MARGAHAYU, balebandung.com – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung tidak berhenti pada seremoni. Warga justru menjadikan malam puncak perayaan sebagai panggung budaya dengan menghadirkan pagelaran Wayang Golek Putra Giri Harja 5 dengan Dalang Kiki Mardani Subasrana Sunarya yang diselenggarakan Karang Taruna RW 03 Desa Sukamenak.
Pagelaran tersebut digelar di Lapang RT 02/ RW03, Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Sabtu (12/9/2026), yang dihadiri Camat Margahayu Nur Hazanah.
Nur Hazanah mengapresiasi inisiatif masyarakat yang memilih kesenian tradisional sebagai bagian utama perayaan kemerdekaan. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan sekaligus dengan merawat identitas budaya daerah.
“Ini menjadi momentum yang sangat baik untuk melestarikan seni budaya Sunda sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat,” ujar Nur.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat dalam menyiapkan kegiatan menjadi kekuatan tersendiri. Perayaan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempertemukan warga dalam semangat gotong royong.
Yang menarik, pagelaran wayang golek tersebut tumbuh dari inisiatif masyarakat setempat. Dukungan juga datang dari berbagai unsur lokal. Bamboonesia turut mendukung pagelaran wayang golek, sementara hiburan pop Sunda dan dangdut mendapat dukungan D’Combo.id dan dukungan DPD KNPI Kabupaten Bandung.
Camat mengatakan model perayaan seperti itu layak dipertahankan karena masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi penggerak kegiatan.
“Semangat seperti ini yang perlu terus kita tumbuhkan. Masyarakat guyub, bergotong royong dan sekaligus menjaga kesenian daerah,” katanya.
Selain pagelaran wayang golek, rangkaian kegiatan malam puncak juga dimeriahkan hiburan musik. Seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan kondusif. Apresiasi terhadap kelancaran kegiatan juga datang dari jajaran kepolisian setempat.
Bagi Nur, kemeriahan HUT Kemerdekaan tidak harus selalu bergantung pada kegiatan besar. Perayaan berbasis masyarakat justru dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk terlibat.
“Budaya harus terus hidup di tengah masyarakat. Kalau masyarakat ikut menjaga dan memberi ruang, kesenian tradisional akan tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman,” ujar Nur.***







