Bale Bandung

Kidung Sunda (4): Tiba di Bubat

×

Kidung Sunda (4): Tiba di Bubat

Sebarkan artikel ini

Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali, tetapi hal itu tetap perlu dibaca sebagai dugaan, bukan fakta final. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.

Kolofon naskah menyebut cerita ini selesai ditulis pada Senin Kliwon, wuku Kuruwelut, tanggal tujuh awal bulan Magha, tahun 1800 Saka, kira-kira sekitar 1878–1879 Masehi, kemungkinan awal 1879. Keterangan ini dipahami sebagai tanggal penulisan atau penyalinan naskah yang sampai kepada kita, bukan tanggal peristiwa Bubat. Saduran ini bukan edisi filologis, melainkan penulisan ulang berbentuk prosa agar pembaca modern lebih mudah mengikuti kisahnya.***

Sepuluh malam rombongan Sunda berlayar.

Akhirnya kapal-kapal terdepan memasuki wilayah Majapahit. Dari muara, iring-iringan itu mudik perlahan. Kapal-kapal membelok, mencari tempat yang teduh untuk menepi. Setelah berembuk, para pembesar memilih Bubat sebagai tempat singgah.

Maka tibalah rombongan Sunda di Bubat.

Orang-orang Bubat gempar melihat tamu sebanyak itu. Tepi sungai penuh sesak. Mereka memandang ratusan kapal yang datang beriring-iring. Dari pagi hingga senja, perahu-perahu terus berdatangan, berlomba mencari tempat di tepi sungai.

Kapal Sang Narpati dan kapal para ningrat akhirnya menepi di Bubat.

Segera didirikan tarub dan pesanggrahan di tepi sungai. Tempat para ningrat diatur berderet-deret. Pesanggrahan Prabu Sunda dibuat di tempat yang nyaman, sejuk, dan lapang, di bawah pohon beringin besar. Panji-panji berkibar ditiup angin. Dari sana, pandangan ke selatan terbuka luas.

Di sekeliling pesanggrahan, alat-alat perang disusun. Tombak merah tak terbilang. Bedil bersandar berderet. Semua rapi, bukan karena Sunda datang untuk menyerang, melainkan karena rombongan kerajaan memang harus dijaga.

Lurah Bubat segera melapor ke istana.

Kebetulan Prabu Daha, Prabu Tua, dan Ratu Majapahit sedang duduk bertiga, masih membicarakan Putri Sunda yang dinanti-nanti. Ketika mendengar Lurah Bubat datang membawa kabar, ia segera dipanggil.

“Ada apa?” tanya Baginda.

Lurah itu menyembah.

“Daulat, Tuanku. Tamu telah datang. Beratus bahtera memenuhi bengawan. Sang Ratu Sunda tiba bersama Permaisuri. Wadyabala tak terbilang. Pangkat agung dan rendah ikut bersama keluarga. Tiada yang tertinggal.”

Ia melanjutkan laporannya dengan rinci. Tepi laut heboh. Muara penuh kapal. Sampan dan perahu simpang siur. Sebagian telah sampai ke Canggu, sebagian lain berbaris di tepi sungai. Kapal Narpati dan para ningrat telah menepi di Bubat.

Mendengar laporan itu, hati Hayam Wuruk bersuka cita.

“Besanku sudah datang,” katanya. “Ia tengah menanti di Bubat. Kita harus segera menjemputnya. Aku ingin lekas bertemu dengan bakal menantuku dan dengan besanku.”

Para mantri ikut gembira. Mereka menyambut kehendak raja dengan senang hati.

“Memang sudah sepatutnya, Tuanku,” kata mereka. “Yang sayang dibalas sayang. Yang keras dibalas keras. Sang Ratu Sunda telah memenuhi janji. Baiklah ia disongsong dengan kehormatan.”

Hayam Wuruk tersenyum.

Saat itu, suasana sidang penuh suka cita. Semua tampak sepakat. Semua merasa bahwa tamu agung harus disambut sebagai tamu agung. Sunda datang sebagai besan, maka Majapahit harus menjemput sebagai keluarga.

Tetapi di antara wajah-wajah yang berseri, ada satu wajah yang berbeda.

Gajah Mada.

Patih Agung Majapahit itu duduk dengan kening mengernyit. Ia tidak ikut tersenyum. Ia tidak tampak sepakat. Matanya tajam, tetapi dingin. Para mantri dan bupati mulai memperhatikan perubahan air mukanya.

Sebagian saling melirik.

Sebagian menunduk.

Mereka tahu, Gajah Mada bukan orang sembarangan. Ia tangan kanan raja. Tiang negara. Panglima besar. Kata-katanya dapat mengubah keputusan istana.

Hening mulai turun di ruang sidang.

Gajah Mada bergeser, lalu menyembah.

“Ampun, Maha Nalendra,” katanya. “Perkenankan patih menyampaikan pendapat. Bukan patih hendak menentang perintah. Bukan pula patih tidak ikut bersuka cita. Tetapi bila patih diam, patih takut kelak dipersalahkan.”

Hayam Wuruk memandangnya.

Gajah Mada melanjutkan.

“Perkara Kanjeng Gusti hendak pergi ke Bubat menyongsong Sang Ratu Sunda, menurut hemat patih, baiklah ditangguhkan dulu.”

Ruangan makin hening.

“Jika Tuanku menyongsongnya,” kata Gajah Mada, “artinya Tuanku menjunjungnya. Itu dapat mengikis pengaruh Tuanku, melunturkan keagungan Majapahit. Para raja yang selama ini bersujud kepada Tuanku—Palembang, Wandan, Tumasik, Koci, Sawangkung, Madura, Tanjungpura, Bali—akan bertanya-tanya. Mengapa Sunda diperlakukan begitu tinggi?”

Kata-kata itu jatuh satu demi satu, seperti batu yang dilemparkan ke dalam hati raja.

Gajah Mada tidak berhenti.

“Semula tampak seperti persahabatan. Tetapi patih khawatir, persahabatan itu tidak akan lama. Jika Ratu Sunda diagung-agungkan, disongsong dan dihormati terlalu tinggi, kelak ia akan berani menyamai harkat Tuanku. Begitu pula para hambanya. Mereka tidak akan takut lagi kepada Majapahit. Akhirnya keagungan Gusti susut. Pengaruh negara turun.”

Hayam Wuruk menunduk.

Di wajahnya tampak kebimbangan.

Ia semula ingin menyambut besannya. Ia semula ingin segera bertemu Putri Sunda. Tetapi kata-kata Gajah Mada masuk ke dalam kalbunya. Pelan-pelan, kegembiraan yang sejak tadi menyala mulai redup.

Ia tidak lagi memikirkan penghormatan Prabu Sunda kepada utusan Majapahit. Tidak lagi memikirkan janji perkawinan. Tidak lagi memikirkan perjalanan jauh rombongan Sunda. Semua tertutup oleh bayangan yang ditanamkan Gajah Mada: bahwa menyambut Sunda berarti merendahkan Majapahit.

Sejak saat itu, arah cerita berubah.

Ratu Majapahit melarang para mantri mengantarkan apa pun kepada tamu dari Sunda.

Para bupati dan tumenggung terkejut. Tidak ada yang menyangka Baginda akan terpikat oleh pendapat Gajah Mada sejauh itu. Dalam hati mereka bergunjing, tetapi mulut mereka terkunci. Melawan raja tidak mungkin. Menentang Gajah Mada pun berbahaya.

Maka di Bubat, rombongan Sunda menunggu.

Hari demi hari mereka bersiap. Iring-iringan telah diatur. Para pembesar menanti kapan songsongan dari Majapahit datang. Tetapi yang ditunggu tak kunjung tiba.

Tidak ada sambutan.

Tidak ada jemputan.

Tidak ada tanda bahwa Majapahit akan menerima mereka sebagai besan yang terhormat.

Di pesanggrahan Bubat, Prabu Sunda mulai mendengar kabar buruk: tuan rumah menaruh syak. Dan di balik syak itu, ada nama Gajah Mada.

Raja Sunda heran.

Ia memanggil para ponggawa dan mantri. Setelah semua berkumpul, ia menyampaikan apa yang didengarnya: bahwa Gajah Mada telah mempengaruhi Ratu Majapahit, bahwa kedatangan Sunda tidak lagi dibaca sebagai kedatangan keluarga calon mempelai, melainkan sebagai perkara politik.

Para ponggawa sepakat.

Kabar itu harus dibuktikan.

Maka dikirimlah utusan ke Majapahit. Ki Anepaken Patih berangkat bersama Demang Caho, Tumenggung Penghulu Borang, Patih Pitar, dan tiga ratus prajurit pilihan. Mereka berpakaian bagus, sebab mereka datang bukan untuk menyerang. Mereka datang membawa kehormatan utusan.

Dari Bubat mereka bergerak ke selatan, menuju Gapura Agung, terus ke Palawean, lalu ke kediaman Patih Gajah Mada.

Sesampainya di sana, mereka menunggu.

Tetapi mereka tidak disambut.

Gajah Mada sedang berembuk dengan para mantri tua. Ia membicarakan kedatangan Ratu Sunda dengan nada curiga. Menurutnya, kedatangan Sunda bukan perbuatan wajar. Cara mereka tampak seperti bersahabat, tetapi sesungguhnya menyimpan kepalsuan.

Utusan Sunda mendengar itu.

Mereka menunggu lama.

Tetap tidak diacuhkan.

Akhirnya mereka maju, masuk ke tempat seba para mantri, meminta izin menghadap. Namun keramahan tidak mereka dapatkan. Para pengawal, mengikuti sikap majikannya, ikut membuang muka.

Kesabaran utusan Sunda mulai menipis.

Tumenggung Penghulu Borang berkata kepada Ki Anepaken, “Jika kita tidak berani masuk, padahal diperintah Ratu, untuk apa kita menjadi utusan? Baik buruk harus dibuktikan.”

Maka masuklah mereka.

Gajah Mada terkejut melihat pembesar Sunda telah berada di hadapannya.

Tetapi ia segera menata wajah.

“Wahai, yang dari pesisir,” katanya dengan nada menyindir. “Sudah lama baru muncul. Selamat datang, orang Sunda. Pangkat apakah kalian ini? Aku belum tahu kedudukan kalian masing-masing.”

Ki Anepaken menjawab dengan sabar.

“Aku Patih, utusan Sri Maha Ratu Sunda. Ini Demang Caho. Itu Tumenggung Penghulu Borang. Dan yang seorang lagi Patih Pitar, patih Putri Galuh, Citraresmi.”

Gajah Mada tersenyum.

Senyum itu bukan senyum ramah. Itu senyum orang yang hendak merendahkan.

“Oh, kalian semua menak,” katanya. “Tetapi tidak tahu adat. Tidak tahu basa-basi. Datang tidak meminta izin. Apakah begitu lazimnya?”

Ki Anepaken menatapnya.

“Jangan menuduh demikian,” jawabnya. “Sebaliknya, aku merasa engkau yang kurang tahu tata. Kami telah lama menunggu songsongan, tetapi tak kunjung tiba. Karena itu aku datang mencari terang atas titah Ratu Sunda.”

Ia lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka. Ratu Sunda telah siap. Para hamba di Canggu, Ampel Gading, Gresik, dan Lasem akan dipanggil untuk membantu membawa barang-barang persembahan dan perlengkapan pernikahan. Semua disiapkan agar maksud perkawinan segera terlaksana.

Gajah Mada kembali tersenyum.

“Anepaken,” katanya, “engkau berpangkat Patih, tetapi tidak tahu adat. Tidak tahu tata krama. Tidak patut menjadi Patih.”

Ruangan menegang.

“Jika engkau belum tahu,” lanjut Gajah Mada, “para raja yang datang ke sini—Tumasik, Tanjungpura, Sampit, Wandan, Koci, Bali, Sawangkung—semua bersujud di kaki Sri Narpati. Mereka mempersembahkan barang-barang mahal sebagai bakti kepada Ratu Agung. Itulah adatnya. Bagus jika engkau meniru. Bukankah Rajaputri telah siap dipersembahkan?”

Kata “dipersembahkan” itu seperti api yang jatuh ke atas minyak.

Utusan Sunda bangkit marah.

Wajah mereka merah. Kuping panas. Darah berdesir.

Ki Anepaken berkata keras, “Hai, Patih Gajah Mada. Kau sombong dan lancang. Kau menghina dan merendahkan orang. Berani menyuruh Sunda berbakti seperti negeri taklukan. Apakah kau keliru, atau sengaja?”

Ia menatap Gajah Mada tanpa gentar.

“Ratu Sunda tidak perlu bersujud. Sunda bukan taklukan Majapahit. Kapan Sunda kalah perang? Kapan Sunda tunduk? Jangan samakan kami dengan negeri-negeri yang telah kau taklukkan.”

Kemarahan yang lama tertahan akhirnya pecah.

Ki Anepaken mengingatkan bahwa Sunda pernah berhadapan dengan Majapahit. Bahwa pasukan Majapahit tidak selalu menang. Bahwa ada mantri Majapahit yang gugur, ada bala yang lari tunggang-langgang, ada yang menyerah. Maka janganlah Gajah Mada terlalu angkuh dan memaki.

“Kalau niatmu tetap jahat,” katanya, “ingatlah hukuman Tuhan. Orang dengki akan menjadi umpan neraka.”

Gajah Mada menggigil karena marah.

Wajahnya merah padam.

“Sepadan benar dengan rupamu,” katanya. “Orang Sunda memang tak tahu adat.”

Lalu ia mengancam. Jika Ratu Majapahit tidak berkenan mengutus orang ke pantai, itu tanda Bubat akan dikepung. Ratu Sunda harus menanti dan menyiapkan bala. Bila memenuhi kehendak Majapahit, baik. Bila tidak, Sunda akan dibinasakan, dicincang, ditumpas habis, dijadikan alas di Bubat dan mangsa gagak.

Mendengar itu, utusan Sunda semakin murka.

“Hai, Gajah Mada, khianat!” seru Ki Anepaken. “Ucapanmu bukan adat senapati. Bukan tingkah ningrat tinggi. Itu bukan laku pembesar, melainkan polah orang dengki dan jahat.”

Tumenggung Penghulu Borang ikut bangkit. Giginya gemeretak.

“Apa guna banyak bicara?” katanya. “Jika hendak menumpahkan darah, lakukan sekarang. Aku Tumenggung. Aku tidak takut mati. Niatku membela Ratu. Bawalah semua prajuritmu. Kepunglah orang Sunda. Mari kita hitung luka dan takar darah.”

Suasana nyaris pecah.

Para pengawal Majapahit bersiap. Tangan mereka mendekati senjata. Gajah Mada berdiri dengan wajah bengis.

Tetapi sebelum darah tertumpah, Pendeta Asmaranatha maju melerai.

“Jangan begitu, anakku,” katanya dengan suara tenang. “Lebih baik damai. Jangan turuti nafsu. Utusan ini jangan disakiti.”

Kata-kata sang pendeta meredakan api sesaat.

Ia mengingatkan bahwa maksud awal Sri Nalendra adalah baik. Bahwa perkara ini masih dapat dirundingkan. Bahwa Ratu Sunda masih ingin menikahkan putrinya dengan Ratu Majapahit. Bahwa dua patih seharusnya mengatur perkawinan, bukan saling mengancam perang.

Ki Anepaken menjawab dengan hormat.

“Wahai, Rama Maha Resi. Kata-kata Rama melegakan hati. Memang benar, Ratu Sunda datang dengan niat putih bersih. Tidak bermuka dua. Hanya ingin memenuhi janji, mempertemukan Putri dengan Prabu, calon mantunya. Tetapi maksud itu dikeruhkan Gajah Mada. Dirusak oleh tingkah biadab. Dikotori oleh orang dengki.”

Gajah Mada kembali bangkit.

Ia menuding Ki Anepaken.

“Hai, Patih Sunda. Kampungan. Tak tahu adat. Ilmumu seperti monyet!”

Ki Anepaken balas berdiri.

“Nyata manusia ini tak patut dimaafkan,” katanya. “Hai, Patih Gajah Mada, monyet kelabu Majapahit! Jika ingin tahu ciri panglima Sunda di medan perang, lihatlah nanti.”

Keduanya saling menantang.

Gajah Mada menyebut tanda panglima Majapahit: kereta agung, payung sutra menyala, panji bersulam emas, gambar gajah mengamuk, dan prajurit banyak sekali.

Ki Anepaken membalas dengan menyebut tanda panglima Sunda: kuda hitam besar dan gagah, pelana berlapis emas, pedang berhias permata, baju saten ungu bersulam benang emas, payung hitam, tameng emas bertabur intan, tombak baja keras, dan batik giringsing kawung sebagai tanda patih negara.

“Jika nanti kau melihat ciri itu,” kata Ki Anepaken, “jangan mundur. Itulah Patih Sunda. Panglima prajurit Sunda yang termasyhur ahli perang.”

Pendeta Asmaranatha kembali melerai.

“Cukup,” katanya. “Jangan sama-sama lupa. Lebih baik utusan Sunda pulang dulu ke Bubat. Tunggu dua hari. Jika Sri Nalendra hendak memenuhi janji, tentu akan ada utusan datang. Jika tidak, kenyataan akan terlihat.”

Para utusan Sunda menerima nasihat itu.

Mereka mohon diri, lalu kembali ke Bubat.

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali, tetapi hal itu tetap perlu dibaca sebagai dugaan, bukan fakta final. Menariknya, meski […]

Bale Bandung

balebandung.com – Ada beberapa versi cerita rakyat seputar Raden Kalung penguasa Sungai Citarum. Di antaranya versi bahwa Raden Kalung bernama lengkap Raden Kalung Bimanagara adalah putra Raden Natadiredja atau Syekh Abdul Manaf alias Eyang Mahmud, keturunan Dipati Ukur. Tapi versi lain justru Eyang Abdul Manaf pendiri Kampung Mahmud itu yang menaklukan Raden Kalung melalui ajudannya […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan keprihatinan sekaligus mengecam tindakan tentara Israel (IDF) terhadap Thoudy Badai, jurnalis asal Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang dilaporkan hilang kontak saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyebut Thoudy tengah menjalankan tugas jurnalistik dalam misi kemanusiaan internasional, bukan berada di wilayah konflik sebagai pihak […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Jawa Barat mendorong industri perbankan memperluas akses layanan keuangan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Salah satunya melalui pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO bagi petugas pelayanan bank. Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan pelatihan BISINDO bagi frontliner perbankan merupakan bagian dari upaya memastikan seluruh masyarakat […]

Bale Bandung

KUTAWARINGIN, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menghadiri kegiatan olah raga bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bandung di Lapangan Kodim 0624/Kabupaten Bandung pada Jumat (22/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) ini merupakan salah satu cara KDS dalam menjalin kekompakan di luar rutinitas pekerjaan formal sehari-hari. Olahraga bereng ini juga jadi […]

Bale Bandung

CIMENYAN, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau lokasi bencana angin puting beilung di Kampung Cibanteng, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang terjadi pada Senin 11 Mei 2026. Selain meninjau lokasi bencana, Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) juga memberikan bantuan kepada warga terdampak serta memberikan santunan kepada 40 anak yatim di sela kegiatan Jumat […]