Bale Bandung

Kidung Sunda (3): Dari Lamaran Hingga Bayang-bayang Bubat

×

Kidung Sunda (3): Dari Lamaran Hingga Bayang-bayang Bubat

Sebarkan artikel ini

Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali, tetapi hal itu tetap perlu dibaca sebagai dugaan, bukan fakta final. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.

Kolofon naskah menyebut cerita ini selesai ditulis pada Senin Kliwon, wuku Kuruwelut, tanggal tujuh awal bulan Magha, tahun 1800 Saka, kira-kira sekitar 1878–1879 Masehi, kemungkinan awal 1879. Keterangan ini dipahami sebagai tanggal penulisan atau penyalinan naskah yang sampai kepada kita, bukan tanggal peristiwa Bubat. Saduran ini bukan edisi filologis, melainkan penulisan ulang berbentuk prosa agar pembaca modern lebih mudah mengikuti kisahnya.***

Utusan Majapahit akhirnya tiba di hadapan Prabu Sunda.

Di balairung puri, suasana hening dan khidmat. Para pembesar duduk menurut tempatnya. Para abdi menundukkan kepala. Di hadapan singgasana, sang utusan menyembah dengan takzim, membawa surat, kiriman, dan lamaran dari Sri Nalendra, Raja Agung Majapahit.

Prabu Sunda memandang utusan itu dengan wajah tenang. Lama ia diam, seakan menimbang bukan hanya isi surat, melainkan juga masa depan putrinya, kehormatan kerajaannya, dan hubungan dua takhta besar di tanah Jawa.

Lalu ia berkata.

“Wahai Patih Majapahit, surat yang kau bawa, segala kiriman, dan lamaran dari Sri Nalendra, hari ini aku terima dengan resmi.”

Ucapan itu jatuh seperti tanda dimulainya babak baru.

Para pembesar Sunda saling menunduk. Sebagian menyimpan senyum. Sebagian lain memandang lantai, menyembunyikan getar hati. Sebab lamaran itu bukan perkara kecil. Putri Sunda akan dipersunting Raja Majapahit. Sebuah perkawinan kerajaan, sebuah ikatan besar, sebuah jalan yang mungkin akan menghubungkan dua dunia: Sunda dan Majapahit.

Prabu Sunda melanjutkan.

“Sekarang aku meminta agar Patih lekas pulang. Sampaikan bakti dan hormatku kepada Aji Kahuripan. Sampaikan pula bahwa aku sangat bersuka cita. Sang Ratu Besan telah bernazar memangku putriku sebagai permaisuri. Kepada Sri Nalendra, Raja Agung Majapahit, katakan bahwa tak lama lagi aku sendiri akan datang. Aku bersama Permaisuri akan mengantarkan Putri, disertai para pembesar kerajaan.”

Ia berhenti sejenak.

“Surat itu tidak perlu kubalas. Sebab aku akan datang sendiri.”

Ucapan itu memperlihatkan niat baik Sunda. Prabu tidak hendak mengirim jawaban dingin dari kejauhan. Ia memilih datang langsung, membawa putrinya, keluarganya, para mantri, para pembesar, dan martabat kerajaannya. Bukan sebagai bawahan. Bukan sebagai negeri taklukan. Melainkan sebagai keluarga calon mempelai, sebagai besan raja besar.

Utusan Majapahit menyembah.

“Daulat, Tuanku. Segala amanat Tuanku akan hamba sampaikan kepada putranda Gusti dan kakanda Gusti. Dengan perkenan Tuanku, hamba mohon diri untuk kembali.”

Prabu Sunda mengangguk.

“Benar. Engkau harus segera berangkat. Tentu Prabu Kahuripan dan Sang Ratu Majapahit telah lama menanti kabar.”

Maka diperintahkanlah para patih Sunda untuk membekali utusan itu. Makanan dan minuman disiapkan. Segala keperluan perjalanan dipenuhi. Tidak ada yang kurang. Sunda menerima tamunya dengan hormat, sebagaimana layaknya kerajaan yang tahu adat dan menjaga kehormatan.

Tak lama kemudian, utusan Majapahit berangkat pulang.

Jalan yang jauh tidak diceritakan. Yang pasti, ia kembali membawa kabar besar: lamaran diterima, dan Raja Sunda akan datang sendiri mengantar putrinya ke Majapahit.

Rombongan Besar dari Tanah Sunda

Sesudah utusan itu pergi, puri Sunda berubah menjadi tempat yang sibuk.

Para mantri berembuk. Para pembesar dipanggil. Para abdi keluar-masuk halaman puri. Perempuan-perempuan istana menyiapkan kain, perhiasan, perlengkapan upacara, dan segala benda yang akan dibawa. Para prajurit memeriksa senjata. Para pengurus kapal turun ke pesisir.

Bukan hanya keluarga inti kerajaan yang akan berangkat. Hampir semua pembesar hendak ikut serta, banyak di antara mereka membawa istri. Para priyayi kecil pun turut bersiap. Puri seperti hendak berpindah negeri.

Di pelabuhan, kira-kira dua ratus kapal telah berhias indah. Perahu-perahu Madura berderet di tepi pesisir. Jumlah seluruh perahu dan kapal mencapai ribuan. Layar-layar dilipat rapi, tiang-tiang menjulang, tali-temali diperiksa. Dari kejauhan, pelabuhan itu tampak seperti hutan tiang yang tumbuh di tepi laut.

Hari keberangkatan pun tiba.

Sang Narpati keluar dari puri bersama Permaisuri dan Putri. Para dayang mengikuti dari belakang. Segenap isi puri turut mengiringi. Di belakang mereka, para patih, mantri, demang, rangga, dan tumenggung berjalan dalam barisan. Joli dan jampana diangkat. Prajurit mengawal di kiri dan kanan.

Itu bukan sekadar perjalanan menuju pelabuhan.

Itu adalah perjalanan kehormatan.

Sunda sedang membawa putrinya ke Majapahit. Tetapi bersama sang putri, ikut pula martabat kerajaan, harga diri seorang ayah, dan keyakinan bahwa janji antarraja harus ditepati dengan tata kehormatan.

Ketika rombongan tiba di pesisir, Prabu Sunda berhenti.

Matanya memandang ke laut.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat dadanya bergetar.

Di permukaan air tampak warna merah. Darah segar bercampur darah beku. Merah padam mengambang di atas laut. Tak lama kemudian, dari arah pesisir, berpuluh-puluh gagak beterbangan. Burung-burung itu mengeluarkan suara serak, “ak… ak… ak…,” seakan mengejek manusia yang hendak berjalan menuju nasibnya. Dari paruh mereka, darah tampak menyembur.

Prabu Sunda mengusap matanya.

Ia memandang lebih tajam.

Tetapi penglihatan itu tidak hilang.

Darah tetap di sana. Gagak tetap beterbangan. Laut seperti menyimpan rahasia gelap.

Sang Raja terdiam.

Dalam hatinya, ia tahu: itu bukan pemandangan biasa. Itu alamat buruk. Tanda bahwa ajal sedang mendekat. Tanda bahwa perjalanan ini mungkin bukan menuju pesta, melainkan menuju maut.

Beberapa saat ia berdiri membisu.

Angin laut bergerak pelan, menyentuh wajahnya. Di belakangnya, Putri dan para ningrat masih diliputi suka cita. Mereka belum tahu apa yang dilihat sang raja. Mereka masih membayangkan pernikahan agung, penyambutan meriah, dan keraton Majapahit yang berhias untuk calon permaisuri.

Prabu Sunda menarik napas.

Wajahnya yang tadi muram perlahan berubah. Ia menata diri. Ia tidak ingin Putri melihat kegelisahan itu. Ia tidak ingin para pembesar kehilangan semangat. Bukankah ia sudah berjanji? Bukankah seorang raja hina bila mengingkari janji?

Dalam hatinya ia berkata: beruntung atau mati, semua ada dalam kehendak Yang Maha Esa.

Maka ia melangkah menuju sampan.

Permaisuri naik. Putri naik. Para dayang mengikuti. Para mantri dan pembesar menaiki perahu kecil untuk menuju bahtera masing-masing.

Di atas kapal, semua diatur. Ki Anepaken Patih sigap mengurus prajurit dan iring-iringan. Kapal para senapati dan prajurit ditempatkan di barisan depan. Kapal Baginda menyusul di belakangnya. Kapal para ponggawa, priyayi kecil, dan kapal-kapal pembawa barang berderet menurut tempat.

Barang bawaan kerajaan tidak sedikit. Ada kendaraan, gajah, kuda, tandu, joli, panji, tombak, alat bunyi-bunyian, dan berbagai perlengkapan kesenian keraton Sunda. Semua dibawa untuk memperlihatkan kebesaran kerajaan, bukan untuk perang, melainkan untuk upacara kehormatan.

Setelah semua diperiksa, Patih memberi isyarat.

Jangkar diangkat.

Layar dipasang.

Bunyi-bunyian ditabuh serentak.

Bahtera-bahtera besar mulai bergerak pelan, lalu meluncur dihembus angin. Dari atas kapal, para mantri, demang, rangga, dan tumenggung memandang pesisir Sunda yang perlahan menjauh. Ada rasa haru yang tak terucap. Seakan mereka bukan hanya meninggalkan pelabuhan, melainkan meninggalkan bagian dari hidup mereka.

Gamelan bergema di tengah laut.

Wadya bala bersorak.

Rombongan itu bersuka cita. Tidak ada yang merasa takut. Segalanya tampak cukup: sandang, pangan, prajurit, kapal, dan kehormatan. Layar-layar mengembang seperti sayap angsa di tengah samudra.

Kapal kerajaan tampak paling besar dan indah. Tinggi, kukuh, dan elok. Ia berbeda dari yang lain, sebab di sanalah Prabu Sunda berada. Dari kejauhan, kapal itu seperti istana yang mengapung di atas laut.

Orang yang melihatnya akan teringat pada kapal-kapal besar dari masa lampau, pada kejayaan Sriwijaya, pada raja-raja sakti yang pernah menggempur Kediri. Begitu megahnya kapal itu hingga seakan Dewa Baruna sendiri sedang berpindah menuju Jawa.

Kabar Gembira di Majapahit

Sementara rombongan Sunda berlayar, Patih Mada telah tiba kembali di Majapahit.

Setelah berdandan dan menata diri, ia menghadap ke istana. Kebetulan saat itu Maha Prabu Kahuripan, Prabu Daha, dan Ratu Majapahit sedang duduk bertiga, membicarakan lamaran yang telah dikirim ke Sunda.

Mereka menanti kabar dengan gelisah.

“Rasanya lama benar Patih Mada pergi,” kata salah seorang di antara mereka. “Jangan-jangan ada aral. Jangan-jangan maksud kita tidak sampai.”

Belum lama percakapan itu berlangsung, Patih Mada datang menghadap.

Wajah Hayam Wuruk segera berubah cerah. Ia menatap patihnya dengan penuh harap.

“Mari ke sini, Patih Mada,” sabdanya. “Berhasilkah maksud kita? Aku tak sabar menanti kabar tentang Maharaja Sunda.”

Gajah Mada menyembah.

“Daulat, Tuanku. Surat dan segala kiriman telah diterima oleh Sang Prabu Sunda.”

Lalu ia menguraikan semua kejadian dari awal hingga akhir. Bagaimana surat disampaikan. Bagaimana lamaran diterima. Bagaimana Prabu Sunda menyatakan akan datang sendiri mengantar Putri bersama Permaisuri dan para pembesar.

Mendengar itu, hati Hayam Wuruk berbunga-bunga.

Prabu Daha tertawa gembira.

“Ayah ikut bersuka cita,” katanya kepada Hayam Wuruk. “Semoga engkau selamat sejahtera. Kini akan ada penghibur yang mendampingimu siang dan malam. Penawar hati yang merana: Putri jelita dari Sunda.”

Hayam Wuruk tersenyum manis. Ia menyembah kepada para orang tua kerajaan dan berkata dengan suara lembut.

“Berkat doa restu Ayah, semoga semua selamat dan mendapat anugerah Yang Esa.”

Sejak saat itu, Majapahit berubah menjadi kota yang sibuk.

Keraton dihias. Para hamba bekerja siang malam. Ada yang pergi ke rimba berburu rusa dan banteng. Ada yang pergi ke sungai menjala ikan. Kerbau dan sapi disiapkan untuk disembelih. Ikan besar dan kecil memenuhi danau serta empang. Kota dan desa gempar oleh kabar bahwa Putri Sunda, calon permaisuri raja, akan segera datang.

Utusan dari berbagai negeri berdatangan membawa barang-barang indah. Busana menjadi hadiah yang paling banyak. Syahbandar sibuk mengurus kapal-kapal yang datang tak habis-habis. Di pesisir, orang berkerumun menonton perahu yang berlabuh.

Majapahit, negeri luas yang membawahkan empat lautan, memperlihatkan kemakmurannya. Ketika rajanya berhajat, seluruh negeri bergerak.

Sampan dan perahu berderet ribuan. Air nyaris tak tampak karena tertutup lambung kapal. Kota makin ramai. Desa-desa ikut sibuk. Pagar-pagar dilabur. Jalan-jalan dirapikan. Keraton dipajang dengan tenunan agung. Rumbai-rumbai diselang-seling hingga sedap dipandang mata.

Hayam Wuruk memandang semua itu dengan hati senang.

Ia membayangkan Putri Sunda akan melihat puri yang indah itu. Ia membayangkan calon permaisurinya melangkah di antara hiasan, disambut sebagai ratna, sebagai jantung pujaan hati yang lama dinantikan.*** bersambung

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali, tetapi hal itu tetap perlu dibaca sebagai dugaan, bukan fakta final. Menariknya, meski […]

Bale Bandung

balebandung.com – Ada beberapa versi cerita rakyat seputar Raden Kalung penguasa Sungai Citarum. Di antaranya versi bahwa Raden Kalung bernama lengkap Raden Kalung Bimanagara adalah putra Raden Natadiredja atau Syekh Abdul Manaf alias Eyang Mahmud, keturunan Dipati Ukur. Tapi versi lain justru Eyang Abdul Manaf pendiri Kampung Mahmud itu yang menaklukan Raden Kalung melalui ajudannya […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan keprihatinan sekaligus mengecam tindakan tentara Israel (IDF) terhadap Thoudy Badai, jurnalis asal Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang dilaporkan hilang kontak saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyebut Thoudy tengah menjalankan tugas jurnalistik dalam misi kemanusiaan internasional, bukan berada di wilayah konflik sebagai pihak […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Jawa Barat mendorong industri perbankan memperluas akses layanan keuangan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Salah satunya melalui pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO bagi petugas pelayanan bank. Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan pelatihan BISINDO bagi frontliner perbankan merupakan bagian dari upaya memastikan seluruh masyarakat […]

Bale Bandung

KUTAWARINGIN, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menghadiri kegiatan olah raga bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bandung di Lapangan Kodim 0624/Kabupaten Bandung pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) ini merupakan salah satu cara KDS dalam menjalin kekompakan di luar rutinitas pekerjaan formal sehari-hari. Olahraga bereng ini juga jadi […]

Bale Bandung

CIMENYAN, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau lokasi bencana angin puting beilung di Kampung Cibanteng, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang terjadi pada Senin 11 Mei 2026. Selain meninjau lokasi bencana, Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) juga memberikan bantuan kepada warga terdampak serta memberikan santunan kepada 40 anak yatim di sela kegiatan Jumat […]