkan Gajah Mada
Dirusak tingkah biadab
dikotori orang dengki
sampai begini jadinya
habis kesabaran hamba
hilanglah adab Patih
terbakar orang cemburu

Gajah Mada bangkit
terbelalak muka bengis
sambil mengancam, menuding
Hai, Patih Sunda
kampungan, tak tahu adat
bagaimana kau artikan
kata-kataku tadi

mengaku sebagai patih
ilmunya seperti monyet
tak henti-hentinya
dari tadi ‘nuduh dengki
membuat malu, bedebah!

===== HALAMAN 70 =====

Anepaken bangkit lagi
balas menuding berani
Nyata manusia ini
tak patut dimaafkan
mesti dilawan sengit
berani menyebut monyet
hai, Patih Gajah Mada
monyet k’labu Majapahit
terus terang, apakah cirimu?
Tandanya di medan perang
tanda senapati jurit!

Jawab Gajah Mada cepat
Bila ingin tahu
panglima Majapahit
di atas kereta agung
payung sutera menyala
dengan tanda ningrat agung
panji disulam benang mas
Dilukis gajah mengamuk
serta didampingi
prajurit banyak sekali
nah, bila nanti kau lihat
kau tak boleh takut
maju kalau berani

===== HALAMAN 71 =====

Jawab Ki Patih Sunda
Nanti jika kau melihat
ningrat Sunda tunggang kuda
Kuda besar dan gagah
hitam lebam pilihan
pelana ditutupi mas
pedangnya pun demikian
dihiasi mas pennata
berbaju saten ungu
dikembangi benang mas
sabuknya menyala murni
ditaburi permata aneka warna
Warna payung dan bendera
hitam mulus serba warna
pentol payungnya dari mas
tamengnya pun demikian
ditutupi emas murni
ditaburi intan bersinar
sambil memegang tombak
besi baja paling keras
gagang tombak berbintik mas
Berhias kepala ningrat
pem besar tiada tanding
panglima prajurit Sunda
lagi pula bercelana
tanda patih negara
batiknya giringsing kawung
nah, hila nanti bertemu
dengan ciri-ciri tadi
janganlah mundur, itu dia Patih Sunda
Yang termashur ahli perang
yang melihat pasti takut
baiklnya kau temui
‘tuk berunding berjanji
mungkin menemukan tanding
panglima lawan panglima
saling luka melukai
siapa berkulit liat
ingin tahu siapa berbadan keras

===== HALAMAN 72 =====

Pendeta Asmaranatha
pelan melerai lagi
patih yang bersengketa
Janganlah begitu, nanda
mengapa sama-sama lupa
terlanjur kata-kata
sekarang baiknya tinjau
kenyataan sejenak
henti dulu agar pikir jadi tenang
Menurut pendapat rama
kalau disepakati
para utusan Tatar Sunda
sekarang pulang saja
Sang Prabu tentu mengutus
putih maupun hitam
nanti akan terlihat
tunggu kira-kira dua hari
Tunggu saja di Bubat
agar nafsu jadi reda
moga-moga Sri Nalendra
ingin memenuhi janji
nanti kalau terbukti
barang tentu Patih Mada
yang akan diutusnya
sampaikan titah Narpati
nah, apa pendapat utusan?

Para utusan Tatar Sunda
setelah mendengar Resi
berkata demikian
tak panjang pikir lagi
mohon diri akan pulang
Sang Pendeta ucap syukur
orang bersama ke luar
dari pekarangan Patih
cepat kembali ke Bubat

===== HALAMAN 73 =====

DANGDANGGULA
Sementara Anepaken Patih
dan rombongan tiba di Bubat
lalu menghadap Ratu
ke pesanggrahan
para ponggawa dan mantri
sudah duduk berjejer
bersimpuh menunduk
sedang pra prajurit duduk
tersebar bawah beringin

Anepaken bersembah
Ampun beribu ampun, Tuanku
patih selaku utusan
telah cukup mencari keterangan
bahkan telah memenemui
Patih di Majapahit
yang bernama Gajah Mada
perisai Ratu
yang menaruh curiga
tetap menuduh kedatangan Gusti
bukan untuk mempertemukan putri
Namun menyembunyikan politik
nyata menurut warta
yang sampai pada Tuanku

begitu pula Sang Ratu
Sri Nalendra Majapahit
yang begitu agung
paling berilmu
terpikat sesat
oleh niat Gajah Mada
agar Tuanku maklum
Kegembiraan Gusti
yang terbayang sejak bertolak
ke luar dari keraton

===== HALAMAN 74 =====

musnah tak berbekas
begitu pun semua hamba
yang ingin ‘nyaksikan pesta
temui jalan buntu
kesukaran kelelahan
‘tuk menghormati Raja Putri
mubazir semua
Malah semua hamba
masih untung bisa pulang
menghadap Tuanku
mulanya akan mengamuk
mempertaruhkan nyawa
karena dihina
oleh Patih Agung
berceritalah Patih Sunda
tentang pengalamannya
tiada yang terlampaui

Ratu Sunda diam bungkam
asyik memikirkan kadar
teringat pada alamat
semua yang hadir
hening memasang kuping
hatinya ikut panas
karena dihina
diremehkan Gajah Mada
Ratu Sunda murka terpendam di hati
wajah merah padam
Mata menyala menatap Patih
senyum manis mereda amarah
tangan gemetar
akibat nafsu
hati-hati ujar Ratu Sunda
Kalau begitu
jelas kita ditipu
dielus dibujuk

===== HALAMAN 75 =====

bagus nian akal orang Majapahit
matang betul tipunya
lngin senang pakai tipu Keling
ingin kaya pakai akal Koja
agar terpikat tertarik
telah tertarik diborgol
seperti bukan lelaki
sekarang sudah terlanjur
jika tak beruntung, buntung
hai, semua pra ponggawa
terus teranglah tanpa tedeng aling-aling
bagaimana sekarang?

Siapa yang takut mati
jangan paksakan diri
lebih baik lekas pulang
bawa semua wanita
senangkan dan hiburlah
kami tak ragu-ragu
akan membela negara
takkan hitung musuh
lebih baik gugur perang
daripada dicerca dihina
dipakai bahan ejekan
Baik buruk kehendak Yang Esa
semua beroleh bagian
rugi-untung, sedih-senang
takkan ada mahluk
dapat memungkiri
segala yang menimpa
kadar yang datang
hasil kerja kita
yang baik maupun buruk
tak tertukar, tiba pada saatnya
Awal akhir buahnya akan dipetik

===== HALAMAN 76 =====

kita akan menerima
berat ringannya hukuman
adapun yang kami maksud
yang kami pikirkan
berniat ‘nerima cobaan
pemberian Yang Agung
untuk memohon ampun
akan perbuatan yang lalu
ingin membersihkan raga
Apakah buruknya lelaki
yang gugur di medan perang
tentu semua maklum
bahwa satria harus
menjalankan darma hidup
memenuhi tugas
teguh pegang kebenaran
dan membasmi keburukan

para mantri serempak berkata
Patih menyaksikan
Dan akan ikut
bertempur habis-habisan di medan perang
takkan ‘pisah dari Gusti
jika tak berani
ajal di medan jurit
tentu takkan selamat
menurut nenek moyang
yang gugur karena perang
membela bangsa negara
mendapat surga mulia
Disongsong pra bidadari
semua hasrat ‘kan terpenuhi
yang mati karena perang
menebus ayah bunda
di akherat kelak
punah segala dosanya

oleh ganjaran perang

===== HALAMAN 77 =====

kelak anak cucu Sunda
menyanyikan keberanian yuda
para satria Sunda
Lagipula kematian patih
guna membela negara
jadi warisan batin
adapun kemuliaan perbuatan
bagi satria tiada lain
hanya satu hal
yakni dalam perang
mengejar bahagia kemuliaan
kalah menang untungnya sama
untung tanpa rugi
Keuntungan lahir pemenang
jadi jago menguasai para raja
mulia, kaya raya
lalu bisa metik
hasil kemenangan perang
banda upah bhoga
paribhoga terkumpul
jelasnya sandang pangan
begitu pun pra wanita tersedia
upah menang perang

Yang kalah dalam perang
mati jaya melakukan darma
terhitung sama saja
dianggap menang jua
didapatnya upah perang
di alam baqa
cukup melimpah-ruah
tersedia apa yang diinginkan
bedanya cuma alam berlainan
kala mendapat upah

===== HALAMAN 78 =====

Usai pra mantri berjanji
ingin mati ‘bela bangsa
dan setia pada Ratu
mengejar bahagia mulia
ganjaran janii Yang Widi
Ratu Sunda beroleh semangat baru
hatinya makin berani
tampak dari wajahnya
tersenyum menekan nafsu
seraya berkata

Mantri-mantri, syukurlah kalau begitu
lekas sambut kedatangan musuh
bulat tekad kami ingin mati
jauh dari menyesal
buang nyawa di Majapahit

Selesai berembuk
pra ponggawa mundur
diizinkan pulang
Ratu Sunda lalu masuk
memenuhi istri dan putri
Permaisuri dan Rajaputri
sedang duduk di bangku indah
ketika melihat Sang Ratu
menyongsong Baginda
oleh Sang Narpati putri
didekap dan dibelai

wahai, anakku sayang
jantung hati jiwa ayah
sayang, tak kuduga ditakdirkan
menemui kegagalan
Niat mengawinkan Neng
terhalang godaan besar
jelas tak ada jodo
Neng dengan Maha Ratu
tiada perkenan Yang Widi

===== HALAMAN 79 =====

terbukti ada halangan
merintangi maksud
ada permintaan Raja
agar neng dibaktikan
ayah tak sampai hati

Kehendak Sang Ratu
ia berubah sikap
ingkar dari janji dulu
ayah mesti bersujud
membaktikan neng, sayang
bagai ratu bawahan
yang sudah takluk
mesti memberi sogokan
neng dipakai upeti
ayah takut berdosa

Daripada hina lebih baik buang nyawa
ikhlas ridho daripada begitu
dihina dan diejek
agaknya Sunda mesti
tarung dengan Majapahit
seperti yang sudah-sudah
ayah takkan mundur
akan memenuhi darrna
meski kalah terima anugerah Gusti
di alam baqa

Oleh sebab itu, neng
lebih baik pulang ke Tanah Sunda
biar kau nyaman dan tenteram
bersama-sama ibu
dan tak usah khawatir
teringat pada yang perang
sebab kewajiban ratu
penuhi darma satria
kudoakan neng senang sejahtera
selamat selalu

===== HALAMAN 80 =====

Ujar Ratu pada permaisuri
sambil membelainya
Istriku, penghibur hati,
istriku yang setia
pendampingku siang malam
pujaan kalbuku
permata yang kusayang
semoga tetap bersinar
jangan gugup dan kaget
Hari ini cobaanku tiba
mungkin hari penghabisan
akhir kasih dan rindu
bila kakang sampai ajal
semoga kau tetap tabah
mengurus dan merawat
si Neng Galuh
jangan susah dan murung
kita wajib menerima
pemberian Yang Widi
Esok engkau mesti pulang
dengan Neng ke Tanah Sunda
dengan semua wanita

Permaisuri menunduk
‘dengarkan ujar Baginda
tak lama lalu tegak
menyembah sambil berkata
Wahai, Sinuhun Sunda
Panembahan puja ning hamba
hamba enggan berpisah
Tak mengerti mengapa hamba
mesti pulang ke Tanah Sunda
untuk menghibur hati
tinggalkan ayah ibu

===== HALAMAN 81 =====

menurut pendapat hamba
alasan Jeng Rama

begitu pun ibu
meninggalkan kerajaan
tak lain karena hamba
yang akan dibela
wiku mana yang menasehati
harus tega pada rama?
Bila Gusti hamba tinggalkan
hamba hina dan diejek
sebab ‘langgar ketentuan
berdosa sebesar gunung
tak dapat ditebus lagi
sebab hamba tega
meninggalkan orang tua
dosa da ayah ibu
yang mewujudkan mewakili Yang Widi
sehingga hamba lahir

Bila hamba takut mati
sama hamba tak beriman
oleh sebab itu
semoga rama berkenan
hamba akan menanti
yang perang tanding
bila nanti ayah
tak beruntung, mangkat di medan jurit
pulang ke alam baqa
Tak salah ibu dan hamba
labuh geni mengikuti ayah
begitulah niat hamba

Ratu Sunda menunduk
mendengarkan ujar Permaisuri
hatinya kian berani
akan maju perang
riuh isi pesanggrahan
oleh tangis pra sahaya
dan esok harinya.
(Tamat jilid I )

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

RANCAEKEK, balebandung.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung menggelar Konferensi Anak Cabang (Konfercab) di Pondok Pesantren Miftahul Khoer, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, Sabtu 13 Juni 2026. Konferensi tersebut menjadi forum tertinggi organisasi di tingkat kecamatan untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja sekaligus menyiapkan regenerasi kepemimpinan kader IPNU di […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna (KDS) melepas ratusan peserta Bapenda Bedas Run di Lapangan Upakarti Soreang, Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan yang diikui 500 runners dan mengusung tagline “Lunas Pajaknya, Happy Larinya” itu digelar sebagai bagian dari sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Dalam kesempatan […]

Bale Bandung

DAYEUHKOLOT, balebandung.com – Bupati Bandung Kang Dadang Supriatna (KDS) meninjau sejumlah titik rawan banjir di wilayah Kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah, Jumat (12/6/2026). Dari hasil peninjauan tersebut, Bupati Bandung menyiapkan sejumlah langkah percepatan penanganan banjir, mulai dari pembangunan drainase baru, normalisasi sungai, hingga penguatan kolaborasi pentahelix. Bupati KDS menyebut ada tiga titik yang menjadi fokus penanganan. […]

Bale Bandung

CICALENGKA, balebandung.com — Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono meresmikan Jembatan Merah Putih Presisi di Kampung Pamoyanan RT 01 RW 04, Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis 11 Juni 2026. Kehadiran jembatan tersebut diharapkan mempermudah mobilitas warga sekaligus memperkuat akses sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono mengatakan pembangunan dan […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com — Dadang Supriatna kembali dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bandung untuk periode 2026-2031. Selain itu terpilih pula Sekretaris DPC PKB Kabupaten Bandung sebagai Sekretaris dan Bendahara Dudui Mustofa. Pengukuhan tersebut menandai berlanjutnya kepemimpinan Kang Dadang Supriatna (KDS) dalam memimpin partai berlambang bola dunia itu di Kabupaten […]

Bale Bandung

KUTAWARINGIN, balebandung.com — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung KH Agus Ahmad Qustholany melantik pengurus 11 Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Kutawaringin masa khidmat 2026-2031 di Aula Kecamatan Kutawaringin, Rabu, 10 Juni 2026. Pelantikan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput untuk memperkuat peran keagamaan, sosial, pendidikan, dan […]