SOREANG, balebandung.com — Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) atau Basic Class Korps Sukarela (KSR) PMI Kabupaten Bandung Angkatan XV diduga diwarnai praktik perpeloncoan dan kekerasan fisik terhadap peserta.
Dugaan tersebut disampaikan salah seorang orang tua peserta berinisial Yn warga Kabupaten Bandung. Kepada balebandung.com, Yn mengaku anaknya mengalami trauma setelah mengikuti Diklatsar yang berlangsung sekitar setahun lalu.
Menurut Yn, dugaan kekerasan tersebut baru diketahui lebih jauh setelah anaknya menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit. Dokter, kata dia, menemukan luka memar dalam pada bagian dada sebelah kiri.
“Memang diklatnya sudah setahun lalu, tapi baru sekarang ketahuannya karena saat diperiksa dokter di rumah sakit kemarin. Kata dokter, anak saya mengalami luka memar dalam di bagian dada sebelah kiri. Makanya terkadang kambuh sesak nafaasnya,” ujar Yn, Rabu (23/9/2026).
Yn mengatakan anaknya selama ini enggan menceritakan secara terbuka pengalaman selama mengikuti Diklatsar. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan trauma dan tekanan yang dialami anaknya setelah mengikuti pendidikan.
“Cuma memang anak saya juga pernah cerita pernah ditampar, ada juga yang mendapat perlakuan pemukulan,” katanya.
Yn menduga luka pada bagian dada anaknya berkaitan dengan benturan keras yang terjadi saat kegiatan lapangan. Ia menyebut anaknya pernah bercerita mengenai ketakutan untuk kembali naik Gunung Singa setelah mengikuti Diklatsar.
“Sepertinya itu kena benturan keras seperti ditendang pakai sepatu laras. Makanya anak saya pernah ngomong dia trauma naik gunung, tapi tidak pernah cerita soal kekerasan fisik yang dialaminya selama ikut pelatihan,” ujar Yn.
Dugaan Yn cukup beralasan karena sepulang mengikuti pelatihan itu, anak gadisnya mengeluh soal sakit punggung yang dialaminya berkelanjutan sampai ke dokter spesialis dan ke rumah sakit bahkan sempat dipijit sebagai pengobatan alternatif.
Menurut Yn, dugaan kekerasan tersebut terjadi pada hari terakhir kegiatan ketika peserta mengikuti kegiatan camping di Gunung Singa tepatnya di kawasan perkemahan area Kantor BKSDA Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.
Ia juga mempertanyakan pola komunikasi selama pendidikan. Menurutnya, selama sekitar satu pekan pelatihan peserta dilarang menggunakan telepon seluler sehingga orang tua harus mengandalkan informasi dari panitia mengenai kondisi anak mereka.
“Saya tanya ke panitia soal kondisi anak saya bagaimana saja susah banget dan tidak pernah menunjukkan foto anak saya. Yang ditunjukkan malah semua peserta diklat,” katanya.
Yn menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian karena Diklatsar KSR merupakan pintu masuk pembentukan relawan PMI. Ia mempertanyakan apakah metode pembinaan yang digunakan benar-benar sejalan dengan tujuan pendidikan relawan kemanusiaan.
Sebelumnya, PMI Kabupaten Bandung secara resmi menyebut Diklatsar KSR Angkatan XV sebagai bagian dari regenerasi relawan. Dalam pembukaan pada 25 Agustus 2025, PMI Kabupaten Bandung menyatakan pelatihan tersebut dirancang membentuk relawan yang tangguh, profesional dan berintegritas. Pada saat pembukaan, kegiatan diikuti 16 peserta dan didukung 25 panitia.
Dalam pelantikan 18 anggota muda KSR yang lulus Diklatsar Basic Class Angkatan XV di Markas PMI Kabupaten Bandung, Soreang, 17 September 2025, Ketua PMI Kabupaten Bandung Asep Deni Ramdani juga menyebut Diklatsar sebagai langkah penting dalam regenerasi relawan yang akan menjadi garda terdepan dan tulang punggung PMI.
Asep saat itu menyebut rangkaian pelatihan dirancang untuk membentuk relawan yang tangguh, profesional dan berintegritas. Ia bahkan berseloroh bahwa seluruh peserta yang mengikuti pendidikan telah kembali dalam kondisi utuh dan sehat.
“Artinya dalam keadaan sehat wal afiat semuanya, tidak kekurangan sesuatu apa pun,” kata Asep saat itu.***







