balebandung.com – Suatu sore, setelah sebuah pertemuan organisasi berakhir, seorang rekan bertanya kepada Oto.
“Kalau semua kritik hanya disampaikan di ruang rapat seperti ini, siapa yang akan mendengarnya?” Pertanyaan itu sederhana, tetapi terus terngiang di kepalanya.
Selama bertahun-tahun Oto bergerak melalui pendidikan dan organisasi. Ia melihat sendiri bagaimana masyarakat mulai berubah. Namun ia juga menyadari bahwa banyak keputusan penting tetap dibuat jauh dari rakyat.
Pada masa itulah kesempatan untuk masuk ke Volksraad mulai terbuka.
Volksraad adalah Dewan Rakyat bentukan pemerintah kolonial. Di atas kertas, lembaga itu menjadi tempat berbagai kelompok menyampaikan aspirasi. Namun hampir semua orang tahu bahwa kekuasaan sesungguhnya tetap berada di tangan pemerintah Hindia Belanda.
Sebagian aktivis memandang Volksraad dengan sinis. Menurut mereka, lembaga itu tidak lebih dari panggung sandiwara politik.
Namun Oto melihatnya dengan cara berbeda. Jika ada ruang untuk berbicara, sekecil apa pun, ruang itu harus digunakan.
Keputusan masuk ke Volksraad bukan keputusan mudah. Banyak rekan seperjuangannya mempertanyakan langkah tersebut. Mereka khawatir kehadiran tokoh bumiputra di lembaga kolonial justru dimanfaatkan Belanda untuk menunjukkan bahwa pemerintah telah bersikap demokratis.
Oto memahami kritik itu. Tetapi ia tetap melangkah. Baginya, yang terpenting bukan kursinya. Yang terpenting adalah apa yang bisa dilakukan dari kursi itu.
Hari pertama memasuki ruang sidang Volksraad memberi kesan yang sulit dilupakan. Di ruangan itu berkumpul pejabat kolonial, wakil berbagai kelompok masyarakat, dan tokoh-tokoh politik dari berbagai daerah.
Di sanalah kebijakan dibicarakan. Di sanalah arah pemerintahan ditentukan. Dan di sanalah Oto memutuskan untuk membawa suara yang selama ini jarang didengar.
Pada awalnya, banyak orang menganggapnya hanya salah satu wakil bumiputra di antara sekian banyak anggota dewan. Namun kesan itu tidak bertahan lama.
Ketika mulai berbicara, Oto menunjukkan karakter yang sama seperti ketika aktif di Paguyuban Pasundan. Ia tetap lugas. Tetap langsung. Tetap berani.
Ia mengkritik ketimpangan pendidikan, mempertanyakan perlakuan berbeda antara orang Eropa dan bumiputra dan berbicara tentang hak masyarakat yang selama ini sering diabaikan.
Tapi tidak semua orang menyukai sikapnya. Beberapa pejabat kolonial menganggapnya terlalu keras. Sebagian anggota dewan merasa ia terlalu sering menyinggung persoalan yang dianggap sensitif.
Namun justru karena itulah namanya mulai dikenal lebih luas. Si Jalak Harupat kini tidak lagi hanya dikenal di lingkungan Sunda. Namanya mulai terdengar hingga ke berbagai daerah di Hindia Belanda.
Dan untuk pertama kalinya, Oto merasakan bahwa perjuangan yang selama ini dilakukan melalui sekolah dan organisasi telah membawanya ke arena yang jauh lebih besar. Arena tempat setiap kata memiliki konsekuensi.*** bersambung







